Fotografi : Memaksimalkan Potensi Kamera Lawas
Irfan Fanasafa
Selasa, 11 Januari 2022 pukul 15:08:50 |
531 kali
Tentu seluruh Kementerian/Lembaga
(K/L) bagaimana efek penghematan belanja di tahun anggaran 2021 sebagai langkah
dari Refocusing dan Realokasi Belanja Kementerian/Lembaga TA 2021. Refocusing dan Realokasi Belanja K/L
perlu dilakukan bukan hanya untuk mendukung alokasi anggaran program vaksinasi
secara nasional, tetapi juga untuk penanganan pandemi COVID-19, dukungan
anggaran perlindungan sosial kepada masyarakat serta percepatan pemulihan
ekonomi nasional.
Sebagai akibat
kebijakan di atas peralatan-peralatan lama yang merupakan belanja modal urung dilakukan
peremajaan/upgrading apalagi bagi para fotografer kendala ini amat sangat
terasa dimana di era pandemi permintaan pengisian konten-konten internet
meningkat pesat seiring dengan diminimalkannya pertemuan langsung berganti
dengan era Zoom Meeting maupun sosialsi dan seminar via Webinar. Kamera DLSR yang
dulu terasa canggih kini tergopoh-gopoh dipaksa bekerja keras untuk
menghasilkan konten video dan foto fullhd. Jalan keluarnya? Inilah saatnya kita
memaksimalkan skill individu dan
potensi terpendam kamera.
Teknologi kamera
berkembang begitu pesat dalam beberapa tahun terakhir hingga kamera baru
berusia setahun pun akan terasa ketinggalan zaman dan tidak mampu mengambil
gambar yang bagus. Komparasi aple to aple,
kamera dengan kemampun 6 fps yang terasa canggih kini terasa usang dengan
kehadiran kamera teknologi baru 7 fps. Belum lagi teknologi ISO kamera baru yang
mampu melakukan pemotretan minim cahaya tanpa banlaman flash tambahan dengan
hasil memuaskan tanpa noise yang
berarti. Namun tentunya bukanlah keniscayaan bahwa foto yang bagus harus
dihasilkan dengan kamera terkini dengan model tercanggih.
Berikut tips dan trik memaksimalkan potensi
kamera lama :
1. Bekerja dalam batasan kemampuan kamera
Salah satu hal
terbaik yang dapat Kita lakukan jika Kita ingin mendapatkan gambar yang bagus
dengan peralatan lama adalah dengan mengetahui potensi dan keterbatasan
peralatan yang kita gunakan. Kemudian ambil gambar yang sesuai dengan
karakteristik tersebut. Contoh kasus, untuk kamera lama rentang produksi 10
tahun yang lalu tidak disarankan mengambil gambar di tempat minim cahaya dengan
ISO tinggi, carilah tempat dengan intensitas cahaya cukup dan maksimal
settingan ISO 800.
2. Keterbatasan bisa menjadi hal yang baik
Ironisnya,
terkadang keterbatasan kamera lawas justru bisa membantu Kita mendapatkan
gambar yang lebih baik karena kita akan dipacu untuk meningkatkan skill
fotografi untuk mengimbangi kekurangan kamera yang ada.
Misalnya,
menggunakan mode burst ultra-cepat
pada kamera modern sebenarnya dapat menghambat kemampuan Kita untuk mendapatkan
foto yang bagus. Menggunakan kamera lama tanpa fitur tersebut dapat memaksa Kita
untuk merencanakan bidikan foto, memikirkan hal-hal seperti komposisi, dan
bagaimana komposisi subjek dalam elemen foto, dan pada akhirnya dapat
menghasilkan gambar yang lebih baik sebagai hasilnya.
Bekerja pada
pemahaman eksposur, pencahayaan, dan komposisi. Ketahui cara mengontrol kamera
yang Kita miliki untuk mendapatkan bidikan yang Kita inginkan terlepas dari
apakah kamera tersebut baru atau sudah melewati masa keemasannya.
Kesimpulan
Kamera produksi
lawas tentu tidak akan mampu bersaing dengan kamera high end keluaran terbaru, tetapi pastinya potensinya bisa
dimaksimalkan bila kira rajin menggali baik dengan surfing di internet atau mengunduh manualnya secara online serta
terus bereksperimen serta mencoba mengambil foto dalam mendukung pekerjaan kita.
Kita mungkin akan terkejut melihat betapa potensi dan kemampuan kamera-kamera lama
ini muncul.
Penulis : Irfan Fanasafa
Referensi : Simon Ringsmusth,”How to Get
Great Photos with an Old Camera,” https://digital-photography-school.com/tips-great-photos-old-camera/
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |