Manajemen Kinerja Pegawai dan Permasalahan Antargenerasi
Dwito Joko Priyono
Rabu, 31 Desember 2025 |
204 kali
Manajemen
kinerja pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) merupakan fondasi
untuk memastikan kontribusi optimal setiap pegawai terhadap visi dan misi
institusi. Kebijakan terbaru menetapkan kerangka dan prinsip manajemen kinerja
melalui Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 300/KMK.01/2022, yang
menyelaraskan pengelolaan kinerja dengan regulasi nasional dan praktik dialog
kinerja serta pelaporan periodik triwulanan (Kemenkeu, 2022; DJPb, 2024).
Praktik ini diperkuat oleh penggunaan alat manajemen strategis seperti Balanced
Scorecard untuk menerjemahkan strategi ke indikator kinerja organisasi dan
pegawai (DJPb, 2024).
Kerja
lintas generasi di Kemenkeu—melibatkan Baby Boomers, Gen X, Milenial, dan Gen
Z—memunculkan variasi nilai, gaya komunikasi, ekspektasi terhadap
fleksibilitas, serta penguasaan teknologi. Studi sektor publik Indonesia
menunjukkan konflik antargenerasi kerap bersumber pada perbedaan penguasaan
teknologi, orientasi perubahan, dan komunikasi formal, yang dapat berimbas pada
kinerja (Irhamahayati et al., 2018). Secara demografis, komposisi angkatan
kerja Indonesia didominasi kelompok Gen Z (±27,9%) dan Milenial (±25,9%),
diikuti Gen X (±21,9%), sehingga dinamika generasi muda yang lebih besar perlu
direspons oleh kebijakan manajemen kinerja yang adaptif (Siregar et al., 2023).
Perbedaan
generasi juga membawa peluang nyata. Generasi muda umumnya lebih adaptif
terhadap teknologi dan inovasi, mempercepat transformasi digital dan
pengembangan proses kerja berbasis aplikasi kinerja (Irhamahayati et al.,
2018). Di sisi lain, generasi lebih senior menyumbang pengalaman kontekstual
dan kebijaksanaan organisasi, penting dalam penajaman indikator kinerja dan
mitigasi risiko. Bukti empiris di BPKP memperlihatkan bahwa pelatihan dan
pengembangan meningkatkan komitmen organisasi lintas generasi (Gen X dan Gen Y)
secara konsisten, menunjukkan ruang sinergi yang kuat (Hanifah & Syaebani,
n.d.).
Jika
tidak dikelola, generational gap dapat memicu miskomunikasi, friksi
peran, dan penurunan motivasi, yang pada akhirnya berdampak pada capaian
kinerja individu (Irhamahayati et al., 2018). Tren preferensi kerja juga
berbeda: survei global menunjukkan 49% Gen Z dan 43% Milenial memilih
menganggur daripada bertahan pada pekerjaan yang membuat mereka tidak bahagia,
berbanding terbalik dengan 71% pekerja menengah–akhir karier yang lebih toleran
demi stabilitas (Hayes, 2025). Perbedaan ini menegaskan perlunya indikator dan
umpan balik kinerja yang sensitif terhadap siklus karier tiap generasi.
Untuk
menyikapi stigma dan tantangan akibat generational gap, organisasi dapat
menerapkan strategi berikut:
Dengan memadukan kebijakan manajemen kinerja resmi, program pengembangan
yang inklusif, dan kolaborasi lintas generasi, organisasi dapat mengubah
perbedaan generasi menjadi kekuatan dalam pencapaian kinerja optimal.
Referensi:
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |