Dampak Aset Bendungan dari Sudut Pandang (Ilmu) Ekonomi
Andar Ristabet Hesda
Selasa, 15 Februari 2022 pukul 16:12:26 |
6973 kali
Sejak
tahun 2014, pembangunan bendungan menjadi salah satu hal yang diprioritaskan
dan telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Dalam kurun waktu
enam tahun terakhir, paling tidak terdapat 65 bendungan yang telah dibangun
(Purnamasari, 2021). Dalam konteks pengelolaan BMN, utilisasi aset bendungan
mungkin “hanya” termasuk ke dalam kluster Penetapan status penggunaan (PSP). PSP
sendiri merupakan salah satu bentuk utilisasi Barang Milik Negara (BMN) yang
paling dominan dan sering kali dianggap “remeh” karena sifatnya hanya
menetapkan tipe penggunaan suatu aset. Namun demikian, di balik penggunaan suatu
aset seringkali terdapat dampak yang secara langsung maupun tidak mempengaruhi
kondisi ekonomi dan sosial masyarakat di sekitar lokasi aset. Sebagai contoh, jika
kita mau melihat lebih jauh, maka aset bendungan sejatinya punya manfaat yang
nyata bagi masyarakat, misal melalui terciptanya ketahanan irigasi, pengendalian
banjir, mendorong potensi pariwisata, pengembangan energi tenaga air, mendorong
terbukanya jenis lapangan kerja baru, dan lainnya. Oleh karena itu, pengukuran
dampak ekonomi, sosial, dan lainnya memang perlu dilakukan sebagaimana telah diamanatkan
oleh Peraturan Menteri Keuangan Nomor 349/KM.6/2018 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Evaluasi Kinerja BMN (PMK 349).
Namun
demikian, tulisan ini tidak akan membahas tentang bagaimana implementasi PMK
349, namun akan lebih menekankan pada bagaimana sudut pandang ilmu ekonomi
dalam melihat dampak dari sebuah aset, terutama bendungan. Pada dasarnya
terdapat dua hal utama yang perlu diperhatikan dalam menilai kinerja suatu
aset, yaitu aspek manfaat dan biaya. Aspek manfaat sejatinya melihat sisi
positif dari keberadaan suatu aset, sementara aspek biaya mengevaluasi apakah terdapat
sisi negatifnya atau eksternalitas negatif yang mungkin muncul. Penggunaan dua
konsep ini bertujuan agar evaluasi kinerja dapat dilakukan secara holistik. Secara
detail, berikut ini saya akan mencoba menguraikan contoh bagaimana para
peneliti di bidang ekonomi menilai dampak atau kinerja dari suatu aset, dhi.
bendungan.
Apakah
dampak bendungan pada area hulu dan hilir berbeda?
Esther
Duflo[1] dan Rohini Pande, dalam
papernya “DAMS” yang terbit di The Quarterly
Journal of Economics[2] tahun 2007 memberikan analisis dengan detail dan komprehensif
tentang bagaimana dampak dari aset bendungan besar di India terhadap
produktivitas pertanian, ketahanan irigasi, dan kemiskinan. Uniknya, mereka
membagi analisis dampak menjadi dua bagian, yaitu: 1) efeknya terhadap
masyarakat di sekitar bendungan (hulu) dan 2) masyarakat yang berada di hilir
dari bendungan tersebut.
Hasil
penelitiannnya cukup mengejutkan. Ringkasnya, dengan adanya pembangunan
bendungan memang memberikan dampak positif terhadap produktivitas pertanian,
ketahanan irigasi, dan juga mendorong penurunan angka kemiskinan. Namun
demikian, hasil ini ternyata hanya berlaku kepada masyarakat yang tinggal di
area hilir, sementara masyarakat di area hulu justru merasakan efek yang
sebaliknya, dimana produktivitas pertanian menurun, kemiskinan meningkat, dan
rawan banjir. Kenapa hal ini terjadi? Pembangunan aset bendungan akan
menyebabkan perubahan yang cukup ekstrem di area hulu. Jika hal ini tidak
dimitigasi dengan baik, maka dapat berdampak pada resiko hilangnya atau
berubahnya lapangan pekerjaan, sistem irigasi hulu yang cenderung terbatas,
atau potensi banjir ketika sistem irigasi tidak berjalan baik. Eksternalitas
positif yang diharapkan, misal dari sektor pariwisata, ternyata juga tidak
cukup signifikan untuk mengurangi kesenjangan antara hulu dan hilir.

(Ilustrasi aset bendungan, foto: WH)
Penelitian
ini juga telah dilakukan untuk konteks Indonesia oleh Gunawan Aribowo dan
Muhammad Halley Yudhistira dalam papernya Large
Dams and Welfare: Empirical Study in Indonesia yang terbit di Economic Development Analysis Journal
tahun 2021. Mereka tidak melihat dampak bendungan secara spesifik tapi lebih fokus
kepada bagaimana implikasinya terhadap kesejahteraan masyarakat secara umum.
Hasil penelitian menunjukan hal yang senada dengan apa yang ditemukan oleh
Duflo dan Pande. Aset bendungan juga terbukti mendorong peningkatan
kesejahteraan masyarakat di area hilir, namun efeknya justru negatif di area
hulu. Hal ini juga disebabkan oleh turunnya produktivitas pertanian dan
aktivitas pekerjaan di area hulu. Kedua penelitian ini menunjukkan bahwa
pembangunan bendungan berpotensi menimbulkan pelebaran kesenjangan antar hulu
dan hilir yang pada akhirnya memperbesar ketimpangan di suatu daerah.
Adakah dampak bendungan terhadap tatanan
sosial?
Selanjutnya, saya juga
mencoba melakukan analisis dampak bendungan (infrastruktur pertanian) terhadap agregat
modal sosial pada level kabupaten/kota. Hal ini didorong oleh adanya beberapa
studi kualitatif yang menunjukkan bahwa pembangunan bendungan yang tidak
dikelola dengan baik dapat mengganggu tatanan sosial yang ada di masyarakat
sebagai akibat dari relokasi tempat tinggal (Fadli et al., 2019; Surjono, 2015).
Namun demikian, berdasarkan hasil pengolahan data dari Survei Sosial Ekonomi
Nasional (SUSENAS) tahun 2014 dan 2018, hubungan antara infrastruktur pertanian
(dhi. bendungan dan irigasi) dan pembentukan modal sosial jangka panjang ternyata
cenderung positif (lihat Gambar 1).
Gambar 1
Korelasi antara Infrastruktur Pertanian (Bendungan dan Irigasi) dan Modal
Sosial

Sumber:
SUSENAS 2014 dan 2018
Hal ini menunjukkan bahwa selain aspek pertanian, ketahanan irigasi, kemiskinan, dan kesejahteraan, pembangunan bendungan di Indonesia juga berhubungan dengan pembentukan modal sosial di masyarakat dalam jangka panjang. Temuan ini secara umum tidak sejalan dengan beberapa penelitian kualitatif yang menyoroti adanya efek negatif pembangunan infrastruktur terhadap kondisi sosial dalam jangka pendek. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa proses pembangunan mungkin akan menyebabkan distorsi sosial pada jangka pendek, tapi dalam jangka panjang distorsi tersebut akan berkurang melalui proses adaptasi sosial dan pada akhirnya akan memicu kembali pembentukan modal sosial di masyarakat. Pembentukan ini mungkin juga disebabkan oleh adanya peningkatan interaksi masyarakat ketika memanfaatan aset, seperti pada masa tanam, upaya pemeliharaan aset, kunjungan wisata, atau aktifitas lainnya.

(Ilustrasi aset irigasi, foto: WH)
Dari
ketiga hasil penelitian di bidang ekonomi tersebut, terdapat dua garis besar yang
bisa kita ambil tentang bagaimana mengevaluasi dampak dari sebuah aset.
Pertama, suatu aset memiliki potensi untuk memberikan manfaat yang lebih jauh
dari yang kita duga seperti bagaimana bendungan mampu menurunkan kemiskinan dan
meningkatkan kesejahteraan pada area hilir serta menstimulasi pembentukan modal
sosial pada jangka panjang. Kedua, suatu aset juga memiliki potensi menimbulkan
efek disruptif, misal terganggunya ekonomi pada area hulu dan meningkatnya
kesenjangan di suatu daerah. Hal ini tentunya akan berimplikasi pada bagaimana
kebijakan pemerintah dalam mengoptimalkan sisi-sisi positif suatu aset serta di
saat yang sama juga memitigasi risiko dampak negatif yang mungkin muncul di
kemudian hari. Kunci dari keduanya mungkin adalah dengan memperbaiki tata
kelola perencanaan infrastruktur yang berorientasi pada prinsip keberlanjutan
dan keadilan.
Penulis: Andar Ristabet Hesda (KPKNL Surakarta)
Referensi
Duflo,
E., & Pande, R. (2007). DAMS.
Quarterly Journal of Economics, 122(2), 601–646
Aribowo,
G., & Yudhistira, M. H. (2021). Large Dams and Welfare : Empirical Study in
Indonesia. Economics Development Analysis
Journal, 10(1), 70–85. https://doi.org/10.15294/edaj.v10i1.40742
Purnamasari,
D. M. (2021). Jokowi: Ada 65 bendungan yang telah dibangun sejak 6 tahun lalu. Kompas.com. https://nasional.kompas.com/read/2021/02/14/14415531/jokowi-ada-65-bendungan-yang-telah-dibangun-sejak-6-tahun-lalu
Surjono,
G. (2015). Perubahan Sosial Masyarakat Segitiga Hilir Dampak Pembangunan Waduk
Kedung Ombo. Jurnal PKS, 14(2),
225–236. https://ejournal.kemsos.go.id/index.php/jpks/article/download/1322/729
Fadli, R., Noor, T. I., & Isyanto, A. Y. (2019).
The Social Economic Impact of the Development of Jatigede Dam. Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROINFO GALUH,
6(3), 552–563.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |