Berita DJKN

Menuju New Normal, Itjen Kemenkeu Gelar Workshop Kesehatan Mental

Jum'at, 05 Juni 2020 pukul 20:08:19   |   227 kali

Kesehatan merupakan salah satu modal dasar yang sangat penting bagi setiap manusia. Tidak hanya kesehatan jasmani, seseorang juga memerlukan kesehatan mental untuk dapat senantiasa produktif di dalam kehidupannya. Sebagai instansi besar dengan ribuan pegawai, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menaruh perhatian yang amat besar terhadap hal ini, terlebih pada masa pandemi Covid-19 yang mendesak setiap pegawainya untuk dapat menanggulangi berbagai perubahan yang terjadi. 

“Kemenkeu benar-benar sangat concern atas kesehatan, bukan hanya kesehatan fisik dan jasmani namun juga kesehatan dari mental kita. Kondisi masa transisi sekarang ini menuntut pegawai Kemenkeu untuk tetap sehat secara fisik dan mental,” kata Inspektur Jenderal Kemenkeu Sumiyati saat memberikan sambutan dalam workshop kesehatan mental dengan tajuk ‘Flexible Working Space for The New Normal’ yang diselenggarakan secara daring oleh Inspektorat Jenderal Kemenkeu pada Jumat (5/6). 

Sebelumnya, sejak pertengahan Maret lalu, Kemenkeu telah mengalihkan sejumlah layanan tatap muka menjadi layanan melalui daring serta menerapkan kegiatan bekerja dari rumah (work from home atau WFH) sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Namun, meski perubahan budaya kerja ini terbukti tidak menyurutkan konsistensi kinerja pegawai Kemenkeu, Sumiyati menyadari tekanan mental yang mungkin dihadapi oleh para pegawai di rumah.

“Karena kita dituntut bekerja siap siaga, dalam waktu yang cepat, memforsir pemikiran kita. Tidak hanya menjaga supaya apa yang ditugaskan dari kantor tersampaikan tepat waktu, tetapi juga menjaga keluarga sebaik-baiknya. Setiap saat selama tiga bulan bertemu, jangan sampai ada pertikaian,” kata Sumiyati. 

Menurut psikolog klinis dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Lathifah Hanum, yang menjadi pembicara dalam workshop ini, perubahan yang terjadi akibat pandemi Covid-19 begitu banyak. Bekerja, belajar, berbelanja, hingga beribadah kini dilakukan dari rumah. Aktivitas daring pun meningkat sehingga kebutuhan kuota internet melonjak. Interaksi antar anggota keluarga juga menjadi semakin intens akibat selalu berkumpul bersama.

“Hampir setiap orang mencoba untuk beradaptasi dengan berbagai kebiasaan baru dalam kehidupannya. Jadi memang efeknya dari perubahan yang kita alami sangat masif, semua aspek dalam kehidupan kita berubah akibat Corona ini,” ungkapnya. 

Lebih lanjut, Lathifah mengatakan bahwa perubahan dapat menyebabkan tekanan yang datang silih berganti pada kondisi mental seseorang, sehingga menimbulkan stres. Stres adalah suatu kondisi yang timbul karena seseorang memandang suatu situasi sebagai ‘masalah’. Agar tidak berlarut-larut, stres perlu dikelola. “Jika kita sudah mengetahui sumber dan dampak dari stres, maka sudah seharusnya kita juga mampu mengelola stres sehingga tidak menganggu kondisi mental,” ujarnya. 

Menutup pemaparannya, ia menyampaikan bahwa regulasi emosi merupakan hal yang esensial dilakukan untuk mengontrol kesehatan mental seseorang. “Prosesnya dimulai dengan mengenali penyebab emosi, mengidentifikasi cara yang dapat dilakukan untuk meredakan emosi, dan melakukan rekreasi,” katanya. Di masa pandemi ini, ia merekomendasikan rekreasi dalam bentuk kegiatan menyenangkan yang disukai seperti penyaluran hobi. 

“Satu kuncinya, ketika seseorang melakukan rekreasi, lakukanlah dengan penuh konsentrasi. Jangan biarkan diri kita melakukan rekreasi dengan diganggu pikiran tentang pekerjaan yang belum selesai,” pungkasnya. (mon-nf/humas djkn)

Foto Terkait Berita