Komunikasi Efektif Antara Pimpinan Dan Bawahan Demi Mewujudkan Iklim Organisasi Yang Positif : Menjembatani Harapan Kedua Belah Pihak
Ratih Prihatina
Kamis, 08 Agustus 2024 |
6035 kali
Dulu sekali, tanpa sengaja
saya mendengar percakapan antar rekan kerja (level pelaksana) dimana salah satu
kalimat yang paling saya ingat kira-kira seperti ini :
“Aku
kalau nggak diminta mengerjakan, ya tidak kukerjakan. Salahnya sendiri
(pimpinannya) tidak memberi arahan untuk mengerjakan ini dan itu”.
Kalimat itu menimbulkan
refleks ‘membatin’ (dalam hati) : “Waduh, kalau bekerja hanya menunggu perintah
pimpinan kayanya saya akan sering nganggurnya”.
Secuil peristiwa renik di
atas kadang menjadi pertanyaan atas pengamatan pada keseharian organisasi sendiri, sebetulnya
bagaimana pola terbaik komunikasi pimpinan dan bawahan demi ‘kepuasan’ bagi kedua
belah pihak.
Mari belajar bersama-sama
mengenai pola komunikasi pimpinan dan bawahan, dimulai dari penjelasan beberapa
definisi komunikasi.
Pada hakekatnya komunikasi
merupakan proses sosial yang terjadi antara dua orang atau lebih, terjadi
secara langsung atau bentuk proses pertukaran pesan verbal maupun nonverbal
antar pengirim dengan penerima pesan sehingga bisa merubah tingkah laku. Proses
komunikasi bisa terjadi pada antar individu, kelompok dengan kelompok
atau sebuah organisasi secara menyeluruh. Istilah komunikasi atau dalam basa
inggris communication di
ambil dari bahasa latin communis yang
artinya yaitu “sama”, sama disini yang dimaksud adalah sama maknanya 1.
Proses kegiatan komunikasi
bertujuan untuk menciptakan, memberi dan mengirim pesan atau informasi serta
mendapat dan menggunakan informasi atau pesan tersebut untuk mengatur
pengorganisasian lingkungannya. Kegiatan komunikasi bukan hanya proses
penyampaian suatu informasi tetapi juga mengandung unsur-unsur persuasif atau
agar orang lain bisa menerima ajakan dan mempengaruhi untuk melakukan suatu
perintah2.
Komunikasi merupakan alur
sistem yang ada didalam organisasi yang melekat dan menciptakan suatu suasana
keharmonisan dan kenyamanan (Redi Panuju, Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas
Dr.Sutomo).
Sebagai proses kegiatan yang
bertujuan mengubah perilaku penerima infromasi, komunikasi mempunyai beberapa
komponen yakni3 :
1. Komunikator
: merupakan sumber utama, pengirim info, atau orang yang memberi informasi.
Sumber adalah pihak yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk
berkomunikasi. Sumber bisa jadi seorang individu, kelompok, organisasi, perusahaan
atau bahkan suatu negara;
2. Pesan
: apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima. Pesan merupakan
seperangkat simbol verbal dan/atau nonverbal yang mewakili perasaan, nilai,
gagasan atau maksud sumber;
3. Komunikan
: seseorang yang menerima atau menafsirkan pesan. Sering juga disebut
sasaran/tujuan, penyandi balik, khalayak, pendengar, penafsir;
4. Media
: disebut juga saluran, yaitu alat atau sarana perantara yang berguna untuk
penyampaian pesan atau informasi kepada penerima;
5.
Efek
: adalah hal apa yang terjadi pada penerima pesan, atau dampak bisa juga respon
yang terjadi setelah menerima informasi atau pesan. Seperti penambahan ilmu
pengetahuan dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak setuju menjadi
setuju.
Setiap perilaku yang dilakukan manusia dilatarbelakangi oleh sesuatu serta mempunyai tujuan tertentu. Onong Uchjana Effendy, seorang pakar komunikasi dalam bukunya “Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi” memaparkan beberapa tujuan komunikasi antara lain :
1. Perubahan sikap, si penerima (komunikan) akan merubah sikapnya setelah mendapat informasi atau setelah seleseinya kegiatan komunikasi;
2.
Perubahan
pendapat, perubahan pendapat terjadi ketika proses penyampaian informasi telah
dilakukan, dan semua itu bergantung pada keterampilan komunikator membungkus suatu
pesan dan cara menyampaikannya;
3.
Perubahan
perilaku, perubahan perilaku itu bisa terjadi jika proses komunikasi yang di bawa
sesuai dengan apa yang disampaikan dan tergantung kekuatan komunikator itu
sendiri.
Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, organisasi diartikan sebagai kesatuan (susunan dan sebagainya) yang
terdiri atas bagian-bagian (orang dan sebagainya) dalam perkumpulan dan
sebagainya untuk tujuan tertentu. Pengertian lain dari organisasi disampaikan
oleh Mathis and Jackson dalam buku “Organizations
Culture, Budaya Organisasi Dalam Perspektif” (2011) oleh Erni Rernawan
bahwa organisasi merupakan suatu kesatuan sosial dari sekelompok manusia yang
saling berinteraksi menurut suatu pola tertentu sehingga setiap anggota
organisasi memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing, sebagai suatu kesatuan
yang memiliki tujuan tertentu dan mempunyai batas-batas yang jelas, sehingga bisa
dipisahkan.
Meskipun komunikasi dapat
dibedakan ke dalam beberapa garis lintas, namun dalam konteks komunikasi antara
pimpinan dan bawahan dalam organisasi, komunikasi downward dan upward
merupakan bentuk komunikasi yang paling sering terjadi. Komunikasi ke bawah (downward communication) adalah
penyampaian informasi dari atasan ke bawahan sesuai dengan struktural di
organisasi. Penggunaan komunikasi ini sangat efektif untuk penyampaian
instruksi, pengarahan, pengontrolan kepada anak buah. Komunikasi dapat tertulis
maupun lisan yang dapat disesuaikan dengan konteks serta kontennya. Sedangkan komunikasi
ke atas (upward communication) adalah penyampaian informasi dari bawahan ke
atasan. Biasanya hal ini terjadi saat bawahan hendak menyampaikan usulan, ide,
keluhan, pengaduan, laporan. Apa yang disampaikan oleh seorang bawahan bisa
jadi sebuah informasi yang penting guna pengambilan kita sebagai atasan (Pace & Faules, 2005).
Komunikasi antara atasan dan
bawahan menjadi penting dalam organisasi karena mempengaruhi kelangsungan organisasi.
Adanya hubungan komunikasi antara atasan dan bawahan yang efektif dapat
menciptakan kondisi yang menyenangkan dalam organisasi, yang kemudian menimbulkan
kepercayaan dan kepuasaan bawahan yang diwujudkan dengan performa kinerja yang
baik.
Bagaimana jadinya bila
komunikasi tidak terwujud secara efektif dalam suatu organisasi? Kemungkinan
besar akan terjadi kestatisan kinerja organisasi diakibatkan gerak pencapaian
suatu hasil berjalan lamban, atau katakanlah organisasi tersebut hanya ‘sekedar
hidup’ pada level gerak minimum. Disinilah peran seorang pemimpin dibutuhkan
untuk memastikan organisasi dapat bergerak optimal. Seorang pemimpin tidak
lahir secara tiba-tiba, namun melalui sebuah proses pembelajaran dirinya untuk
menjadi leader dalam organisasi. Pemimpin yang cakap akan berusaha belajar
bagaimana perannya dan cara mengelola sumber daya organisasi, termasuk belajar
mengenai komunikasi antara pimpinan dan bawahan yang merupakan bagian penting
dari pengelolaan tersebut.
Pimpinan diharapkan mampu menyusun
strategi dan memiliki ketrampilan untuk menjadikan organisasi lebih fleksibel
dan inovatif. Pemimpin yang kompeten merupakan agen perubahan sekaligus teladan
bagi para bawahannya yang mampu mendorong mereka untuk menjalankan organisasi
tersebut. Menurut Lord & Maher (Nye & Simonetta, 1996, Muh Su’ud, 2000,
dalam Raharjo dan Nafisah,2006), seseorang menjadi pemimpin karena
dipersepsikan oleh pihak lain sebagai pemimpin. Pemimpin adalah obyek persepsi,
apakah ia akan dipersepsi sebagai orang yang kredibel juga tergantung pada
pelaku persepsi (perceiver) dalam menyeleksi, mengorganisasikan, dan
menafsirkan informasi yang diterimanya.
Gerak-gerik pemimpin akan
mendapat perhatian dari bawahan dan berpengaruh terhadap perilaku serta
pembentukan sikap pegawai tersebut. Jika pegawai merasa nyaman dengan gaya
kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpinnya, sikap positif akan muncul dalam
proses kinerjanya. Sebaliknya, saat pegawai merasa tidak nyaman dengan gaya
kepemimpinan yang ada dalam diri pemimpinnya, yang timbul adalah respon negatif.
Iklim organisasi yang
positif lahir dari komunikasi yang baik antara pimpinan dan bawahan. Terdapat
persyaratan untuk saling percaya antara kedua belah pihak, khususnya dalam hal
proses bisnis organisasi. Konteks keadilan merupakan hal yang biasanya menjadi
isu utama bagi bawahan untuk dapat percaya pada kepemimpinan seorang pemimpin.
Keadilan dapat berupa adil dalam pembagian job
desk antara bawahan satu dengan bawahan yang lain, walaupun keadilan
tersebut tetap mesti berdasar pada kondisi-kondisi tertentu. Kondisi-kondisi
tertentu dapat berwujud perbedaan usia, pendidikan, kemampuan, etos kerja
antara bawahan satu dan bawahan lain. Meski keadilan dikatakan berdasar pada
‘kondisi tertentu’, namun seorang pemimpin seharusnya menuntut dirinya sendiri
untuk memperkecil gap (selisih) pembagian kerja antar bawahannya. Seorang
pemimpin yang baik tidak akan mengambil shortcut
(jalan pintas) dengan menumpahkan banyak pekerjaan ke satu bawahan hanya karena
bawahan tersebut dirasa “teramat proper”
dan selalu mengerjakan sesuatu dengan cepat dan bertanggung jawab.
Keadilan pemimpin dapat juga
berbentuk keteladanan, bagaimana bawahannya akan termotivasi untuk terus
konsisten menjadi baik jika pemimpinnya tidak memberikan keteladanan yang
mencukupi. Seorang pegawai terbaik pun ada kalanya merasakan demotivasi saat
pimpinannya tidak memberikan teladan dan dukungan kepadanya.
Kepemimpinan diwujudkan
melalui gaya kerja (operating style)
atau cara bekerja sama dengan orang lain secara konsisten. Melalui bahasa yang
diucapkannya dan melalui tindakan yang dilakukannya, seorang pemimpin mendorong
bawahannya mencapai hasil yang telah ditetapkan sebelumnya. Saat seorang
pemimpin melakukan kombinasi antara bahasa dan tindakan yang menggambarkan
suatu pola yang cukup konsisten dalam mengarahkan orang lain untuk mencapai
tujuan, hal ini menunjukkan bahwa pemimpin tersebut sedang melakukan suatu gaya
kerja yang disebut dengan gaya kepemimpinan (Pace & Faules, 2006, 276).
Dalam Rivai dan Mulyadi (2010, 42) juga dikatakan bahwa gaya kepemimpinan
adalah perilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan,
sifat, dan sikap yang sering diterapkan seorang pemimpin ketika dia mencoba
mempengaruhi bawahannya.
Namun tidak adil rasanya
jika performa kinerja organisasi serta merta hanya dibebankan pada pimpinan.
Bagaimana jika dilihat dari sudut pandang kelemahan seorang individu dalam hal
ini bawahan? Kita berbicara dulu mengenai underperform
seorang bawahan. Underperform seorang
bawahan secara umum didefinisikan sebagai suatu situasi dimana ia gagal
menyelesaikan tugas sesuai standarisasi dan ekspektasi yang telah disusun oleh
organisasi. Nilai performa kinerja secara hitam di atas putih dapat dilihat
dari hasil nilai kinerja pada tools
yang disediakan oleh organisasi, namun dalam wujud yang benar-benar nyata
performa kinerja bawahan dapat diamati dari bagaimana keseharian bawahan
tersebut dalam mengelola kinerja yang menjadi tanggung jawabnya. Contohnya pada
Kementerian Keuangan, salah satu tools
untuk mengukur nilai kinerja pegawai adalah melalui e-Performance yang nantinya
akan disempurnakan pada aplikasi Satu Kemenkeu, namun bagaimana kinerja nyata
dari seorang pegawai Kemenkeu dapat diamati oleh atasan maupun rekan kerja di
sekitarnya.
Saat terdapat situasi dimana
seorang pemimpin merasa ‘kelelahan’ dalam mempengaruhi dan memberikan arahan
kepada bawahan yang akhirnya tetap berakibat underperform bawahan, dan di sisi lain terdapat kekecewaan dari
bawahan terhadap gaya kepemimpinan atau keteladanan pimpinannya, maka
komunikasi organisasi yang efektif menjadi salah satu jalan keluar terbaik
dalam mengatasi permasalahan tersebut sebelum akhirnya ketidakharmonisan berlarut-larut.
