Palangka Raya – 29/09/2016. Untuk menciptakan kesadaran moral dalam pengembangan karakter dan menghasilkan sumber daya manusia yang sensitif terhadap nilai-nilai Kementerian Keuangan yaitu integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan, dan Kesempurnaan, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) bekerjasama dengan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM), Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) menyelenggarakan In House Training (IHT) Peningkatan Soft Competency Pegawai DJKN Tahun Anggaran 2016 bertempat di aula Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Palangka Raya.
Kondisi ini sangat ideal untuk membangun pondasi organisasi yang kredibel dan berkualitas tinggi. “Organisasi kita mungkin sudah luar biasa, tapi pendidikan karakter unggul seluruh sumber daya manusia di DJKN tetaplah diperlukan, agar semua hal yang sudah luar biasa itu bisa menjadi sangat luar biasa di sepanjang kehidupan organisasi. Saya harap seluruh pegawai dapat mengikuti kegiatan ini dengan rasa suka cita dan dapat mengambil nilai nilai positif dari games-games maupun materi yang disampaikan sekaligus mengamalkannya di lingkungan kerja maupun di kehidupan sehari-hari” ujar Agus Sugiarto, Kepala KPKNL Palangka Raya saat membuka acara.
Diawali dengan perkenalan dari pemateri, Nailul Hisam, Widyaiswara PPSDM BPPK, dilanjutkan dengan menyanyi bersama untuk membangkitkan semangat para peserta. Nail begitu sapaan akrab Nailul Hisam membawa peserta IHT menuju Kota Impian sebagai perumpamaan tujuan akhir perubahan atau transformasi DJKN.
Perjalanan menuju Kota Impian diilustrasikan menggunakan pesawat “Seulawah Air” yang transit/singgah di 5 kota, yaitu Kota Integritas, Kota Komunikasi, Kota Etiket kerja, Kota Motivasi dan Kota Team work. Disetiap kota persinggahan, awak cabin “Seulawah Air” membagikan boarding pass dan dilakukan games yang sangat menarik terkait masing-masing kota yang telah disinggahi.
Ada nilai-nilai yang dapat diambil dari setiap permainan. Contohnya, saat games adu cepat dan adu tinggi menyusun menara dari 35 biji baut, terdapat tim yang sebenarnya sudah mencapai rekor tertinggi namun tim tersebut berambisi menambah ketinggian menara dengan memanfaatkan baut tersisa. Yang terjadi selanjutnya adalah menara tersebut malah ambruk. Butuh waktu lama menyusunnya kembali hingga akhirnya tim tersebut kekurangan waktu. Kemenangan yang telah di depan mata pun sirna seketika.
Contoh kedua adalah saat berlangsung games menulis “REVENUE CENTER” dengan spidol yang bagian tengahnya diikat tali dan ditarik oleh seluruh anggota tim. Terdapat tim dimana tali yang dipegang oleh beberapa anggota putus karena tidak adanya pemimpin yang mengarahkan tulisan dan adanya perbedaan pendapat dari beberapa anggota tim sehingga terjadi tarik menarik tali yang cukup kuat. Alhasil selain putus itu tadi bentuk tulisan pun jadi tidak maksimal. Kekompakan dan penunjukan ketua tim yang dianggap cakap untuk mengarahkan anggota tim sangat penting agar tercipta pemahaman dan arah gerak yang serasi untuk hasil yang sempurna.
Sesi terakhir adalah menyusun puzzle dari boarding pass yang telah dibagikan kepada masing-masing peserta. Dengan cepat dan kompak puzzle bertuliskan Integritas, Komunikasi, Etiket kerja, Motivasi dan Team Work guna mendukung ‘DJKN Revenue Center’ pun berhasil disusun dengan benar.
Pada games-games tersebut memerlukan perencanaan dan strategi serta pembagian tugas yang baik sehingga dapat dijadikan sebagai ajang mempraktikkan Leaderless Group Discussion (LGD).(teks/foto : Tim HI PKY)