Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 150-991    ID | EN      Login Pegawai
KPKNL Palembang
Artikel DJKN

Akibat Tercelup Mental Aset Manager

Selasa, 28 September 2021   |   52 kali

Selasa, 28 September 2021, dalam perjalanan cuti, saya berkunjung ke sebuah objek wisata di Kabupaten Tegal Jawa Tengah yang dikenal dengan nama Guci. Tempat wisata pegunungan itu sudah sangat dikenal oleh wisatawan lokal maupun masyarakat sekitar. Bahkan saya pun sudah tahu sejak masih duduk di bangku SMP (walaupun baru beberapa kali ke sana). Namun saya akui baru kali ini menikmati perjalanan dengan sepeda motor yang ditempuh sekitar dua jam dari desa kelahiran. Teringat di tempat kerja saya saat ini (yang juga menjadi homebase), untuk mencapai daerah wisata pegunungan (Gunung Dempo) dengan hamparan kebun teh dan udara yang dingin harus menempuh perjalanan mobil selama delapan jam. Jadi ketika saya cuti, pulang menjenguk orang tua seperti mendapat bonus bisa berjalan ke wisata Guci yang tidak terlalu jauh.  

          Satu tempat wisata dengan tempat wisata lain tentunya akan menyuguhkan suasana yang berbeda. Suatu saat saya pernah mengikuti training di daerah Puncak Bogor, dimana pihak hotel menyuguhkan musik sunda dengan suara seruling dan alunan gamelan khas sunda yang sayup-sayup. Terbayang bukan bagaimana suasana sunda benar-benar melekat di angan-angan ? Suasana sunda di tempat itu kemudian saya coba hadirkan dalam angan-angan ketika saya berwisata ke Guci, tapi saya kemudian gagal mendapatkan suasana sunda di sana. Mungkin karena tidak ada musik sundanya ? Tapi diputar musik sunda melalui handphone juga tidak berasa seperti di Puncak Bogor sana. Saya kemudian berpikir, apa yang membuat suatu kawasan mempunyai suasana berbeda satu sama lain. Bagaimanapun suasana suatu tempat (wisata) akan membuat para pengunjung betah, suka, akan sering atau berlama-lama di tempat tersebut. Pada kondisi tertentu ada nilai ekonomi dengan situasi tersebut.

          Seperti gaya seorang Penilai (memang saya juga Penilai) tiba-tiba saya mulai membanding-bandingkan apa yang ditemui di sepanjang jalan ke Guci dengan jalanan di sepanjang Puncak Bogor. Sekilas ketika insting bermain tentu bisa ditebak mana wisata yang lebih bernilai ekonomi. Tapi itu baru satu sisi dimana saya melihat keramaian di sepanjang jalan saja. Bagaimana bila ternyata ada di dalam sana proyek-proyek pemanfaatan alam yang lebih bernilai eknomi daripada sekadar keramaian di pinggir jalan. Disitulah tantangan bagi seorang Penilai untuk mengungkap data yang lengkap untuk keakuratan opininya.  

          Sepanjang jalan saya berangan-angan seandainya jalan ke Guci seramai jalan di Puncak pastinya pedagang sekitar tidak sepi. Parameter keramaian akan mendatangkan nilai ekonomi yang tinggi mungkin ada benarnya. Orang bilang, dimana ada keramaian, disitu ada uang. Beberapa pemberhentian bus yang saya tumpangi beberapa waktu lalu juga selalu tersedia pundi-pundi uang, mulai dari kamar mandi, restoran, tukang parkir, hingga menawarkan charge baterai handphone. Semakin ramai orang, semakin banyak potensi orang mengeluarkan uang sehingga potensi ekonomi juga tinggi. Dalam ruang lingkup ekonomi dari faktor wisata, sepertinya keramaian (pengunjung) menjadi pemicu tingginya nilai ekonomi daerah wisata.

          Kembali ke wisata Guci, seandainya pemerintah setempat mengadakan lomba mendatangkan keramaian di wisata tersebut, apa kira-kira yang akan saya kerjakan ya ? Ini tentunya hanya sebatas angan-angan saya yang sedikit pernah tercelup dengan istilah asset manager. Pertama, pemerintah dalam hal ini dapat mengambil peran dengan focusing memperbanyak lembaga pendidikan dan pelatihan yang didirikan di daerah wisata dimaksud. Banyak hal yang bisa dilakukan mengingat pemerintah punya dana dan kebijakan. Bila tidak cukup dana ada mekanisme kerja sama. Tentunya pemerintah terlebih dahulu punya aset misal berupa tanah atau gedung. Dalam hal kebijakan, bisa juga dengan memberikan bantuan-bantuan bagi lembaga pendidikan yang ada di masyarakat untuk memperbesar kapasitas, kuantitas, dan kualitas. Kedua, membangun fasilitas olahraga bertemakan alam seperti paralayang, arung jeram, climbing, camping, dan sebagainya. Ketiga, mengadakan pusat penelitian dan pemanfaatan alam. Selama perjalanan ada banyak hal yang sepertinya bisa dicontoh (benchmarking) dengan kondisi alam yang serupa di daerah lain ataupun di luar negeri sana. Wisata Guci ada air terjun (meskipun kecil), ada air panas (barangkali ada geothermal), dan ada angin yang berhembus kencang. Sangat menarik untuk penelitian pemanfaatan energi listrik dari faktor alam tersebut. Dampak yang diharapkan adalah adanya keramaian yang mempunyai korelasi dengan potensi ekonomi. Disamping itu, manfaat yang lebih tinggi juga dapat dicapai bila sukses dalam realisasinya.

          Akhirnya saya tersadar bahwa sambil minum kopi dan suguhan tempe mendoan di kafe wisata Guci sangat membantu berangan-angan. Pastinya akan lupa bila sudah habis dua-duanya. Oleh sebab itu, supaya tidak lupa sengaja saya tulis, sebagai bukti saya pernah berangan angan di sana, Guci.[gsw]   

 

Penulis: WAHIDIN (Kasi Hukum dan Informasi KPKNL Palembang)

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Kontak
Jl. Kapt. A. Rivai No. 4 Gedung Keuangan Negara Lt.1-2 Blok C Palembang - 30129
(0711) 352574
(0711) 350801
kpknlpalembang@kemenkeu.go.id
Peta Situs | Email Kemenkeu | FAQ | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami |