Berita DJKN

Siap Hadapi Era Industri 4.0 dengan Perencanaan Keuangan yang Matang

Senin, 27 Mei 2019 pukul 09:12:13   |   561 kali

Jakarta – Setiap tahun, jumlah pegawai milenial di Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) terus bertambah. Para pegawai milenial ini akan menghadapi revolusi industri 4.0 yang memiliki pengaruh di berbagai hal, salah satunya adalah pada masalah keuangan. Menghadapi hal tersebut, DJKN membekali para pegawai dengan mengadakan sosialisasi Peranan Perbankan dalam Perencanaan dan Pengelolaan Keuangan Pribadi dan Rumah Tangga di Era Industri 4.0. Kegiatan ini diselenggarakan di kantor pusat DJKN pada Jumat (24/5) dengan mendatangkan narasumber dari Bank Mandiri. Dengan diadakannya sosialisasi ini, diharapkan para pegawai milenial dapat lebih mengatur keuangannya secara cermat dan tidak terlena pada perkembangan era industri ini. Selain itu, sosialisasi tersebut juga bertujuan untuk menyiapkan para pegawai dalam menghadapi keadaan kenaikan harga barang akibat pengaruh inflasi.

 “Perencanaan keuangan harus dilakukan sejak masa usia produktif karena pada masa pensiun, selama kurang lebih 240 bulan akan menghadapi ketidakpastian penghasilan,” terang Heru Rizky Jiwayani, Priority Banking Manager Bank Mandiri cabang Jakarta Thamrin. Masa produktif disini diartikan mendapatkan penghasilan yang pasti.

Menurut Heru Rizky Jiwayani atau yang biasa dipanggil Riris, langkah pertama dalam perencanaan keuangan ialah menjaga cash flow agar tetap positif. “Positif ini bagaimana caranya? Jadi kita bedakan antara kebutuhan dengan keinginan,” ujar Riris. Agar dapat berbelanja secara konsisten sesuai dengan kebutuhan, pembukuan dan aksi prioritas terhadap pengeluaran perlu dilakukan. Dengan melakukan pembukuan, pengeluaran yang telah dilakukan dapat diawasi. Riris juga mengingatkan agar tidak terpengaruh ketika ada diskon-diskon yang tidak berhubungan dengan kebutuhan awal.

Perencanaan keuangan tidak hanya mengelola pemasukan tapi juga mengelola risiko, yang berupa kerugian finansial. Cara yang dapat dilakukan untuk mengelola kerugian finansial ini adalah dengan melakukan proteksi aset yang berupa proteksi jiwa dan kesehatan, proteksi properti, proteksi kendaraan. Persiapan dana darurat juga tak luput dari perencanaan keuangan. “Dana darurat itu adalah dana khusus yang dialokasikan untuk kebutuhan tak terduga, seperti biaya dokter, musibah, bencana alam, kematian, terjadinya PHK secara mendadak, dan kerusakan peralatan rumah tangga,” terangnya.

Mengelola keuangan tidak hanya dengan cara menabung, namun bisa juga dengan cara berinvestasi. Beberapa tujuan dilakukannya investasi adalah untuk membiayai pernikahan, rencana pendidikan anak, membeli properti, dan pensiun. Jangka waktu investasi, profil risiko, alokasi dana, dan tinjauan periodik merupakan hal-hal yang tidak boleh luput dari perhatian saat akan memulai berinvestasi.

Selain berinvestasi, dalam pemenuhan kebutuhan pasti akan ada saatnya harus berhutang. Bijak dalam berhutang juga merupakan salah satu langkah dalam perencanaan keuangan. “Jadi sebelum kita berhutang, kita harus pikir-pikir dulu apa memang perlu berhutang? Kemudian pastikan kembali apakah kita mampu membayar hutang, dan kenali jenis-jenis hutang,” jelas Riris. Ia juga menerangkan bahwa hutang itu tidak selamanya negatif. Hutang seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) merupakan jenis hutang yang positif dan produktif.

Setelah pemaparan mengenai langkah-langkah perencanaan keuangan, kegiatan ini dilanjutkan dengan tanya jawab dan penjelasan lebih mendalam mengenai program perbankan yang mendukung langkah-langkah tersebut. (Tim Humas)

 

 

Foto Terkait Berita