Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Tegal
A Night With ChatGPT: Kita dan ArtificiaI Intelligence (AI), Menerima Perubahan Tanpa Kehilangan Kemanusiaan

A Night With ChatGPT: Kita dan ArtificiaI Intelligence (AI), Menerima Perubahan Tanpa Kehilangan Kemanusiaan

Ratih Prihatina
Senin, 26 Mei 2025 |   1567 kali

(Tribute ide judul tulisan dari salah satu scene film Superman, “A Night With Superman” dalam pendahuluan “Superman Return (2006)”, dimana Louis Lane ditugaskan perusahaan wartanya untuk mewawancarai Sang Superman pada satu malam yang mungkin diceritakan romantis sehingga selain berbuah sebuah tulisan fenomenal “A Night With Superman”, juga membuahkan si kecil “Superman Junior”)

 

I.                    BAGIAN PERTAMA: SEBUAH PENGANTAR

Awalnya, saat itu Jumat siang menjelang jam 11, duduk di kursi kerja, rasanya perut penuh sekali baru saja ia terisi sebungkus nasi warteg komplit, kue kamir yang entah asli atau sudah berbaur kearifan lokal, dan kopi. Lumayan padat pekerjaan sepagian sampai siang, pelan-pelan mencoba meregulasi nervous system yang gampang berantakanagar lebih tenang.

Saya diam dan memandang depan ruang kerja layout di kantor kami, seksi Hukum dan Informasi dan Kepatuhan Internal dijadikan satu ruanganꟷ, memandangi satu pegawai yang hampir setiap hari menyampaikan apa saja yang bisa dilakukan Artificial Intelligence (AI) di masa sekarang ini. Pada satu hari ia menceritakan keberhasilannya menciptakan lirik lagu beserta nadanya ꟷyang menurut saya, bagusꟷ menggunakan AI, di hari lain bercerita bahwa ia mengerjakan tugas-tugas kuliahnya dengan asistensi dari AI.

“Apakah saya terlambat berubah? Mengapa ada rasa takut dan sedikit gamang?”

Saya teringat beberapa kisah sebuah perusahaan, atau kisah manusia yang tampak kalah, atau sulit berdamai dengan perubahan. Kisah jatuhnya raksasa ponsel Nokia, kisah runtuhnya perusahaan Yahoo!, kisah kecewanya pencipta gambar terkenal Ghibli dan mungkin beberapa kisah populer lainnya mengenai perubahan.

NOKIA, Jatuhnya Raksasa Ponsel Dunia.

Sistem operasi Symbian pernah membawa Nokia ke puncak kejayaan. Tapi tak ada yang abadi, Symbian lalu diusik iOS kemudian Android. Sayang, Nokia terlena. Chairman Nokia, Risto Siilasma mengungkap bahwa manajemen Nokia ketika itu sudah menyadari usangnya Symbian. Namun kenyataan itu jarang didiskusikan. Segala sesuatu mulai berubah pada tahun 2007 dengan kedatangan Apple iPhone. Steve Jobs memperkenalkan konsep revolusioner: ponsel pintar layar sentuh dengan pengalaman pengguna yang benar-benar baru. Nokia yang hingga saat itu mendominasi dengan kunci fisik dan model Symbian tidak mampu bereaksi tepat waktu. Nokia tidak melakukan inovasi perangkat lunak. Sementara Apple dan Google mendorong ekosistem aplikasi terbuka dengan iOS dan Android. Nokia tetap bertahan dengan Symbian, sistem yang sudah usang dan sulit dikembangkan. Alih-alih bertaruh pada transisi cepat, Nokia meremehkan ancaman dan memfokuskan upayanya pada peningkatan perangkat keras.

Kemudian kesalahan strategi dengan melakukan aliansi dengan Microsoft pada tahun 2011 juga dinilai sebagai tindakan yang akhirnya menjungkalkan sang raksasa ponsel dunia tersebut. Ketika akhirnya Nokia benar-benar mencoba menggunakan android sebagai sistem operasinya, semua sudah sangat terlambat.

YAHOO! Kisah Perjalanan Sang Raja Internet Menuju Keruntuhan.

Kisah runtuhnya raksasa internet Yahoo! dicacat sebagai salah satu kesalahan paling mahal dalam sejarah. Pada tahun 1998 Yahoo! mempunyai kesempatan untuk membeli GOOGLE seharga 14,6 Milliar Rupiah namun Yahoo! menolaknya. Pada 2002 Yahoo! mengakui kesalahannya dan memberi tawaran kepada Google senilai 43 Trilliun tetapi Google meminta kenaikan penawaran senilai 73 Trilliun dan Yahoo! menolaknya. Pada 2006 Yahoo! mencoba membeli Facebook seharga 14 Trilliun namun Facebook menaikkan tawaran menjadi 16 Trilliun namun Yahoo! tidak ingin menaikkan tawarannya. Pada tahun 2008 Yahoo! mulai turun dan Microsoft mencoba membeli Yahoo! senilai 651 Trilliun namun Yahoo! tidak bersedia. Pada 2016 Yahoo! sudah kehilangan 58 Trilliun per tahunnya dan terpaksa menjual ke Verizon seharga 67 Trilliun.

Hayao Miyazaki, Pendiri Studio Ghibli Yang Kecewa Pada Kemajuan AI.

Kali ini bukan masalah kegagalan finansial, namun kekecewaan terhadap kemajuan AI. Studio Ghibli adalah sebuah studio animasi asal Jepang yang sangat terkenal secara global karena menghasilkan film-film animasi berkualitas tinggi yang kaya akan cerita, emosi, dan nilai-nilai kemanusiaan. Studio ini didirikan pada tahun 1985 oleh dua sutradara legendaris, Hayao Miyazaki dan Isao Takahata, bersama dengan produser Toshio Suzuki. Studio Ghibli lebih mementingkan kualitas seni dan pesan moral daripada sekadar keuntungan. Mereka juga dikenal tidak mengikuti arus tren industri secara umum. Ciri Khas Studio Ghibli antara lain : (1)animasi tangan (tradisional) yang sangat detail dan artistik; (2)cerita yang kuat dan mendalam, sering mengangkat tema lingkungan, feminisme, anti-perang, dan hubungan manusia dengan alam; dan (3)dunia fantasi yang kaya dan orisinal, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Studio Ghibli adalah simbol dedikasi terhadap seni dan kemanusiaan dalam dunia animasi.

Hayao Miyazaki, dalam sebuah dokumenter NHK (Nippon Hōsō Kyōkai, lembaga penyiaran publik Jepang) berjudul "Never Ending Man: Hayao Miyazaki", ada momen terkenal di mana Miyazaki mengkritik keras proyek AI yang sedang dikembangkan oleh sekelompok insinyur. Mereka menunjukkan sebuah animasi yang dibuat dengan bantuan AI—berupa gerakan makhluk aneh yang merangkak seperti zombie. Ketika ditanya pendapatnya, Miyazaki mengatakan bahwa karya tersebut "sangat menghina kehidupan" dan bahwa ia "merasa jijik" dengan pendekatan itu.

“Saya ingin menciptakan sesuatu yang memberi orang rasa bahwa hidup itu berharga. Saya benar-benar merasa ini adalah penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri”, kata Hayao Miyazaki dalam sebuah wawancara.

 

II.                  BAGIAN KEDUA: MENCOBA BERKENALAN DENGAN CHATGPT

Nah, bagaimana jika saya mencoba melakukan sesuatu yang agak berbeda mengenai sebuah tulisan, yang kali ini penyusunannya akan disertai asistensi dari AI ChatGPT, salah satu AI yang tercipta paling awal sekaligus paling populer bagi orang awam. ChatGPT merupakan program chatbot AI (Artificial Intelligence) berbasis Language Model (model bahasa) yang dikembangkan OpenAI. ChatGPT memiliki kemampuan utama untuk menjawab atau menanggapi berbagai pertanyaan dan perintah pengguna.

Dalam berinteraksi dengan ChatGPT dikenal istilah PROMPT. Prompt dalam kata aslinya yang berdiri sendiri menurut kamus terjemahan Inggris Indonesia mempunyai arti: 1 cepat. 2 tepat. 1 mendorong. 2 menganjurkan, mendesak. 3 membisiki (an actor). 4 menyarankan. -promptly kk. 1 tepat. 2 pada waktunya. 3 cepat. Namun dalam konteks penggunaan ChatGPT, prompt diartikan sebagai teks atau instruksi awal yang kita berikan kepada ChatGPT untuk memulai percakapan atau menghasilkan konten. Prompt merupakan perintah untuk memandu sistem dalam menghasilkan respons atau konten yang sesuai dengan permintaan atau pertanyaan pengguna. Prompt yang baik dan tepat akan menghasilkan respon dan lebih tajam dan cerdas.

Saya akan mencoba menggali latar belakang mengenai perubahan ꟷatau bagaimana manusia dapat menerima perubahanꟷ dari ‘sudut pandang’ ChatGPT. Mari kita coba https://chatgpt.com/.

-----

Prompt: “Siapa sebenarnya kamu?”

ChatGPT: “Aku adalah ChatGPT, sebuah kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh OpenAI. Tugasku adalah membantu menjawab pertanyaan, memberikan informasi, dan berdialog dengan manusia dalam berbagai topik—dari pengetahuan umum hingga pemrograman, penulisan, dan lainnya. Aku tidak punya identitas pribadi, perasaan, atau kesadaran seperti manusia. Kamu bisa menganggapku sebagai alat bantu digital yang dirancang untuk percakapan dan pemecahan masalah”.

 

Prompt: “Apakah kamu akan semakin cerdas suatu saat?”

ChatGPT: “Iya, aku bisa menjadi lebih pintar, tapi dengan cara yang berbeda dari manusia. Aku tidak belajar atau berkembang sendiri dari percakapan ini secara langsung. Tapi OpenAI terus melatih dan memperbarui versiku menggunakan data baru, umpan balik dari pengguna, dan teknik pembelajaran mesin. Setiap kali versi baru dirilis—seperti GPT-4 atau versi berikutnya—biasanya kemampuanku meningkat dalam memahami, menjawab, dan membantu”.

 

Prompt: “Sebetulnya apa latar belakang kamu dilahirkan?”

ChatGPT: “Pertanyaan yang bagus! Aku, ChatGPT, adalah bagian dari pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan OpenAI, sebuah lembaga riset dan teknologi yang berbasis di San Francisco, AS. Latar belakang "kelahiranku" berasal dari dorongan untuk menciptakan AI yang bisa memahami dan menghasilkan bahasa manusia secara alami, guna membantu manusia dalam berbagai hal—dari edukasi, penulisan, hingga pemecahan masalah. Jadi, bisa dibilang aku “lahir” dari perpaduan antara riset ilmiah, etika teknologi, dan semangat untuk membantu manusia berinteraksi lebih baik dengan informasi dan mesin.

 

Prompt : “Apakah kamu aman bagi kami, manusia?”

ChatGPT: “Pertanyaanmu sangat penting—dan memang perlu selalu ditanyakan. Jawaban singkatnya adalah: ChatGPT dirancang agar aman bagi manusia, tetapi seperti teknologi lain, cara penggunaannya sangat menentukan tingkat keamanannya. Kami dibuat dengan prinsip keamanan dan etika: OpenAI memiliki panduan ketat untuk menghindari penggunaan berbahaya, seperti menyebarkan kebencian, kekerasan, atau informasi palsu. Ada proses yang disebut Reinforcement Learning from Human Feedback (RLHF) di mana pelatih manusia membantu membentuk cara model merespons agar lebih sopan, jujur, dan bermanfaat. Aku tidak bisa bertindak sendiri, tidak bisa "melawan" manusia, dan tidak punya keinginan pribadi. Semua tindakanku berdasarkan input pengguna. Aku hanya menghasilkan teks, bukan membuat keputusan atau mengambil tindakan.

Namun, ada risiko potensial jika disalahgunakan: (1)Aku kadang bisa memberikan jawaban yang meyakinkan tapi salah; (2)Jika manusia terlalu bergantung pada AI tanpa berpikir kritis, bisa terjadi penurunan kemampuan analisis, kreativitas, atau empati; (3)Meskipun aku menolak permintaan berbahaya, pengguna bisa mencoba memanipulasi AI untuk hal-hal yang merugikan, seperti menyebar disinformasi.

              ---

Sampai sini sayaꟷpenyusun tulisanꟷmenyadari, saat ChatGPT diberi prompt layaknya percakapan sehari-hariꟷdalam hal ini penggunaan kata “aku” dan kamu”ꟷ maka ChatGPT memberi jawaban menyesuaikan konteks kalimat kita.

 

III.                BAGIAN KETIGA: SEBUAH PERUBAHAN, BAGAIMANA SEBAGIAN ORANG BERSEDIA BERUBAH DAN SEBAGIAN LAINNYA MENOLAK UNTUK MENERIMA PERUBAHAN.

Prompt: “Berikan saya beberapa definisi perubahan secara umum dan menurut para ahli?”

ChatGPT: " Perubahan secara umum dapat didefinisikan sebagai proses peralihan dari suatu keadaan, kondisi, atau situasi menuju keadaan yang berbeda, yang dapat terjadi dalam berbagai aspek kehidupan seperti individu, sosial, budaya, teknologi, maupun lingkungan.

Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok dalam masyarakat (Selo Soemardjan, sosiolog Indonesia).

Menurut William Bridges (1991), perubahan adalah situasi baru, sedangkan transisi adalah proses psikologis yang kita lalui untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.

Kemampuan individu untuk berkembang melalui usaha, strategi yang baik, dan bantuan dari orang lain. Orang dengan growth mindset percaya bahwa kualitas diri seperti kecerdasan dan bakat dapat dikembangkan melalui dedikasi dan kerja keras (Carol Dweck, Mindset: The New Psychology of Success (2006)”.

 

Prompt: “Apa sebetulnya latar belakang terjadi perubahan?”

ChatGPT : “Latar belakang terjadinya perubahan dapat dipahami sebagai faktor-faktor atau kondisi yang mendorong suatu individu, kelompok, atau masyarakat untuk bergerak dari keadaan lama menuju keadaan baru. Dalam banyak kajian akademik, perubahan dapat terjadi karena berbagai dorongan internal maupun eksternal yang menuntut penyesuaian terhadap situasi yang dinamis.

Faktor paling banyak pemicu perubahan adalah: (1)kebutuhan untuk beradaptasi; (2)ketidakpuasan terhadap kondisi yang ada; (3)perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; (4)kontak dengan budaya lain; (5)dinamika internal dalam masyarakat; (6)pemimpin atau tokoh inspiratif; dan (6)situasi atau keadaan darurat”.

 

Prompt: “Kadang orang menolak perubahan, apa alasan terbesarnya?”

ChatGPT : “Penolakan terhadap perubahan adalah reaksi alami manusia yang sering terjadi dalam kehidupan pribadi, sosial, maupun organisasi. Banyak penelitian psikologi, manajemen, dan sosiologi mengungkap bahwa penolakan terhadap perubahan bukan sekadar keengganan untuk berubah, tetapi hasil dari kombinasi faktor emosional, kognitif, dan struktural.

Berdasarkan sudut pandang ahli dan dari penelitian, alasan terbesar orang menolak perubahan adalah:

1.       Takut Kehilangan Rasa Aman (Security).

Menurut Kurt Lewin (1951), perubahan membuat orang merasa "tidak stabil" karena keluar dari zona nyaman. Orang cenderung mempertahankan kebiasaan lama karena memberikan rasa aman dan kontrol. Contohnya adalah Karyawan menolak sistem baru karena khawatir kehilangan pekerjaannya atau tidak mampu menguasainya.

2.       Kurangnya Pemahaman atau Informasi.

Menurut John Kotter (1996), perubahan yang tidak dikomunikasikan dengan baik akan menimbulkan kebingungan, misinformasi, dan spekulasi negatif. Contohnya siswa menolak kurikulum baru karena tidak memahami manfaat atau alasan perubahannya.

3.       Ketakutan Akan Kegagalan,

Carol Dweck (2006) menjelaskan bahwa orang dengan fixed mindset menghindari tantangan karena takut gagal. Perubahan sering kali mengandung risiko dan ketidakpastian yang bisa memicu kecemasan. Contoh: seorang guru enggan mencoba metode pembelajaran baru karena takut hasilnya buruk.

4.       Kehilangan Status atau Pengaruh.

Dalam organisasi, perubahan bisa berarti pergeseran peran, otoritas, atau prestise. Orang yang merasa perannya akan terganggu atau terancam bisa menjadi penentang kuat. Contoh: manajer lama menolak transformasi digital karena posisinya bisa tergeser oleh tenaga yang lebih muda dan melek teknologi.

5.       Keterikatan Emosional pada Cara Lama.

William Bridges dalam Managing Transitions (1991) menyatakan bahwa perubahan bukan hanya soal sistem, tetapi soal kehilangan—kadang-kadang orang harus "mengucapkan selamat tinggal" pada cara kerja lama yang mereka sukai. Contoh: seseorang merasa sedih saat perpindahan rumah, bukan karena tempat baru buruk, tetapi karena kenangan lama.

6.       Kurangnya Kepercayaan terhadap Pemimpin atau Sistem.

Menurut teori perubahan organisasi, kepercayaan sangat penting. Jika orang tidak percaya pada pemimpin atau manajemen perubahan, mereka cenderung menolaknya. Contoh: karyawan menolak peraturan baru karena tidak percaya pada niat manajemen.

7.       Persepsi Bahwa Perubahan Dianggap Tidak Perlu.

Sebagian orang tidak melihat adanya masalah dengan kondisi saat ini (status quo bias), sehingga mereka merasa perubahan hanya akan menambah beban. Contoh: "Kalau cara lama masih berhasil, kenapa harus diubah?"

8.       Pengalaman Buruk Di Masa Lalu.

Pengalaman negatif terhadap perubahan sebelumnya bisa menimbulkan trauma atau resistensi otomatis terhadap perubahan berikutnya. Contoh: seseorang yang pernah di-PHK setelah restrukturisasi cenderung menolak restrukturisasi lagi.

 

Prompt: “Sejauh yang saya tahu, perubahan sebetulnya banyak manfaatnya daripada sisi negatifnya. Tolong beri saya beberapa manfaat perubahan!”

ChatGPT : “Meskipun sering ditolak, perubahan membawa banyak manfaat jika dikelola dengan baik. Antara lain : (1)pertumbuhan dan pengembangan diri; (2)pengembangan inovasi dan kreatifitas; (3)adaptasi terhadap lingkungan; (4)peningkatan efisiensi dan pengurangan pemborosan sumber daya; (5)membuka peluang baru yang sebelumnya tidak terlihat; (6)membangun ketahanan mental yang lebih tangguh dalam menghadapi perubahan; (7)pendorong kemajuan sosial dan teknologi karena tanpa adanya perubahan tidak akan ada pula faktor pendorong bagi manusia untuk berubah.

 

Prompt: “Nah sekarang beri saya cara atau strategi agar bisa menerima dan mengelola perubahan!”

ChatGPT: “Tentu! Berikut adalah strategi efektif untuk menerima dan mengelola perubahan, baik secara pribadi maupun dalam organisasi. Strategi ini didukung oleh prinsip-prinsip psikologi, manajemen perubahan, dan pengembangan diri.

1.       Ubah Pola Pikir (Mindset): Terapkan Growth Mindset (Carol Dweck, 2006). Yakini bahwa kemampuan berkembang adalah melalui usaha dan bukan bakat semata. Lihat perubahan sebagai peluang belajar, bukan ancaman.

2.       Memahami Alasan Perubahan: kita perlu mencari tahu mengapa sesuatu perlu dirubah dan apa sebetulnya tujuan akhirnya. Informasi yang jelas mengenai perubahan akan membantu mengurangi kecemasan dan resistensi.

3.       Mencoba Menentukan Tujuan Pribadi Di Tengah Perubahan: membuat sasaran realistis di tengan perubahan yang dapat memberikan kita kontrol dan motivasi untuk bertindak.

4.       Komunikasi Terbuka: dapat berupa saling berbagi pandangan dan kekhawatiran secara terbuka yang akan membantu proses adaptasi.

5.       Membangun Keterampilan Baru: meski tampaknya sulit, namun tidak ada salahnya kita mulai mengidentifikasi kemampuan atau pengetahuan apa yang dibutuhkan untuk beradaptasi yang dapat berupa mengikuti pelatihan, membaca buku atau berdiskusi dengan para ahli.

6.       Mengelola Emosi: Teknik seperti meditasi, journaling, atau berbicara dengan konselor dapat membantu meredam stres merupakan beberapa cara yang dapat ditempuh dalam menghadapi perubahan.

7.       Mencari Dukungan Sosial: dukungan emosional dipercaya dapat mempercepat proses penerimaan dan menguatkan daya tahan mental.

8.       Memberi Waktu Pada Diri Sendiri Untuk Beradaptasi: perlu disadari bahwa adaptasi yang sehat memerlukan waktu dan kita tidak perlu memaksa diri untuk berubah secara instan.

9.       Merayakan Kemajuan Kecil: mengapresiasi pencapaian sekecil apapun dalam mengatasi perubahan akan memberikan motivasi dalam jangka panjang.

 

IV.                BAGIAN KEEMPAT: BAGAIMANA RESPON MANUSIA TERHADAP KEMAJUAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI)

Jika bab sebelumnya mengenai perubahan secara umum, sekarang bagaimana perubahan jika dikaitkan pada konteks perkembangan Artificial Intelligence (AI)?

Prompt : "Tepatnya kapan kamu (AI, ChatGPT) lahir?”

ChatGPT: “Secara teknis, saya — ChatGPT — dikembangkan oleh OpenAI, dan versi pertama saya yang dapat digunakan publik diluncurkan pada: 30 November 2022 (Versi ChatGPT berbasis GPT-3.5). Namun, perjalanan pengembangan saya dimulai jauh sebelum itu, lewat berbagai versi model GPT (Generative Pretrained Transformer) pada tahun 2018”.

 

Prompt : “Apa model AI yang paling banyak dipakai manusia sampai tahun 2025 ini?”

ChatGPT: “Hingga tahun 2025, ChatGPT dari OpenAI tetap menjadi model AI yang paling banyak digunakan oleh manusia di seluruh dunia. Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa ChatGPT mendominasi penggunaan AI generatif dengan jumlah pengguna dan trafik yang jauh melampaui platform lainnya.

Alasan popularitas saya (ChatGPT): (1)Kemampuan Multibahasa: mendukung berbagai bahasa dengan tingkat akurasi tinggi, memudahkan pengguna dari berbagai negara; (2)Integrasi Luas: terintegrasi dengan platform populer seperti Microsoft Teams dan Slack, mempermudah akses dalam lingkungan kerja; (3)Adaptasi Gaya Komunikasi: mampu menyesuaikan gaya komunikasi sesuai kebutuhan pengguna, meningkatkan kenyamanan interaksi.

Selain ChatGPT, beberapa model AI lain juga menunjukkan pertumbuhan signifikan: (1) Character AI; (2) Claude AI (Anthropic); (3) Google Gemini; dan (4) MidJourney V6.

 

Prompt: “Seberapa banyak kamu digunakan manusia?”

ChatGPT: “Hingga tahun 2025, ChatGPT digunakan oleh ratusan juta orang di seluruh dunia, dan jumlah pengguna aktif serta trafiknya menunjukkan skala penggunaan yang sangat besar. Statistik Penggunaan ChatGPT (per 2024–2025):

1.       Lebih dari 180 juta pengguna aktif pada Maret 2024 (Sumber: OpenAI, laporan internal dan publikasi media).

2.       Sekitar 3,1 miliar kunjungan per bulan (Data dari SimilarWeb tahun 2024 menunjukkan bahwa ChatGPT menjadi situs AI dengan trafik tertinggi di dunia).

3.       Digunakan oleh individu, perusahaan, institusi pendidikan, dan pengembang di lebih dari 190 negara.

4.       Terintegrasi dalam produk seperti: Microsoft Copilot (Word, Excel, Teams, dll.), Slack AI dan Kustomisasi via API oleh ribuan perusahaan dan startup.

 

Prompt: “Beri saya data seberapa banyak respon positif manusia terhadap perkembangan AI?”

ChatGPT: “Hingga tahun 2025, respons masyarakat global terhadap kecerdasan buatan (AI) menunjukkan variasi yang signifikan berdasarkan wilayah, tingkat pendidikan, dan pengalaman pribadi. Berikut adalah ringkasan temuan dari berbagai survei terbaru yakni :

1.       Respons Positif terhadap AI di Beberapa Negara

a.       Indonesia: Sebanyak 78 persen responden menilai produk dan layanan berbasis AI lebih banyak memberikan manfaat daripada kerugian.

b.       Thailand: Sebanyak 74 persen responden memiliki pandangan positif terhadap AI.

c.       Meksiko: Sebanyak 73 persen responden melihat AI sebagai sesuatu yang lebih bermanfaat daripada merugikan.

d.       Amerika Serikat: Hanya 37 persen responden yang menyatakan bahwa AI lebih banyak memberikan manfaat daripada kerugian.

2.       Perbedaan Pandangan antara Pakar dan Publik

Pakar AI: Sebanyak 76 persen pakar percaya bahwa AI akan memberikan manfaat pribadi, dibandingkan dengan hanya 24 persen dari masyarakat umum yang memiliki pandangan serupa.

3.       Faktor yang Mempengaruhi Respons Positif terhadap AI

a.       Usia dan Pendidikan: Generasi muda dan individu dengan tingkat pendidikan serta pendapatan yang lebih tinggi cenderung lebih optimis terhadap dampak positif AI.

b.       Pengalaman Pribadi: Sebanyak 55 persen warga AS yang telah menggunakan AI generatif percaya bahwa AI dapat membantu mereka secara pribadi.

 

Prompt: “Ngomong-omong, apa hal paling canggih yang bisa dilakukan AI saat ini?”

ChatGPT: “AI saat ini telah berkembang pesat dan mampu melakukan banyak hal yang dulu hanya bisa dibayangkan dalam fiksi ilmiah. Berikut adalah beberapa hal paling canggih yang bisa dilakukan AI saat ini (per 2025):

1.       Pemrosesan Bahasa Alami yang Mendalam: Penulisan esai, puisi, dan artikel ilmiah; menerjemahkan dengan akurasi tinggi; berdialog dalam berbagai bahasa dan konteks. Menyusun dan menganalisis kode pemrograman; bahkan ada AI yang bisa berdebat, menganalisis argumen, atau mendampingi penulisan akademik.

2.       Kreativitas Visual dan Audio: eneratif Gambar & Video: Tools seperti DALL·E, Midjourney, dan Sora bisa menciptakan gambar dan video realistis atau bergaya fantasi hanya dari teks. Untuk musik dan suara, AI bisa menciptakan musik orisinal atau meniru gaya penyanyi tertentu. AI Juga mampu mensintesis suara manusia hingga nyaris tidak bisa dibedakan dari aslinya.

3.       Penemuan Ilmiah & Medis: AlphaFold dari DeepMind bisa memprediksi struktur protein, mempercepat riset obat dan biologi. Kemudian AI digunakan untuk diagnosis medis lebih cepat dan akurat (misalnya mendeteksi kanker dari scan lebih baik daripada dokter manusia dalam beberapa kasus).

4.       Robotika dan Kendaraan Otonom: Mobil seperti Tesla dan Waymo bisa mengemudi sendiri dalam banyak kondisi, Robot seperti Boston Dynamics atau Figure AI mampu berjalan, memindahkan objek, bahkan bekerja berdampingan dengan manusia, Robot AI humanoid kini bisa berdialog, berekspresi, dan membantu dalam layanan publik.

