Hidup Sederhana Menurut Perpektif Buya Hamka
Agus Rodani
Senin, 27 Februari 2023 pukul 11:17:58 |
41298 kali
Baru-baru
ini masyarakat Indonesia digegerkan pemberitaan seorang Pegawai Negeri Sipil
(PNS) memiliki harta yang berlimpah. Tindakan yang memamerkan gaya hidup yang
hedon dan mewah bertentangan dengan kode etik dan kode perilaku Kementerian.
Hal ini sebenarnya tidak mewakili PNS lainnya yang benar-benar memegang teguh integritas,
kejujuran dan amanat rakyat.
Dalam
tulisan ini penulis tidak membahas mengenai ketidakwajaran harta kekayaan PNS
dimaksud, tetapi bagaimana dapat mengambil hikmah dari peristiwa dimaksud
secara bijak. Penulis mencoba menyajikan narasi-narasi yang dapat memberikan
pemahaman terkait hidup sederhana guna menghindari tindakan-tindakan yang
melanggar etika, norma hukum maupun norma sosial yang berlaku.
Dengan
kejadian ini, tingkat kepercayaan masyarakat kepada direktorat jenderal/kementerian dimaksud menurun. Citra dan nama baik yang telah dibangun
dengan susah payah akan tercoreng serta menciderai perasaan PNS yang
berintegritas tinggi. Bagi PNS lainnya yang berintegritas, jujur dan amanah hal
ini merupakan suatu pelajaran dan cambuk untuk tetap konsisten melaksanakan
tugas dan fungsi sesuai kode etik dan kode perilaku Kementerian.
Menteri
Keuangan RI mengecam gaya hidup mewah dan hedonik pada insan Kemenkeu. Sri Mulyani Indrawati meminta dengan tegas
kepada jajaran Kementerian Keuangan agar tak pamer pola hidup mewah. Menkeu
menegaskan bahwa "Kemenkeu mengecam gaya hidup mewah yang dilakukan oleh
keluarga jajaran Kemenkeu yang menimbulkan erosi kepercayaan terhadap
integritas Kementerian Keuangan dan menciptakan reputasi negatif kepada seluruh
jajaran Kemenkeu yang telah dan terus bekerja secara jujur, bersih dan
profesional," ujarnya melalui unggahan di Instagram resmi @smindrawati,
Rabu (22/2/2023).[1]
Menelaah
pernyataan tegas Ibu Menkeu di atas, penulis sangat setuju agar semua PNS
mengimplementasikan gaya hidup sederhana. Penulis mencoba untuk memberikan
pandangan cara hidup sederhana yang didapat dari beberapa sumber.
Bagi
sebagian orang, hidup sederhana menjadi sumber kebahagiaan tersendiri. Hidup
sederhana atau minimalis, mengajarkan kepada kita untuk selalu merasa cukup
dengan hal apapun yang dimiliki. Konsep hidup sederhana adalah perilaku yang
disesuaikan dengan kondisi sesungguhnya. Perilaku atau gaya hidup minimalis ini
lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan utama seperti makanan yang bergizi,
tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan. Sementara itu, menurut penjelasan di
gramedia.com, konsep hidup secara sederhana ini membuat seseorang menjadi lebih
baik dan efektif. Hal ini dikarenakan seseorang dengan hidup minimalis umumnya
memiliki pola pikir sederhana dan tidak rumit dalam menentukan sebuah konsep.
Apabila
kita menerapkan hidup minimalis sama saja kita memilih untuk mengenal diri dan
menetukan hal yang membuat diri sendiri bahagia. Karena dengan hidup sederhana,
kita bisa lebih mengenal diri sendiri, menekuni hobi, lebih mensyukuri hidup,
dan dapat meningkatkan kualitas hubungan sosial.
Dengan
menerapkan konsep hidup sederhana ternyata memberikan banyak manfaat. Apa saja
manfaatnya? Berikut penjelasannya :[2]
1.
Meningkatkan
rasa syukur. Pola hidup minimalis ternyata bisa membuat seseorang lebih
bersyukur atas segala hal yang dimilikinya. Kita akan selalu merasa cukup dan
tidak lagi memikirkan pencapaian orang lain. Dengan demikian, kita bisa hidup
lebih tenang dan damai.
2.
Melatih
mengatur keuangan dengan baik. Ketika seseorang hidup sederhana, sebenarnya ia
sedang melatih dirinya untuk mengatur keuangan dengan baik. Hal ini terbukti
dengan sikap selektif dalam membeli barang. Mereka yang menerapkan hidup
minimalis, umumnya hanya akan membeli barang-barang yang penting saja. Dengan demikian,
mereka akan lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang yang dimiliki.
3.
Meningkatkan
rasa tanggung jawab. Sebagaimana dijelaskan di poin sebelumnya, bahwa seseorang
yang hidup dengan sederhana biasanya lebih selektif dalam membeli barang.
Mereka hanya akan membeli barang yang penting saja. Hal tersebut ternyata
secara tidak langsung bisa melatih seseorang menjadi lebih bertanggung jawab.
Seseorang yang selektif dalam membeli barang, maka akan menghargai barang
tersebut. Ia akan menjaga dengan penuh tanggung jawab barang yang dimilikinya.
4.
Membuat
seseorang lebih mengenal diri sendiri. Manfaat hidup sederhana selanjutnya
yaitu dapat membuat seseorang lebih mengenal dirinya sendiri. Hal ini bisa
terjadi karena seseorang dengan kehidupan sederhana memiliki distraksi lebih
sedikit. Distraksi yang dimaksudnya misalnya aktivitas media sosial, nonton
film, hingga melihat produk-produk di e-commerce. Saat seseorang tidak banyak
terdistraksi, maka ia memiliki ruang lebih untuk mengenali dirinya sendiri.
mereka juga menjadi lebih menghargai dirinya. Kondisi ini sangat baik untuk
memelihara kesehatan mental.[3]
Mengenai
kesedehanaan, kebanyakan orang keliru dalam menafsirkan kata sederhana dalam
hidup. Lantaran di berbagai kasus ada sebagian orang yang menyangka bahwa orang
yang berpakaian jelek dan murah atau rumahnya kurang elok, orang itu bisa
disebut sebagai seorang yang sangat sederhana.
Kalau
dari sana hendak diukur kesederhanaan, kita tidak akan bertemu hakikat yang
sebenarnya. Kita tidaklah dapat berpedoman kepada lahiriyahnya saja. Oleh
karenanya, yang sederhana itu bukan pada bentuk lahir, bukan pada kemestian
orang kaya dan termasyhur saja, bukan pula diperuntukkan bagi kaum fakir
miskin. Tetapi Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal Buya
Hamka mengatakan yang sederhana itu adalah niat, sederhana tujuan, yang
merupakan tujuan segala manusia yang berakal. Berikut perfektif sederhana
menurut Buya Hamka:[4]
Pertama, sederhana dalam niat, “Tidak usah
berniat hendak jadi raja. Tidak perlu bercita-cita jadi orang berpangkat dengan
gaji besar, akan mengharapkan bintang yang akan dihiaskan di dada. Yang perlu
ialah meluruskan niat. Sebagai makhluk hidup, kita harus berjasa kepada
kehidupan. Sebagai laki-laki kita harus tegak pada garis laki-laki. Sebagai
manusia, kita harus mempunyai kemanusiaan. Jika telah cukup kemanusiaan,
walaupun kaya atau papa, termasyhur atau tidak terkenal, semuanya hanya warna
hidup belaka, bukan hakikat hidup. Hakikat hidup ialah, tujuan, niat suci dan sederhana
itu.”
Kedua, sederhana dalam berpikir. Untuk
tercapainya perlu niat hidup yang suci, teratur urusan hidup kita, tercapai
keselamatan hidup di dunia yang fana, menjelang akhirat yang baka, hendaklah
kita mementingkan pikiran kita sendiri. Pikiran yang matang dapat membedakan
yang gelap dengan yang terang, yang hak dengan yang batil. Dapat membuang
jauh-jauh pendapat yang salah dan pendirian yang curang. Kalau tidak dengan
pikiran yang teratur beres, tidaklah lahir kemanusiaan yang sempurna dan tidak pula
akan maju langkah menuju kemuliaan dan ketinggian.
Yang amat berbahaya bagi hidup ialah pikiran yang tidak
tegak sendiri, yang hanya berlindung atau terpengaruh oleh pikiran orang lain.
Kekuatan hanya apabila ditolong orang lain. Tidak dapat dibiarkan hidup
sendiri. Tak ubahnya dengan rumput yang tumbuh di bawah naungan pohon beringin,
hidup segan mati tak mau, sebab dia tidak mendapat cahaya yang langsung dari
matahari.” Jadi, berpikirlah sederhana dan selalulah menjaga tiga hal, yakni
tawakkal kepada Allah, menghidupkan cita-cita dalam hati, dan berbaik sangka
kepada sesama manusia.
Ketiga, sederhana keperluan hidup, Buya
Hamka menuliskan hal ini, “Dapat makan dua kali sehari, pakaian dua persalinan,
rumah yang cukup udaranya untuk tempat diam, dapat menghisap udara dan
bergerak, kita sudah dapat hidup. Cuma nafsu jugalah yang meminta lebih dari
itu, sehingga di dalam memenuhi keperluan hidup, kerapkali manusia lupa akan
kesederhanaan”.[5]
Selanjutnya dijelaskan, “Kalau kita
perturutkan saja kehendak nafsu, tidak kita beri batas perjalanannya supaya
sederhana, tidaklah nafsu itu akan berujung. Padahal jika kita terima apa yang
ada, sabar dan tahan hati, dan berusaha menghindarkan pengangguran, maka nafsu
itu akan menerima berapapun yang ada.”
Kemudian, Buya Hamka memberikan
ilustrasi, “Binatang apabila telah kenyang perutnya, akan terus tidur,
istirahat. Tetapi manusia, walaupun telah kaya, bertambah kaya, bertambah tidak
senang hidupnya. Bahkan bertambah tamak dan lobanya, bertambahlah sayang akan
bercerai dengan harta.”
Demikian
yang dapat penulis sampaikan, semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua
khususnya PNS. Untuk selalu menjadi teladan bagi masyarakat dengan menjadi
pribadi yang sederhana untuk hidup bersyukur dan bermanfaat bagi sesama.
Penulis
: Agus Rodani
Pegawai
pada Kanwil DJKN Kalimantan Barat
[1]
Tegas Minta Pegawai
Kemenkeu Tak Pamer Hidup Mewah, Sri Mulyani: Harus Kerja Jujur dan Bersih :
Okezone Economy
[2]
https://katadata.co.id/sitinuraeni/berita/622892406ad22/menerapkan-konsep-hidup-sederhana-agar-lebih-tenang-dan-bahagia
[3] https://katadata.co.id/sitinuraeni/berita/622892406ad22/menerapkan-konsep-hidup-sederhana-agar-lebih-tenang-dan-bahagia
[5] https://tanwir.id/sederhana-dalam-hidup-perspektif-buya-hamka/
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |