Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 150-991    ID | EN      Login Pegawai
Berita DJKN

Peduli Kesehatan Mental Pegawai, DJKN Hadirkan Tim Psikolog

Rabu, 03 Juni 2020 pukul 17:14:24   |   163 kali

Jakarta - Sejak 15 Maret 2020, Presiden Jokowi mengimbau seluruh masyarakat untuk bekerja, sekolah, dan beribadah dari rumah guna memutus rantai penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Hal ini tentunya memberikan dampak bagi kehidupan sosial masyarakat. Pembatasan aktivitas di luar ruangan menjadi semakin minim, berbagai kegiatan dilakukan melalui media digital dan masyarakat dituntut terbiasa dengan keadaan “serba tidak pasti” yang berdampak pada kesehatan mental. Hal ini dirasakan oleh sebagian besar pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN). “Ini merupakan suatu fenomena yang patut kita cermati dan juga harus segera mendapatkan jalan keluar yang baik mengenai fenomena yang tidak pasti,” ujar Kepala Bagian Kepegawaian DJKN Rustanto saat memberikan sambutan pada Webinar yang digagas oleh Project Management Office (PMO) DJKN diadakan pada Rabu, (03/06) melalui aplikasi Zoom Us. Webinar yang mengangkat tema “Menjaga Kesehatan Mental di Saat Semua Serba Tak Pasti” ini menghadirkan Psikolog Klinis Emeldah Suwandi dan tim. 

Menurut Rustanto, latar belakang diadakannya webinar ini berdasar survei yang diadakan oleh bagian kepegawaian pada 14-15 April 2020 terhadap 2938 pegawai yang menjalankan work from home (WFH) di lingkungan DJKN. “Menariknya adalah 75-100% dari pegawai di DJKN melakukan WFH dengan tertib,” ujarnya.

Lebih lanjut Rustanto mengatakan bahwa terdapat sekitar 38,6% responden (1134 pegawai) yang saat ini berada di kota yang berbeda dengan keluarga. Kondisi yang tidak pasti ini tentunya menimbulkan berbagai masalah dan kecemasan pada pegawai yang masing-masing memiliki peran di dalam keluarga serta memiliki kewajiban untuk menyelesaikan target pekerjaan di tengah pandemi. Sementara pada sisi lain, harus mendukung pembatasan sosial, tidak dapat bertemu secara langsung dengan keluarga hingga kurun waktu yang cukup lama. 

Rustanto mengungkapkan hal lain yang menjadi faktor yang menimbulkan kecemasan adalah derasnya informasi yang diterima oleh seseorang pada kondisi saat ini. Masyarakat semakin terbiasa dengan gadget dan terbiasa dengan yang dinamakan WFH dan kegiatan lain yang dilakukan dengan memanfaatkan media digital sehingga semakin memungkinkan untuk menerima informasi yang semakin beragam. “Porsi informasi yang semakin banyak di media sosial dapat menimbulkan gangguan kesehatan mental pegawai. Ini merupakan fenomena yang harus kita cermati. Bagaimana kita bisa menjaga kesehatan mental itu dan bagaimana menumbuhkan kepercayaan bahwa kita dalam keadaan baik-baik saja di tengah kondisi yang tidak pasti,” jelasnya. 

Emeldah Suwandi mengatakan bahwa seseorang dapat dikatakan sehat apabila memiliki keadaan fisik, mental, dan sosial yang baik. Lebih lanjut, psikolog klinis ini menyampaikan bahwa menurut Undang-Undang Pasal 1 Nomor 18 Tahun 2004, seseorang memiliki kesehatan mental yang baik apabila mampu mengatasi tekanan dan dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Mengenai kesehatan mental di tengah kondisi yang tidak pasti, Emeldah memberikan gambaran mengenai hal-hal apa saja yang dapat dilakukan di tengah kondisi ini. “Kita tidak bisa memprediksi kapan pandemi ini akan berakhir, dan pada umumnya hal ini menjadi terasa berbahaya karena kita tidak tahu akan seperti apa dampaknya,” jelasnya. 

Lebih lanjut, Emeldah memaparkan hal-hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental pada kondisi saat ini. Menurut Emeldah, melakukan aktivitas fisik dan tetap aktif secara fisik serta memakan makanan gizi seimbang dapat menjadi faktor yang menjaga kesehatan mental. Menurutnya, dengan melakukan aktivitas fisik, istirahat yang cukup, dan asupan makanan akan mempengaruhi mood. Memahami emosi yang dirasakan dan menerima emosi sebagai bagian dari diri sendiri, dan membuat perencanaan hal-hal yang dapat dilakukan juga akan membantu kesehatan mental. Selain itu, Emeldah memaparkan bagaimana pikiran positif dapat mempengaruhi kesehatan mental. “Carilah pemikiran yang ketika kita memikirkannya akan membuat perasaan nyaman,” ujarnya. Pembatasan paparan informasi dan menghindari pemikiran yang menimbulkan kecemasan juga menjadi salah satu hal yang dapat mendukung kesehatan mental seseorang. 

Selain itu, Emeldah juga menjelaskan bagaimana grounding dapat membantu mengembalikan kesadaran apabila seseorang sedang dilanda kecemasan. Pada akhir sesi, peserta webinar diarahkan untuk mengisi self assessment kesehatan mental sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan kondisi psikologi sesorang. Sebagai informasi, self assessment ini dapat diakses melalui bit.ly/cek_kondisipsikologi. (tsy/fz-humas)

Foto Terkait Berita
Peta Situs | Email Kemenkeu | FAQ | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami |