Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Kilas Peristiwa
Munggahan sebagai Momentum Muhasabah dalam Mempersiapkan Jiwa Menyambut Bulan Ramadhan

Munggahan sebagai Momentum Muhasabah dalam Mempersiapkan Jiwa Menyambut Bulan Ramadhan

Angeline Marzella
Kamis, 19 Februari 2026 |   0 kali

Tangerang, Selasa (10/2) Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1447 H, jajaran pegawai Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Tangerang I menggelar kegiatan munggahan yang berlangsung dengan penuh kehangatan dan kebersamaan di Aula Aria Santika KPKNL Tangerang I, Jalan Taman Makam Pahlawan (T.M.P) Taruna, Kota Tangerang. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antar pegawai sekaligus sebagai refleksi diri dalam menyongsong bulan penuh berkah. Acara diawali dengan pembacaan doa bersama, pembukaan oleh Kepala KPKNL Tangerang I, Sunu Subroto.

Kepala KPKNL Tangerang I dalam sambutannya menyampaikan bahwa munggahan bukan sekadar tradisi makan bersama, tetapi juga menjadi ruang untuk saling memaafkan dan memperkuat sinergi antarpegawai. “Momentum ini mengingatkan kita untuk menyucikan hati, memperbaiki niat, dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Selanjutnya dilanjutkan tausiyah singkat yang dibawakan oleh dr. Ruslan Husein Marasa Bessy dengan tema “Bagaimana Menghadapi Ramadhan agar tetap Produktif”. Dalam bahasa Arab, kata Ramadhan (رمضان) berasal dari kata dasar رَمِضَ (ramiḍa) atau رَمَضَ (ramaḍa) yang artinya panas yang sangat terik atau panas yang membakar. Penamaan bulan Ramadhan berkaitan dengan kondisi cuaca panas pada masa penetapan nama bulan dalam kalender Arab, sekaligus mengandung makna simbolis. Panas dalam Ramadhan melambangkan rasa haus, lapar, dan perjuangan saat berpuasa, serta diyakini dapat membakar dosa-dosa orang yang menjalankan puasa dengan ikhlas. Oleh karena itu, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang penyucian diri dan peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT, ujarnya.

Puasa Dengan Iman → Produktivitas & Persiapan

-        Hati yang mengkritisi syariat (misalnya soal warisan perempuan setengah dari laki-laki) menunjukkan ketidakimanan; puasa diterima hanya dengan iman 

          (ketundukan hati terhadap syariat).

-        Puasa yang berdasarkan iman meningkatkan produktivitas; puasa yang hanya fisik menyebabkan kelemahan dan penurunan kinerja.

-        Perintah Qurani untuk memenuhi akad (awfu biluqud) mensyaratkan ketepatan jam kerja; contoh kontrak 07:3017:00 harus dipatuhi.

-        Ayat AlMutaffifin melarang kecurangan dalam takaran; memberi tenaga dan pikiran kurang dari upah (digaji 20 juta, kerja setara 15 juta selisih 5 juta akan ditagih

          oleh Allah), sedangkan memberi lebih dari upah (digaji 10 juta, kerja setara 15 juta) akan dibayar oleh Allah.

-        Siapkan iman sebelum Ramadan agar ibadah dan pekerjaan menjadi lebih mudah, bernilai, dan istimewa di sisi Allah.

 

Adapun pertanyaan yang disampaikan pada sesi diskusi yaitu dari Ibu Dwi ,” Jika orang tua sudah meninggal dan masih punya hutang puasa bagaimana?” dr. Ruslan Husein Marasa Bessy  menjawab “hutang puasa dihitung berdasarkan durasi sakit atau ketidakmampuan dan dibayar dengan fidyah; contoh durasi 2 tahun atau 3 tahun. Jika tidak jelas apakah tidak bisa puasa sepanjang Ramadan, fidyah dibayar untuk 30 hari. Fidyah ditetapkan sebagai memberi makanan satu orang miskin per hari; contoh biaya makanan sekitar Rp 20.000 per hari,” jawabnya.

Kegiatan ditutup dengan sholat ashar berjamaah dan saling bersalaman sebagai simbol kebersihan hati menjelang Ramadan. Melalui kegiatan munggahan ini, diharapkan seluruh pegawai KPKNL Tangerang I dapat memasuki bulan suci dengan semangat baru, menjaga integritas, serta terus memberikan pelayanan terbaik dalam pengelolaan kekayaan negara dan pelayanan lelang kepada masyarakat.

Floating Icon