Bogor, 21 April 2016: Apakah yang ada dibenak anda saat disebut nama “KARTINI”? pasti langsung terbayang sosok wanita bersanggul, berkebaya, dengan sorot mata yang sendu. Namun, tentu bukan itu saja yang ada di ingatan rakyat Indonesia, terutama yang tidak pernah melupakan sejarah bangsa. “KARTINI” identik dengan sesosok wanita lembut tapi kuat pendiriannya. Pendirian untuk berpikir lebih maju, jauh melampaui apa yang ada dalam pikiran kaum wanita di jamannya saat itu. KARTINI seolah ingin ‘berbeda’ dari yang lain. Berbeda dari sisi positif, yang tetap berpegang teguh pada ajaran moral dan agama. Tidak menabrak rambu-rambu yang ada. Intinya: selalu bergerak maju, namun tetap di jalurnya.
Lalu apakah sosok KARTINI kekinian masih sama seperti dulu? Tentu saja tidak harus sama. Pertama dari segi penampilan: seorang wanita tidak harus berdandan menyerupai KARTINI agar bisa disebut “KARTINI”. Di jaman yang serba gerak cepat seperti ini, seorang wanita lebih terlihat fleksible dengan memakai ‘blazer’ dan celana panjang. Kalau di dunia kerja, kesannya lebih professional. Kemudian dari segi ide-ide: berpikir ‘maju’ ala KARTINI saat ini tidak hanya terkait pendidikan, namun juga maju di segala bidang. Kalau segi pendidikan, jangan ditanya sudah berapa banyak wanita, baik orang terkenal maupun masyarakat biasa, yang mampu meraih gelar Doktor dan Professor. Lalu dari segi profesi, hampir semua profesi yang dulunya didominasi kaum pria sekarang wanita pun bisa. Dari mulai pilot sampai driver ojek. Apa sih yang tidak bisa dilakukan wanita?
Sosok KARTINI kekinian seperti yang disebutkan di atas, dapat ditemukan juga di KPKNL Bogor. Endah Fariana, Kepala Seksi Pengelolaan Kekayaan Negara (PKN) dapat disebut sosok KARTINI kekinian. Melihat Endah Fariana, kita seolah melihat sosok wanita yang selalu ingin bergerak maju, penuh dengan ide-ide. Ide itu tidak hanya untuk kemajuan wanita, tapi juga untuk kemajuan kantornya, terutama seksi PKN yang dipimpinnya. Target dan beban kerja yang berat di seksi PKN, semakin memacu andrenalin seorang Endah Fariana untuk bekerja lebih giat lagi. Alhasil, pada tahun 2015 capaian kinerja seksi PKN dapat melampaui target yang ditentukan oleh kantor pusat. Dari target 80 Milyar, tercapai 198 milyar. Prestasi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dan sekarang, seolah kantor pusat ingin menantang ‘kemampuan’ ibu satu ini: untuk tahun 2016, seksi PKN diberikan target 210 milyar. How ‘high’ can you go?
Saat ditanya tanggapannya terkait makin tingginya target yang harus dicapai PKN, wanita ramah berpenampilan sedikit tomboy itu hanya tersenyum dan mengatakan “saya selalu bekerja sesuai moto hidup saya “Jangan pernah menyerah! Terus berjuang untuk kemajuan KPKNL Bogor”. Bagi Endah Fariana, beban kerja yang berat di kantor jangan dijadikan hambatan dalam melangkah, apalagi membuat stress. Baginya, stress dapat dihilangkan dengan satu hal: “Jalan-jalan”. Ibu satu ini memang punya hobi travelling. Sekedar refreshing, agar saat kembali bekerja menjadi lebih fresh. Ide-ide pun bermunculan, demikian katanya.
Menurutnya, sosok KARTINI masa kini, selain harus cerdas dan banyak ide, juga harus tangguh dan berani. Jangan gampang menyerah pada keadaan. Jangan lupa, kita juga harus bisa membawa nama baik keluarga dan organisasi, katanya mengingatkan. Kecerdasan-keberanian-kemandirian sosok wanita masa kini tetap harus dijalurnya, berpegang teguh moral dan agama. Jangan sampai istilah Habis Gelap Terbitlah Terang yang ditulis indah KARTINI dalam bukunya, menjadi redup kembali karena wanita itu sendiri.