Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 150-991    ID | EN      Login Pegawai
Artikel DJKN

Bangkit Bersama Hadapi Tantangan

Jum'at, 14 Agustus 2020 pukul 15:22:03   |   113 kali

Bangsa Indonesia akan memperingati ulang tahun kemerdekaan ke-75 dengan suasana yang berbeda. Kita tidak dapat menyaksikan dan mengikuti lomba-lomba yang diselenggarakan dalam rangka menyambut hari kemerdekaan. Setiap orang ceria menikmati setiap kegiatan dengan berbagai kreasi yang unik dan menarik. Tidak pula akan kita lihat suasana upacara bendera yang dilakukan secara meriah dengan barisan yang tertata rapi di seluruh wilayah Indonesia. Sungguh seluruh warga akan merindukan suasana ini. Inilah episode hidup yang harus dijalani, dan kita terpilih untuk mampu menghadapi dan melewatinya. Saat ini, kita dihadapkan pada kondisi ketidakpastian paling tidak sampai dengan vaksin virus covid19 ditemukan.

Ketidakpastian akan selalu ada dan harus kita hadapi, terlebih dalam kondisi pandemi saat ini. Kita dituntut untuk mampu keluar dari kondisi ini dengan memiliki kemampuan beradaptasi secara positif dan tetap teguh dalam menghadapi situasi sulit ini (resiliensi). Kemampuan ini lebih dari sekedar bertahan. Dengan kemampuan beradaptasi ini, kita akan lebih tenang dan menghindari kepanikan serta akan menumbuhkan keyakinan untuk dapat menyesuaikan dengan keadaan yang saat ini kita hadapi bersama.

Kapasitas kita harus kita tingkatkan agar tetap adaptif sebagai respon atas perubahan yang terjadi. Paling tidak terdapat 4 (empat) kompetensi yang harus selalu ditingkatkan yaitu kompetensi teknologi, kompetensi sosial dan emosional, kompetensi moral, dan kompetensi konteks.

Berdasarkan hasil survei online yang dilakukan oleh LIPI bersama dengan Balitbang Ketenagakerjaan dan Lembaga Demografi FEB UI selama periode 24 April 2020 s.d. 2 Mei 2020 diketahui bahwa 15,6% pekerja mengalami PHK dan 40% pekerja mengalami penurunan pendapatan. Sedangkan dari sisi pengusaha, pandemi telah menyebabkan kegiatan usaha berhenti dan rendahnya kemampuan bertahan pengusaha. Hasil survei 39,4% usaha terhenti, 57,1 usaha mengalami penurunan produksi dan 3,5% tidak terdampak. Kemampuan bertahan dari pengusaha juga terbatas, dimana 41% pengusaha hanya dapat bertahan kurang dari tiga bulan

Pada kondisi pandemi saat ini, tidak bisa semuanya menggantungkan pada pemerintah, masing-masing kita juga harus dapat menata diri dengan inovasi dan perilaku yang bertanggungjawab. Hingga saat ini, kita tidak tahu kapan vaksin Covid-19 ini ditemukan, dunia penuh dengan ketidakpastian. Kita tidak bisa menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah untuk mengatur semuanya guna menyelesaikan seluruh permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan yang diharapkan mampu meyelesaikan berbagai permasalahan sebagai dampak dari pandemi Covid19, antara lain dari sisi ekonomi terdapat kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebagai upaya untuk mendukung sektor riil baik dari sisi permintaan maupun penawaran serta bantuan pemulihan untuk UMKM. Program-program tersebut dijalankan sebagai upaya untuk menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Kita juga harus mengatur diri kita sendiri dengan kebiasaan atau perilaku baru yang dapat mendukung kebijakan penanggulangan covid ini dan dapat bersama menggerakkan roda perekonomian dengan tetap berpedoman pada protokol kesehatan. Sikap acuh dan tidak bertanggungjawab akan menimbulkan permasalahan yang kontraproduktif dengan upaya-upaya yang telah dijalankan.

Sikap-sikap positif harus senantiasa kita munculkan yang menegaskan bahwa kita akan mampu mengatasinya. Untuk dapat bertahan berarti kita harus mampu beradaptasi dan untuk beradaptasi maka kita harus melakukan perubahan dan meningkatkan kapasitas kita dengan menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungan yang sebenarnya. Pepatah mengatakan bahwa sebelum rasa sakit melebihi rasa takutnya maka sesungguhnya seseorang belum mau berubah. Karena itu, rasa sakit yang kita alami saat ini dapat menjadi pendorong atau pemantik kita untuk berubah. Bukankah harusnya kita sudah berubah di beberapa waktu yang lalu dan namun ada kecenderungan kita untuk menyangkal. Beberapa orang mungkin sudah mampu merespon dengan melakukan perubahan.

Kita memiliki potensi besar. Dan kita memiliki kemampuan untuk menjadi lebih baik dan mencapai peningkatan yang signifikansi dalam hidup kita. Ketidakmampuan untuk bertransaksi dengan stres atau tekanan emosional akan berpengaruh dalam upaya kita merubah hidup ini. Dalam memulai perubahan diperlukan komitmen, konsistensi dan harus melakukan pekerjaan yang tidak mudah. Karena itu, perlu upaya untuk bersama-sama mengoptimalkan kapasitas kita dengan meningkatkan kompetensi.

Pertama, kompetensi teknologi, dimana kita dituntut untuk memahami, menggunakan dan beradaptasi dengan teknologi baru. Pandemi telah merubah cara dan pola kerja kita, dimana saat ini kita semakin akrab dengan kegiatan secara virtual. Masyarakat sudah mulai terbiasa melakukan transaksi kebutuhan melalui online. Adaptasi dengan teknologi menjadi hal utama yang harus kita kuasai.

Kedua, kompetensi sosial dan emosional, dimana kita dituntut untuk lebih meningkatkan kemampuan kita dalam bersosialisasi dan mengekspresikan nilai-nilai yang kita miliki dalam menjalin hubungan dengan pihak lain.

Ketiga kompetensi moral, dimana setiap orang memiliki modal berupa kepercayaan, kesehatan, tenaga dan modal. Kepercayaan akan diperoleh apabila memiliki integritas yang harus senantiasa dijaga dan diimplementasikan dalam setiap perilaku. Integritas kita akan menjadi cermin diri untuk dapat memperoleh kepercayaan dari pihak lain.

Keempat kecerdasan konteks, dimana kita dituntut untuk lebih cepat memahami atas konteks/esensi dari suatu peristiwa dan dampak yang akan muncul sehingga kita mampu senantiasa melakukan kegiatan atau upaya yang relevan dengan peristiwa yang terjadi. Selanjutnya diharapkan mampu menangkap dengan cepat setiap kesempatan yang muncul dengan ide-ide dan inovasi baru sehingga mampu menyikapi setiap perubahan dengan tepat.

Pandemi ini telah menjadi pemantik adanya perubahan. Teknologi menjadi hal yang utama dalam merespon perubahan ini. Saatnya kita berinstropeksi dengan adanya pandemi ini. Dampak pandemi sangat besar ke berbagai aspek. Dengan semangat gotong royong, kita saling sinergi dan kolaborasi merespon dampak pandemi. Semoga kita sebagai warga negara Indonesia dapat bersama menghadapi tantangan ini dengan kemampuan beradaptasi dan komitmen menuju ke arah kehidupan baru yang lebih baik. Indonesia tanah air kita, harus kita rawat bersama dan bangkit bersama hadapi tantangan untuk membangun negeri. Selamat merayakan hari kemerdekaan ke-75, Indonesia Maju. (Agus Budianta)

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Peta Situs | Email Kemenkeu | FAQ | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami |