Reenactment. Belajar dan Mengenalkan Sejarah melalui Reka Ulang
Yusuf Eko Susilo
Minggu, 23 Mei 2021 pukul 20:28:27 |
7238 kali
Belajar sejarah kadang diasosiasikan
dengan kegiatan mempelajari kejadian di masa lampau yang membosankan. Duduk
membaca dan menghapalkan rentetan kejadian masa lalu. Namun ada cara belajar
sejarah yang menarik dan mengasyikkan dengan melibatkan kegiatan fisik, yaitu,
melalui reenactment.
Reenactment adalah kegiatan reka
ulang peristiwa bersejarah dengan mengenakan seragam atau pakaian dan aksesoris
di masa lalu berdasarkan riset sejarah. Riset ini dilakukan melalui studi
pustaka, wawancara, dan penelusuran lapangan. Hal yang perlu diperhatikan dalam
reenactment antara lain, detil kejadiannya seperti apa, pasukan atau
kelompok yang terlibat apa, tokoh yang terlibat siapa, seragam atau pakaian dan
aksesoris yang dipakai seperti apa, dll. Reenactment memerlukan
imajinasi dan kreativitas untuk memvisualisasikan peristiwa bersejarah dalam
bentuk reka ulang berdasarkan literatur dan informasi yang ada. Pelaku
reenactment ini disebut reenactor.
Reenactment dilakukan di hadapan
atau disiarkan untuk masyarakat dengan tujuan menghibur dan mengedukasi.
Menghibur dengan aksi-aksi para reenactor seperti dalam pertunjukan
teater. Seperti, aksi tembak menembak penuh efek ledakan. Mengedukasi dengan
menampilkan peristiwa sejarah. Mengenalkan peristiwa sejarah yang terjadi
beserta tokoh-tokoh yang terlibat. Seperti, mengenalkan bahwa pasukan yang
terlibat dalam peristiwa 10 November di Surabaya bukanlah tentara Indonesia
melawan tentara Belanda tetapi tentara Indonesia melawan tentara Inggris.
Gabungan TKR, polisi, dan badan perjuangan (PRI, API, BPRI) Indonesia melawan
tentara Inggris.
Periode waktu kejadian sejarah yang sering direka ulang oleh
para reenactor Indonesia antara lain: masa pergerakan nasional, masa
perjuangan kemerdekaan, dan masa mempertahankan kemerdekaan. Para reenactor
Indonesia juga melakukan reenactment bedasarkan peristiwa sejarah di dunia,
seperti Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Vietnam, Perang Teluk, dll.
Dalam rangka menjaga keotentikan tokoh
sejarah yang terlibat dalam peristiwa sejarah, para reenactor memakai
seragam dan aksesoris yang diusahakan semirip mungkin dengan tokoh atau
kelompok pasukan yang diperankan. Seragam dan aksesoris tersebut ada dua jenis,
yaitu: relik dan repro. Benda relik adalah seragam dan aksesoris asli yang pernah
digunakan di masa lalu. Contohnya, klewang Milsco bekas tentara KNIL dan
seragam tentara motif darah mengalir yang pernah digunakan oleh Kopasandha,
dll. Benda repro adalah seragam dan aksesoris buatan baru yang dibuat
menyerupai benda aslinya. Benda repro ini bisa dibuat sendiri atau dipesan dari
orang lain yang bisa membuatnya. Contohnya, dummy senjata yang
menyerupai senjata asli tapi tidak berfungsi seperti senjata asli dan seragam
tentara yang sudah tidak diproduksi lagi.
Reenactment memiliki persamaan dan perbedaan dengan cosplay.
Persamaannya adalah pelakunya berdandan dan bergaya semirip mungkin dengan
suatu tokoh tertentu yang diperankan mulai dari pakaian yang dikenakan, gaya
bicara, hingga tingkah laku khasnya. Perbedaannya adalah reenactment berdasarkan
pada kejadian dan tokoh yang benar ada di dunia sedangkan cosplay
berdasarkan pada kejadian dan tokoh fantasi atau fiksi.
Dalam memerankan suatu tokoh atau mereka
ulang kejadian sejarah, para reenactor tidak menyangkutpautkan diri
dengan pandangan politik apapun (No political issues). Mereka murni
melakukan reka ulang kejadian sejarah untuk tujuan edukasi. Misalnya, ketika
memerankan kejadian pertempuran tentara Belanda dengan pejuang Indonesia. Tidak
serta merta reenactor pemeran tentara Belanda mendukung tindakan
penjajahan yang dilakukan oleh Belanda. Begitu pula ketika memperagakan adegan
penculikan para jenderal oleh Pasukan Cakrabirawa. Tidak berarti pula reenactor
pemeran Pasukan Cakrabirawa mendukung tindakan penculikan tersebut.
Saat ini banyak komunitas reenactor
yang terbentuk di berbagai kota di Indonesia, antara lain: Indonesian
Reenactors, Djakarta Reenactors, Historie van Bandung, Komunitas Magelang
Kembali, Angkringers Jogjakarta, Komunitas Djokja 1945, Semarang Historical
Reenactment, Roodebrug Soerabaia, De
Mardijkers, Reenactor Ngalam, dll. Para reenactor dari komunitas reenactor
seluruh penjuru Indonesia secara rutin berkumpul untuk melakukan acara reka
ulang sejarah di kota-kota besar di Indonesia sesuai kejadian bersejarah di tempat
tersebut. Acara-acara reenactment tersebut antara lain: Peringatan Serangan Oemoem 1 Maret di
Yogyakarta, Peringatan Bandung Lautan Api di Bandung, Peringatan Hari Veteran
di Jakarta, Peringatan Magelang Kembali di Magelang, Peringatan Pertempuran
Lima Hari di Semarang, dan Peringatan Pertempuran 10 November di Surabaya. Para
reenactor juga mengadakan acara reenactment insidensial seperti
Peringatan Rapat Raksasa Lapangan Ikada, Peringatan Kebangkitan Nasional,
Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia,
Peringatan Perang Rawagede Bekasi, dll. Adapun untuk kejadian sejarah
yang terjadi di luar negeri, para reenactor melakukan reenactment
di wilayah-wilayah yang kondisi alamnya mirip dengan kondisi luar negeri,
seperti fragmen Battle of Bulge di Bukit Bintang Bandung, fragmen Battle of
Carentan di Kota Tua Semarang, dan Battle of Iwo Jima di Pantai Parangkusumo
Jogja.
Dengan mengenalkan peristiwa-peristiwa
bersejarah Indonesia, para reenactor berharap masyarakat mendapat
gambaran lebih jelas mengenai kejadian sejarah Indonesia serta memudahkan dalam
mengenal dan menghayati sejarah perjuangan bangsa Indonesia hingga pada
akhirnya meningkatkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air Indonesia.
-Yusuf Eko Susilo, Direktorat Kekayaan
Negara Dipisahkan-
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |
Foto Terkait Artikel