(Jakarta, 18 Oktober 2016). “Pengembangan SDM harus seimbang, tidak hanya terkait hard competency namun juga perlu bimbingan spiritual,” demikian Sekretaris Jenderal Kekayaan Negara Dodi Iskandar, membuka acara kajian Muharam pada 18 Oktober 2016 di Lantai 5 Kantor Pusat DJKN. Bimbingan spiritual diharapkan akan mewujudkan kualitas SDM yang baik dari aspek lahir dan batin.
Narasumber yang didatangkan adalah Ust. Muhammad Sauqi MZ. Ceramah diawali dengan kisah penuh hikmah tentang Syaikh Abu Laits yang sering disebut juga dalam naskah klasik sebagai Ibrahim bin Adham yang ditanya oleh para santrinya, “Mengapa doa-doa kami rasanya jarang dijawab Allah. Padahal dalam kitabnya, Allah berjanji Ud’uuni astajib lakum (berdoalah maka Aku akan mengijabahinya)?”. Pertanyaan tersebut (kenapa doa tidak diijabahi-red) kadang tidak terlalu dirisaukan, padahal kemalangan apa yang lebih besar bagi makhluk, selain dari doa yang tidak diijabahi?.
“Apa penyebab doa yang tidak dijawab Allah?” tanya Sauqi beretorika. Penyebab doa yang tidak dijawab Allah adalah hati yang mati. Hati yang tidak sambung kepada Allah. Ibarat setrum listrik yang tidak nampak, namun gejala adanya setrum dapat dirasakan, terdapat refleksi atau tanda yang menunjukkan strum itu ada, seperti menyalanya lampu, berputarnya alat elektrik dan sebagainya. Demikian juga hati yang sambung kepada Allah atau hati yang hidup, dapat ditandai dengan kualitas hati yang mampu menggerakkan jasad atau jasmani berbuat kebaikan dan amal solih.
Penyebab hati yang mati ada beberapa hal, lanjut putra dai sejuta umat Zainudin MZ. Pertama, kita mengenal Allah namun hak-hak Allah untuk disembah sering kita lalaikan. Kedua, kita sering mengaku bahwa kita cinta Rasulullah SAW namun kita sering meninggalkan sunnahnya. Kecintaan kita pada Rasulullah SAW bukan hanya klaim saja, namun kesungguhan cinta harus diikuti bukti yaitu seringnya hati dan mulut kita menyebut asmanya dengan shalawat, mencontoh perilaku Rasul dan menghidupkan sunnah -sunah Nabi. Ketiga, kita makan dari Allah tetapi nyaris tidak mensyukuri nikmat tersebut kepada Allah. “Coba kita hitung-hitung berapa persentase waktu yang kita alokasikan untuk beribadah?” Sauqi mengingatkan. Nikmat yang kita terima kadang membuat kita lupa akan pemberi nikmat itu sendiri. Sauqi memberi tamsil, agar dapat mensyukuri nikmat, kita dapat belajar dari filosofi tukang parkir. Apa filosofi tukang parkir? Filosofi tukang parkir adalah segala hal yang dianugerahkan kepada kita hanyalah barang titipan. Semua anugerah berupa harta, jabatan, kemasyhuran, dan keluarga adalah titipan. Sebagaimana tukang parkir, titipan tidak membuat kita sombong, karena itu bukan milik kita. Berikutnya, barang titipan siap diambil kapan saja oleh si Penitip. Yang terakhir, penerima titipan harus menjaga barang titipan, karena kalau barang yang ditipkan sampai rusak atau menurun kualitasnya maka pemilik akan murka. Demikian halnya, pekerjaan atau jabatan di kantor DJKN ini, pada hakekatnya adalah titipan atau amanah. Maka setiap pejabat/pegawai DJKN dengan kewenangan yang telah diamanahkan harus bertanggung jawab untuk mengelola aset/kekayaan negara yang luarbiasa besarnya ini untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Bertepatan dengan bulan Muharam yang pernuh berkah ini, Sauqi berpesan agar para muslimin dan muslimat semakin memperbaiki diri dengan memperbanyak sedekah kepada anak yatim dan memperbanyak istighfar agar terjaga imannya. Iman adalah mutiara yang paling berharga yang harus diwariskan kepada anak cucu. "Dengan iman kita hidup, dengan iman kita berjuang dan dengan iman kita berharap kembali kepada Allah", demikian dai muda Jakarta tersebut menutup ceramah.(mazhar/jo)