Alasan Memilih Labuan Bajo Sebagai Tempat KTT Ke-42 ASEAN 2023
Arfiah Nurul Fajarini
Selasa, 12 Desember 2023 |
309 kali
KTT ke-42 ASEAN telah dilaksanakan di Kabupaten Manggarai
Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dikarenakan Indonesia kebagian untuk
menjadi tuan rumah KTT. Penulis sangat mengapresiasi keputusan pemerintah
Indonesia tersebut dikarenakan tempat terselenggaranya event-event penting
internasional tidak lagi-lagi di Bali (karena kita dapat melihat fakta
kebelakang seperti KTT G20, IMF, BDSC, BDF, dan lain-lain diselenggarakan di
Bali ketika Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah atau ketika Indonesia
menyelenggarakan event yang bertaraf internasional). Walaupun Bali memang
memiliki keindahan yang luar biasa, kita harus mengevaluasi dalam hal memilih
tempat untuk event-event internasional selanjutnya. Dalam artikel ini, penulis
akan mengutarakan alasan-alasan mengapa Pemerintah Indonesia harus ‘mencoba’
untuk memilih tempat lain sebagai tuan rumah untuk event-event internasional
selanjutnya.
Penulis sama sekali tidak menyangsikan
keindahan alam yang dimiliki oleh Bali. Namun, apabila kita menyusuri
wilayah-wilayah di Indonesia, ternyata banyak sekali yang juga seindah Bali,
seperti Raja Ampat, Sulawesi Utara (Bunaken), Samosir (Danau Toba), Daerah
Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dan lain-lain. Bahkan
saking ‘dan lain-lain’nya, penulis sampai berpikir, ‘Bukankah seluruh alam di
Indonesia itu indah dan wisata-able ya?’. Daerah-daerah tersebut
memiliki nilai keindahan alam (seperti pantai, gunung, bukit, dan laut) yang
luar biasa eksotis dan unik, yang dibarengi juga dengan sejarah dan
tempat-tempat peninggalan (seperti candi, kota-kota tua, hingga legenda cerita
masyarakat). Banyak pula turis-turis mancanegara yang telah mengunjungi
tempat-tempat tersebut, yang menunjukkan bahwa tempat wisata yang indah dan
keren di Indonesia menurut wisatawan mancanegara bukan ‘hanya’ di Bali.
Kemudian, isu ‘pemerataan pembangunan’ juga
sangat penting untuk diangkat dalam hal ini. Ibukota baru di Kalimantan,
misalnya, adalah salah satu proyek untuk merealisasikan cita-cita pembangunan
tersebut. Sejalan dengan itu, pembangunan pariwisata juga harus diratakan.
Apabila selalu Bali yang diandalkan untuk menjadi tuan rumah dalam hampir semua
event internasional, maka masyarakat Indonesia di wilayah lainnya tidak
mendapatkan keuntungan, khususnya dalam hal ekonomi. Ditambah lagi, mungkin
pembaca pernah atau sering mendengar ada sebuah celetukan dari
wisatawan-wisatawan mancanegara yang menyebut Bali adalah negara! Yang
menunjukkan bahwa Bali lebih terkenal daripada Indonesianya sendiri. Jika
setelah ini pemerintah Indonesia berkenan untuk mengubah tempat untuk ‘menjamu’
tamu-tamu internasional, apalagi jika dirolling (semisal tahun depan di
Raja Ampat, tahun depannya lagi di Prambanan, selanjutnya di Nusa Tenggara
Barat, dst), maka keterkenalan pariwisata Indonesia di mata dunia akan menjadi
merata dan tidak terpusat hanya di Bali.
Selain itu, ada satu hal yang menurut penulis
sangat krusial bagi identitas bangsa, yaitu keberagaman. Sebenarnya, bukan
hanya keindahan alam yang dapat kita promosikan dan pamerkan ke turis
mancanegara hingga masyarakat dunia luar, melainkan juga dari manusia (budaya) kita
sendiri, yaitu keberagaman kita. Bayangkan saja, jika mayoritas turis dan
masyarakat internasional hanya mengetahui Bali, bisa jadi mereka dapat terpaku
pada pengalaman empiris mereka, yang dapat memunculkan pikiran bahwa
‘Bali=Indonesia, dan Indonesia=Bali’. Sekali lagi, hal tersebut dikarenakan mereka hanya
mengetahui Bali. Sehingga, peluang kita untuk mempromosikan kebhinnekaan masyarakat
dapat berkurang drastis. Bayangkan saja, ketika Pemerintah Indonesia
mempromosikan wilayah-wilayah lain dengan cara menjadikan mereka sebagai tuan
rumah, maka para ‘tamu’ dari luar negeri akan merasa takjub, bukan hanya karena
keindahan alam, tetapi juga karena mereka tahu bahwa negara Indonesia memiliki
keberagaman yang melimpah, sedemikian sehingga, berbeda provinsi saja, maka suku,
bahasa, adat, seni, hingga makanan tradisionalnya pun sudah berbeda jauh. Bukankah
sungguh membanggakan ketika kita dapat melihat ‘tamu-tamu’ luar negeri dan
turis mancanegara terkesima karena dapat merasakan pengalaman secara langsung
dalam melihat keragaman 300 etnis, 720 bahasa, 5300 makanan tradisional, 3000
tarian tradisional, dan 6 agama (atau lebih karena ditambah kepercayaan
tradisional) di Indonesia?
Artikel ini sama sekali tidak mengarah kepada
ketidaksukaan terhadap Bali. Penulis sangat menghormati sekaligus mencintai
Bali. Namun, penulis berpendapat bahwa akan lebih baik apabila tempat untuk tuan
rumah event-event internasional dapat digilir agar pariwisata Indonesia menjadi
terkenal seluruhnya. Dan juga demi pemerataan pembangunan pariwisata di
wilayah-wilayah di Indonesia. Sekian dan terimakasih, Bli dan Mbok sekalian.
(Penulis: Arfiah Nurul Fajarini dan Nadhif Musyaffa)
Daftar Pustaka
https://disparbud.kotabogor.go.id/index.php/post/single/802
https://indonesia.go.id/profil/agama
https://indonesia.go.id/profil/suku-bangsa/kebudayaan/suku-bangsa
https://kemlu.go.id/amman/en/news/2595/bali-democracy-forum
https://kemlu.go.id/nur-sultan/en/news/16866/the-5th-bali-democracy-student-conference
https://kompaspedia.kompas.id/baca/data/foto/khazanah-tari-tradisional-di-indonesia
https://travel.kompas.com/read/2019/03/26/171100327/alasan-utama-turis-asing-berwisata-ke-indonesia
https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/cerita-bi/Pages/KTT-ASEAN-2023.aspx
https://www.celebes.co/taman-laut-bunaken
https://www.detik.com/bali/berita/d-6126097/360-event-bakal-digelar-di-bali-sepanjang-tahun-2022
https://www.dprd-diy.go.id/strategi-dongkrak-pariwisata-daerah-istimewa-yogyakarta/
https://www.indonesia.travel/id/id/destinasi/maluku-papua/raja-ampat
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |