COVID-19, Secuil Kisah Seorang Penyintas
Rakhmayani Ardhanti
Rabu, 30 Juni 2021 pukul 20:52:19 |
4456 kali
Corona Virus Disease 2019 atau yang
lebih dikenal Covid-19, yang diyakini
bermula dari kota Wuhan, China telah menyebar dan menjadi momok yang sangat
menakutkan bagi tatanan kehidupan manusia. Semua sendi kehidupan manusia
berubah sejak adanya Covid-19. Pandemi ini sampai sekarang masih berlangsung
dan bahkan angka kasus penderita di Indonesia saat ini meroket tajam dan sudah
menyentuh angka 2 juta lebih penderita.
Untuk
diketahui saya adalah seorang pemilik komorbid (penyakit penyerta) yang divonis
menderita Covid-19. Sebagai seorang mantan penderita Covid-19 atau biasa
disebut penyintas. Sebagai penyintas, kami paham dan masih terbayang rasanya ketika
masih menjadi penderita. Salah satu yang terberat adalah dikucilkan dari
lingkungan sekitar. Efek terbesar yang kami rasakan saat itu tak lain datang dari
sisi psikologis. Dari 4 anggota keluarga, 3 orang dinyatakan positif dan harus
menjalani isolasi mandiri di rumah isolasi yang telah disiapkan Pemerintah
Daerah. Tak kurang dari 14 hari dihabiskan di tempat isolasi yang berada pada kabupaten
area kami bermukim.
Kondisi fisik yang sebelumnya
baik-baik saja menjadi drop setelah dinyatakan positif Covid-19, dari mulai
demam, batuk, sampai hilang nafsu makan. Komorbid yang saya derita antara lain
diabetes dan hipertensi membuat pemulihan saya lebih lama dibanding anggota keluarga
yang lain. Penanganan khusus bagi penderita yang memiliki penyakit bawaan
antara lain lebih banyak mengkonsumsi obat. Hal ini dikarenakan harus mengonsumsi
obat komorbid dan sekaligus obat untuk gejala yang ditimbulkan akibat covid. Bersyukur
rasanya, saya tergolong rutin melakukan check-up kondisi dalam penanganan komorbid
sejak sebelum covid melanda.
Pengalaman
selama menjalani isolasi memberikan pelajaran, bahwa dukungan keluarga adalah
obat paling ampuh bagi penderita selain pengobatan yang diberikan oleh tim
tenaga kesehatan. Semangat untuk saling menguatkan memberikan energi positif
bagi seorang penderita sangat dibutuhkan, selain doa dan pertolongan dari Allah
SWT. Dorongan orang-orang di sekitar, teman, sahabat yang tak pernah berhenti
dan tak kenal lelah dalam memberikan kekuatan pun berdampak positif pada
kesembuhan. Dorongan semangat yang diberikan ini berdasarkan pengalaman pribadi
dapat memberikan energi dan motivasi yang luar biasa bagi penderita untuk dapat
melewati cobaan ini.
Saya
paham betul bahwa saat ini penderita Covid-19 mulai merambah pada lingkaran
rekan, kolega, dan keluarga terdekat kita. Melalui tulisan ini saya ingin
menyampaikan bahwa pandemi ini belum berakhir. Jangan lengah dalam menerapkan
protokol kesehatan yang berlaku. Namun demikian, jangan jadikan situasi ini
membuat kita menjadi paranoid. Banyak kita dapati informasi di media bahwa
penderita komorbid memiliki risiko lebih besar dalam tertular dan sembuh dari
Covid-19. Sebagai seorang pemilik komorbid, dengan penanganan yang baik dan
dukungan semua pihak alhamdulillaah saya dapat sembuh dari Covid-19. Semoga hal
ini dapat memotivasi perjuangan sesama komorbid dalam memerangi Covid-19.
Terakhir, satu hal yang krusial berdasarkan pengalaman adalah selalu berpikiran positif. Dan yang tak kalah penting, jaga dan patuhi anjuran pemerintah dengan menerapkan 5M (Memakai masker, Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan serta Membatasi mobilisasi dan interaksi). Saya yakin bahwa harapan saya pastilah juga menjadi harapan pembaca semua, yakni agar pandemi ini segera berlalu sehingga kita dapat menjalani kehidupan yang disebut sebagai “The True Normal” dan bukan “New Normal”. Namun, hingga saat itu tiba mari kita bersama-sama berupaya memerangi dan memutus penyebaran Covid-19. Salam sehat selalu dan tetap semangat.
Penulis : M. Abdul Rochim -- KPKNL Yogyakarta
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |