Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 1 50-991    ID | EN      Login Pegawai
 
Artikel DJKN
Crowdfunding sebagai Instrumen Alternatif Pendorong Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia
Kamsidah
Kamis, 24 November 2022 pukul 13:58:26   |   32691 kali

Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini sedang mengalami penurunan akibat pengaruh perlambatan ekonomi global. Kebijakan seperti insentif bagi pelaku usaha yang berorientasi ekspor atau kemudahan izin usaha yang membuatnya menjadi berpengaruh. Dari sini alangkah baiknya jika Indonesia mendukung salah satu instrumen keuangan yang kini populer di dunia internasional yang biasa disebut dengan crowdfunding.

Crowdfunding sebagai skema pembiayaan yang dijuluki 'pendanaan demokratis' karena konsep crowdfunding adalah kumpulan dengan skala kecil, namun berasal dari sejumlah orang sehingga dapat mendanai sebuah project. Crowdfunding dikelola oleh sebuah platform berbasis internet sehingga mudah di akses. Crowdfunding yang menjadi trend 'investasi online' di website akan menampilkan berbagai produk seperti di website toko online. Namun, yang membedakan ialah produk tersebut tidak dijual melainkan untuk pendanaan dan pengguna dapat dengan mudah menyetor dana seperti dalam jual beli di toko online.

Crowdfunding menjadi sangat populer dan fenomenal di dunia dengan jumlah platform crowdfunding mencapai 1.250 unit serta menggalang dana hingga USD162 miliar pada tahun 2014 dan meningkat dua kali lipat pada tahun 2015 menjadi USD 344 miliar. Pada tahun 2016 jumlah platform crowdfunding meningkat menjadi 2000 unit dan mampu menghimpun dana di luar modal ventura dengan pencapaian pendanaan sekitar USD 60 miliar.

Crowdfunding sendiri adalah teknik pendanaan untuk proyek atau unit usaha yang melibatkan masyarakat secara luas. Konsep crowdfunding pertama kali dicetuskan di Amerika Serikat pada tahun 2003 dengan diluncurkannya sebuah situs bernama Artistshare. Dalam situs tersebut, para musisi berusaha mencari dana dari para penggemarnya agar bisa memproduksi sebuah karya. Hal ini menginisiasi munculnya situs-situs crowdfunding lainnya seperti kickstarter yang berkecimpung di pendanaan industri kreatif pada tahun 2009 dan Gofundme yang mengelola pendanaan berbagai acara dan bisnis pada tahun 2010.

Crowdfunding dibagi dalam 4 jenis yaitu:

1. Donation Based

Sesuai namanya, para pendonor yang menyetorkan modalnya tidak mendapat imbalan apapun dari proyek yang diajukan. Biasanya pada donation based, crowdfunding memang diperuntukkan untuk proyek-proyek yang bersifat non-profit seperti membangun panti asuhan, sekolah dsb.

2. Reward Based

Pada jenis ini, mereka yang mengajukan proposal biasanya memberikan penawaran berupa hadiah atau imbalan lainnya berupa barang, jasa atau sebuah hak, bukan memberikan bagi hasil dari keuntungan yang didapat dari proyek tersebut. Crowdfunding jenis ini biasanya diperuntukkan untuk proyek dari industri kreatif seperti games, dimana para donatur yang mendanai proyek tersebut akan diberikan fitur-fitur menarik dari games tersebut.

3. Debt Based

Sebenarnya crowdfunding jenis ini sama dengan pinjaman biasa. Para calon debitur akan mengajukan proposalnya dan para donatur atau kreditur akan menyetorkan modal yang dianggap sebagai pinjaman dengan imbal balik berupa bunga.

4. Equity Based

Konsepnya sama seperti saham, dimana uang yang disetorkan akan menjadi ekuitas atau bagian kepemilikan atas perusahaan dengan imbalan dividen.

Crowdfunding dapat menjadi alternatif sumber pendanaan yang dapat digunakan oleh perusahaan start up dan UMKM yang ingin mengembangkan usahanya. Biasanya sebuah perusahaan rintisan banyak mengalami kasus kesulitan dalam memperoleh pinjaman dari bank karena kurangnya kepercayaan terhadap perusahaan terkait pelunasan pinjaman serta tidak ada jaminan atas aset yang dapat digunakan jika perusahaan yang berhutang mengalami default. Dengan skema crowdfunding akan membuka peluang pendanaan untuk bisnis startup dan UMKM. Selain itu, dana melalui crowdfunding biasanya dikenakan biaya yang lebih murah dari pada meminjam dari bank. Selain mendanai, berinvestasi melalui crowdfunding memberikan laba atas simpanan yang lebih tinggi dari bank meskipun berisiko lebih tinggi pula.

Crowdfunding juga diharapkan dapat memberikan efek eksternalitas yang positif, yaitu dengan mendukung keinginan masyarakat untuk menjadi wirausaha karena mendapatkan pendanaan melalui crowdfunding sangat mudah. Penyuntikan dana melalui crowdfunding merupakan salah satu keunikan dari produk. Pada saat yang sama, crowdfunding yang sebagian besar berbasis internet akan memudahkan masyarakat dalam mengakses investasi guna mendorong lahirnya investor baru.

Bagaimana dengan pertumbuhan crowdfunding di Indonesia

Untuk meningkatkan daya serap dana investasi dari masyarakat, equity crowdfunding hadir sebagai salah satu instrumen alternatif untuk mengajak masyarakat Indonesia ikut andil dalam mendorong pertumbuhan perekonomian di Indonesia.

Selang dua tahun setelah mengesahkan aturan P2P lending, OJK mengetok POJK No.37/POJK.04/2018 tentang Layanan Urun Dana Melalui Penawaran Saham Berbasis Teknologi Informasi (Equity Crowdfunding). Equity crowdfunding terbilang baru di Indonesia, hingga saat ini baru ada 3 perusahaan penyelenggara equity crowdfunding yang telah berizin di OJK.

Di Indonesia, crowdfunding masih belum terlalu populer, namun memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi instrumen pengumpulan dana investasi. Penggunaanya relatif mudah serta sudah berbasis internet sehingga dapat diakses setiap orang.

Pada dasarnya equity crowdfunding hampir sama dengan investasi pasar modal, ada Penerbit, Penyelenggara Layanan Urun Dana, dan Pemodal. Perbedaannya, pada equity crowdfunding penawaran saham dilakukan oleh penerbit untuk menjual saham secara langsung kepada pemodal melalui sistem elektronik secara online, lalu yang diberikan kucuran dana atau selanjutnya disebut Penerbit adalah badan hukum Indonesia berbentuk Perseroan Terbatas dengan jumlah modal disetor tidak lebih dari Rp 30 Miliar. Penerbit juga tidak diperbolehkan merupakan perusahaan dengan kriteria berikut: dikendalikan baik langsung maupun tidak langsung oleh suatu kelompok usaha atau konglomerasi, perusahaan terbuka atau anak perusahaan terbuka, dan memiliki kekayaan lebih dari 10 miliar rupiah (tidak termasuk tanah dan bangunan).

Dalam praktiknya, terdapat tiga pelaku utama, antara lain: Pertama, Penerbit merupakan badan hukum Indonesia berbentuk perseroan terbatas yang menawarkan saham melalui penyelenggara. Kedua, Penyelenggara Layanan Urun Dana yang selanjutnya disebut Penyelenggara adalah badan hukum Indonesia yang menyediakan, mengelola, dan mengoperasikan Layanan Urun Dana. Ketiga, Pemodal adalah pihak yang melakukan pembelian saham Penerbit melalui Penyelenggara.

Penawaran saham setiap penerbit melalui layanan urun dana ini dilakukan melalui penyelenggara yang telah memperoleh izin dari OJK dan penawaran saham dilakukan dalam jangka waktu paling lama 12 bulan dengan total dana yang dihimpun melalui penawaran saham paling banyak Rp10 Miliar. Selain itu, berdasarkan POJK Nomor 37/POJK.04/2018, setiap pemodal dengan penghasilan sampai dengan Rp500 Juta per tahun, maka batas maksimal investasi pemodal tersebut adalah 5 persen dari jumlah pendapatan per tahun. Setiap pemodal dengan penghasilan lebih dari Rp500 Juta per tahun, maka batas maksimal investasi pemodal tersebut adalah 10 persen dari jumlah pendapatan per tahun. Aturan ini dikecualikan bagi pemodal yang merupakan badan hukum dan mempunyai pengalaman berinvestasi di Pasar Modal yang dibuktikan dengan kepemilikan rekening Efek paling sedikit 2 (dua) tahun sebelum masa penawaran saham.

Melihat peluang yang cukup besar ini, sangat disayangkan bahwa pertumbuhan crowdfunding masih cukup lambat dikarenakan ketergantungan terhadap perbankan sebagai industri keuangan konvensional masih diminati oleh masyarakat Indonesia dibandingkan dengan platform crowdfunding. Hal tersebut dapat dilihat ketika masyarakat membutuhkan modal untuk membuka usaha atau tiba-tiba memiliki ide inovatif untuk memulai usaha, mereka akan mengajukan pinjaman modal dalam bentuk kredit atau pembiayaan kepada sektor perbankan.

Crowdfunding memang sudah mulai berjalan di Indonesia namun belum diketahui oleh masyarakat luas. Selain itu, secara umum crowdfunding di Indonesia masih berdasarkan iuran. Melihat hal tersebut, crowdfunding perlu dikembangkan lebih lanjut agar tidak hanya menjadi wadah pendanaan yang potensial tetapi juga instrumen investasi yang menguntungkan serta dana yang diinvestasikan dalam proyek dapat berbentuk dividen atau bunga.

Namun, pastikan Sobat hanya meminjam dan berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang berizin dan/atau terdaftar di OJK ya, crosscheck terlebih dahulu dan jangan lupa perhatikan aspek Legal dan Logisnya.

Penulis: Kamsidah dan Della Febriana PU

Daftar Pustaka:

Bootup. 2020. Apa itu crowdfunding. https://bootup.ai/blog/apa-itu-crowdfunding/

Chill Robert. 2015 .Perkembangan Crowdfunding .https://blog.kitabisa.com/perkembangan crowdfunding-dahulu-hingga-kini/

https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/Article/20569

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Peta Situs | Email Kemenkeu | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami | Oppini