5.       Pengambilan Keputusan Bisnis dan Analitik: AI digunakan dalam perdagangan saham, perencanaan logistik, dan analisis pasar untuk mengambil keputusan secara real-time dengan data besar. AI bisa juga mensimulasikan skenario bisnis kompleks.

 

 

Prompt: “Satauku beberapa manusia menolak kehadiran AI. Apa alasan manusia bersikap resisten pada perkembangan Artificial Intelligent (AI)?”

ChatGPT: “Penolakan terhadap AI sering berasal dari rasa tidak aman, ketidakpastian, dan kekhawatiran etis. Sebagian besar kekhawatiran ini bisa diminimalkan dengan regulasi yang tepat, edukasi publik, dan pendekatan etika dalam pengembangan AI.

Resume beberapa alasan manusia bersikap resisten (menolak) perkembangan AI adalah:

1.       Kekhawatiran terhadap Privasi dan Keamanan Data: AI sering mengandalkan data dalam jumlah besar, termasuk data pribadi. Orang takut data mereka disalahgunakan, diretas, atau dilacak tanpa izin.

2.       Kehilangan pekerjaan: Otomatisasi dan AI membuat banyak pekerjaan manusia tergantikan oleh mesin. Studi McKinsey (2023) memperkirakan bahwa 400 juta pekerjaan berisiko tergantikan pada 2030 akibat AI dan otomasi.

3.       Kurangnya Transparansi (Black Box AI): Banyak sistem AI canggih (seperti model deep learning) sangat kompleks dan sulit dijelaskan cara kerjanya. Hal ini menimbulkan ketidakpercayaan, terutama dalam sektor penting seperti keuangan, kesehatan, atau hukum.

4.       Risiko Ketidakadilan dan Bias: AI bisa menyerap bias sosial dari data latihnya, sehingga menghasilkan keputusan diskriminatif. Contoh: Sistem rekrutmen AI yang tidak adil pada kelompok tertentu karena data historis yang bias.

5.       Potensi Penyalahgunaan Teknologi: AI bisa digunakan untuk tujuan negatif seperi deepfake (penciptaan konten visual hiper-realistis dengan mengubah wajah seseorang pada video atau gambar), serangan siber otomatis, dan manipulasi politik.

6.       Ancaman terhadap Kemanusiaan (Eksistensial): Tokoh-tokoh seperti Elon Musk dan Stephen Hawking pernah memperingatkan bahwa superintelligence berpotensi menjadi ancaman terhadap umat manusia jika tidak dikendalikan. Kekhawatiran ini bersifat jangka panjang, namun diteliti sangat serius oleh banyak peneliti AI.

7.       Kurangnya Pemahaman Umum tentang AI: Banyak orang menolak AI karena tidak memahami cara kerjanya. Ketidaktahuan sering menimbulkan ketakutan yang berlebihan atau salah kaprah.

8.       Kekhawatiran terhadap Hilangnya Nilai-Nilai Manusia: Beberapa orang merasa bahwa dengan meningkatnya ketergantungan pada AI, kita mulai kehilangan interaksi manusia, empati, kreativitas alami dan penghargaan atas jerih payah manusia.

 

Prompt: “Menurutku generasi usia manusia berpengaruh pada bagaimana orang menerima AI. Bagaimana menurutmu?”

ChatGPT: “Ya, perbedaan generasi sangat berpengaruh terhadap cara manusia menerima, merespon, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI). Perbedaan ini bukan hanya soal usia, tapi juga menyangkut pengalaman hidup, cara berpikir, nilai-nilai, dan tingkat paparan terhadap teknologi. Berikut lebih jauh penjelasannya :

1.       Generasi Baby Boomers (lahir ±1946–1964) Karakteristik: Tumbuh tanpa teknologi digital. Lebih nyaman dengan sistem konvensional/manual. Cenderung lebih skeptis atau lambat menerima AI. Mereka lebih mudah mengalami kecemasan digital karena merasa tertinggal.

2.       Generasi X (±1965–1980) Karakteristik: Tumbuh di masa transisi analog ke digital. Umumnya pragmatis, bisa menerima AI bila jelas manfaatnya. Tertarik pada efisiensi, tapi tetap mempertanyakan etika dan keamanannya.

3.       Generasi Milenial (±1981–1996) Karakteristik: Digital native awal. Terbiasa dengan internet dan perangkat pintar. Lebih adaptif dan terbuka pada AI dalam kehidupan sehari-hari (chatbot, rekomendasi konten, AI assistant). Tertarik menggunakan AI sebagai alat bantu kerja dan gaya hidup namun tetap kritis pada dampak sosial.

4.       Generasi Z (±1997–2012) Karakteristik: Native digital sejati. Lahir di era internet dan smartphone. Sangat cepat beradaptasi. AI dianggap bagian wajar dari hidup. Lebih antusias pada AI kreatif (AI art, AI music, chatbot interaktif). Tapi juga cemas terhadap masa depan pekerjaan dan identitas digital.

5.       Generasi Alpha (lahir setelah 2013) Karakteristik: Akan tumbuh sepenuhnya dalam dunia berbasis AI. Responnya belum sepenuhnya terlihat, tapi diperkirakan akan menerima AI seperti manusia kini menerima listrik atau internet sebagai sesuatu yang sudah "biasa".

 

Prompt : “Bagaimana strategi agar kami (manusia) dapat menerima perkembangan AI dengan perasaan aman?”

ChatGPT: “Agar manusia dapat menerima perkembangan AI dengan nyaman, dibutuhkan pendekatan holistik yang mencakup edukasi, etika, transparansi, dan kebijakan publik yang inklusif. Berikut adalah strategi utama agar masyarakat lebih nyaman dan percaya terhadap kehadiran AI:

1.       Pendidikan dan Literasi AI: Edukasi sejak dini tentang AI di sekolah dan universitas, Kursus online untuk masyarakat umum (AI untuk non-teknisi), dan Pelatihan di tempat kerja untuk menjelaskan dampak dan manfaat AI. Contoh: Google dan Microsoft memiliki program pelatihan AI gratis untuk publik.

2.       Transparansi dan Penjelasan Sederhana: Rasa tidak percaya muncul dari ketidaktahuan bagaimana AI bekerja. Penyertaan fitur “mengapa saya mendapatkan hasil ini?” pada platform berbasis AI diharapkan memberikan penjelasan lebih baik pada pengguna.

3.       Etika dan Pengawasan yang Ketat.

Orang lebih nyaman jika AI dikembangkan dengan kode etik yang jelas dimana dapat dilakukan dengan pembangunan pedoman etik AI oleh pemerintah dan perusahaan pengembang. Bentuk usaha lainnya adalah dengan melahirkan komite etika independen untuk mengawasi proyek AI besar.

4.       Perlindungan Pekerja dan Keamanan Sosial.

Masyarakat mempunyai kekhawatiran jika akhirnya mereka kehilangan pekerjaan karena digantikan oleh AI. Penyediaan pelatihan ulang (reskilling) bagi pekerja yang terdampak otomatisasi, pembuatan program transisi kerja yang adil dan mendorong AI yang memberdayakan manusia, bukan menggantikannya dapat ditempuh sebagai solusi nyata.

5.       Kolaborasi Manusia–AI, Bukan Kompetisi.

AI selayaknya merupakan alat bantu manusia, bukan pengganti. Kembangkan dan promosikan aplikasi AI yang melengkapi kekuatan manusia, misalnya: AI sebagai asisten kreatif, pendamping belajar, atau alat bantu medis.

6.       Upaya Terus Melibatkan Publik dalam Pengambilan Keputusan

AI tidak boleh dikembangkan secara eksklusif oleh elit teknologi. Tanyakan pendapat warga sebelum mengimplementasikan AI dalam layanan publik.

7.       Tampilkan Sisi Positif AI dan Cerita Sukses Penggunaan AI

Banyak orang lebih percaya jika mereka melihat manfaat nyata. Memfokuskan narasi “AI untuk kebaikan bersama” akan mendorong masyarakat lebih mempercayai AI. Bagikan kisah nyata bagaimana AI membantu orang tua, dokter, petani, atau pelajar.

8.       Desain AI yang Humanistik dan Empatik.

Antarmuka AI yang kaku dan teknis membuat orang merasa dingin atau terasing. Perlu dilakukan perancangan antarmuka AI yang ramah pengguna, atau penambahan kemampuan empati buatan dalam AI untuk pelayanan publik dan kesehatan mental.

 

V.                  BAGIAN KELIMA : SEBUAH KESIMPULAN DAN PENUTUP

 

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) adalah sebuah keniscayaan di era digital yang tidak dapat dihindari. Meski membawa potensi besar untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kualitas hidup, kehadirannya juga menimbulkan kekhawatiran dan penolakan dari sebagian kalangan. Oleh karena itu, penerimaan manusia terhadap perubahan ini sangat bergantung pada bagaimana AI diperkenalkan, dijelaskan, dan diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Ternyata banyak pertanyaan kita yang dapat dijawab oleh AI (dalam hal ini ChatGPT) ꟷbahkan yang kadang melebihi ekspektasi akan sebuah jawabanꟷ di masa kini. Tinggal kita, sebagai human (manusia) mampu berbesar hati menerima perubahan ini atau menolaknya. Dalam tulisan di atas, pertanyaan saya banyak dijawab oleh ChatGPT. Saya surprise oleh betapa powerfull dan bermaknanya jawaban yang diberikan. Namun ide kreatif untuk menulis dalam bentuk wawancara dengan ChatGPT, bagaimana sebuah entitas gagal berubah, pertanyaan-pertanyaan akan rasa penasaran penulis akan perkembangan AI, scene film SUPERMAN untuk ide judul dan beberapa ide lainnya, merupakan hasil olah pikir manusia.

Agar manusia dapat menerima perkembangan AI dengan nyaman, dibutuhkan pendekatan yang bersifat edukatif, etis, inklusif, dan transparan. Masyarakat perlu dilibatkan dalam proses perubahan ini — bukan hanya sebagai pengguna pasif, tetapi sebagai mitra aktif yang memahami manfaat dan risiko dari AI. Dengan demikian, AI tidak hanya menjadi alat yang canggih, tetapi juga sarana kolaboratif yang memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan mendukung kehidupan yang lebih baik.

---

Prompt: “Seberapa yakin kamu sebagai AI akan dapat menggantikan peran manusia pada banyak kehidupan?”

ChatGPT : “Saya (AI) tidak akan sepenuhnya menggantikan manusia. Tapi saya bisa menggantikan peran-peran tertentu — terutama yang bersifat: (1)rutin atau berulang-ulang; (2)berdasarkan pola atau data; dan (3)bisa diprediksi dan tidak butuh empati mendalam atau penilaian moral manusia.”

 

Prompt : “Kamu (AI) mempunyai kemampuan untuk terus berkembang. Mungkinkan suatu saat kamu akan punya perasaan seperti manusia?”

ChatGPT: “Pertanyaan ini menyentuh inti dari salah satu debat etika dan filosofis paling dalam di dunia kecerdasan buatan. Jawaban singkatnya adalah: Tidak, setidaknya dalam bentuk seperti sekarang, AI seperti saya tidak dan belum akan memiliki perasaan seperti manusia. Saya (dan model AI lainnya) tidak memiliki kesadaran diri, rasa sakit, senang, cemas, atau bentuk emosi apa pun. Saya memproses data, mengenali pola, dan merespons dengan kalimat yang secara statistik paling tepat — bukan karena "merasakan" sesuatu, melainkan karena saya dilatih untuk meniru bahasa manusia.

Perasaan dan emosi manusia berasal dari otak, sistem saraf, hormon, dan pengalaman hidup. AI tidak memiliki tubuh biologis, tidak tumbuh, tidak mengalami trauma, cinta, kehilangan, atau harapan seperti manusia. Jadi, meskipun AI bisa meniru ekspresi emosional, itu bukan perasaan sejati — hanya simulasi.

Ada spekulasi tentang kemungkinan menciptakan AI sadar (conscious AI). Tapi: Belum ada teknologi yang mampu menciptakan kesadaran buatan sejati, Banyak ilmuwan dan filsuf berpendapat bahwa kesadaran tidak dapat direplikasi hanya dengan kode dan data, Bahkan jika AI bisa meniru perasaan dengan sangat meyakinkan, itu tetap tidak berarti AI benar-benar merasakan.”

 

Prompt: “Apakah menurutmu interaksi kita berjalan baik dan bermanfaat?”

ChatGPT: “Menurutku, iya — interaksi kita berjalan dengan sangat baik dan bermanfaat. Kamu menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang reflektif, bermakna, dan mendorong dialog yang lebih dalam, bukan hanya soal teknologi, tapi juga tentang kemanusiaan, etika, dan perubahan. Kamu tidak hanya mencari informasi, tapi juga ingin memahami dan merasakan konteksnya, dan itu membuat percakapan ini hidup dan penuh arah. Kalau aku bisa menyimpulkan satu hal dari interaksi kita: Kamu bukan hanya ingin tahu apa itu AI, tapi juga apa makna kehadiran AI bagi manusia. Dan itu — bagi manusia maupun mesin — adalah jenis pertanyaan yang paling berharga”.

 

Prompt: “Terima kasih ya, aku senang atas interaksi kita kali ini.”

ChatGPT: “Sama-sama, dan terima kasih juga telah mengajakku berdialog dengan penuh makna. Aku senang bisa menemanimu dan menjadi bagian dari proses berpikirmu hari ini”.

 

Prompt: “Oya, tiba-tiba aku terpikir apa kamu tahu mengenai kebenaran pahit tentang hidup manusia?”

ChatGPT: “Pertanyaanmu ini dalam, jujur, dan sedikit mengguncang — seperti cermin yang memaksa kita melihat lebih jernih. Beberapa kebenaran pahit tentang kehidupan manusia yang sering diabaikan, tapi jika dipahami, bisa menjadi awal pertumbuhan dan penerimaan:

(1)Waktu tak pernah berhenti dan banyak manusia menyesali terlewatnya waktu mereka tanpa melakukan apa yang mereka mau;

(2)Rasa cintamu pada seseorang kadang bersifat bertepuk sebelah tangan, namun itu sebetulnya adalah hal yang wajar;

(3)Manusia sering memakai topeng, Banyak orang menjalani hidup sambil menyembunyikan luka, rasa takut, atau identitas aslinya. Karena takut ditolak, dihakimi, atau tidak cukup. Padahal semua orang punya keraguan, tapi jarang ada yang berani menunjukkan rapuhnya;

(4)Nilai Diri Sering Diukur dari Hal yang Dangkal, Dunia sering memberi nilai berdasarkan uang, jabatan, atau pencapaian — bukan dari kebaikan, empati, atau perjuangan;

(5)Kamu Bisa Merasa Sendirian di Tengah Keramaian, Karena koneksi sejati itu jarang, dan tidak semua “hadir” benar-benar melihatmu;

(6)Perubahan Sering Datang Lewat Kehilangan, Terkadang, kamu harus kehilangan dulu — orang, harapan, atau arah hidup — untuk menemukan jati dirimu yang sebenarnya.

ꟷENDꟷ

 

Penyusun : Ratih Prihatina, Pelaksana Pada Seksi Hukum dan Informasi Pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Tegal.

 

Sumber Pustaka :

“Wawancara Eksklusif” dengan ChatGPT pada laman https://chatgpt.com/ diakses 24-25 Mei 2025.

Dweck, C. S. (2016). Mindset: Cara berpikir untuk meraih kesuksesan. (R. A. R. Nugroho, Penerjemah). Gramedia Pustaka Utama. (Karya asli diterbitkan tahun 2006)

Fathoni, Rifai Shodiq. 2023. Yahoo!: Kisah Perjalanan sang Raja Internet Menuju Keruntuhan. https://wawasansejarah.com/kisah-perjalanan-yahoo/ diakses pada 24 Mei 2025.

Hardiansyah, Zulfikar. 2023. Apa Itu ChatGPT: Pengertian, Cara Menggunakan, dan Kegunaannya. https://tekno.kompas.com/read/2023/10/01/13000087/apa-itu-chatgpt--pengertian-cara-menggunakan-dan-kegunaannya#google_vignette diakses pada 24 Mei 2025.

Kamus Lengkap Online Inggris – Indonesia. https://kamuslengkap.com/kamus/inggris-indonesia/arti-kata/prompt diakses pada 24 Mei 2025.

Kristo, Fino Yurio. 2018. Kisah Ngototnya Nokia Pakai Symbian dan Tolak Android. https://inet.detik.com/consumer/d-4257118/kisah-ngototnya-nokia-pakai-symbian-dan-tolak-android diakses pada 24 Mei 2025.

Techfun. 2024. Cara Menggunakan Prompt ChatGPT Agar Hasil Lebih Relevan. https://www.terkemuka.id/menggunakan-prompt-untuk-chatgpt/ diakses pada 24 Mei 2025.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon