Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 1 50-991    ID | EN      Login Pegawai
 
Kilas Peristiwa DJKN
Bedah Buku DJKN "Sjafruddin Prawiranegara: Pemimpin Bangsa dalam Pusaran Sejarah"
Aditya Agung Kandias
Selasa, 16 Agustus 2022 pukul 16:50:10   |   106 kali

 Jakarta – Sejarah adalah relikui yang patut dijadikan patron guna mengemas keadilan dalam menilai kebenaran dari peristiwa yang layak untuk dikenang. Hal ini disampaikan Dedi Syarif Usman, Sekretaris Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) saat membuka acara Bedah Buku HUT-77 RI “Mr. Sjafruddin Prawiranegara: Pemimpin Bangsa dalam Pusaran Sejarah” yang dilaksanakan secara daring pada Selasa (16/8).

 

“Melalui bedah buku ini, kiranya sosok Sjafruddin Prawiranegara dapat kita jadikan inspirasi untuk mendirikan menara pandang guna melihat berbagai persoalan dari berbagai lapis informasi khususnya dalam menghasilkan karya-karya bagi organisasi DJKN sehingga dapat lebih matang saat merencanakan dan lebih cakap ketika merealisasikan kerja-kerja besar di masa mendatang demi pelayanan kepada para pengguna jasa yang lebih optimal,” lanjut Dedi Syarif Usman.

 

Buku yang disunting oleh Lukman Hakiem & Mohammad Noer ini dibedah oleh dua narasumber, yakni  Muhammad Nahdi dari Direktorat Kekayaan Negara Dipisahkan dan Rian Rosita Luthfi dari Kantor Wilayah DJKN Jawa Barat. Buku ini menceritakan kisah hidup dan perjuangan sosok pejuang pasca kemerdekaan. Ia merupakan tokoh utama dibalik berdirinya Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada tahun 1948 s.d 1949, namun karena dinamika politik yang terjadi selama masa Orde Lama dan berlanjut pada Orde Baru, peran penting beliau sebagai pemimpin bangsa seakan dilupakan oleh seluruh anak bangsa.

 

Selain dikenal sebagai pahlawan pasca-kemerdekaan, Sjafruddin Prawiranegara juga merupakan tokoh penting dalam perkembangan di bidang ekonomi dan keuangan dengan pemikiran-pemikirannya yang melampaui zamannya waktu itu. Beliau merupakan sosok yang memiliki ide untuk menerbitkan uang Republik Indonesia sendiri yaitu ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai pengganti uang Jepang. Beliau berpendapat bahwa situasi ekonomi pasca kemerdekaan masih sangat labil, pemerintah belum memiliki kontrol yang kuat atas keyakinan dan sumber daya ekonomi karena keterbatasan negara mengemban tugas tersebut, sehingga pemerintah harus memiliki kontrol atas mata uang yang berlaku. Untuk itu, diperlukan mata uang nasional yang berdaulat di negara kita sendiri. Meskipun awalnya ide ini ditolak oleh Bung Hatta sebagai Wakil Presiden saat itu, namun dengan argumentasi yang kuat dan meyakinkan, akhirnya diterbitkanlah ORI sebagai mata uang resmi di negara Indonesia.

 

Buku ini merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan berbagai seminar dalam rangka Satu Abad Mr. Sjafruddin Prawiranegara (1911-2011) yang dilaksanakan dalam rentang waktu Februari-Juli 2011. Hasil berbagai makalah dan artikel mengenai sosok Mr. Sjafruddin Prawiranegara kemudian didokumentasikan di dalam buku ini.

 

Di tengah pemaparan yang dilakukan oleh pembedah buku, turut hadir salah seorang penyunting buku iniLukman Hakiem sebagai Special Guest. 

 

Lukman Hakiem menceritakan latar belakang dan upayanya dalam menyunting berbagai macam makalah dan artikel hingga menjadi satu buku yang utuh. “Jagalah integritas seperti yang dicontohkan Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Ia berjuang bukan untuk mengejar jabatan, inisiatif yang lahir dari panggilan rasa cinta akan tanah air. Semoga menjadi inspirasi bagi generasi sekarang dan yang akan datang”, tutup Hakim sebagai pesannya kepada seluruh peserta.

Foto Terkait Kilas Peristiwa
Peta Situs | Email Kemenkeu | FAQ | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami | Oppini