Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 1 50-991    ID | EN      Login Pegawai
 
Belajar dari Merger Gojek-Tokopedia
Fia Malika Sabrina
Kamis, 17 Juni 2021   |   14674 kali

Pada saat ini, siapa yang tidak kenal dengan aplikasi Gojek dan aplikasi Tokopedia. Dua aplikasi karya anak bangsa yang berhasil membuka mata dunia. Dua aplikasi yang berhasil membuktikan bahwa bangsa Indonesia tidak hanya sebagai pengguna ataupun penikmat produksi luar negeri.

Tokopedia, merupakan aplikasi marketplace atau aplikasi yang dibuat agar masyarakat dapat memasarkan produknya secara daring. Tokopedia membantu para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk memperkenalkan tokonya kepada pihak yang lebih luas.

Sebelum berganti menjadi “Selalu Ada, Selalu Bisa”, sejak tahun 2018 Tokopedia mengeluarkan slogan “Mulai Aja Dulu”. Dari slogan tersebut kita dapat melihat, Tokopedia berkeinginan agar masyarakat dari seluruh pelosok Indonesia dapat memulai usahanya. Kita tahu dalam menjalankan usaha banyak tantangan maupun risiko yang pasti muncul. Namun segala sesuatu yang besar dimulai dari langkah yang kecil. Tokopedia mengkampanyekan kepada pelaku usaha di Indonesia untuk segera memulai usahanya, meskipun dengan modal terbatas ataupun pengetahuan mengenai cara memasarkan barang yang masih minim.

Berbeda dari Tokopedia yang lahir dari permasalahan UMKM di dalam memasarkan produknya, Gojek lahir dari permasalahan kemacetan di Indonesia yang dialami oleh foundernya. Nadiem Makarim menggunakan transportasi sepeda motor milik orang lain yang disewakan dengan cara membonceng penumpangnya (di Indonesia disebut ojek) hampir setiap hari ke tempat kerjanya. Selain itu, Nadiem juga melihat ternyata sebagian besar waktu yang dihabiskan oleh pengemudi ojek hanyalah sekedar mangkal menunggu penumpang. Dengan adanya Gojek, pengemudi dapat menunggu order sambil mengerjakan hal-hal yang lain

Sejak tahun 2019 Gojek mengeluarkan slogan “Pasti Ada Jalan”. Slogan ini seakan-akan menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia akan transportasi yang membantu berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan mudah. Selain itu gojek juga membantu pengiriman barang ataupun pemesanan makanan, yang bagi sebagian orang, sebelum ada gojek hal itu sangat merepotkan.

Dari cerita kedua aplikasi tersebut kita dapat belajar bahwa permasalahan yang sering kita hadapi dapat kita jadikan peluang. Para founder aplikasi tersebut pasti tidak terpikir bahwa aplikasi yang mereka kreasikan bisa menjadi besar seperti saat ini, mereka mungkin hanya berpikir bahwa bagaimana mereka bisa mencoba membantu menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Masing-masing aplikasi tersebut berjalan masing-masing saja sudah banyak membantu permasalahan yang terjadi dalam kehidupan kita. Bisa kita bayangkan dengan bergabungnya kedua organisasi besar tersebut, mungkin lebih banyak lagi kemudahan yang bisa kita rasakan. Slogan “Mulai Aja Dulu (Tokopedia), Pasti Ada Jalan (Gojek)” apabila digabungkan seakan-akan memotivasi kita untuk selalu mencoba hal-hal yang baru (yang kita tahu pasti ada tantangan dalam menjalaninya).

Dari segi valuasi, Gojek sendiri diperkirakan memiliki valuasi sekitar 10 Miliar Dolar, sedangkan Tokopedia sendiri diperkirakan memiliki valuasi sekitar 7 Miliar Dolar. Namun setelah IPO (Initial Public Offering) atau menawarkan saham kepemilikan perusahaan kepada masyarakat, valuasi GoTo diperkirakan dapat mencapai 40 Miliar Dolar. Hal ini berarti dengan penggabungan kedua organisasi ini, masyarakat (investor) mempunyai ekspektasi lebih dari nilai yang mereka miliki masing-masing.

Dari hal ini dapat kita pelajari bahwa kadang jika kita bekerja sendiri kita mungkin dapat mengerjakan 10 pekerjaan, dan rekan kita dapat menyelesaikan 7 pekerjaan. Namun jika kita dapat bekerja sama dengan rekan kita tersebut, tanpa kita sadari kita dapat menyelesaikan lebih dari 17 pekerjaan.

Dengan bergabungnya kedua organisasi tersebut, memang tidak menjamin perjalanan hubungan kerja sama mereka terus berjalan dengan baik. Nama besar kadang mempunyai beban yang berbeda, apabila lebih mementingkan kehebatan masing-masing, kadang malah membawa hasil lebih buruk. Namun dengan semboyan mereka : Go Far, Go Together, penggabungan ini menginginkan mereka melangkah jauh dengan melangkah bersama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Seperti kalimat If you want go fast, go alone; If you want go far go together. Mereka menginginkan melangkah lebih jauh, dengan cara memilih melangkah bersama.

 

Penulis : Efraim Pranata , Kanwil DJKN Sumut

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Peta Situs | Email Kemenkeu | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami | Oppini