RESILIENSI : Bangkit Dari Kesulitan, Kunci Sukses Mempertahankan Konsistensi Dalam Pekerjaan
Ratih Prihatina
Selasa, 18 Februari 2025 |
8893 kali
A.
SEBUAH PENGANTAR
Captain America merupakan tokoh Avengers pertama di tahun
2025 yang diangkat oleh Marvell Cinematic Universe (MCU), tepatnya 12 Februari
2025 kemarin. Pecinta film Marvell paham bahwa terdapat sejarah panjang sebelum
seri Captain America di tahun 2025 ini.
“I COULD DO THIS ALL DAY…!!!!!”
Merupakan
quotes memorabel oleh Steve Rogers yang terkenal sebagai Captain America di
seri “The First Avenger (2011)”. Sebelum Steve Rogers menyetujui untuk
dijadikan percobaan transformasi menjadi Captain America melalui rekayasa
genetik tertentu, dikisahkan bahwa Steve Rogers seumur hidupnya mengalami
kelemahan pertumbuhan yang mengakibatkan fisiknya kecil dan lemah. Bertolak
belakang dengan keadaan fisiknya yang lemah, ia memiliki tekad kuat menjunjung nilai
moral, jiwa yang besar serta patriotisme tinggi pada negaranya melebihi
pemuda-pemuda seumurannya dengan fisik yang normal kala itu. Berlatar tahun
1941-1942 saat perang dunia II, Steve Rogers berkali-kali mencoba mendaftar
dengan bernagai cara menjadi prajurit untuk diterjunkan pada perang dunia
membela negaranya. Namun tentu saja gagal karena kelemahan fisik tersebut.
“I COULD
DO THIS ALL DAY…!!!” merupakan teriakan Steve Rogers, sebelum ‘direkayasa’
menjadi Captain America, saat ia dirundung dan dipukuli oleh sekelompok pemuda,
di gang sempit. Pemuda-pemuda yang memukulinya merasa Steve Rogers tidak pantas
menjadi prajurit dan tidak menyukai kekuatan tekad Steve Rogers untuk berpegang
teguh pada kebajikan. Tentu saja Steve Rogers saat itu babak belur, kalah dan
terpojok. Namun ia tidak berpikir untuk menyerah dan terus berusaha bertahan
dari pukulan-pukulan para pemuda itu sebelum diselamatkan oleh karib
terbaiknya, Sersan James Buchanan Barnes (Bucky) yang dalam rangkaian Marvell
selanjutnya, Bucky ditransformasi menjadi Sang Winter Soldier.
Disini
dapat dilihat pada diri Steve Rogers ditemukan resiliensi tinggi, namun apa
sebetulnya itu resiliensi?
B. BEBERAPA
DEFINISI RESILIENSI MENURUT PARA AHLI
Istilah
resiliensi dikenalkan pertama kali
pada 1950-an dengan nama ego-resiliency (ER), yang diartikan
sebagai kemampuan umum yang melibatkan kemampuan penyesuaian diri yang tinggi
dan luwes saat dihadapkan pada tekanan internal maupun eksternal. Awalnya
konsep itu diterapkan pada anak-anak dimana ia dikenal sebagai “invulnerability”
atau “stress-resistance“. ER dan resiliensi keduanya diperlakukan
sebagai faktor protektif melawan kesulitan (Farkas & Orosz, 2015).
Resiliensi
secara etimologis berasal dari kata resilience yang berarti daya lenting
atau kemampuan kembali dalam bentuk semula (Aprilia, 2013). American
Psychological Association (APA) mendefinisikan resiliensi sebagai proses
adaptasi dalam menghadapi kesulitan, trauma, tragedi, ancaman atau bahkan
sumber-sumber signifikan yang dapat menyebabkan individu stres (Southwick,
dkk., 2014).
Menurut
Henderson dan Milstein, resiliensi didefinisikan sebagai kemampuan untuk pulih,
menahan kesulitan dan meningkatkan karakter. Grotberg mengartikan resiliensi
sebagai kemampuan manusia untuk menghadapi, menjadi lebih kuat, dan bahkan
berubah dalam mengatasi pengalaman sulit dalam hidupnya. Individu yang resilien
mampu memahami masalah yang segera terjadi dan memperbaiki diri. Semua orang
memiliki kemampuan untuk pulih, dapat belajar menghadapi kesulitan hidup dan
dapat mengatasi kesulitan dan dengan demikian individu dapat menjadi lebih
kuat.
Wagnild dan Young mendefinisikan resiliensi sebagai kemampuan seseorang untuk pulih dari situasi buruk dan afirmasi yang meningkatkan kemampuan individu untuk beradaptasi dan mengatasi emosi negatif yang disebabkan oleh stress. Synder dan Lopez menunjukkan bahwa resiliensi merupakan adaptasi yang baik ketika individu menghadapi situasi yang merugikan atau tidak nyaman. Ahli lain, Yu dan Zang menambahkan bahwa resiliensi adalah kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi setelah mengalami peristiwa traumatis. Rutten dkk, menyatakan bahwa resiliensi adalah proses dinamis dan adaptif yang membantu individu mempertahankan keadaannya dan cepat kembali ke keadaan semula setelah kondisi stres atau depresi.
C. ASPEK-ASPEK
RESILIENSI
Teori
mengenai aspek-aspek resiliensi bukan merupakan teori tunggal yang dikemukakan
satu ahli, namun berkembang dan terus diteliti oleh para pakar. Salah satu
teori yang paling terkenal mengenai aspek resiliensi dikemukakan oleh Kathryn
M. Connor and Jonathan R.T. Davidson, dua ahli psikiatri yang pada tahun 2003
mengembangkan The Connor–Davidson Resilience Scale (CD-RISC) yang
kemudian CD-RISK banyak digunakan dan dimodifikasi pakar-pakar selanjutnya
untuk mengukur skara resiliensi individu. Aspek-aspek resiliensi menurut Connor
dan Davidson (2003) adalah :
1. Kompetensi
Personal, Standar Yang Tinggi dan Keuletan
Para
resilien memposisikan kesulitan, gangguan, atau ancaman sebagai tantangan yang
harus diselesaikannya. Mereka juga mempunyai keyakinan yang kuat bahwa diri
mereka mampu menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Kemudian, mereka juga
mampu meningkatkan standar atau target yang harus dicapainya. Hal ini membantu
orang-orang yang resilien fokus pada pengembangan dirinya di balik tantangan
atau masalah yang dihadapi. Para resilien memiliki dorongan untuk terus
berkembang yang didukung dengan keuletan dalam berproses. Keuletan ini membuat
mereka berusaha stabil di tengah terpaan masalah atau ketika bangkit dari
keterpurukan.
2. Percaya
Kepada Orang Lain, Memiliki Toleransi Terhadap Emosi Negatif Dan Tegar Dalam Menghadapi
Stres
Ketika
menerima berbagai kondisi negatif yang menimpanya, para resilien berupaya tegar
dan memelihara sikap toleran terhadap kondisi yang dialaminya. Apa yang
dialaminya dipahami sebagai kenyataan yang diterima. Selain menerima kondisi
yang ada, mereka tetap berupaya mendapatkan dukungan dari orang lain yang
berdaya untuk membantu perbaikan keadaannya. Dukungan dari orang lain menjadi
penting untuk mempercepat bangkit dari keterpurukan. Dukungan yang dapat
diberikan seperti dukungan emosional, penghargaan, maupun informasi. Kehadiran
orang lain menjadi sumber kekuatan tambahan dalam berproses menghadapi
kesulitan.
3. Penerimaan
Yang Positif Dari Perubahan Dan Memiliki Hubungan Yang Aman.
Para
resilien menerima kesulitan yang dialaminya dengan pikiran yang positif. Selalu
ada kebaikan dalam keadaan seburuk apapun. Adanya hikmah atau pembelajaran di
balik kesulitan atau perubahan membuat mereka mampu melihat sesuatu secara
berimbang. Mereka juga punya keyakinan bahwa mereka dapat mengarahkan diri ke
pencapaian tujuan pribadi atau kelompok. Keyakinan ini membuat mereka lebih
percaya dengan diri sendiri dan orang-orang di sekelilingnya. Selain itu,
kuatnya keyakinan dan baiknya relasi yang tercipta membuat mereka merasa aman (secure)
dalam menjalani hidup dan kesulitan yang ada. Rasa aman mampu memaksimalkan
potensi yang ada dalam diri mereka.
4. Kemampuan
Mengontrol Diri
Para
resilien memiliki kemampuan mengendalikan emosi mereka, baik saat terpuruk
maupun kondisi yang baik. Emosi negatif yang berlangsung dalam dirinya tetap
dikendalikannya secara baik. Selain itu, mereka bersikap realistis terhadap
kemampuan mengendalikan yang ada dalam diri mereka. Mereka sadar bahwa mereka
tidak selalu mampu mengontrol emosi dalam level yang tinggi.
5. Kesadaran
Akan Pengaruh Spiritual
Para
resilien memiliki kesadaran bahwa daya yang mereka miliki bersumber dari
keimanan yang ada dalam diri mereka. Dengan keimanan itu, mereka memelihara
optimisme dan melakukan penyesuaian diri hingga dapat menanggapi kesulitan yang
dihadapinya secara positif.
D. FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI RESILIENSI
Di dunia
ini segala sesuatunya terjadi karena keterlibatan berbagai faktor. Pun demikian
dengan resiliensi. Nashori dan Iswan, 2020, dalam bukunya “Psikologi
Resiliensi” menyusun faktor-faktor pembentuk resiliensi individu yang bersumber
dari pendapat para ahli sebagai berikut :
1. Usia dan
Gender
Individu
akan mengalami perkembangan psikologis sejalan dengan penambahan usia
kronologisnya (teori perkembangan). Dalam perjalanan hidupnya individu akan
menemui berbagai tantangan dan menuntutnya untuk mengatasi situasi tersebut.
Kemampuan individu untuk mengatasi dan bangkit dari masalah akan ditentukan
oleh kemampuan kognitif, pengalaman, kepribadian, dan dukungan yang diperoleh
dalam hidupnya. Kemudian, gender laki-laki atau perempuan tentu memiliki
karakteristik yang berbeda baik secara psikologis maupun fisik dan tentunya
mempengaruhi bagaimana cara individu tersebut menyikapi suatu kesulitan dalam
hidup. Setiap gender memiliki tantangan atau tuntutan yang dibentuk dari
struktur sosial dan norma yang ada di mana individu tersebut tinggal.
2. Status
Sosial Ekonomi
Status
sosial ekonomi merupakan konsep luas yang merujuk pada posisi seseorang,
keluarga, rumah tangga, atau kelompok dalam mendapatkan penghormatan untuk bisa
merasakan sesuatu yang berharga dalam hidup bermasyarakat. Meningkatnya tingkat
stres pada individu dipengaruhi oleh rendahnya lingkungan status sosial ekonomi
yang dimiliki sehingga berisiko terhadap tingginya tingkat gangguan psikologis.
Pada level
keluarga atau sosial terdapat sejumlah kondisi yang dapat mempengaruhi anak
atau anggota keluarga lain mengalami permasalahan dalam kesehatan mental.
Kondisi-kondisi ini yang kemudian menjadi faktor risiko yang dapat mempengaruhi
resiliensi individu ketika dihadapkan dengan kesulitan dalam hidup.
Pada level
pribadi atau individu terdapat sejumlah aspek yang mempengaruhi kesejahteraan
psikologis dan resiliensi individu, seperti status pernikahan/hubungan, tingkat
pendidikan, dan status pekerjaan. Individu yang memiliki kepuasan dalam
pernikahan menunjukkan kondisi psikologis yang lebih baik, faktor protektif
dalam resiliensi, dan menurunkan risiko mengalami stres. Tingkat pendidikan dan
status pekerjaan dapat menjadi faktor protektif dan faktor risiko dalam waktu
yang bersamaan terkait hubungannya dengan isu kesehatan mental.
3. Karakteristik
Kepribadian
Karakteristik
kepribadian memiliki pengaruh yang signifikan terhadap resiliensi individu
karena menentukan bagaimana cara ia menyelesaikan kesulitan dan menggunakan
kemampuannya dalam menghadapi kesulitan. Karakteristik pribadi meliputi sifat,
dan tindakan yang membedakan seseorang dengan orang lain. Ini melibatkan cara
seseorang merasakan, berpikir, dan berperilaku.
