Artikel DJKN

Potret Pembangunan Infrastruktur LRT di Bumi Sriwijaya

Selasa, 07 Juni 2016 pukul 13:57:21   |   1341 kali

Oleh : Iwan Victor Leonardo

Kepala Seksi Penilaian  II Kanwil DJKN Sumsel, Jambi dan Babel

Pembangunan daerah merupakan bagian yang terintegrasi dari proses pembangunan nasional untuk memanfaatkan seluruh potensi sumberdaya yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkesinambungan. Pembangunan daerah salah satunya ditujukan untuk meningkatkan keadaan ekonomi daerah. Salah satu lokomotif untuk menggerakkan roda perekonomian daerah ditentukan oleh siap tidaknya infrastruktur di daerah tersebut.

Infrastruktur berpengaruh penting bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia, antara lain dalam peningkatan nilai konsumsi, peningkatan produktivitas tenaga kerja dan akses kepada lapangan kerja, serta peningkatan kemakmuran rakyat dan stabilitas makro ekonomi, dan tentunya berpengaruh terhadap pasar tenaga kerja. Jika dilihat secara mikro ekonomi, ketersediaan jasa pelayanan infrastruktur juga berpengaruh terhadap pengurangan biaya produksi. Jenis infrastruktur yang berpengaruh bagi peningkatan kualitas hidup manusia antara lain infrastruktur transportasi, energi, telekomunikasi, penyediaan air bersih dan lainnya.

Infrastruktur transportasi dalam kaitannya dengan pengembangan sistem transportasi darat, pertumbuhan penduduk dan kecenderungan bermukimnya penduduk di wilayah perkotaan (urbanisasi), menuntut penyediaan sarana dan prasarana transportasi yang andal dan dapat melayani kebutuhan mobilitas penduduk perkotaan.

Pertumbuhan kota Palembang yang cepat belum dapat diimbangi oleh sistem transportasi yang ada. Kemacetan menjadi pemandangan yang umum terjadi, polusi pun tinggi. Hal ini harus diantisipasi mengingat Palembang akan menjadi tuan rumah perhelatan akbar Asian Games pada tahun 2018.

Oleh karena itu Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah memulai pembangunan infrastruktur Light Rail Transit (LRT) untuk mengurai kemacetan yang terjadi di Kota Palembang. Pembangunan LRT sepanjang ± 23 km ini dibiayai dengan menggunakan dana APBN senilai sekitar 7,3 Triliun dimulai pembangunannya pada akhir tahun 2015 dan direncanakan selesai pada Juni 2018, sebelum perhelatan akbar Asian Games dilaksanakan.

LRT merupakan salah satu sarana transportasi massal yang berbasis rel dalam melakukan pergerakan dan mengangkut penumpang/barang (urban passenger transportation). LRT adalah salah satu bentuk transformasi moda transportasi yang dapat meningkatkan kualitas di berbagai aspek perhubungan itu sendiri, tata kota yang lebih rapi, perekonomian yang lebih baik maupun aspek lainnya.
                
LRT memilik jalur khusus yang beroperasi di permukaan jalan dengan bentuk armada yang lebih ringan. LRT ini memiliki kelebihan diantaranya: 1) mengurangi dan terbebas dari kemacetan/kepadatan lalu lintas dibandingkan dengan menggunakan moda transportasi lainnya; 2) lebih aman dan nyaman daripada perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua; 3) tidak ada emisi di jalan; 4) dan mengurangi polusi, konservasi energi dan penurunan kesehatan masyarakat sebagai dampak lingkungan yang diakibatkan oleh pergerakan kendaraan bermotor di jalan raya.

Perlu adanya integrasi antar moda dan sangat penting untuk dibangun karena aksesibilitas yang tinggi diharapkan memudahkan pengguna  untuk memakai angkutan umum tersebut. Integrasi antar stasiun-terminal atau stasiun-bandara, sangat dibutuhkan. Dapat dibayangkan jika tidak terdapat integrasi tentunya pengguna akan merasa tidak nyaman, menguras energi  dan berbagai keluhan lainnya, maka integrasi sangat penting untuk dibangun.

Pembangunan infrastruktur LRT yang sedang berlangsung di Bumi Sriwijaya ini telah mempertimbangkan integrasi dengan berbagai aspek terutama integrasi antar moda. Seperti halnya jika kita ingin berkunjung dari Kajang Malaysia ke Menara Kembar Petronas (twin tower) yang berada di Kuala Lumpur, hanya dengan menggunakan moda transportasi LRT kita sudah sampai di KLCC yang berada tidak jauh dari ikon negara jiran tersebut. Sangat mudah, cepat, nyaman dan dan tidak capek tentunya.

Demikian pula nantinya di Palembang, aksesibilitas menjadi lebih mudah dan berbiaya rendah. Hal ini disebabkan LRT akan dilengkapi dengan 13 Stasiun dan 1 Depo LRT yang terbagi dalam 5 zona rute perjalanan yang terintegrasi dengan transportasi udara (Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II), objek wisata (Jembatan Ampera), Central Bussines District/CBD (Jalan Jenderal Sudirman), pusat perbelanjaan (Palembang Icon, OPI Mall), Gelanggang Olahraga berskala Internasional (Jakabaring Sport City), dan moda transportasi darat (Trans Musi).

Menjadi sebuah kebanggaan Wong Kito karena akan memiliki aset berupa infrastruktur yang tidak kalah jauh dengan infrastruktur yang ada di Ibu Kota Jakarta dan merupakan moda massal LRT pertama di Indonesia. Oleh sebab itu perlu kerjasama semua pihak dalam menjaga dan memelihara aset tersebut. Dan siapapun entitas yang akan mengelola infrastruktur LRT ini nantinya, harus dapat memberikan pelayanan yang terbaik sehingga biaya investasi Pemerintah di bidang infrastruktur moda massal ini tidak akan sia-sia.

 

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.