Pola komunikasi organisasi
yang efektif dan ideal perlu dibangun atas kesadaran kedua belah pihak yakni
pimpinan dan bawahan. Beberapa cara menjalin komunikasi yang baik antara
pimpinan dan bawahan sebetulnya telah diuraikan oleh banyak pakar sebelumnya, namun
memang penerapannya butuh usaha dan kerelaan lebih dari kedua belah pihak,
antara lain :
1. Melatih
Kemampuan individu untuk menyampaikan pesan atau informasi dengan baik sekaligus
menjadi pendengar yang baik. Seorang pakar, Steven Cohey mengibaratkan
komunikasi adalah napas kehidupan makhluk. Faktor penting dalam komunikasi
tidak sekadar pada apa yang ditulis atau dikatakan seseorang, namun lebih pada
karakter seseorang dan bagaimana sesorang dapat menyampaikan pesan kepada
penerima pesan;
2. Berusaha
membangun komunikasi empatik yang maknanya melakukan komunikasi untuk mengerti
dan memahami karakter dan maksud dan peran orang lain yang menerima pesan
(Knutson, et al., 2003). Isilah komunikasi dengan prinsip kebaikan dan sopan
santun seperti halnya kemampuan dan kemauan untuk memenuhi komitmen yang
disampaikan, dan menjelaskan harapan yang jelas. Pada konteks ini seorang
pemimpin dituntut untuk bersedia memahami karakter bawahannya termasuk dengan
mempertimbangkan usia/generasi, watak dan cara komunikasi yang nyaman bagi
bawahan. Pemberian arahan dengan jelas akan memudahkan bawahan untuk
mengerjakan sesuatu dengan lebih terarah, namun dari sisi bawahan juga perlu
mengembangkan perilaku pembelajaran akan tugas-tugas yang menjadi kewajibannya;
3. Mengumpulkan umpan balik yang bertujuan untuk mengevaluasi keberhasilan penyampaian informasi pada penerima informasi. Disini dibutuhkan kerelaan untuk menerima saran dan kritik dari kedua belah pihak, pimpinan dan bawahan. Pimpinan dan bawahan perlu mengesampingkan ego masing-masing demi kepentingan organisasi. Namun penyampaian saran maupun kritik tersebut mesti dilakukan secara layak, baik dan membangun. Daya upaya memahami pentingnya komunikasi baik dari pimpinan maupun bawahan, kemudian menerapkan dalam kehidupan sehari-hari menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan pada roda organisasi. Sikap saling terbuka, percaya, tidak anti kritik dan kemauan memperkaya diri akan pengetahuan tentang pekerjaan yang dibebankan tak ayal menjadi penentu suksesnya komunikasi antara pimpinan dan bawahan.
Bagaimana sebetulnya kriteria pimpinan maupun bawahan yang
ideal memerlukan penjabaran lebih lanjut, namun yang terpenting ketika
seseorang telah menandatangani ketersediaan dirinya untuk bergabung ke dalam
organisasi, maka yang bersangkutan artinya telah ber-‘akad’ untuk mengabdikan
dirinya kepada organisasi dengan mematuhi tata cara kerja dan memenuhi harapan
organisasi tersebut, dengan balasan kompensasi tertentu atas pengabdiannya. Pemimpin
dituntut dapat menjadi role model bagi bawahannya, di lain sisi bawahan
diharapkan terus bersedia melaksanakan tugas yang memang menjadi kewajibannya.
Tidak mudah menjadi pemimpin yang baik dan memadai, begitupun
tidak mudah menjadi ‘bawahan impian’ para pemimpin. Tidak mudah bukan berarti
tidak mungkin, sekali lagi kesediaan pemberian daya upaya memperbaiki diri
merupakan kunci untuk menjembatani gap/selisih harapan dari pimpinan ataupun
harapan seorang bawahan.
Hubungan
komunikasi yang baik antara atasan dengan bawahan membentuk komunikasi efektif
yang berpengaruh besar dalam terciptanya peningkatan semangat kerja dan
produktivitas pegawai dalam suatu organisasi. Iklim komunikasi yang baik berdampak
pada kondusifnya iklim organisasi yang akhirnya mewujudkan peningkatan kinerja
organisasi.
Penyusun : Ratih Prihatina, Pelaksana
Seksi Kepatuhan Internal KPKNL Tegal.
Sumber-sumber referensi :
(1) Onong Uchjana Effendi. 1985. Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek.
Bandung : Remaja Karya.
(2) Arni, Muhammad. 2005. Komunikasi Organisasi. Jakarta : Bumi
Aksara.
(3) Hafied, Cangara. 2000. Pengantar Ilmu Komunikasi.
(4) R. Wayne Pace dan Don F. Faules. 2006. Komunikasi Organisasi. Bandung :
Rosdakarya.
(5) Indriani, Widya. 2022. Analisis Komunikasi Organisasi Antara Pimpinan
dan Bawahan Dalam Meningkatkan Kinerja Karyawan Di PT Tasma Puja Kabupaten
Kampar. Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Riau Pekanbaru.
(6) Mahmudah, Dede. 2015. KOMUNIKASI, GAYA
KEPEMIMPINAN, DAN MOTIVASI DALAM ORGANISASI. Badan Litbang SDM Kemkominfo RI.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |