Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Tegal
RESILIENSI : Bangkit Dari Kesulitan, Kunci Sukses Mempertahankan Konsistensi Dalam Pekerjaan

RESILIENSI : Bangkit Dari Kesulitan, Kunci Sukses Mempertahankan Konsistensi Dalam Pekerjaan

Ratih Prihatina
Selasa, 18 Februari 2025 |   8893 kali

 

A.      SEBUAH PENGANTAR

Captain America merupakan tokoh Avengers pertama di tahun 2025 yang diangkat oleh Marvell Cinematic Universe (MCU), tepatnya 12 Februari 2025 kemarin. Pecinta film Marvell paham bahwa terdapat sejarah panjang sebelum seri Captain America di tahun 2025 ini.

“I COULD DO THIS ALL DAY…!!!!!”

Merupakan quotes memorabel oleh Steve Rogers yang terkenal sebagai Captain America di seri “The First Avenger (2011)”. Sebelum Steve Rogers menyetujui untuk dijadikan percobaan transformasi menjadi Captain America melalui rekayasa genetik tertentu, dikisahkan bahwa Steve Rogers seumur hidupnya mengalami kelemahan pertumbuhan yang mengakibatkan fisiknya kecil dan lemah. Bertolak belakang dengan keadaan fisiknya yang lemah, ia memiliki tekad kuat menjunjung nilai moral, jiwa yang besar serta patriotisme tinggi pada negaranya melebihi pemuda-pemuda seumurannya dengan fisik yang normal kala itu. Berlatar tahun 1941-1942 saat perang dunia II, Steve Rogers berkali-kali mencoba mendaftar dengan bernagai cara menjadi prajurit untuk diterjunkan pada perang dunia membela negaranya. Namun tentu saja gagal karena kelemahan fisik tersebut.

“I COULD DO THIS ALL DAY…!!!” merupakan teriakan Steve Rogers, sebelum ‘direkayasa’ menjadi Captain America, saat ia dirundung dan dipukuli oleh sekelompok pemuda, di gang sempit. Pemuda-pemuda yang memukulinya merasa Steve Rogers tidak pantas menjadi prajurit dan tidak menyukai kekuatan tekad Steve Rogers untuk berpegang teguh pada kebajikan. Tentu saja Steve Rogers saat itu babak belur, kalah dan terpojok. Namun ia tidak berpikir untuk menyerah dan terus berusaha bertahan dari pukulan-pukulan para pemuda itu sebelum diselamatkan oleh karib terbaiknya, Sersan James Buchanan Barnes (Bucky) yang dalam rangkaian Marvell selanjutnya, Bucky ditransformasi menjadi Sang Winter Soldier.

Disini dapat dilihat pada diri Steve Rogers ditemukan resiliensi tinggi, namun apa sebetulnya itu resiliensi?

 

B.      BEBERAPA DEFINISI RESILIENSI MENURUT PARA AHLI

Istilah resiliensi  dikenalkan  pertama kali  pada 1950-an dengan nama ego-resiliency (ER), yang diartikan sebagai kemampuan umum yang melibatkan kemampuan penyesuaian diri yang tinggi dan luwes saat dihadapkan pada tekanan internal maupun eksternal. Awalnya konsep itu diterapkan pada anak-anak dimana ia dikenal sebagai “invulnerability” atau “stress-resistance“. ER dan resiliensi keduanya diperlakukan sebagai faktor protektif melawan kesulitan (Farkas & Orosz, 2015).

Resiliensi secara etimologis berasal dari kata resilience yang berarti daya lenting atau kemampuan kembali dalam bentuk semula (Aprilia, 2013). American Psychological Association (APA) mendefinisikan resiliensi sebagai proses adaptasi dalam menghadapi kesulitan, trauma, tragedi, ancaman atau bahkan sumber-sumber signifikan yang dapat menyebabkan individu stres (Southwick, dkk., 2014).

Menurut Henderson dan Milstein, resiliensi didefinisikan sebagai kemampuan untuk pulih, menahan kesulitan dan meningkatkan karakter. Grotberg mengartikan resiliensi sebagai kemampuan manusia untuk menghadapi, menjadi lebih kuat, dan bahkan berubah dalam mengatasi pengalaman sulit dalam hidupnya. Individu yang resilien mampu memahami masalah yang segera terjadi dan memperbaiki diri. Semua orang memiliki kemampuan untuk pulih, dapat belajar menghadapi kesulitan hidup dan dapat mengatasi kesulitan dan dengan demikian individu dapat menjadi lebih kuat.

Wagnild dan Young mendefinisikan resiliensi sebagai kemampuan seseorang untuk pulih dari situasi buruk dan afirmasi yang meningkatkan kemampuan individu untuk beradaptasi dan mengatasi emosi negatif yang disebabkan oleh stress. Synder dan Lopez menunjukkan bahwa resiliensi merupakan adaptasi yang baik ketika individu menghadapi situasi yang merugikan atau tidak nyaman. Ahli lain, Yu dan Zang menambahkan bahwa resiliensi adalah kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi setelah mengalami peristiwa traumatis. Rutten dkk, menyatakan bahwa resiliensi adalah proses dinamis dan adaptif yang membantu individu mempertahankan keadaannya dan cepat kembali ke keadaan semula setelah kondisi stres atau depresi.

C.      ASPEK-ASPEK RESILIENSI

Teori mengenai aspek-aspek resiliensi bukan merupakan teori tunggal yang dikemukakan satu ahli, namun berkembang dan terus diteliti oleh para pakar. Salah satu teori yang paling terkenal mengenai aspek resiliensi dikemukakan oleh Kathryn M. Connor and Jonathan R.T. Davidson, dua ahli psikiatri yang pada tahun 2003 mengembangkan The Connor–Davidson Resilience Scale (CD-RISC) yang kemudian CD-RISK banyak digunakan dan dimodifikasi pakar-pakar selanjutnya untuk mengukur skara resiliensi individu. Aspek-aspek resiliensi menurut Connor dan Davidson (2003) adalah :

1.       Kompetensi Personal, Standar Yang Tinggi dan Keuletan

Para resilien memposisikan kesulitan, gangguan, atau ancaman sebagai tantangan yang harus diselesaikannya. Mereka juga mempunyai keyakinan yang kuat bahwa diri mereka mampu menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Kemudian, mereka juga mampu meningkatkan standar atau target yang harus dicapainya. Hal ini membantu orang-orang yang resilien fokus pada pengembangan dirinya di balik tantangan atau masalah yang dihadapi. Para resilien memiliki dorongan untuk terus berkembang yang didukung dengan keuletan dalam berproses. Keuletan ini membuat mereka berusaha stabil di tengah terpaan masalah atau ketika bangkit dari keterpurukan.

2.       Percaya Kepada Orang Lain, Memiliki Toleransi Terhadap Emosi Negatif Dan Tegar Dalam Menghadapi Stres

Ketika menerima berbagai kondisi negatif yang menimpanya, para resilien berupaya tegar dan memelihara sikap toleran terhadap kondisi yang dialaminya. Apa yang dialaminya dipahami sebagai kenyataan yang diterima. Selain menerima kondisi yang ada, mereka tetap berupaya mendapatkan dukungan dari orang lain yang berdaya untuk membantu perbaikan keadaannya. Dukungan dari orang lain menjadi penting untuk mempercepat bangkit dari keter­purukan. Dukungan yang dapat diberikan seperti dukungan emosional, penghargaan, maupun informasi. Kehadiran orang lain menjadi sumber kekuatan tambahan dalam berproses menghadapi kesulitan.

3.       Penerimaan Yang Positif Dari Perubahan Dan Memiliki Hubungan Yang Aman.

Para resilien menerima kesulitan yang dialaminya dengan pikiran yang positif. Selalu ada kebaikan dalam keadaan seburuk apapun. Adanya hikmah atau pembelajaran di balik kesulitan atau perubahan membuat mereka mampu melihat sesuatu secara berimbang. Mereka juga punya keyakinan bahwa mereka dapat mengarahkan diri ke penca­paian tujuan pribadi atau kelompok. Keyakinan ini membuat mereka lebih percaya dengan diri sendiri dan orang-orang di sekelilingnya. Selain itu, kuatnya keyakinan dan baiknya relasi yang tercipta membuat mereka merasa aman (secure) dalam menjalani hidup dan kesulitan yang ada. Rasa aman mampu memaksimalkan potensi yang ada dalam diri mereka.

4.       Kemampuan Mengontrol Diri

Para resilien memiliki kemampuan mengendalikan emosi mereka, baik saat terpuruk maupun kondisi yang baik. Emosi negatif yang berlangsung dalam dirinya tetap dikendalikannya secara baik. Selain itu, mereka bersikap realistis terhadap kemampuan mengendalikan yang ada dalam diri mereka. Mereka sadar bahwa mereka tidak selalu mampu mengontrol emosi dalam level yang tinggi.

5.       Kesadaran Akan Pengaruh Spiritual

Para resilien memiliki kesadaran bahwa daya yang mereka miliki bersumber dari keimanan yang ada dalam diri mereka. Dengan keimanan itu, mereka memelihara optimisme dan melakukan penyesuaian diri hingga dapat menanggapi kesulitan yang dihadapinya secara positif.

 

D.      FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RESILIENSI

Di dunia ini segala sesuatunya terjadi karena keterlibatan berbagai faktor. Pun demikian dengan resiliensi. Nashori dan Iswan, 2020, dalam bukunya “Psikologi Resiliensi” menyusun faktor-faktor pembentuk resiliensi individu yang bersumber dari pendapat para ahli sebagai berikut :

1.       Usia dan Gender

Individu akan mengalami perkembangan psikologis sejalan dengan penambahan usia kronologisnya (teori perkembangan). Dalam perjalanan hidupnya individu akan menemui berbagai tantangan dan menuntutnya untuk mengatasi situasi tersebut. Kemampuan individu untuk mengatasi dan bangkit dari masalah akan ditentukan oleh kemampuan kognitif, pengalaman, kepribadian, dan dukungan yang diperoleh dalam hidupnya. Kemudian, gender laki-laki atau perempuan tentu memiliki karakteristik yang berbeda baik secara psikologis maupun fisik dan tentunya mempengaruhi bagaimana cara individu tersebut menyikapi suatu kesulitan dalam hidup. Setiap gender memiliki tantangan atau tuntutan yang dibentuk dari struktur sosial dan norma yang ada di mana individu tersebut tinggal.

2.       Status Sosial Ekonomi

Status sosial ekonomi merupakan konsep luas yang merujuk pada posisi seseorang, keluarga, rumah tangga, atau kelompok dalam mendapatkan penghormatan untuk bisa merasakan sesuatu yang berharga dalam hidup bermasyarakat. Meningkatnya tingkat stres pada individu dipengaruhi oleh rendahnya lingkungan status sosial ekonomi yang dimiliki sehingga berisiko terhadap tingginya tingkat gangguan psikologis.

Pada level keluarga atau sosial terdapat sejumlah kondisi yang dapat mempengaruhi anak atau anggota keluarga lain mengalami permasalahan dalam kesehatan mental. Kondisi-kondisi ini yang kemudian menjadi faktor risiko yang dapat mempengaruhi resiliensi individu ketika dihadapkan dengan kesulitan dalam hidup.

Pada level pribadi atau individu terdapat sejumlah aspek yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis dan resiliensi individu, seperti status pernikahan/hubungan, tingkat pendidikan, dan status pekerjaan. Individu yang memiliki kepuasan dalam pernikahan menunjukkan kondisi psikologis yang lebih baik, faktor protektif dalam resiliensi, dan menurunkan risiko mengalami stres. Tingkat pendidikan dan status pekerjaan dapat menjadi faktor protektif dan faktor risiko dalam waktu yang bersamaan terkait hubungannya dengan isu kesehatan mental.

3.       Karakteristik Kepribadian

Karakteristik kepribadian memiliki pengaruh yang signifikan terhadap resiliensi individu karena menentukan bagaimana cara ia menyelesaikan kesulitan dan menggunakan kemampuannya dalam menghadapi kesulitan. Karakteristik pribadi meliputi sifat, dan tindakan yang membedakan seseorang dengan orang lain. Ini melibatkan cara seseorang merasakan, berpikir, dan berperilaku.

4.       Religiusitas

Menurut Nashori dan Diana (2002), religiusitas adalah seberapa banyak pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa pelaksanaan ibadah dan akidah, serta seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianut. Maka religiusitas disebut sebagai faktor protektif pada kondisi psikologis seseorang. Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa religiusitas juga memiliki korelasi yang signifikan terhadap kemampuan seseorang bangkit kembali terhadap masalah dan kondisi kejiwaan tertentu. Feder, dkk. (Mosqueiro, Rocha & Fleck, 2015) menyatakan bahwa religiusitas dapat menjadi sumber resiliensi pada diri individu dalam menghadapi kesulitan dan pengalaman traumatis. Kasen, Wickramaratne, Gameroff dan Weissman (2012) menemukan bahwa religiusitas dapat mengembangkan resiliensi pada orang-orang yang memiliki risiko depresi berat. Dehghani-Firooz abadi, dkk (2017) menemukan bahwa sikap religius yang memiliki korelasi positif terhadap resiliensi perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Jangi dan Sardari (2019) juga menyimpulkan bahwa religiusitas efektif dalam meningkatkan resiliensi pada pasien kanker.

5.       Koping Stres

Koping stres merupakan proses di mana individu berusaha untuk mengatasi atau mengurangi stres (Sarafino, 2006). Coping berasal dari Bahasa Inggris, yaitu “cope” yang memiliki arti menanggulangi atau mengatasi suatu hal yang sulit dengan baik (Oxford Dictionary, 2008). Salah satu koping stres adalah mendekatkan diri pada agama/religiusitas. Koping stres dengan pendekatan agama adalah menggabungkan religiusitas yang dimiliki dengan kemampuan penyelesaian masalah.

6.       Efikasi diri (self-efficacy)

Efikasi diri adalah suatu keyakinan individu akan kemampuannya dalam mengatur dan melaksanakan serangkaian perilaku atau tindakan yang diperlukan guna menyelesaikan suatu tugas tertentu. Efikasi merupakan salah satu bentuk kecerdasan kognitif. Efikasi diri dipengaruhi oleh tiga dimensi: level, generality, dan strength. Dimensi level merujuk pada tingkat kesulitan yang diyakini individu akan mampu mengatasinya. Jika individu memiliki efikasi diri yang tinggi maka akan memiliki keyakinan berhasil dalam melakukan suatu tugas dan sebaliknya. Dimensi generality adalah variasi situasi di mana individu merasa yakin atas kemampuan dirinya. Jika individu memiliki efikasi diri yang tinggi maka dirinya akan merasa bisa menyelesaikan beragam tugas yang ada dan sebaliknya. Dimensi strength menjelaskan tentang seberapa kuat individu meyakini dirinya mampu menyelesaikan suatu tugas. Semakin kuat keyakinan individu akan dirinya maka akan semakin tinggi efikasi diri yang dimiliki untuk menyelesaikan tugas. Efikasi diri memiliki peran dalam menentukan keyakinan individu untuk bangkit dari masalah atau situasi yang tidak nyaman.

7.       Kecerdasan Emosi

Kondisi emosi menjadi faktor yang signifikan dalam menentukan apakah individu bisa resilien atau tidak. Dalam konsep psikologi dikenal istilah kecerdasan emosi yang menitikberatkan pada kemampuan individu dalam mengelola emosinya. Resiliensi identik dengan kemampuan menghadapi situasi yang sulit dan tidak menyenangkan serta mengelola emosi-emosi negatif yang muncul dari situasi tersebut.

8.       Optimisme

Optimisme adalah suatu harapan yang ada pada diri individu bahwa segala sesuatu akan berjalan menuju arah kebaikan (Snyder&Lopez, 2002). Optimisme merupakan kecenderungan untuk memandang sesuatu dari sisi baiknya dan mengharapkan hasil yang paling memuaskan (Saphiro, 2003). Individu yang resilien dapat dilihat dari sebearapa banyak harapan yang dimiliki ketika dihadapkan dengan situasi atau kondisi yang menekan. Optimisme memiliki korelasi positif yang signifikan terhadap resiliensi dan kesejahteraan psikologis (Agarwal& Malhotra, 2019).

9.       Kebersyukuran

Kebersyukuran berasal dari kata dasar syukur, dalam bahasa Inggris kebersyukuran disebut dengan gratitude yang berasal dari bahasa latin gratia yang berarti kelembutan, kebaikan hati atau berterima kasih. Kata-kata yang terbentuk dari akar kata gratia berhubungan dengan suatu kebaikan, kedermawaan, pemberian, keindahan dari memberi dan menerima, atau mendapatkan sesuatu tanpa tujuan apapun (Emmons & McCullough, 2003). Emmons dan McCullough (2003) mendefinisikan syukur sebagai sebuah perasaan atau emosi, yang kemudian diimplementasikan dalam sikap, sifat moral yang baik, sifat kepribadian, dan akan mempengaruhi bagaimana individu menanggapi suatu situasi. Pengaruh rasa syukur terhadap resiliensi ditemukan pada sejumlah penelitian dengan hasil positif, salah satunya adalah rasa syukur memiliki korelasi positif terhadap resiliensi pada remaja (Mary & Patra, 2015; Listyandini, 2018).

10.   Gaya Pola Asuh

Resiliensi terbentuk dari interaksi antara faktor internal dan eksternal individu, salah satunya adalah pola asuh yang diterima dalam keluarga.  Pola asuh orangtua adalah sikap atau perilaku orangtua terhadap anak dengan mengembangkan aturan-aturan dan mencurahkan kasih sayang kepada anak (Santrock, 2007). Pola asuh ditandai dengan adanya pemenuhan kebutuhan anak oleh orangtua, baik kebutuhan fisik (makan, minum, dan sebagainya), kebutuhan psikologis (rasa aman, kasih sayang, perhatian, dan sebagainya), dan mengajarkan norma-norma atau nilai-nilai yang ada di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungan di mana ia tinggal.

11.   Dukungan Sosial

Menurut Sarafino (2006), dukungan sosial adalah keberadaan, kesediaan, kepedulian dari orang lain yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi individu. Dukungan sosial dapat menjadi faktor eksternal yang dapat membantu seseorang menjadi lebih resilien dalam situasi dan keadaan sulit yang membutuhkan adaptasi. Dukungan sosial dapat meningkatkan resiliensi pada orang-orang yang mengalami trauma.

 

E.       MENINGKATKAN RESILIENSI SAAT MELALUI TEKANAN DAN DALAM MENGHADAPI LINGKUNGAN PEKERJAAN

Individu yang memiliki resiliensi tinggi akan cenderung easygoing, mudah bersosialisasi, memiliki keterampilan berpikir yang baik termasuk keterampilan sosial dan kemampuan menilai sesuatu, memiliki orang di sekitar yang mendukung, memiliki satu atau lebih bakat, yakin pada diri sendiri dan percaya pada kemampuannya dalam mengambil keputusan serta memiliki spritualitas dan religiusitas. Menurut Baumgadner (2010) individu yang resiliensinya tinggi akan menampilkan kemampuan  dalam dirinya yang meliputi:

1.       Intelektual yang baik dan kemampuan memecahkan masalah;

2.       Mempunyai temperamen yang easygoing dan kepribadian yang dapat beradaptasi terhadap perubahan;

3.       Mempunyai self-image yang positif dan menjadi pribadi yang efektif;

4.       Optimis;

5.       Mempunyai nilai pribadi dan nilai budaya yang baik;

6.       Mempunyai selera humor.

Resiliensi bukanlah sebuah aspek tetap dari individu, namun besar kecilnya dapat berubah seiring dengan dinamisnya tantangan yang dihadapi. Beberapa ahli mencoba meneliti dan meracik cara meningkatkan resiliensi individu. Reivich dan Shatte (2002) menyatakan bahwa peningkatan resiliensi efektif dilakukan dengan pengelolaan pola pikir dan kebiasaan :

1.       Mengubah persepsi tentang kegagalan;

2.       Membangun dan melatih kepercayaan diri;

3.       Belajar untuk lebih relaks;

4.       Mengontrol respon diri, kita tidak dapat memilih rangsangan yang datang namun dapat melatih dan memilih respon;

5.       Bersikap fleksibel, karena tidak semua situasi terjadi seperti yang direcanakan.

Kehidupan tidak akan selalu berjalan mulus, setiap individu menghadapi tantangannya. Lingkungan pekerjaan merupakan salah satu wadah bagaimana kita bertahan dengan membawa ‘beban’ diri masing-masing. Masalah keuangan pribadi, lingkungan pribadi yang problematik, rumah tangga yang tidak harmonis, masalah dengan lingkungan sosial merupakan contoh tantangan yang dihadapi individu pekerja, selain tantangan pada pekerjaannya sendiri.

Individu resilien akan berusaha tetap sadar bahwa ada tanggungjawab yang mesti diselesaikan. Pada kondisi tantangan pribadi yang berat, ia paham kapan harus menyediakan waktu baginya sendiri untuk penyembuhan, bahkan sadar untuk meminta pertolongan yang diperlukan. Pada kondisi tantangan pekerjaan yang tinggi, ia akan segera belajar, beradaptasi dan mencari solusi. Individu dengan resiliensi tinggi dapat mengelola pikiran dan emosinya dengan lebih baik dan cepat pulih dari situasi yang tidak nyaman daripada mereka dengan resiliensi rendah. Mereka mengelola pikirannya untuk dapat terus fokus menuju arah positif dan segera menghentikan potensi sikap yang negatif. 

Lingkungan pekerjaan dan rekan kerja bersifat ‘mandatory’ atau sesuatu yang sulit kita pilih dan mau tidak mau kita mesti hidup di lingkungan tersebut. Resiliensi membuat seseorang lebih mudah bertahan dalam sebuah lingkungan baru dan tegar menghadapi pekerjaan yang lebih menantang berdasar faktor penguatan dalam dirinya.

Otak kita mempunyai kemampuan untuk sembuh dari trauma dan rasa sakit psikologis dengan proses neuroplastisi, dimana otak belajar membuat sambungan baru atas rangsangan atau pengalaman yang diberikan. Bukan hanya tentang peristiwa menyakitkan, namun contoh sederhana seperti saat kita mencoba memberi otak tantangan untuk bersedia membaca buku secara konsisten dan belajar hal berbeda, meski awalnya sulit dan tidak nyaman, otak kemudian mulai melahirkan sambungan-sambungan baru yang membuat kita lebih mudah melakukan hal yang sama setelahnya. Begitu pula dengan resiliensi, manusia akan lebih bertumbuh setelah berhasil melewati peristiwa yang menantang dalam hidupnya.

Di sekeliling kita terdapat fakta bahwa individu berpotensi besar kadang harus redup karena kesulitan yang sedang dialaminya, fisik atau psikis. Di sinilah resiliensi dapat dilatih, kita bisa jatuh namun bangkit merupakan sebuah pilihan yang paling baik. Terdapat pepatah dalam bahasa Inggris : “A broken crayon still color the same”. Crayon (pewarna) yang telah patah pun, tetap akan menghasilkan warna yang sama saat digunakan.

I CAN DO IT MY WHOLE LIFETIME…!!!, …akhirnya menjadi sebuah jargon yang dapat kita tanamkan dalam jiwa untuk melalui masa-masa sulit dengan berpegang teguh pada keyakinan yang benar dan nilai moral, untuk tetap menjadi baik dan menjalani kewajiban penuh tanggung jawab dan konsisten.

Penyusun : Ratih Prihatina, Pelaksana Seksi Hukum dan Informasi KPKNL Tegal.

 

Sumber Referensi :

Baumgadner, S.R & Crother, M.K. (2010). Positive Psychology. London: Pearson.

Nashori, Fuad; Saputro, Iswan. 2020. Psikologi Resiliensi. Yogyakarta : Universitas Islam Indonesia.

Feby Valentien and Arthur Huwae, “Religiusitas Dan Resiliensi Pada Perawat Di Timika Papua Di Masa Pandemi,” Jurnal Psikologi Malahayati 4, no. 2 (2022): 162–174.

Chung, H. F. (2008). Resiliency and character strengths among college students. ProQuest. (Unpublished doctoral dissertation). The University of Arizona, Tucson.

Fifi Arfanti and A. Octamaya Tenri Awaru, “Resiliensi Remaja Yang Memiliki Orang Tua Bercerai Di Kelurahan Tolo Selatan Kecamatan Kelara Kabupaten Jeneponto,” Jurnal Sosialisasi Pendidikan Sosiologi-FIS UNM http://ojs.unm.ac.id/sosialisasi/article/view/2376.

Imelda Pratiwi and Hartosujono Hartosujono, “Resiliensi Pada Penyandang Tuna Daksa Non Bawaan,” Jurnal Spirits 5, no. 1 (2017): 48.

Yakin, Vadhim. 2024. Steve Rogers quotes highlight resilience and moral values in the MCU. Link website https://www.newsminimalist.com/articles/steve-rogers-quotes-highlight-resilience-and-moral-values-in-the-mcu-4f76af6c diakses pada 13 Februari 2025.

Wikipedia. 2011. Captain America: The First Avenger. Captain America: The First Avenger - Wikipedia diakses pada 17 Februari 2025.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon