Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 1 50-991    ID | EN      Login Pegawai
 
Berita DJKN
Bedah Buku DJKN: Membentuk Pemikiran Anak Muda dengan Membaca
Ali Ridho
Kamis, 20 September 2018 pukul 13:18:34   |   1124 kali

Jakarta – Penulis sekaligus musisi muda yang digandrungi generasi milenial, Fiersa Besari, tampil memukau di acara bedah buku DJKN dengan tajuk “Arah Langkah di Mana Kami Berpijak”. Acara rutin ini diselenggarakan di Aula DJKN lantai 5 Kantor Pusat Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) pada 19 September 2018 oleh unit layanan perpustakaan pada Subdit Humas DJKN.

Saat membuka kegiatan ini Direktur DJKN Isa Rachmatarwata berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat bukan untuk pribadi tetapi untuk DJKN juga. terutama untuk menyemangati  para pegawai DJKN yang harus siap menjalani penempatan di penjuru nusantara. “Saya berharap dari acara bedah buku ini kalian bisa membuat organisasi ini menjadi lebih produktif, kreatif. Inspirasi dari tokoh seperti Bung Fiersa yang memiliki pengalaman unik, menghadapi pelbagai bentuk kesulitan dan kemudahan bisa menjadi penyemangat,” pesan pria yang sering berkunjung ke daerah ini. Pak Isa, demikian akrab disapa, menambahkan bahwa berdasarkan data statistik, hampir separuh pegawai DJKN adalah generasi milenial, sehingga acara bedah buku yang terbuka untuk umum ini mengundang tokoh yang menjadi influencer  kawula muda.


Buku Arah Langkah sendiri menceritakan tentang catatan kehidupan Fiersa Besari yang melukiskan keindahan alam, budaya, dan manusia lewat teks dan foto. Tidak hanya sisi posisitf , buku tersebut juga memberikan cerita lain tentang kondisi negeri yang tidak selalu sebagus seperti di layar televisi. Penulis yang suka dipanggil dengan panggilan Bung Fiersa ini menuturkan kisah faktual perjalannya menyusuri pelosok tanah air. “Berbeda dengan novel terdahulu yang lebih ke fiksi penokohonnya, buku ini berisi catatan perjalanan yang sudah saya pernah lihat di Indonesia dan ingin saya bagi.”

Fiersa ingin  memperkenalkan Indonesia bukan dari segi yang teknis, namun lebih kepada realitas yang didapatkan. Setelah dibagi banyak komentar dari pembaca yang menyatakan walaupun pernah ke suatu tempat tersebut, ternyata mereka belum tahu bahwa di sekitar area tersebut ada destinasi yang lebih menarik. Semakin ke pelosok semakin indah dan menarik . Bila menyusuri Indonesia bukan cuma keindahan yang didapat, namun rasa humanis karena orang-orangnya.

Menyinggung rendahnya tingkat literasi Indonesia yang rendah, penulis yang mengelilingi Indonesia selama tujuh bulan ini terdorong untuk mendirikan komunitas sosial. Komunitas Pecandu Buku adalah komunitas yang didirikannya dan mendapat respon positif kaum muda.

Komunitas ini diawali dengan iseng. Dari hobinya membaca buku, anak muda humoris ini  ingin menularkannya dengan membuat satu akun bernama “pecandu buku” untuk me-review buku-buku yang sudah dibaca. Tidak disangka ternyata banyak yang suka hingga sahabatnya memberikan ide untuk me-review buku ramai–ramai bersama orang yang gemar membaca. Hingga sekarang anggota komunitas Pecandu Buku berjumlah 500 orang yang tersebar di seluruh Indonesia, dan diikuti oleh 100.000 followers di Instagram .

Kenapa peduli literasi? Fiersa mengungkapkan bahwa membentuk pemikiran anak muda Indonesia yaitu dengan membaca. “Saya rasa bangsa itu dibentuk ketika anak mudanya mau membaca.” Dengan mencoba baca buku novel pun itu sudah menstimulus imajinasi untuk berkembang. Mengutip Einstein, pemuda kelahiran Bandung ini mengatakan, ”Ilmu pengetahuan membawamu mengenal A sampai Z, imajinasi membawamu ke mana pun. Nah, bagaimana kita tahu mau menuju ke mana apabila imajinasi kita kita tak  beranjak ke mana-mana?,”  tanya pemuda lajang ini.

Diapun menyinggung bahwa tingkat literasi Indonesia rendah dibanding negara lain, peringkat 60 dari 61. Rendahnya tingkat literasi menyebabkan masyarakat mudah terpengaruh  hoax dan tidak mampu mengenali produk asli dan bajakan.

Menyiasati hal itu, Fiersa pun menjelaskan cara menarik minat masyarakat hingga anak muda untuk membaca buku. Pertama kali yang harus dilakukan semua pihak dan lembaga pendidikan adalah menghilangkan trauma terhadap buku. Trauma atau paranoid terhadap buku ini dihadapi oleh banyak anak muda termasuk Fiersa sendiri sewaktu dulu sekolah. Stigma melekat bahwa buku adalah hal yang membosankan dan hanya mengingatkan kita pada pelajaran sekolah yang berat dan serius.

Setelah menanamkan rasa bahwa membaca adalah hal yang menyenangkan, baru bisa dilakukan langkah selanjutnya, seperti pengadaan perpustakaan jalanan, membaca buku bersama, serta acara-acara literasi seperti bedah buku ini.

Ketika ditanya peserta bagaimana Bung mulai menulis? Pemuda yang ketika bicara selalu bersemangat ini punya tips. “Mulailah menulis arah langkah kalian sendiri, dengan kacamata kalian, dengan pengalaman kalian.” Setiap kejadian yang ditulis, 5 -10 tahun ke depan tulisan-tulisan itu seperti mesin waktu yang akan memanggil memori kita. Catatan kecil itu akan  mengembalikan ingatan tentang kejadian, siapa saja yang ditemui, suasana apa yang kita rasakan dan sebagainya. “Catatan catatan kecil saya dulu menjadi harta karun yang sangat berharga bagi saya,” ungkap pria yang menempatkan Ibundanya sebagai orang yang paling berharga dari apapun.

Sebagai klimaks acara, sebuah lagu yang belum pernah dirilis, secara live dipersembahkan khusus untuk sobatKaen yang hadir.

(Tim Humas)

Foto Terkait Berita
Peta Situs | Email Kemenkeu | FAQ | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami | Oppini