Munggahan sebagai Momentum Muhasabah dalam Mempersiapkan Jiwa Menyambut Bulan Ramadhan
Angeline Marzella
Kamis, 19 Februari 2026 |
0 kali
Tangerang,
Selasa (10/2) Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1447 H, jajaran pegawai
Kantor
Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Tangerang I menggelar
kegiatan munggahan
yang berlangsung dengan penuh kehangatan dan kebersamaan di Aula Aria Santika KPKNL Tangerang I, Jalan Taman Makam
Pahlawan (T.M.P) Taruna, Kota Tangerang. Kegiatan ini menjadi momentum
untuk mempererat tali silaturahmi antar pegawai sekaligus sebagai refleksi diri
dalam menyongsong bulan penuh berkah. Acara diawali dengan pembacaan doa
bersama, pembukaan oleh Kepala KPKNL Tangerang I, Sunu Subroto.
Kepala
KPKNL Tangerang I dalam sambutannya menyampaikan bahwa munggahan
bukan sekadar tradisi makan bersama, tetapi juga menjadi ruang untuk saling
memaafkan dan memperkuat sinergi antarpegawai. “Momentum ini mengingatkan kita
untuk menyucikan hati, memperbaiki niat, dan meningkatkan kualitas pelayanan
kepada masyarakat,” ujarnya.
Selanjutnya dilanjutkan tausiyah singkat yang dibawakan oleh dr. Ruslan Husein Marasa Bessy dengan tema “Bagaimana Menghadapi Ramadhan agar tetap Produktif”. Dalam bahasa Arab, kata Ramadhan (رمضان) berasal dari kata dasar رَمِضَ (ramiḍa) atau رَمَضَ (ramaḍa) yang artinya panas yang sangat terik atau panas yang membakar. Penamaan bulan Ramadhan berkaitan dengan kondisi cuaca panas pada masa penetapan nama bulan dalam kalender Arab, sekaligus mengandung makna simbolis. Panas dalam Ramadhan melambangkan rasa haus, lapar, dan perjuangan saat berpuasa, serta diyakini dapat membakar dosa-dosa orang yang menjalankan puasa dengan ikhlas. Oleh karena itu, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang penyucian diri dan peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT, ujarnya.
Puasa
Dengan Iman → Produktivitas & Persiapan
- Hati yang mengkritisi syariat (misalnya soal warisan perempuan setengah dari laki-laki) menunjukkan ketidakimanan; puasa diterima hanya dengan iman
(ketundukan hati terhadap syariat).
-
Puasa yang berdasarkan iman
meningkatkan produktivitas; puasa yang hanya fisik menyebabkan kelemahan dan
penurunan kinerja.
-
Perintah Qurani untuk memenuhi akad
(awfu bil‑uqud) mensyaratkan ketepatan jam
kerja; contoh kontrak 07:30–17:00
harus dipatuhi.
- Ayat Al‑Mutaffifin melarang kecurangan dalam takaran; memberi tenaga dan pikiran kurang dari upah (digaji 20 juta, kerja setara 15 juta → selisih 5 juta akan ditagih
oleh Allah), sedangkan memberi lebih dari upah
(digaji 10 juta, kerja setara 15 juta) akan dibayar oleh Allah.
-
Siapkan iman sebelum Ramadan agar
ibadah dan pekerjaan menjadi lebih mudah, bernilai, dan istimewa di sisi Allah.
Adapun pertanyaan yang disampaikan
pada sesi diskusi yaitu dari Ibu Dwi ,” Jika orang tua sudah meninggal dan
masih punya hutang puasa bagaimana?” dr. Ruslan Husein Marasa Bessy menjawab “hutang puasa dihitung berdasarkan
durasi sakit atau ketidakmampuan dan dibayar dengan fidyah; contoh durasi 2
tahun atau 3 tahun. Jika tidak jelas apakah tidak bisa puasa sepanjang Ramadan,
fidyah dibayar untuk 30 hari. Fidyah ditetapkan sebagai memberi makanan satu
orang miskin per hari; contoh biaya makanan sekitar Rp 20.000 per hari,”
jawabnya.
Kegiatan ditutup dengan sholat
ashar berjamaah dan saling bersalaman sebagai simbol kebersihan hati menjelang
Ramadan. Melalui kegiatan munggahan ini, diharapkan seluruh pegawai KPKNL
Tangerang I dapat memasuki bulan suci dengan semangat baru, menjaga integritas,
serta terus memberikan pelayanan terbaik dalam pengelolaan kekayaan negara dan
pelayanan lelang kepada masyarakat.