Maaf, Tidak Mudik
Anton Wibisono
Rabu, 27 Mei 2020 pukul 11:10:36 |
806 kali
Banda Aceh (24/5) - Hari Raya Idul fitri merupakan puncak
kepulangan para pegawai yang merantau untuk mudik lebaran. Mereka yang bertugas
di tempat jauh biasanya ada yang pulang setahun sekali bertepatan dengan lebaran
hari raya idul fitri. Mereka mudik untuk
bertemu orang-orang tercinta (anak, istri/suami, saudara, dan orang tua). Mereka
biasanya jauh-jauh hari telah merencanakan agenda mudik, pesan tiket, dan persiapan membeli oleh-oleh khas daerah
setempat. Kebahagiaan itu semakin nyata saat pegawai telah sampai rumah bertemu
anak, istri/suami, orang tua, dan saudara-saudaranya. Mereka pun dapat berpuasa
dan berbuka puasa bersama, belanja bersama, dan persiapan lebaran lainnya.
Kehidupan ini memerlukan
perjuangan disaat menghadapi situasi ketidakpastian, kenyataan kadang tidak
sesuai harapan, dan rencana kadang batal atau tertunda bukan karena tidak dapat
dilaksanakan, tetapi ada faktor lain yang
menyebabkannya seperti bencana alam atau non alam, peraturan baru, dan
sebagainya. Lebaran tahun 2020 yang telah direncanakan oleh pegawai yang
merantau sebagian besar tidak terwujud karena disebabkan oleh makhluk kecil
yang tak terlihat bernama Corona Virus
Disease 2019 (Covid-19). Makhluk kecil itu menularkan virus melalui orang
ke orang tanpa membedakan status baik pria, wanita, pegawai, buruh, pejabat, dan sebagainya. Bertambahnya
data positif korban Covid-19 mendorong pemerintah mengeluarkan peraturan untuk
tidak mudik dan larangan bepergian ke luar kota dengan tujuan untuk memutus rantai
penyebaran Covid-19. Protokol kesehatan termasuk himbauan dan/atau larangan
dari pemerintah tersebut harus dipatuhi oleh semua pegawai agar pandemi wabah Covid-19 segera berakhir.
Pegawai Kantor Wilayah DJKN Aceh
terutama yang merantau juga terdampak oleh ketentuan di atas. Mereka harus
berpartisipasi dengan penuh kesadaran dan kedisiplinan untuk membantu mencegah
penyebaran virus Covid-19 dengan tidak melakukan mudik lebaran tahun 2020.
Mereka tidak bisa berkumpul dengan anak, istri/suami ,dan orang tua. Tidak bisa puasa
dan berbuka puasa bersama, tidak bisa belanja bersama, tidak bisa
bersilaturahmi secara fisik dengan keluarga besar, dan kegiatan kebersamaan
lainnya.
Pengorbanan mereka untuk tidak
mudik semakin terasa berat saat mendengar suara takbir di malam hari. Suara
takbir malam hari yang tahun-tahun sebelumnya berkumpul bersama orang-orang
tercinta, tahun ini terasa hampa karena jauh dari keluarga dan orang tua, bahkan
saat di kamar sendirian suara takbir dikeheningan malam dapat membuat pegawai
di perantauan meneteskan air mata karena teringat anak, istri/suami, dan orang
tua. Kesedihan yang sama juga dirasakan oleh anak, istri/suami, dan orang tua yang
berada di kampung halaman.
Para pegawai di perantuan merasakan
lebaran tahun ini berbeda dengan tahun lalu, seperti : sarapan pagi biasanya
sudah disiapkan, saat ini menyiapkan sendiri; biasanya berjalan bersama anak,
istri/suami menuju masjid/lapangan, saat ini berjalan sendiri atau bersama teman
kos/kontrakan. Biasanya setelah sholat di rumah banyak aneka hidangan, saat ini hanya
terdapat kue seadanya saja; biasanya foto bersama keluarga, saat ini foto
dengan rekan kerja atau tidak foto sama sekali; biasanya berjabat tangan, saat
ini hanya video call; biasanya saat bersilaturohmi
banyak bertemu teman lama, saat ini hanya bertemu saudara dan tetangga tertentu
yang punya nomor telepon saja, dan sebagainya.
Tahun ini pegawai Kanwil DJKN Aceh yang tidak mudik merayakan lebaran idul fitri di kantor dengan makan lontong/ketupat bersama dengan tetap menjaga jarak. Lebaran di kantorku adalah rumahku menjadi pengalaman hidup baru bagi pegawai-pegawai yang tidak mudik. Para pegawai semakin merasakan pentingnya arti sebuah keluarga sebagai penyemangat dalam melaksanakan tugas negara. Harapan untuk bertemu dengan anak, istri/suami, dan orang tua selalu ada di hati. Merekalah yang senantiasa menemani, mendukung, dan menguatkan disaat menghadapi permasalahan hidup.
Maaf, tidak mudik lebaran tahun
ini bukan berarti tidak perhatian ke keluarga atau orang tua, tetapi
semata-mata untuk melindungi diri
sendiri, keluarga tercinta, orang tua tercinta, serta orang-orang di sekitar
tempat tinggal agar mereka tidak terpapar virus Covid-19 yang mungkin terbawa
saat dalam perjalanan. Maaf, tidak mudik
lebaran tahun ini bukan berarti tidak mempunyai ongkos, tetapi semata-mata
untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19.
Maaf, tidak mudik lebaran tahun ini bukan berarti santai-santai saja tetapi
tetap berupaya menjaga kesehatan sebagai bagian dari perjuangan melawan virus Covid-19. Maaf, tidak mudik lebaran tahun ini bukan keputusan mudah tetapi menjadi
keputusan dan pengorbanan terberat pegawai-pegawai Kementerian Keuangan yang
merantau dan jauh dari anak, istri/suami, dan orang tuanya. Semoga kesabaran
untuk menahan diri tidak mudik dapat segera mengakhiri penyebaran virus Covid-19 dan para pegawai yang merantau segera dapat berkumpul kembali dengan
orang-orang tercinta. Yakinlah bahwa setelah kesulitan akan datang kemudahan. (Jokoju)
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |