Bima - “Tiada kenal kata lelah, tiada ada rasa takut dan tiada kata menyerah, merdeka atau mati” itulah semboyan yang selalu digaungkan oleh para pejuang ketika menghadapi para penjajah. Tanpa perjuangan dari mereka maka tidaklah mungkin Bangsa Indonesia dapat menikmati kebebasan seperti saat ini. Oleh karena itu, maka sangatlah penting bagi bangsa ini mengenang dan menghormati jasa para pahlawan.
Dalam hal mengenang dan menghormati jasa para pahlawan tersebut, banyak hal yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah menggelar upacara bendera menyambut Hari Kemerdekaan. Ada hal yang menarik dalam pelaksanaan upacara bendera yang diikuti oleh perwakilan Kementerian Keuangan di wilayah Bima kali ini. Perwakilan yang tergabung dalam Bimadanapala tersebut terdiri dari 2 orang dari KPPN Bima, 2 orang dari KPP Pratama Raba Bima dan 6 orang dari KPKNL Bima.
Upacara tersebut dilaksanakan di tempat paling tinggi di Bima yaitu di puncak Gunung Pundu Nence (1050 MDPL). Tentu saja ada rasa yang berbeda dalam pelaksanaan upacara ini, mengingat dibutuhkan waktu 8 jam pendakian untuk mencapai puncak gunung ini. Para peserta harus berjuang mengalahkan emosi, lelah dan putus asa untuk bisa sampai di puncaknya.
Gunung Pundu Nence sebenarnya bukanlah gunung yang terlalu tinggi, tetapi dibutuhkan waktu pendakian yang cukup lama mengingat jarak antara pos 1 dengan puncak yang cukup jauh. Hal ini masih ditambah dengan kondisi jalur pendakian yang menanjak cukup terjal dan turunan yang curam.
Pendakian yang dipimpin oleh Jundi Widiantoro, Kepala Seksi Pelayanan Penilaian KPKNL Bima dan Dimas Gita sebagai road captain, sedangkan Amin Rasyid sebagai sweeper ini dimulai dengan melakukan pemanasan, briefing dan berdoa di titik awal pendakian agar diberikan kelancaran. Selama pendakian banyak hal yang dilakukan oleh tim pendaki, salah satunya adalah berusaha untuk membersihkan sampah ketika sampai pada pos-pos yang dilalui.
Setelah melakukan pendakian 8 jam tersebut, tim pendaki sampai puncak dan segera mendirikan tenda untuk bermalam. Keesokan harinya (17/08) tim pendaki bergabung dengan para pendaki lainnya untuk menyelenggarakan upacara bendera. Dalam pelaksanaan upacara ini KPKNL dan KPPN Bima mengirimkan anggotanya untuk menjadi petugas pengibar bendera.
Selepas penyelenggaraan upacara tersebut semua anggota tim bersiap turun gunung dan pulang untuk mempersiapkan diri menyambut aktivitas kantor sebagaimana biasanya. Adapun total catatan waktu yang dibutuhkan tim dalam kegiatan ini sekitar 32 jam.
Salah satu hal yang patut menjadi perhatian dari gunung ini adalah gunung ini merupakan salah satu benteng alami yang di miliki oleh para pejuang dan pernah terjadi pertempuran hebat di puncak Gunung Pundu Nence ini. Hal ini diperkuat dengan adanya peninggalan berupa tiga buah meriam di dekat puncak gunung. Secara umum kondisi meriam tersebut tidak terawat dan tergeletak begitu saja, semoga kedepan ada tindak lanjut dari pemerintah setempat untuk merawat dan menjaga bukti peninggalan sejarah tersebut sehingga tetap terjaga kondisinya.
Dari pendakian ini ada banyak pelajaran dan pembelajaran yang dapat dipetik oleh tim pendaki dimana kita harus tetap fokus untuk mencapai puncak (tujuan). Meskipun untuk mencapainya kita dihadapkan dengan rintangan medan terjal, dalamnya jurang dan kerikil tajam yang mungkin membuat kita terseok, terjatuh dan berdarah, tetapi ketika tekad sudah terlanjur bulat untuk mencapai tujuan itu maka kita harus berani untuk mulai melangkah dan terus melangkah, karena perjalanan seribu mil pun harus diawali dengan satu langkah. Jangan pernah ada kata menyerah, teruslah melaju hingga tanpa terasa tujuan itu semakin dekat dan tercapai serta kita akan menjadi manusia yang lebih kuat karena kita telah melalui semua hal yang membuat kita terseok, terjatuh dan berdarah. Pengalaman – pengalaman itu akan selalu mengingatkan kita agar selalu berhati-hati dalam melangkah selanjutnya. (Yadi Tri / Jundi W)