Habituasi sebuah Program Pembiasaan Budaya, Pembiasaan yang mengubah Anda menjadi lebih baik
Yuniarti
Rabu, 29 November 2023 pukul 14:55:24 |
7357 kali
James Clear writes about
habits, decision making, and continuous improvement. He is the author of the
#1 New York Times bestseller, Atomic Habits. The book has sold over 15 million copies
worldwide and has been translated into more than 50 languages.
James Clear mengatakan bahwa untuk
menjadi lebih baik, mulailah dengan melakukan hal kecil, menjaganya tetap
konsisten di setiap hari, merencanakan hal baik dengan disertai disiplin dan komitmen
tinggi. Tiga pilar utama mengenai kebiasaan, pengambilan keputusan dan
perbaikan yang berkesinambungan tentu tidak asing terdengar di telinga kita. Dalam
pemahaman Atomic Habits meyakini bahwa perubahan-perubahan kecil yang
dilakukan setiap hari akan memberikan hasil yang luar biasa.
Mengumpulkan sekeping
koin tentu tidak akan serta merta menjadikan orang menjadi kaya raya dalam
sesaat, pun juga dengan membaca satu buku atau artikel akan dengan sekejap
membuat seseorang kaya wawasan. Namun akan berbeda cerita saat pengumpulan koin
atau membaca dijadikan suatu kebiasaaan yang terus menerus dilakukan, bukan hal
mustahil hasil yang akan didapat adalah kekayaan serta luasnya wawasan.
James Clear menyampaikan bahwa setiap
perbaikan/perubahan kecil ibarat menambahkan pasir ke sisi positif sebuah
timbangan yang lambat laun akan menghasilkan sebuah perubahan yang besar
sepanjang dijalankan secara berkelanjutan. Charles Duhigg,
seorang Penulis The Power of Habit, pertama kali mempopulerkan istilah Keystone
habit. Keystone habit adalah sebuah kebiasaan yang secara otomatis dan
berkesinambungan membuat Anda melakukan perilaku-perilaku yang positif dan pada
akhirnya memberikan efek yang baik dalam kehidupan Anda.
Konsep keystone
habit itu sendiri diibaratkan sebagai sebuah perilaku yang saling terhubung,
berawal dari perilaku sederhana yang kemudian membentuk menjadi sebuah
kebiasaan baik yang pada akhirnya mempengaruhi kehidupan Anda secara
keseluruhan. Contoh sederhana adalah ketika Anda bangun tidur membiasakan diri,
merapikan tempat tidur, ke kamar mandi, lalu melakukan rutinitas pagi seperti
sholat subuh, tidak lagi tidur setelah sholat, membaca ayat suci dan seterusnya.
Tanpa kita sadari, kebiasaan tersebut akan membentuk karakter seseorang, tidak
menjadi pemalas, bersemangat memulai hari dan efek perilaku baik lainnya, Ini
disebut penerapan keystone habit.
Manusia sebagai
mahluk sosial memiliki keterikatan dengan mahluk hidup lainnya. Sudah menjadi hal
yang umum bahwa manusia dalam berkehidupan perlu berhubungan dan saling membutuhkan
dengan sesamanya. Dengan kata lain, Anda sebagai mahluk sosial tidak dapat
hidup sendiri. Pernahkah terbayang, ketika Anda menghabiskan waktu sendiri di
tengah hutan tanpa adanya hubungan dengan manusia lainnya? Jikapun bertahan,
tentu tidak akan bertahan lama, Anda tetap membutuhkan orang lain.
Keystone habit, menurut Jamil
Azzaini, founder dari Kubik, seorang motivator, penulis sekaligus pengusaha
di Indonesia mengatakan bahwa kebiasaan yang mempunyai dampak signifikan pada
area kehidupan seseorang akan memicu efek domino yang positif hingga membuat
seseorang lebih berhasil dalam mencapai tujuan mereka.
The Law of Projection said: “Everything you see
outside of yourself is a projection of how you feel about you projected on to
someone else or something else. The other person or object is holding up a
mirror for you to see yourself and your inner feelings about yourself more
clearly.
Kembali pada
pentingnya membangun sebuah kebiasaan baik dalam kehidupan kita, setidaknya ada
3 cara untuk memudahkan kita membentuk penerapan kebiasaan baik dalam hidup:
1. Tentukan
tujuan, menentukan tujuan dari sebuah perilaku yang akan kita kerjakan adalah
sesuatu yang sangat fundamental.
2. Identifikasi
kebiasaan-kebiasaan yang akan membantu anda menemukan tujuan hidup Anda, baik
dalam jangka waktu panjang/menengah maupun jangka waktu pendek.
3. Pilih salah
satu dari maksimal 3 kebiasaan baik yang menurut Anda paling mudah
diimplementasikan, kemudian berkomitmenlah untuk melaksanakan 1 kebiasaan baik
tersebut.
Ada sebuah ungkapan, “Semakin banyak yang anda
inginkan, semakin sedikit yang anda peroleh” maka memiliki komitmen melakukan
kebiasan baik meskipun hanya 1 % akan lebih baik jika ditingkatkan terus
menerus setiap harinya, karena melakukan perubahan sekecil apapun akan lebih
baik sepanjang kita jalankan secara persisten daripada melakukan satu perubahan
besar namun setelahnya kita lupa menjaganya.
Bicara tentang kebiasaan pastinya akan sangat lekat
dengan Budaya. Budaya merupakan buah pembiasaan berperilaku sebagaimana
diharapkan. Pada kegiatan Rakerda hari Rabu tanggal 01 November 2023 yang lalu,
Duta Transformasi Kanwil DJKN Kalimantan Selatan dan Tengah, Jundi Widiantoro
menyampaikan materi terkait Program Pembiasaan Budaya di Kementerian Keuangan,
ini tentu sejalan dengan upaya menumbuhkan dan memperkuat sikap dan perilaku
pegawai yang sesuai dengan Nilai-Nilai Kementerian Keuangan dan Core Values ASN
BerAKHLAK, melalui Program Pembiasaan Budaya Kementerian Keuangan secara
intensif dan berkelanjutan untuk seluruh pegawai termasuk seluruh pimpinan di
lingkungan Kementerian Keuangan.
Harapannya
seluruh pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan dapat selalu mempraktikkan
sikap dan perilaku yang mencerminkan Nilai-Nilai Kementerian Keuangan dan Core
Values ASN BerAKHLAK, serta menjadi role model dalam pelaksanaan Program
Pembiasaan Budaya Kementerian Keuangan di lingkungan sekitarnya.
Pada
tanggal 27 Juli 2021 Presiden Republik Indonesia telah meluncurkan core
values (nilai-nilai dasar) ASN BerAKHLAK dan employer branding ASN
"Bangga Melayani Bangsa" hal ini merupakan pemicu awal dari Penguatan
Budaya kerja ASN di era saat ini. Penguatan budaya kerja merupakan salah satu
strategi transformasi pengelolaan ASN menuju pemerintahan berkelas dunia (world
class government), serta wujud pelaksanaan Pasal 4 (nilai dasar) dan Pasal 5 (kode etik dan kode
perilaku) dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara
diperlukan keseragaman nilai-nilai dasar ASN.
Core
values (nilai-nilai dasar) ASN BerAKHLAK
beserta panduan perilaku (kode etik) adalah sebagai berikut :
1. Berorientasi Pelayanan, senantiasa berkomitmen
memberikan pelayanan prima demi kepuasan Masyarakat; sebagai ASN yang melayani masyarakat dan pengguna jasa lainnya
dituntut untuk lebih memahami dan memenuhi
kebutuhan Masyarakat, ramah, cekatan, solutif, dapat diandalkan serta melakukan
perbaikan tiada henti;
2. Akuntabel, bertanggungjawab atas kepercayaan
yang diberikan; melaksanakan tugas dengan jujur,
bertanggung jawab, cermat, disiplin dan berintegritas tinggi, menggunakan
kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab, efektif, dan efisien,
serta tidak menyalahgunakan kewenangan jabatan.
3. Kompeten, terus belajar dan mengembangkan
kapabilitas; meningkatkan
kompetensi diri untuk menjawab tantangan yang selalu berubah, membantu orang
lain belajar, dan melaksanakan tugas dengan kualitas terbaik.
4. Harmonis, mengembangkan sikap saling peduli
dan menghargai perbedaan; menghargai
setiap orang apapun latar belakangnya, suka menolong orang lain dan membangun
lingkungan kerja yang kondusif.
5. Loyal, berdedikasi dan mengutamakan
kepentingan Bangsa dan Negara;
memegang teguh ideologi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia tahun 1945, setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta pemerintahan
yang sah, menjaga nama baik sesama ASN, pimpinan, instansi, dan negara, serta menjaga
rahasia jabatan dan negara.
6. Adaptif, terus berinovasi dan antusias dalam
menggerakkan serta menghadapi perubahan;
setiap ASN diharapkan cepat menyesuaikan diri menghadapi perubahan, terus
berinovasi dan mengembangkan kreativitas, serta bertindak proaktif
7. Kolaboratif, mampu membangun kerja sama yang
sinergis; memberi kesempatan kepada berbagai
pihak untuk berkontribusi, terbuka dalam bekerja sama untuk menghasilkan nilai
tambah, serta menggerakkan pemanfaatan berbagai sumberdaya untuk tujuan
bersama.
Nilai-nilai
dasar ASN BerAKHLAK menjadi dasar penguatan budaya kerja di instansi pemerintah
untuk mendukung pencapaian kinerja individu dan tujuan organisasi/instansi. lnstansi
pemerintah perlu menginternalisasikan dan mengimplementasikan secara utuh, dimana
dalam penerapannya disesuaikan dengan perilaku yang relevan terhadap tugas
fungsi masing-masing.
Selanjutnya,
Jundi juga memaparkan 19 wujud habituasi budaya yang diharapkan mampu
terus menyuntikkan energi positif bagi para pegawai di lingkungan kerja, yang
meliputi:
1. Menjaga Integritas dan Martabat, pegawai diharapkan selalu menjaga integritas
dalam setiap pelaksanaan tugas dan pekerjaan serta kehidupan sehari-hari;
2. Meningkatkan budaya Sadar Resiko, setiap pegawai diharapkan melakukan mitigasi
resiko secara tepat dalam pelaksanaan tugas, hal ini juga diharapkan dapat
mendukung pencapaian visi, misi, sasaran, dan peningkatan kinerja organisasi;
3. Peduli dan Saling Jaga, perlunya meningkatkan kepedulian dan empati
antar pegawai dalam melaksanakan tugas/pekerjaan di lingkungan kantor dan di
luar kantor, dalam kehidupan sosial, dan dalam kegiatan lainnya, agar tidak
melanggar kode etik/perilaku dan ketentuan disiplin pegawai;
4. Dengarkan dan Informasikan, perlunya menciptakan sistem komunikasi
efektif antara atasan langsung/pimpinan unit dengan pegawai maupun antar sesama
pegawai;
5. Berpikirlah sebagai seorang pemimpin, seluruh pegawai diharapkan membiasakan berpikir
dan bertindak sebagai pemimpin dalam pelaksanaan pekerjaan maupun saat
berinteraksi dengan pihak lain sesuai dengan tugas yang diberikan;
6. Kuatkan Kolaborasi dan Kuatkan Soliditas, diharapkan seluruh pegawai memiliki prasangka
baik, bekerja secara kolaboratif, saling berbagi informasi sesuai dengan
kewenangan, dan berperan penuh sebagai perekat bangsa;
7. Jadilah Teladan, diharapkan seluruh pegawai dapat menjadi
contoh bagi lingkungan di sekitarnya, baik dalam pelaksanaan pekerjaan maupun
dalam cara bersikap dan berperilaku;
8. Rencanakan, Kerjakan Periksa dan Tindaklanjuti, setiap pegawai diharapkan untuk tidak
gegabah ketika melakukan pekerjaan apapun bentuknya, maka budaya untuk terus
mengevaluasi diri dalam bekerja menjadi modal yang utama untuk perbaikan;
9. Adaptif terhadap perubahan, setiap pegawai diharapkan menjadi sosok
adaptif, mampu menyesuaikan setiap perubahan yang menjadi kebijakan organisasi;
10. Berikan Respon Cepat dan Tepat, setiap pegawai diharapkan membiasakan
merespon dengan cepat dan tepat setiap kali memberikan layanan kepada
masyarakat;
11. Biasakan Hidup Sederhana dan berempati, setiap pegawai diharapkan dapat belajar
dari kasus-kasus flexing dan gaya
hidup segelintir oknum pegawai Kementerian Keuangan yang bertujuan memamerkan
harta kekayaan, hal itu cukup menjadi contoh untuk semua pegawai semestinya
dapat lebih berhati-hati dalam bersikap dan mengambil keputusan;
12. Tebarkan
Senyum, Sapa, Salam, menjadi
baik dan menebarkan kebaikan tentu akan mendatangkan hal hal yang baik dalam
diri kita, oleh sebab itu diharapkan setiap pegawai melakukan hal hal terbaik
semampu kita;
13. Lakukan Satu Kebiasaan Baru Positif, sikap ini dapat menjadi hal menarik yang dilakukan
oleh setiap pegawai guna menambah kapasitas sebagai individu yang perlu terus
berkembang;
14. Terus Belajar dan Berbagi Ilmu, selaras dengan anjuran untuk terus menuntut
ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahat sudah cukup menjadi nasehat baik yang
perlu juga diterapkan oleh seluruh pegawai;
15. Biasakan Menghargai dan Beri Apresiasi, sebagai bentuk upaya menjaga motivasi kerja
perlu didukung dengan perwujudan sikap saling menghargai serta memberi
apresiasi atas suatu capaian dari setiap pegawai;
16. Sampaikan Konten Media Sosial Kementerian
Keuangan, setiap pegawai
diharapkan dapat berperan aktif untuk dapat secara bersama menyebarkan dan
menggaungkan kebijakan strategis organisasi agar dapat diterima dan dipahami
oleh masyarakat maupun stakeholder;
17. Pelajari, Hayati, dan Amalkan Ajaran Agamamu, agama mengajarkan kebaikan yang hakiki untuk
ummat manusia, maka tugas seluruh manusian kepada Sang Pencipta adalah
mempelajari, menghayati dan betul -betul mengamalkan;
18. Hormati Kebhinekaan, keberagaman yang sudah menjadi warisan nenek
moyang kita perlu dipahami sebagai wujud kekayaan Budaya yang selayaknya perlu
kita hormati, jaga dan lestarikan bukan sebaliknya
menjadi alasan kita untuk saling membeda-bedakan;
19. Pupuk Militansi Dalam Bekerja, setiap pegawai diharapkan dapat melaksanakan
pekerjaan sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku, serta terus
berupaya menciptakan inovasi dan kreatifitas untuk dapat mendukung penyelesaian
penugasan secara lebih efektif dan efisien.
Mengadopsi
filsafat dasar teori Atomic Habit dan Keystone Habit, kita perlu
optimis mampu membiasakan budaya menjadi karakteristik diri yang sejati.
Kebiasaan baik harus dibina sehingga menjadi budaya. Menumbuhkan kebiasaan
menjadi budaya perlu dipupuk terus menerus, berkelanjutan dan semakin
meningkat. Pembiasaan ini dimulai dari diri kita sendiri dan dari hal-hal
sederhana sehingga terinternalisasi dengan baik. Dan semua bermula dari diri sendiri, bagaimana mungkin
Anda mengharapkan orang lain bersikap demikian, jika tidak dimulai dari Anda.
(Evi Rahmawati)
Sumber :
1.
https://jamesclear.com/atomic-habits
2.
https://jamesclear.com/keystone-habits
3.
https://www.jamilazzaini.com/keystone-habit-kebiasaan-yang-memicu-produktivitas/
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |