Artikel DJKN

TAHUN BARU, SEMANGAT BARU JADIKAN SETIAP PERUBAHAN SEBAGAI PELUANG

Selasa, 21 Januari 2020 pukul 09:21:48   |   160 kali



* oleh Agus Budianta (Kasi Hukum Kanwil Kalbar)

Tahun 2020 kita sambut dengan semangat baru demi tercapainya tujuan individu maupun organisasi. Perjalanan dan indikator kinerja kita ke depan tentu akan lebih menantang. Pada saat ini, perubahan berjalan dengan begitu cepat dan bertubi-tubi serta fundamental sehingga layanan atau produk yang dulu dibangga-banggakan bisa jadi sekarang sudah dianggap usang atau sudah ketinggalan zaman. Dunia telah berubah dimana aktivitas ekonomi telah memasuki ekonomi digital dan semua aktivitas dilakukan dengan memanfaatkan teknologi digital. Kita bisa melihat perkembangan Gojek, Bukalapak, Tokopedia dan lain-lain dengan berbagai layanannya. Teknologi telah menggeser banyak hal dalam penyelenggaran pelayanan dan kehidupan.

Perubahan seharusnya merupakan hal yang biasa bagi setiap manusia maupun organisasi. Salah satu temuan yang paling banyak tercatat di dalam berbagai kajian terhadap perilaku individual dan organisasi adalah seringkali organisasi dan para anggotanya menentang perubahan (resisten terhadap perubahan). Sumber-sumber individual dari resistensi ada dalam karakteristik dasar manusia seperti persepsi, kepribadian, dan kebutuhan. Sumber organisasional terletak di dalam struktur organisasi itu sendiri (manajemen). Saat ini semakin banyak bermunculan non tradisional company atau yang sering dikenal dengan sebutan startup yang melakukan inovasi terhadap layanan dengan memanfaatkan teknologi digital yang men-disrupsi organisasi-organisasi atau cara-cara tradisional.

Para pimpinan yang ada di struktur organisasi merupakan agen utama perubahan. Dengan keputusan yang mereka buat dan perilaku mereka menjadi role model dan membentuk kultur perubahan dalam organisasi. Keputusan, kebijakan dan praktik-praktik manajemen akan menentukan sampai mana organisasi belajar dan beradaptasi dengan faktor lingkungan yang senantiasa berubah bahkan secara drastis perubahannya. Oleh karena itu, ahli-ahli manajemen menyatakan bahwa seharusnya perubahan terbaik dilakukan pada saat organisasi sedang mengalami masa “senang-senang” yaitu pada saat layanan berjalan dengan baik dan semua orang bangga terhadap organisasi. Akan tetapi pada masa ini orang-orang cenderung tidak tertarik untuk berubah dan mengatakan “Kalau tidak ada yang rusak, mengapa harus berubah.”. Manajemen sebagai agen perubahan harus mampu mengatakan “kalau tidak segera diperbaiki, ini akan rusak.” sehingga akan muncul semangat perubahan bagi kemajuan organisasi.

Kita bisa berkaca dari kasus perusahaan ponsel Nokia yang kalah dalam persaingan. Pada saat konferensi pers untuk mengumumkan pembelian Nokia oleh Microsoft, CEO Nokia Stephen Elop mengakhiri pembicaraannya dengan berkata “Kami tidak membuat kesalahan, tetapi bagaimana kami bisa kalah”. Nokia merupakan perusahaan ponsel terbesar dan mereka tidak membuat kesalahan dalam bisnisnya, tetapi mereka kalah dalam persaingan karena siklus bisnis dunia yang berubah sangat cepat, serta persaingan yang kuat mengalahkan mereka. Nokia terlalu nyaman menikmati masa senang-senang dengan penjualan ponselnya sehingga mereka lupa untuk berubah seiring dengan tren masa kini. Di saat perusahaan produsen ponsel lain sedang sibuk mengeluarkan ponsel Android yang baru, Nokia masih nyaman dengan ponsel-ponsel Symbian mereka. Dan akhirnya mereka kalah bersaing dengan ponsel android yang berkembang sangat cepat. Pelajaran yang dapat diambil dari kasus nokia tersebut adalah jika kita tidak berubah seiring dengan perkembangan waktu, maka kita akan keluar dari kompetisi atau persaingan.

Hal ini sering disebut paradoks of change yaitu “Pada saat perubahan harus dilakukan, orang-orang merasa tidak ada kebutuhan sama sekali, sebaliknya, pada saat dituntut untuk berubah, organisasi sudah tidak mempunyai daya sama sekali”. Karena itu, kuncinya ada pada manajemen sebagai agen utama perubahan. Perubahan memerlukan langkah-langkah strategis dan perubahan tidak akan mungkin dilakukan hanya merubah sistem organisasi tanpa memperhatikan kesiapan sumber daya manusianya. Penulis berkeyakinan bahwa sumber daya manusia sesungguhnya bukan enggan berubah, melainkan perlu menyadari perubahan itu justru menjadi tuntutan bagi dirinya.

Sumber daya manusia memiliki suatu sifat yang unik yang diharapkan mampu melahirkan kompetensi inti (core competence) bagi organisasi. Dengan kompetensi inti yang unik dan tidak mudak ditiru diharapkan akan mampu menciptakan keunggulan bersaing yang langgeng bagi organisasi. Pendorong semua perubahan yang ada di organisasi adalah sumber daya manusianya dengan menciptakan teknologi yang menunjang mobilitas dan performance pegawai dalam merespon perubahan tiada henti. Teknologi senantiasa berkembang dan akan mengantarkan kita ke kehidupan yang baru. Sebagian besar orang berpandangan bahwa manusia pada dasarnya enggan untuk berubah (resist to change) dan cenderung menyalahkan keadaan. Akan tetapi sesungguhnya, manusia itu mau dan bisa berubah namun enggan atau bahkan tidak mau “dirubah”. Karena itu, perubahan memerlukan manajemen dan tidak dapat digulirkan dengan sendirinya. Hal ini menunjukkan manajemen memiliki peran dominan dalam perubahan organisasi. Menurut para ahli manajemen, untuk menciptakan perubahan dibutuhkan perasaan-perasaan tidak puas terhadap kondisi yang ada saat ini.

Pimpinan yang efektif mampu mengelola baik diri mereka sendiri maupun orang yang bekerja dengan mereka sehingga organisasi dan orang-orang itu diuntungkan oleh kehadirannya. Oleh karena itu, diharapkan para pimpinan organisasi mampu memberikan rasa nyaman sehingga para pegawai merasa yakin dengan diri mereka sendiri dan akan banyak pekerjaan yang dapat diselesaikannya serta melakukan inovasi. Produk atau jasa yang kita bangga-banggakan di masa lalu untuk mendukung organisasi bisa jadi sudah menjadi usang dan ketinggalan zaman. Data dan informasi menjadi aset penting organisasi dalam merespon perubahan sehingga mampu bersaing di tengahlingkungan dan perilaku masyarakat. Perubahan fundamental terjadi karena adanya orang-orang inovatif yang mengeksplorasi masa depan dan membawanya di kehidupan hari ini dengan teknologi. Sikap tanggap dan responsive atas perubahan yang sangat cepat terjadi (era disrupsi) akan mendukung organisasi.

Perubahan sudah ada di sini, di tengah kita. Kita tidak bisa menolak atau menghindarinya begitu saja. Kita justru harus masuk ke dalamnya dan ikut bermain bersama, menjadikan setiap tantangan dan perubahan itu sebagai peluang. Terus senantiasa belajar, kreatif, gigih, dan memunculkan keunikan (defferensiasi) yang akan menciptakan nilai bagi keberlanjutan sebagai individu maupun organisasi. “Tidak menjadi hal yang penting apa yang terjadi padamu, namun yang penting adalah bagaimana kamu menyikapinya” kata bijak yang menarik untuk kita renungkan. Penulis terkesan dengan pesan Bapak Dirjen Kekayaan Negara pada saat berkunjung ke Kalimantan Barat yang dapat menggambarkan bagaimana kita menyikapi perubahan yang ada pada DJKN yaitu “Teruslah berkarya dan berkinerja prima untuk memajukan pengelolaan kekayaan negara. Teruslah berkreasi dan berinovasi. Tetapkan target yang “gila” sekalipun untuk membuat kita semakin waras”.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.