Artikel DJKN

'Airybmn"

Jum'at, 15 Februari 2019 pukul 14:32:44   |   266 kali

Ketika kita hendak bepergian untuk liburan atau urusan kantor yang mengharuskan kita menginap di suatu kota, apa yang terlintas yang ada di pikiran kita? Traveloka, airyroom, tiketdotkom, airbnb. Itu mungkin sedikit dari aplikasi yang bisa jadi terlintas. Bukan hal yang berlebihan kalau aplikasi-aplikasi itu yang muncul, selain karena iklan yang masif dan kemudahan yang diberikan, aplikasi tersebut juga memanjakan penggunanya dengan serangkaian bonus dan diskon yang ditawarkan. Lebih dari itu, aplikasi tersebut memberikan informasi tentang penginapan yang bervariasi yang dapat kita sesuaikan dengan anggaran kita. Mau yang mahal, banyak pilihannya. Mau yang murah juga beragam variasinya.

Bagi yang mau liburan dengan budget ekstra dan menginginkan layanan dan privasi lebih, bisa memilih hotel butik atau private cottage dengan pemandangan yang menawan. Bagi low budget backpacker yang cuma membutuhkan kamar buat merebahkan badan ketika malam, maka hotel budget adalah sebuah pilihan yang menarik. Itu semua tersaji dengan cantik dan user friendly.

Ketika kita melewati kawasan puncak bogor, kita akan melewati berbagai macam wisma yang dimiliki oleh sejumlah kementerian. Pernahkah kita berpikir untuk menginap di salah satu kamar wisma tersebut walaupun kita bukan pegawai kementerian tersebut? Mungkin pernah terlintas, tetapi serangkaian pertanyaan berikutnya akan mengurungkan niat kita. Bagaimana cara bookingnya? Berapa harganya? Masih ada yang kosong atau tidak? Kalau saya bukan pegawai, apakah boleh? Fasilitasnya apa saja? Dan seterusnya.

Begitu juga kalau kita berkunjung ke kota yang lain di wilayah NKRI. Kalau hanya membutuhkan sebuah kamar untuk bermalam tanpa membutuhkan fasilitas kolam renang, air panas ataupun sarapan. Wisma adalah sebuah alternetif yang menarik. Kemudian, pertanyaan serupa akan muncul. Adakah wisma yang bisa disewa? Berapa harga sewanya? Dimana lokasinya? Bagaimana cara pemesanannya?

Kalau airyroom dan airbnb yang tidak memiliki properti bisa menghasilkan keuntungan berlipat untuk perusahaan, bagaimana dengan Pemerintah yang memiliki properti di seluruh wilayah Indonesia?

Aplikasi-aplikasi tersebut menjadi jembatan antara pemilik properti dan calon penyewa properti untuk berinteraksi. Dengan sejumlah syarat dan ketentuan yang berlaku, pemilik properti, penyedia aplikasi dan pengguna mendapatkan keuntungan yang beragam. Pemilik properti diuntungkan kemudahan memasarkan propertinya dengan aplikasi, ditambah lagi dengan ekstra fitur yang memungkinkan mereka menjadi daftar teratas dalam pencarian properti. Dengan demikian tingkat okupansi properti bisa dijaga. Bagi penyedia layanan aplikasi, mereka mendapatkan bagian dari pesanan yang dilakukan oleh pengguna aplikasi. Kemudian bagaimana dengan pengguna aplikasi? Pengguna mendapatkan keuntungan dengan mendapatkan informasi dan pilihan properti yang diinginkan dengan berbagai macam fasilitas, lokasi, harga, dan kemudahan pemesanan termasuk fleksibilitas pembayaran dan iming-iming diskon harga.

Kemudian apa kaitannya dengan properti dan Pemerintah?

Wisma yang dimiliki oleh kementerian dibangun bertujuan untuk mendukung tugas dan fungsi dari kementerian dimaksud, tetapi pada waktu-waktu tertentu beberapa kamar dalam wisma tersebut tidak terisi sehingga tingkat okupansinya tidak maksimal. Oleh karena itu, wisma pada prinsipnya dapat disewakan kepada masyarakat umum sepanjang tidak mengganggu tugas dan fungsi Kementerian tersebut dan setelah mendapat izin dari Pengelola Barang. Artinya, selama wisma tersebut kosong, kita bisa menyewa wisma tersebut dengan harga yang telah ditetapkan. Mengingat pemerintah tidak mencari keuntungan, harga yang ditawarkan oleh wisma kementerian dapat bersaing dengan hotel low budget.

Meskipun pemerintah tidak mencari keuntungan, namun pemerintah berkeinginan untuk mengoptimalkan pemanfaatan properti-properti yang dimiliki. Selain peroperti tersebut digunakan untuk mendukung tugas dan fungsi, properti tersebut diharapkan dapat menghasilkan PNBP dengan cara disewakan kepada masyarkat umum.

Dapatkah pemerintah dalam hal ini DJKN selaku Pengelola Barang menduplikasi pola yang digunakan oleh airyroom atau airbnb untuk mengoptimalkan pemanfaatan properti milik pemerintah khususnya wisma dan kamar penginapan?

Kekuatan utama bisnis tersebut adalah adanya dukungan dari pihak pemilik properti dan sistem aplikasi. Tetapi tidak hanya itu, hospitality pemilik properti dan dukungan layanan aplikasi 24 jam juga tidak kalah penting. Pertanyaannya? Sudah siapkah pihak kementerian selaku pengelola properti membuka pintu lebih lebar untuk masyarakat yang ingin menyewa wismanya dan memberikan pelayanan lebih kepada pelanggannya. Siapakah yang mengembangkan sistem dan aplikasinya. Apakah perlu mengembangkan aplikasi tersendiri atau bergabung dengan sistem aplikasi yang sudah berkembang saat ini seperti airyroomatau airbnb.

Seiring dengan perkembangan zaman dan visi DJKN menjadi Asset Manager, tidak berlebihan apabila DJKN dapat menginisiasi pengembangan aplikasi ‘airybmn’. Sebuah situs dan aplikasi yang menawarkan wisma dan kamar penginapan yang dimiliki oleh seluruh kementerian di seluruh Indonesia untuk disewakan kepada masyarakat umum. Dengan pengembangan aplikasi ini diharapkan ada satu sistem aplikasi yang mewadahi dan mengemas seluruh informasi wisma kementerian dengan baik. Sehingga, selain dapat menjadi alat pemasaran wisma aplikasi tersebut juga dapat mempermudah akses informasi.

Sebagai contoh, di Banda Aceh terdapat beberapa wisma yang dimiliki dan dioperasikan oleh beberapa kementerian antara lain:

1. Wisma Gajah Putih dan Wisma Pringgodani

Wisma yang dioperasikan oleh TNI ini terletak persis di jantung kota Banda Aceh, yaitu di salah satu sudut simpang lima Kota Banda Aceh. Wisma ini hanya berjarak kurang lebih 1 KM dari Masjid Raya Baiturrahman dan 1,3 KM dari Pasar Aceh sebagai pusat bisnis Kota Serambi Mekah ini.

2. Wisma Keuangan

Wisma Keuangan ini berada di bawah pengelolaan Sekretariat Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Aceh. Menawarkan akomodasi sekitar 12 kamar dengan fasilitas twin bed dan kamar mandi dalam, TV, serta AC. Dengan lokasi yang berada sekitar 1 KM dari simpang lima Banda Aceh, Wisma Keuangan menawarkan aksesbilitas yang sangat baik karena langsung berhadapan dengan jalan Daud Beureueh yang merupakan salah satu jalan protokol di Banda Aceh. Ditambah lagi dengan harga yang sangat miring yaitu kurang dari Rp150.000 per hari.

3. UPT Asrama Haji Banda Aceh

UPT Asrama haji yang merupakan unit kerja di bawah Kementerian Agama ini juga memiliki beberapa kamar dan juga aula yang dapat disewakan kepada Masyarakat. Setiap akhir pekan, aula asrama haji sudah bisa dipastikan terdapat jadwal resepsi pernikahan. Lokasi yang mudah dijangkau, fasilitas parkir yang memadai, dan terletak di jalan protokol yang tidak jauh dari kantor Gubernur, menjadikan asrama haji salah satu alternatif untuk menginap dan mengadakan event penting. ketersedian kamar yang banyak juga salah satu daya tarik asrama haji ini. dengan tarif yang masih sangat terjangkau, yaitu mulai dari Rp 100.000 per hari dan sewa aula mulai dari Rp 4.000.000 per 8 jam untuk ruang kapasitas 500 orang, tempat ini seharusnya menjadi top list penginapan para backpacker.

4. BP PAUD Dikmas Aceh

Satuan Kerja yang berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini memiliki beberapa kamar dan aula yang kerap disewakan kepada masyarakat umum. Dengan tarif kurang dari Rp100 ribu per hari, pengunjung dapat menikmati fasilitas kamar yang memadai meskipun tidak dilengkapi dengan penyejuk ruangan. Aula yang tersedia juga mampu menampung tamu hingga 100 orang. Meskipun lokasinya berada jauh dari pusat kota, dengan kemudahan sarana transportasi online yang tersedia di Banda Aceh, tempat ini layak dijadikan alternatif untuk menginap bagi para backpacker.

Keempat properti tersebut hanya sebagian dari properti milik negara yang secara nyata dapat digunakan oleh masyarakat. Namun, apabila kita melakukan pencarian di internet, kita tidak akan menemukan informasi yang memadai terkait properti tersebut. Hal ini terjadi karena pemasaran keempat properti tersebut tidak dikelola dengan baik dan tidak dikemas secara apik dalam satu wadah aplikasi maupun situs yang user friendly. Sehingga ketika wisatawan, pengunjung maupun masyarakat kota Banda Aceh yang sedang memerlukan penginapan tidak memiliki akses infomasi yang cukup atas properti tersebut.

Untuk jangka panjang, airybmn dapat dikembangakan menjadi sebuah platform yang tidak hanya menawarkan sewa kamar tetapi juga sewa aula, ruang pertemuan dan ruangan kantor, dan tanah yang dimiliki oleh kementerian di seluruh Indonesia. Lebih lanjut lagi, airybmn juga dapat diintegrasikan dengan sistem e-auction yang memberikan kemudahan dalam membeli berbagai macam barang yang di lelang. Sehingga aplikasi airybmn merupakan portofolio layanan unggulan DJKN yang memberikan pilihan menu pembelian dan penyewaan.


Disclaimer:

Tulisan merupakan pendapat pribadi dan tidak mencerminkan pendapat instansi dimana penulis bekerja.


Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.