Kanwil DJKN Aceh
Artikel DJKN

Sekilas Riwayat Kupiah Meukeutop Aceh

Minggu, 16 April 2017   |   0 kali


KUPIAH meukeutop merupakan ikon Kabupaten Aceh Barat. Topi tradisional adat Aceh ini biasanya digunakan sebagai pelengkap pakaian adat yang dikenakan kaum pria. Dipakai ketika upacara-upacara adat maupun seremonial lainnya.

“Bentuk dasar kupiah memang begini, satu jenis. Sama seperti burung garuda sebagai lambang negara, bagaimana mau diubah,” kata Nurdin,penyedia jasa pelaminan dan pakaian adat Aceh di Meulaboh, Aceh Barat. Usianya 55 tahun. Di antara pakaian adat Aceh yang ia sewakan, salah satunya kupiah meukeutop.

Nurdin mengaku, barang-barang yang ia sewakan didatangkan dari Banda Aceh. “Di Meulaboh tidak ada orang yang membuat kupiah meukeutop,” ujarnya sembari menunjuk pajangan-pajangan baju adat di toko tiga pintu miliknya.

Kupiah meukeutop terbuat dari kain berwarna dasar merah dan kuning. Kain dirajut jadi satu, berbentuk lingkaran. Pinggiran bawah kupiah, terdapat motif anyaman dikombinasikan warna hitam, hijau, merah dan kuning. Anyaman serupa terdapat di bagian tengah, yang dibatasi lingkaran kain hijau di atasnya dan kain hitam di bawah.

Pada lingkaran kepala bagian bawah, terdapat motif yang lebih dominan, berbentuk “lam” dalam huruf hijaiyah. Namun ada garis yang menyambung antara bagian bawah dan atas motif tersebut. Motif yang sama juga terdapat di lingkaran kepala bagian atas. Hanya saja ukurannya lebih kecil. Di bagian paling atas, terdapat rajutan benang putih sebagai alas mahkota kuning emas, bertingkat tiga.

Warna yang dipakai memiliki makna tersendiri. Merah melambangkan kepahlawanan, kuning berarti kerajaan atau negara, hijau menandakan agama, hitam berarti ketegasan atau ketetapan hati, sementara putih bermakna kesucian atau keikhlasan.

Secara keseluruhan, kupiah meukeutop terbagi empat bagian. Sama seperti pada warna, tiap bagian ini juga memiliki arti tersendiri. Bagian pertama bermakna hukum, bagian kedua, bermakna adat, bagian ketiga bermakna kanun dan bagian keempat bermakna reusam.

Bentuk dan motif kupiah meukeutop secara umum sama. Hanya warna kain songket untuk membalut lingkaran kupiah saja yang berbeda. Biasanya disesuaikan dengan warna songket pada pakaian.

“Kalau songket pakaian kuning, biasanya songket di kupiah juga kuning. Kalau hijau di pakaian, hijau di kupiah,” kata Nurdin.

Untuk memperindah, selain songket, kupiah meukeutop dihiasi pernak-pernik khas Aceh. “Kalau sekarang, ada yang menambahkan kalung di bagian depan. Itu hanya untuk memperindah saja,” ujarnya.

Kupiah meukeutop bagi masyarakat Aceh tak hanya bernilai dari segi adat, tapi juga penuh dengan nilai sejarah. Secara historis, kupiah meukeutop lebih diindentikkan dengan topi kebesaran yang sering dipakai Teuku Umar, pahlawan nasional asal Aceh.

Teuku Umar lahir di Meulaboh, tahun 1854. Ia gugur 11 Februari 1899, dalam satu pertempuran dengan pasukan Belanda di Meulaboh. Di lokasi tertembaknya Teuku Umar, di Pantai Batu Putih, Suak Ujong Kalak, dibangun satu tugu sebagai monumen sejarah di Aceh Barat. Tugu itu lebih dikenal dengan sebutan, Kupiah Meukeutop.

Saat tsunami melanda Aceh, 26 Desember 2004, monumen itu juga ikut terbawa air bah. Pada masa rekonstruksi Aceh pascabencana, tugu dibangun kembali dengan posisi agak ke darat. Lokasi tugu sebelumnya telah menjadi laut.

Tidak ada sumber sejarah pasti yang menjelaskan kapan atau siapa pertama kali yang memakai kupiah meukeutop. Jika dilihat dari foto-foto tokoh pahlawan asal Aceh, bukan Teuku Umar satu-satunya yang memakai kupiah. Panglima Polem (1845-1879), juga memakai hal serupa. Bahkan kupiah yang dipakai Sultan Muhammad Daud Syah dan Panglima Polem, lebih menyerupai kupiah meukeutop yang ada saat ini. Baik dari bentuk maupun motifnya.

“Dari sumber-sumber bacaan yang ada, saya belum menemukan secara detail tentang kupiah meukeutop ini,” kata T.A. Sakti, tokoh budaya dan sejarah Aceh.

Bahkan menurutnya, Aceh memiliki pakaian resmi yang berlainan dengan yang selalu dipakai para pejabat dan tokoh-tokoh adat dalam acara resmi di Aceh selama ini. Kalau bahan pakaian adat yang digunakan sekarang; yang dipakai di kepala adalah kupiah meukeutob, sedangkan dalam “versi lain” adalah kupiah Aceh dan tangkulok Aceh berkasab. Hiasan yang diselipkan di pinggang juga bukan semata-mata rencong, tetapi boleh pula keris, siwah, badik dan rachuh.

“Rujukan saya adalah kitab “Tazkirah Thabaqat” salinan Teungku Di Mulek tahun 1270 H, yang naskah aslinya sudah ditulis pada zaman Sultan Mahmud Al-Qahar abad ke-16 Masehi,” paparnya. Naskah “Tazkirah Thabaqat,” telah selesai ia salin ke huruf latin, yang semula berhuruf Arab Melayu/Jawoe.

Ia yakin, pakaian Aceh versi ini dapat digunakan kembali saat ini untuk memperkaya variasi pakaian adat Aceh yang ada sekarang. Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, pakaian ini dipakai saat seseorang hendak menghadap Sultan Aceh di Istana Darud Dunia. Baik orang Aceh maupun orang asing wajib memakai Pakaian Aceh ini jika hendak menghadap Sultan.

“Jika tak ada milik sendiri, seseorang boleh meminjam pada Balai Baitur Rijal atau Balai Darul Atsar yang berada di depan pintu gerbang istana,” terangnya.

Kitab “Tazkirah Thabaqat” ini tertulis dalam bahasa Melayu yang tidak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia sekarang. Salah satu kutipan dalam kitab tersebut tentang Pakaian Aceh adalah “dan demikian lagi Adat Kerajaan Sultan Aceh, yaitu apabila orang-orang yang masuk ke Dalam Darud Dunia: hendak menghadap Paduka Sri Baginda Sultan Aceh: walau siapapun sekalipun, yaitu orang Aceh sendiri, atau orang asing, maka tidak dibolehkan dia menghadap Sultan dengan memakai pakaian sendiri. Melainkan yang dibolehkan dia memakai pakaian sendiri ialah orang ‘Arab dan ‘Alim ulama, tetapi tidak dibolehkan memakai warna kuning dan warna hijau.

Sementara yang lain, waktu menghadap Sultan diwajibkan memakai pakaian Aceh. Di antaranya adalah Kupiah Aceh, Tengkuloek Aceh berkasab, baju Aceh berkasab, berkain selimpang dari kanan ke kiri memakainya berkasab, seluar berkasab, kain pinggang berkasab. Memakai rencong atau keris atau siwah atau badik atau rachuh yang berhulu suasa atau perak atau emas dan barang sebagainya, di depan sebelah kanan.

Meski latar belakang kemunculan kupiah meukeutop masih belum jelas, namun topi adat Aceh ini telah menjadi ikon budaya dan sejarah yang begitu melekat dengan masyarakat Aceh.

Saat ini kupiah meukeutop telah mampu menunjukkan kekhasan Aceh pada dunia. Bentuknya yang unik dan indah, membuat kupiah meukeutop ini sering dijadikan souvenir yang menarik. Kopiah Meukutop ini hampir dapat ditemukan di tiap kabupaten dan kota di Aceh, kecuali untuk daerah-daerah tertentu yang pakaian adatnya berbeda. ( Sumber/ Penulis : Cerana.net/ Nurdin Mulieng)

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.