4. Religiusitas
Menurut
Nashori dan Diana (2002), religiusitas adalah seberapa banyak pengetahuan,
seberapa kokoh keyakinan, seberapa pelaksanaan ibadah dan akidah, serta
seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianut. Maka religiusitas disebut sebagai
faktor protektif pada kondisi psikologis seseorang. Sejumlah penelitian
mengungkapkan bahwa religiusitas juga memiliki korelasi yang signifikan
terhadap kemampuan seseorang bangkit kembali terhadap masalah dan kondisi
kejiwaan tertentu. Feder, dkk. (Mosqueiro, Rocha & Fleck, 2015) menyatakan
bahwa religiusitas dapat menjadi sumber resiliensi pada diri individu dalam
menghadapi kesulitan dan pengalaman traumatis. Kasen, Wickramaratne, Gameroff
dan Weissman (2012) menemukan bahwa religiusitas dapat mengembangkan resiliensi
pada orang-orang yang memiliki risiko depresi berat. Dehghani-Firooz abadi, dkk
(2017) menemukan bahwa sikap religius yang memiliki korelasi positif terhadap
resiliensi perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Jangi dan
Sardari (2019) juga menyimpulkan bahwa religiusitas efektif dalam meningkatkan
resiliensi pada pasien kanker.
5. Koping
Stres
Koping
stres merupakan proses di mana individu berusaha untuk mengatasi atau
mengurangi stres (Sarafino, 2006). Coping berasal dari Bahasa Inggris,
yaitu “cope” yang memiliki arti menanggulangi atau mengatasi suatu hal
yang sulit dengan baik (Oxford Dictionary, 2008). Salah satu koping stres
adalah mendekatkan diri pada agama/religiusitas. Koping stres dengan pendekatan
agama adalah menggabungkan religiusitas yang dimiliki dengan kemampuan
penyelesaian masalah.
6. Efikasi
diri (self-efficacy)
Efikasi
diri adalah suatu keyakinan individu akan kemampuannya dalam mengatur dan
melaksanakan serangkaian perilaku atau tindakan yang diperlukan guna
menyelesaikan suatu tugas tertentu. Efikasi merupakan salah satu bentuk
kecerdasan kognitif. Efikasi diri dipengaruhi oleh tiga dimensi: level, generality,
dan strength. Dimensi level merujuk pada tingkat kesulitan yang
diyakini individu akan mampu mengatasinya. Jika individu memiliki efikasi diri
yang tinggi maka akan memiliki keyakinan berhasil dalam melakukan suatu tugas
dan sebaliknya. Dimensi generality adalah variasi situasi di mana
individu merasa yakin atas kemampuan dirinya. Jika individu memiliki efikasi
diri yang tinggi maka dirinya akan merasa bisa menyelesaikan beragam tugas yang
ada dan sebaliknya. Dimensi strength menjelaskan tentang seberapa kuat
individu meyakini dirinya mampu menyelesaikan suatu tugas. Semakin kuat
keyakinan individu akan dirinya maka akan semakin tinggi efikasi diri yang
dimiliki untuk menyelesaikan tugas. Efikasi diri memiliki peran dalam menentukan
keyakinan individu untuk bangkit dari masalah atau situasi yang tidak nyaman.
7. Kecerdasan
Emosi
Kondisi
emosi menjadi faktor yang signifikan dalam menentukan apakah individu bisa
resilien atau tidak. Dalam konsep psikologi dikenal istilah kecerdasan emosi
yang menitikberatkan pada kemampuan individu dalam mengelola emosinya.
Resiliensi identik dengan kemampuan menghadapi situasi yang sulit dan tidak
menyenangkan serta mengelola emosi-emosi negatif yang muncul dari situasi
tersebut.
8. Optimisme
Optimisme
adalah suatu harapan yang ada pada diri individu bahwa segala sesuatu akan
berjalan menuju arah kebaikan (Snyder&Lopez, 2002). Optimisme merupakan
kecenderungan untuk memandang sesuatu dari sisi baiknya dan mengharapkan hasil
yang paling memuaskan (Saphiro, 2003). Individu yang resilien dapat dilihat
dari sebearapa banyak harapan yang dimiliki ketika dihadapkan dengan situasi
atau kondisi yang menekan. Optimisme memiliki korelasi positif yang signifikan
terhadap resiliensi dan kesejahteraan psikologis (Agarwal& Malhotra, 2019).
9. Kebersyukuran
Kebersyukuran
berasal dari kata dasar syukur, dalam bahasa Inggris kebersyukuran disebut
dengan gratitude yang berasal dari bahasa latin gratia yang
berarti kelembutan, kebaikan hati atau berterima kasih. Kata-kata yang
terbentuk dari akar kata gratia berhubungan dengan suatu kebaikan, kedermawaan,
pemberian, keindahan dari memberi dan menerima, atau mendapatkan sesuatu tanpa
tujuan apapun (Emmons & McCullough, 2003). Emmons dan McCullough (2003)
mendefinisikan syukur sebagai sebuah perasaan atau emosi, yang kemudian
diimplementasikan dalam sikap, sifat moral yang baik, sifat kepribadian, dan
akan mempengaruhi bagaimana individu menanggapi suatu situasi. Pengaruh rasa
syukur terhadap resiliensi ditemukan pada sejumlah penelitian dengan hasil
positif, salah satunya adalah rasa syukur memiliki korelasi positif terhadap
resiliensi pada remaja (Mary & Patra, 2015; Listyandini, 2018).
10. Gaya Pola
Asuh
Resiliensi
terbentuk dari interaksi antara faktor internal dan eksternal individu, salah
satunya adalah pola asuh yang diterima dalam keluarga. Pola asuh orangtua adalah sikap atau perilaku
orangtua terhadap anak dengan mengembangkan aturan-aturan dan mencurahkan kasih
sayang kepada anak (Santrock, 2007). Pola asuh ditandai dengan adanya pemenuhan
kebutuhan anak oleh orangtua, baik kebutuhan fisik (makan, minum, dan
sebagainya), kebutuhan psikologis (rasa aman, kasih sayang, perhatian, dan
sebagainya), dan mengajarkan norma-norma atau nilai-nilai yang ada di
masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungan di mana ia tinggal.
11. Dukungan
Sosial
Menurut
Sarafino (2006), dukungan sosial adalah keberadaan, kesediaan, kepedulian dari
orang lain yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi individu. Dukungan
sosial dapat menjadi faktor eksternal yang dapat membantu seseorang menjadi
lebih resilien dalam situasi dan keadaan sulit yang membutuhkan adaptasi. Dukungan
sosial dapat meningkatkan resiliensi pada orang-orang yang mengalami trauma.
E. MENINGKATKAN
RESILIENSI SAAT MELALUI TEKANAN DAN DALAM MENGHADAPI LINGKUNGAN PEKERJAAN
Individu
yang memiliki resiliensi tinggi akan cenderung easygoing, mudah
bersosialisasi, memiliki keterampilan berpikir yang baik termasuk keterampilan
sosial dan kemampuan menilai sesuatu, memiliki orang di sekitar yang mendukung,
memiliki satu atau lebih bakat, yakin pada diri sendiri dan percaya pada
kemampuannya dalam mengambil keputusan serta memiliki spritualitas dan
religiusitas. Menurut Baumgadner (2010) individu yang resiliensinya tinggi akan
menampilkan kemampuan dalam dirinya yang
meliputi:
1. Intelektual
yang baik dan kemampuan memecahkan masalah;
2. Mempunyai
temperamen yang easygoing dan kepribadian yang dapat beradaptasi
terhadap perubahan;
3. Mempunyai self-image
yang positif dan menjadi pribadi yang efektif;
4. Optimis;
5. Mempunyai
nilai pribadi dan nilai budaya yang baik;
6. Mempunyai
selera humor.
Resiliensi
bukanlah sebuah aspek tetap dari individu, namun besar kecilnya dapat berubah
seiring dengan dinamisnya tantangan yang dihadapi. Beberapa ahli mencoba
meneliti dan meracik cara meningkatkan resiliensi individu. Reivich dan Shatte
(2002) menyatakan bahwa peningkatan resiliensi efektif dilakukan dengan
pengelolaan pola pikir dan kebiasaan :
1. Mengubah
persepsi tentang kegagalan;
2. Membangun
dan melatih kepercayaan diri;
3. Belajar
untuk lebih relaks;
4. Mengontrol
respon diri, kita tidak dapat memilih rangsangan yang datang namun dapat
melatih dan memilih respon;
5. Bersikap
fleksibel, karena tidak semua situasi terjadi seperti yang direcanakan.
Kehidupan
tidak akan selalu berjalan mulus, setiap individu menghadapi tantangannya. Lingkungan
pekerjaan merupakan salah satu wadah bagaimana kita bertahan dengan membawa
‘beban’ diri masing-masing. Masalah keuangan pribadi, lingkungan pribadi yang
problematik, rumah tangga yang tidak harmonis, masalah dengan lingkungan sosial
merupakan contoh tantangan yang dihadapi individu pekerja, selain tantangan pada
pekerjaannya sendiri.
Individu
resilien akan berusaha tetap sadar bahwa ada tanggungjawab yang mesti
diselesaikan. Pada kondisi tantangan pribadi yang berat, ia paham kapan harus
menyediakan waktu baginya sendiri untuk penyembuhan, bahkan sadar untuk meminta
pertolongan yang diperlukan. Pada kondisi tantangan pekerjaan yang tinggi, ia
akan segera belajar, beradaptasi dan mencari solusi. Individu dengan resiliensi
tinggi dapat mengelola pikiran dan emosinya dengan lebih baik dan cepat pulih dari
situasi yang tidak nyaman daripada mereka dengan resiliensi rendah. Mereka
mengelola pikirannya untuk dapat terus fokus menuju arah positif dan segera
menghentikan potensi sikap yang negatif.
Lingkungan
pekerjaan dan rekan kerja bersifat ‘mandatory’ atau sesuatu yang sulit kita
pilih dan mau tidak mau kita mesti hidup di lingkungan tersebut. Resiliensi
membuat seseorang lebih mudah bertahan dalam sebuah lingkungan baru dan tegar
menghadapi pekerjaan yang lebih menantang berdasar faktor penguatan dalam
dirinya.
Otak kita
mempunyai kemampuan untuk sembuh dari trauma dan rasa sakit psikologis dengan
proses neuroplastisi, dimana otak belajar membuat sambungan baru atas
rangsangan atau pengalaman yang diberikan. Bukan hanya tentang peristiwa
menyakitkan, namun contoh sederhana seperti saat kita mencoba memberi otak
tantangan untuk bersedia membaca buku secara konsisten dan belajar hal berbeda,
meski awalnya sulit dan tidak nyaman, otak kemudian mulai melahirkan
sambungan-sambungan baru yang membuat kita lebih mudah melakukan hal yang sama
setelahnya. Begitu pula dengan resiliensi, manusia akan lebih bertumbuh setelah
berhasil melewati peristiwa yang menantang dalam hidupnya.
Di
sekeliling kita terdapat fakta bahwa individu berpotensi besar kadang harus redup
karena kesulitan yang sedang dialaminya, fisik atau psikis. Di sinilah
resiliensi dapat dilatih, kita bisa jatuh namun bangkit merupakan sebuah pilihan
yang paling baik. Terdapat pepatah dalam bahasa Inggris : “A broken crayon
still color the same”. Crayon (pewarna) yang telah patah pun, tetap akan
menghasilkan warna yang sama saat digunakan.
I CAN DO
IT MY WHOLE LIFETIME…!!!, …akhirnya menjadi sebuah jargon yang dapat
kita tanamkan dalam jiwa untuk melalui masa-masa sulit dengan berpegang teguh
pada keyakinan yang benar dan nilai moral, untuk tetap menjadi baik dan
menjalani kewajiban penuh tanggung jawab dan konsisten.
Penyusun : Ratih Prihatina, Pelaksana
Seksi Hukum dan Informasi KPKNL Tegal.
Sumber Referensi :
Baumgadner,
S.R & Crother, M.K. (2010). Positive Psychology. London: Pearson.
Nashori,
Fuad; Saputro, Iswan. 2020. Psikologi Resiliensi. Yogyakarta :
Universitas Islam Indonesia.
Feby
Valentien and Arthur Huwae, “Religiusitas Dan Resiliensi Pada Perawat Di
Timika Papua Di Masa Pandemi,” Jurnal Psikologi Malahayati 4, no. 2 (2022):
162–174.
Chung, H.
F. (2008). Resiliency and character strengths among college students. ProQuest.
(Unpublished doctoral dissertation). The University of Arizona, Tucson.
Fifi
Arfanti and A. Octamaya Tenri Awaru, “Resiliensi Remaja Yang Memiliki Orang
Tua Bercerai Di Kelurahan Tolo Selatan Kecamatan Kelara Kabupaten Jeneponto,”
Jurnal Sosialisasi Pendidikan Sosiologi-FIS UNM http://ojs.unm.ac.id/sosialisasi/article/view/2376.
Imelda
Pratiwi and Hartosujono Hartosujono, “Resiliensi Pada Penyandang Tuna Daksa
Non Bawaan,” Jurnal Spirits 5, no. 1 (2017): 48.
Yakin,
Vadhim. 2024. Steve Rogers quotes highlight resilience and moral values in
the MCU. Link website https://www.newsminimalist.com/articles/steve-rogers-quotes-highlight-resilience-and-moral-values-in-the-mcu-4f76af6c diakses
pada 13 Februari 2025.
Wikipedia.
2011. Captain America: The First Avenger. Captain
America: The First Avenger - Wikipedia diakses pada 17 Februari 2025.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |