Implementasi Open Workspace Untuk Meningkatkan Kinerja Pegawai
Ali Ridho
Jum'at, 24 Mei 2019 pukul 18:18:29 |
7697 kali
Pengantar
Diharapkan masing-masing unit Eselon I di lingkungan Kemenkeu dapat mengusulkan konsep yang diinginkan untuk kemudian dijadikan konsep bersama di seluruh Kemenkeu. Yang pasti, implementasi konsep open workspace merupakan salah satu inisiatif strategis (IS) dalam program Reformasi Birokrasi dan Transformasi Kelembagaan (RBTK) Kementerian Keuangan Tahun 2019, yaitu Penguatan Budaya Organisasi Kemenkeu “The New Thinking of Working” dengan tujuan mewujudkan budaya kerja yang adaptif, berbasis digital dan berintegritas guna meningkatkan produktivitas dan kinerja Kementerian Keuangan. Tulisan ini akan membahas konsep dasar open workspace dan perkembangan-nya, pro dan kontra open workspace, serta implementasi-nya di DJKN.
Konsep Open Workspace
Bagaimanakah konsep open workspace yang telah diimplementasikan di Google dan banyak institusi lainnya? Di bidang arsitektur dan desain interior, istilah yang lebih dikenal adalah open plan yaitu:
Any floor plan which makes use of large, open spaces and minimizes the
use of small enclosed rooms such as private offices. The term can
also refer to landscaping of housing estates, business parks, etc., in which
there are no defined property boundaries, such as hedges, fences or walls
(Wikipedia).
Menurut definisi diatas, open plan adalah konsep penataan ruangan yang memaksimalkan pengunaan ruangan berskala besar dan terbuka serta meminimalkan penggunaan ruangan-ruangan kecil dan tertutup seperti ruangan kantor pribadi. Hal yang sangat esensial dari konsep tersebut adalah tidak adanya batas seperti sekat, pagar, ataupun dinding ruangan. Artinya tidak ada lagi ruangan kantor yang terkotak-kotak (kubikal) dimana masing-masing orang memiliki private workspace, yang ada adalah ruangan besar dan terbuka untuk bersama. Tujuan yang diharapkan dengan adanya open workspace adalah untuk meningkatkan kolaborasi antar pegawai sehingga kinerja dapat lebih ditingkatkan. Perkembangan selanjutnya dari open workspace adalah collaborative workspace (co-working space) atau “shared workspace”. Esensi dari konsep ini adalah bekerja bersama di tempat bersama. Dalam konsep ini, tidak hanya sekat/dinding yang dihilangkan di ruangan kerja tetapi juga private workstation (meja kerja pribadi). Artinya yang diutamakan dalam suatu ruangan kerja adalah tempat bekerja bersama dalam bentuk open/group workstation. Dalam pelaksanaan-nya, pegawai tidak diberikan meja kerja pribadi (termasuk personal computer/PC) melainkan menggunakan meja kerja bersama (communal desk). Dalam konsep ini, tidak hanya tersedia meja kerja bersama tetapi juga dapat disediakan fasilitas pendukung yang dapat digunakan untuk bekerja misalnya meja diskusi, sofa, dan coffee table. Tentunya pegawai boleh memilih meja kerja yang diinginkan untuk digunakan pada suatu waktu tergantung kesediaan-nya (first come, first served basis). Untuk mempermudah pekerjaan biasanya pegawai diberikan laptop atau menggunakan PC yang dapat diakses bersama-sama dan terhubung dengan jaringan internet. Saat ini co-working space telah menjadi tren baru di dunia bisnis dengan hadirnya tempat-tempat co-working space yang disewakan untuk umum baik di mal, restoran, café, dan stasiun kereta api. Di tempat tersebut tersedia ruangan kerja bersama dan ruang-ruang kecil yang dapat disewa individu/komunitas/perusahaan dengan fasilitas jaringan internet, printer, fotokopi, dan bahkan makanan/minuman.
Perkembangan
selanjutnya dari open workspace
adalah agile workspace. Konsep ini
didasari pandangan bahwa dalam suatu “agile environment” (lingkungan yang
selalu berubah), pekerjaan lebih dikonotasikan dengan kegiatan (activity) daripada dengan ruangan (place) bekerja. Artinya seseorang
dimungkinkan bekerja dimana saja/darimana saja tanpa harus memiliki ruangan
kerja spesifik (remote working). Terkait
hal ini, di Kemenkeu sedang dibahas wacana untuk bekerja dari rumah (working from home) dimana ada satu hari
dalam 5 (lima) hari kerja pegawai bisa bekerja dari rumahnya masing-masing. Untuk
membuat sebuah “agile office” yang efektif, menurut Allwork.Space harus
tersedia beberapa fitur yaitu:

Pro dan Kontra Open Workspace
Tujuan
dari adanya open workspace adalah
untuk meningkatkan kolaborasi antar pegawai sehingga kinerja dapat lebih
ditingkatkan. Namun demikian, ada dampak negatif dari implementasi open workspace yang perlu diperhatikan. Menurut
Workplace Bulletin, ada beberapa keuntungan yang akan diperoleh dari
implementasi open workspace baik bagi
perusahaan maupun pegawai. Keuntungan dari implementasi konsep tersebut adalah
sebagai berikut:
Spontaneous
Collaboration
Kebanyakan open workspace dibangun dengan fitur yang memungkinkan kontak langsung secara terus-menerus. Misalnya terdapat meja kerja bersama (communal desk) atau sofa bersama sehingga pegawai akan sangat sering bertemu muka, ngobrol, dan berdiskusi secara langsung. Hal ini akan mendorong kolaborasi serta memunculkan ide-ide spontan yang mendukung inovasi.
Deliver Project
Faster
Tujuan tidak langsung dari konsep open workspace adalah mendorong pegawai bekerja lebih cepat. Hal ini diperoleh dari pola kerja yang lebih kolaboratif antar pegawai dan fasilitas pendukung bekerja yang lebih adaptif.
Saat
ini sebagian besar pencari kerja adalah dari kalangan anak muda/milenial.
Menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan untuk mencari talent muda terbaik dan paling cerdas. Salah satu hal yang dapat
menarik kalangan milenial untuk bergabung disuatu perusahaan adalah kenyamanan
ruangan kerja dan konsep open workspace
sangat menarik bagi mereka.
Increase Space Flexibility,
Reduce Real Estate Cost
Konsep
open workspace dapat mengurangi
kebutuhan besaran ruangan kerja sampai dengan 50% dari ruangan kerja
tradisional (kubikal). Selain itu, perusahaan tidak perlu terlalu sering
merubah layout ruangan kerja setiap
kali ada pegawai yang masuk/keluar dari perusahaan.
Flatten
Management Structure, Knock Down Silos
Dengan adanya open wokspace maka pimpinan dapat bekerja lebih dekat dengan bawahan sehingga tingkat kepercayaan dan keterbukaan antara pimpinan dan bawahan akan semakin meningkat. Selain itu, open workspace memungkinkan divisi/bagian yang berbeda untuk bekerja bersama dalam suatu tempat bersama sehingga menghapuskan silo mentality (mental terkotak-kotak) antar divisi/bagian.
Implementasi Open Workspace di DJKN
Di
lingkungan Kemenkeu, DJKN merupakan salah satu unit yang telah
mengimplementasikan open workspace
walaupun masih secara parsial, yang dimulai di lingkungan Kantor Pusat DJKN.
Dalam implementasinya, hal pertama yang dilakukan adalah mempelajari konsep open workspace secara utuh baik melalui
kegiatan seminar yang mendatangkan narasumber ahli/praktisi open workspace maupun dengan studi
banding ke institusi atau perusahaan yang telah mengimplementasikan open workspace. Hal kedua yang dilakukan
adalah bekerjasama dengan konsultan untuk men-desain ruangan kerja sesuai
dengan konsep tersebut. Desain yang telah dibuat kemudian disosialisasikan
kepada seluruh unit di Kantor Pusat sekaligus dimintakan masukan terkait konsep
yang diinginkan. Selanjutnya, telah dilakukan perombakan/perubahan struktur
ruangan menyesuaikan dengan desain yang telah dibuat, dimana saat ini hampir
semua ruangan kerja telah dimodifikasi menjadi open plan floor yang tidak ada sekat/dinding ruangan kecuali ruangan
para pejabat Eselon III keatas. Hal selanjutnya yang dilakukan adalah pengadaan
fitur-fitur untuk mendukung open workspace
seperti meja kerja bersama, coffee table,
sofa, locker, lemari berkas dll. Juga
sarana pendukung berupa laptop. Terkait dengan implementasi open workspace di lingkungan DJKN, agar
bisa berjalan dengan efektif dan mencapai tujuan yang diharapan yaitu
peningkatan kinerja pegawai, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian.
Pertama, perubahan yang dilakukan terhadap
struktur ruangan kerja harus diikuti perubahan mindset dan culture set dari
pegawai itu sendiri. Walaupun ruangan kerja sudah mengikuti open plan floor jika pegawai tetap
bekerja sendiri-sendiri, menutup diri, dan tidak berkolaborasi dengan yang lain
maka tidak akan berdampak positif pada kinerja. Jadi pegawai harus dibiasakan
untuk sharing, komunikasi, dan
bekerja bersama. Kedua, desain dari ruangan kerja harus memperhatikan nature/sifat dari pekerjaan itu sendiri.
Apabila sifat dari pekerjaan yang dilakukan memang mengharuskan tingkat
kerahasian yang tinggi tentunya harus disediakan ruangan-ruangan khusus selain
ruangan yang sifatnya untuk bersama (communal).
Dalam hal ini, konsep agile workspace
sangat tepat untuk diterapkan karena mengakomodir berbagai sifat pekerjaan. Ketiga,
dalam mendesain ruangan open workspace
hendaknya melibatkan secara penuh pegawai itu sendiri. Berikan kesempatan
kepada pegawai untuk memilih desain ruangan serta fitur-fitur apa yang
diinginkan tentunya dalam koridor anggaran yang telah disediakan Hal ini akan
meningkatkan engagement pegawai karena
pegawai akan merasa lebih nyaman dengan ruangan kerja. Keempat, sumber daya
pendukung open workspace harus
tersedia dan gampang diakses seperti jaringan internet wifi, laptop/PC yang
terhubung dengan jaringan dan bisa diakses siapa saja, printer, mesin fotokopi,
scanner dll. Mari kita dukung
implementasi open workspace di DJKN
untuk kinerja yang lebih baik.
(Neil
E. Prayoga - Kasubbag PPK Sekretariat DJKN).
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |