Menjaga Momentum di Tengah Pandemi
Thaus Sugihilmi Arya Putra
Jum'at, 13 Agustus 2021 pukul 10:09:08 |
605 kali
Minggu pertama Agustus ini ada dua hal yang
membuat bangsa Indonesia bangga dan bahagia. Pertama, berhasilnya ganda putri
bulutangkis Indonesia, Greysia Polii dan Apriyani Rahayu merebut medali emas di
Olimpiade Tokyo, Jepang. Lagu Indonesia Raya berkumandang dan bendera Merah
Putih berkibar di arena olah raga multi
event tersebut. Semua rakyat Indonesia yang menyaksikan perstiwa tersebut
terharu, bangga, dan meningkat rasa nasionalisme-nya. Di tengah pandemi
Covid-19, tidak menyurutkan tekad anak bangsa untuk memberikan yang terbaik
bagi negerinya.
Kedua, pada tanggal 5 Agustus lalu, Pemerintah
menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II tahun 2021 sebesar
7,07 persen (year on year/yoy). Dengan capaian
tersebut, Indonesia telah berhasil keluar dari resesi ekonomi. Capaian pertumbuhan
ekonomi triwulan II di atas tidak lepas dari upaya keras dan sinergi dari
seluruh komponen bangsa termasuk Pemerintah dan dunia usaha dalam menghadapi pandemi
Covid-19. Pandemi Covid-19 telah memberikan dampak yang sangat destruktif
terhadap kesehatan dan perekonomian nasional.
Dari kedua capaian di atas, dapat diambil
pelajaran berharga “dalam kondisi sesulit apapun, tekad, kerja keras yang
sistematis dan fokus, serta sinergi akan memberikan hasil yang terbaik”. Hasil
tidak akan menghianati upaya yang dilakukan. Oleh sebab itu, dibutuhkan tekad
yang kuat dan kerja keras dari semua komponen bangsa untuk mengatasi pandemi
Covid-19. "Sebuah mimpi tidak
menjadi kenyataan melalui sihir; tapi membutuhkan keringat, tekad dan kerja
keras." - Colin Powell
Muara dari pandemi Covid-19 adalah pada
perekonomian nasional. Hal tersebut telah terbukti pada tahun 2020 ketika bulan
Maret 2020 Indonesia dan dunia dilanda pandemi Covid-19. Perekonomian mengalami
kontraksi hebat pada triwulan II tahun 2020. Indonesia sendiri mengalami
kontraksi sebesar 5,32 persen (yoy), relatif baik dibandingkan negara-negara lain di dunia misalnya Amerika
Serikat -10,7 persen, Jepang -9,9 persen dan Singapura -13,2 persen.
Negara-negara yang ekonominya mengalami
kontraksi cukup dalam, pada umumnya adalah negara yang mengambil kebijakan lockdown untuk mencegah penyebaran Covid-19.
Negara-negara tersebut umumnya adalah penduduk dengan pendapatan per kapita
tinggi, bukan negara kepulauan, jumlah penduduk tidak besar, atau negara kecil.
Lockdown dilakukan dengan menutup akses
masuk maupun keluar sebuah daerah/negara. Masyarakat yang tinggal di
daerah/negara tersebut dilarang untuk ke luar rumah. Konsekuensi lockdown adalah aktivitas masyarakat dan
usaha berhenti. Kebutuhan rakyat harus dipenuhi oleh Pemerintah. Hal itu juga memberikan
dampak psikologi ke masyarakat berupa kecemasan dan kesepian.
Melihat konsekuensi di atas, Pemerintah Indonesia
mengambil kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dengan PSBB,
masyarakat dan dunia usaha sektor tertentu masih bisa beraktivitas secara
terbatas dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Di samping menerapkan
PSBB, Pemerintah juga mengambil kebijakan yang komprehensif di bidang
kesehatan, fiskal dan moneter untuk mengatasi dampak pandemi Covid-19.
Memasuki tahun 2021, Pemerintah dan rakyat Indonesia melangkah
penuh optimisme dengan tetap konsisten menangani pandemi Covid-19 misalnya
melakukan vaksinasi massal dan penyediaan alkes/obat. Di samping itu,
Pemerintah mengambil kebijakan fiskal countercyclical
untuk akselerasi pemulihan ekonomi nasional. Pemerintah juga bersinergi
mensinkronkan kebijakan fiskal dengan kebijakan moneter dan sektor keuangan
untuk memperkuat daya dorong pemulihan ekonomi nasional.
Langkah yang diambil Pemerintah dan institusi terkait
(BI, OJK, LPS dan dunia usaha) membuahkan hasil. Walaupun masih mengalami
kontraksi sebesar 0,74 persen pada triwulan I tahun 2021, tetapi pertumbuhan ekonomi
tersebut telah mengalami perbaikan dari triwulan IV tahun 2020 yang sebesar-2,19 persen.
Pada triwulan II tahun 2021, pertumbuhan mencapai 7,07 persen (yoy).
Momentum pemulihan ekonomi nasional yang membaik mulai
triwulan I dan II 2021 harus kita jaga bersama walaupun pada akhir bulan Juni
terjadi second wave Covid-19. Semua
komponen bangsa mempunyai kewajiban untuk bergandeng tangan dan bersinergi agar
NKRI terbebas dari Covid-19 dan perekonomian nasional terus bertumbuh positif.
Penulis : Edward UP Nainggolan
(Kepala Kanwil DJKN Kalimantan Barat)
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |