Bangkit Bersama Hadapi Tantangan
Agus Budianta
Jum'at, 14 Agustus 2020 pukul 15:22:03 |
2358 kali
Bangsa Indonesia akan memperingati ulang tahun kemerdekaan ke-75 dengan
suasana yang berbeda. Kita tidak dapat menyaksikan dan mengikuti lomba-lomba
yang diselenggarakan dalam rangka menyambut hari kemerdekaan. Setiap orang
ceria menikmati setiap kegiatan dengan berbagai kreasi yang unik dan menarik. Tidak
pula akan kita lihat suasana upacara bendera yang dilakukan secara meriah
dengan barisan yang tertata rapi di seluruh wilayah Indonesia. Sungguh seluruh
warga akan merindukan suasana ini. Inilah episode hidup yang harus dijalani,
dan kita terpilih untuk mampu menghadapi dan melewatinya. Saat ini, kita
dihadapkan pada kondisi ketidakpastian paling tidak sampai dengan vaksin virus
covid19 ditemukan.
Ketidakpastian akan selalu ada dan harus kita hadapi, terlebih dalam
kondisi pandemi saat ini. Kita dituntut untuk mampu keluar dari kondisi ini
dengan memiliki kemampuan beradaptasi secara positif dan tetap teguh dalam
menghadapi situasi sulit ini (resiliensi). Kemampuan ini lebih dari sekedar bertahan.
Dengan kemampuan beradaptasi ini, kita akan lebih tenang dan menghindari
kepanikan serta akan menumbuhkan keyakinan untuk dapat menyesuaikan dengan
keadaan yang saat ini kita hadapi bersama.
Kapasitas kita harus kita tingkatkan agar tetap adaptif
sebagai respon atas perubahan yang terjadi. Paling tidak terdapat 4 (empat) kompetensi
yang harus selalu ditingkatkan yaitu kompetensi teknologi, kompetensi sosial
dan emosional, kompetensi moral, dan kompetensi konteks.
Berdasarkan hasil survei online yang dilakukan oleh
LIPI bersama dengan Balitbang Ketenagakerjaan dan Lembaga Demografi FEB UI
selama periode 24 April 2020 s.d. 2 Mei 2020 diketahui bahwa 15,6% pekerja
mengalami PHK dan 40% pekerja mengalami penurunan pendapatan. Sedangkan dari
sisi pengusaha, pandemi telah menyebabkan kegiatan usaha berhenti dan rendahnya
kemampuan bertahan pengusaha. Hasil survei 39,4% usaha terhenti, 57,1 usaha
mengalami penurunan produksi dan 3,5% tidak terdampak. Kemampuan bertahan dari
pengusaha juga terbatas, dimana 41% pengusaha hanya dapat bertahan kurang dari
tiga bulan
Pada kondisi pandemi saat ini, tidak bisa semuanya
menggantungkan pada pemerintah, masing-masing kita juga harus dapat menata diri
dengan inovasi dan perilaku yang bertanggungjawab. Hingga saat ini, kita tidak
tahu kapan vaksin Covid-19 ini ditemukan, dunia penuh dengan ketidakpastian.
Kita tidak bisa menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah untuk mengatur semuanya
guna menyelesaikan seluruh permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Pemerintah
telah mengeluarkan berbagai kebijakan yang diharapkan mampu meyelesaikan
berbagai permasalahan sebagai dampak dari pandemi Covid19, antara lain dari sisi
ekonomi terdapat kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebagai upaya untuk
mendukung sektor riil baik dari sisi permintaan maupun penawaran serta bantuan
pemulihan untuk UMKM. Program-program tersebut dijalankan sebagai upaya untuk
menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Kita juga harus mengatur diri kita sendiri dengan
kebiasaan atau perilaku baru yang dapat mendukung kebijakan penanggulangan
covid ini dan dapat bersama menggerakkan roda perekonomian dengan tetap
berpedoman pada protokol kesehatan. Sikap acuh dan tidak bertanggungjawab akan
menimbulkan permasalahan yang kontraproduktif dengan upaya-upaya yang telah
dijalankan.
Sikap-sikap positif harus senantiasa kita munculkan
yang menegaskan bahwa kita akan mampu mengatasinya. Untuk dapat bertahan
berarti kita harus mampu beradaptasi dan untuk beradaptasi maka kita harus melakukan
perubahan dan meningkatkan kapasitas kita dengan menyesuaikan diri terhadap kondisi
lingkungan yang sebenarnya. Pepatah mengatakan bahwa sebelum rasa sakit
melebihi rasa takutnya maka sesungguhnya seseorang belum mau berubah. Karena
itu, rasa sakit yang kita alami saat ini dapat menjadi pendorong atau pemantik
kita untuk berubah. Bukankah harusnya kita sudah berubah di beberapa waktu yang
lalu dan namun ada kecenderungan kita untuk menyangkal. Beberapa orang mungkin
sudah mampu merespon dengan melakukan perubahan.
Kita memiliki potensi besar.
Dan kita memiliki kemampuan untuk
menjadi lebih baik dan mencapai peningkatan yang signifikansi dalam hidup kita. Ketidakmampuan untuk bertransaksi dengan stres atau tekanan
emosional akan berpengaruh dalam upaya kita
merubah hidup ini. Dalam memulai perubahan
diperlukan komitmen, konsistensi dan harus melakukan pekerjaan yang tidak mudah.
Karena itu, perlu upaya untuk bersama-sama
mengoptimalkan kapasitas kita
dengan meningkatkan kompetensi.
Pertama, kompetensi teknologi, dimana kita dituntut
untuk memahami, menggunakan dan beradaptasi dengan teknologi baru. Pandemi
telah merubah cara dan pola kerja kita, dimana saat ini kita semakin akrab
dengan kegiatan secara virtual. Masyarakat sudah mulai terbiasa melakukan
transaksi kebutuhan melalui online. Adaptasi dengan teknologi menjadi hal utama
yang harus kita kuasai.
Kedua, kompetensi sosial dan emosional, dimana kita
dituntut untuk lebih meningkatkan kemampuan kita dalam bersosialisasi dan
mengekspresikan nilai-nilai yang kita miliki dalam menjalin hubungan dengan
pihak lain.
Ketiga kompetensi moral, dimana setiap orang
memiliki modal berupa kepercayaan, kesehatan, tenaga dan modal. Kepercayaan
akan diperoleh apabila memiliki integritas yang harus senantiasa dijaga dan
diimplementasikan dalam setiap perilaku. Integritas kita akan menjadi cermin
diri untuk dapat memperoleh kepercayaan dari pihak lain.
Keempat kecerdasan konteks, dimana kita dituntut
untuk lebih cepat memahami atas konteks/esensi dari suatu peristiwa dan dampak
yang akan muncul sehingga kita mampu senantiasa melakukan kegiatan atau upaya
yang relevan dengan peristiwa yang terjadi. Selanjutnya diharapkan mampu menangkap
dengan cepat setiap kesempatan yang muncul dengan ide-ide dan inovasi baru sehingga
mampu menyikapi setiap perubahan dengan tepat.
Pandemi ini telah menjadi pemantik adanya perubahan. Teknologi menjadi
hal yang utama dalam merespon perubahan ini. Saatnya kita berinstropeksi dengan
adanya pandemi ini. Dampak pandemi sangat besar ke berbagai aspek. Dengan
semangat gotong royong, kita saling sinergi dan kolaborasi merespon dampak
pandemi. Semoga kita sebagai warga negara Indonesia dapat bersama menghadapi
tantangan ini dengan kemampuan beradaptasi dan komitmen menuju ke arah
kehidupan baru yang lebih baik. Indonesia tanah air kita, harus kita rawat
bersama dan bangkit bersama hadapi tantangan untuk membangun negeri. Selamat
merayakan hari kemerdekaan ke-75, Indonesia Maju. (Agus Budianta)
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |