Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Tangerang I
Komunikasi Asertif dalam Pengurusan Piutang Negara

Komunikasi Asertif dalam Pengurusan Piutang Negara

Alpha Akbar Radytia
Minggu, 02 Juni 2024 |   558 kali

Komunikasi Asertif dalam Pengurusan Piutang Negara

 “Communication is one of the most important skills you need for a successful life”

(Catherine Pulsifer)

 

Oleh:

Alpha Akbar Radytia

KPKNL Tangerang I

 

Apa itu komunikasi asertif? Sebelum kita membahasnya ada baiknya kita pahami dahulu pengertian komunikasi. Ya, komunikasi adalah suatu proses atau aliran penyampaian informasi dan pesan secara dua arah yang berointerasi kepada pihak penerimanya, dalam artian dapat dilihat oleh penerimanya (Gorontalo: UNG Press Gorontalo Anggota IKAPI, 2020, hlm. 9 -10). Komunikasi merupakan cara seseorang mengekspresikan dan menyampaikan pesan dengan berbagai cara agar didengarkan dan dimengerti oleh orang lain. Dengan berkomunikasi, seseorang dapat mencurahkan isi hatinya dalam bentuk cerita, keluh kesah, dan lainnya. Namun, kita sering mendapati seseorang berbicara dengan kurang jelas sehingga kita sulit menemukan inti pembicaraannya dan mengakibatkan terjadinya kesalahpahaman.

Adapun agar orang mudah memahami dan mendengarkan apa yang kita bicarakan maka kita harus berkomunikasi dengan baik dan efektif. Menurut Burgon & Huffner (2002), terdapat salah satu cara agar komunikasi berjalan secara dua arah, yaitu dengan komunikasi asertif. Komunikasi asertif merupakan sebuah teknik berkomunikasi di mana seseorang dapat menyampaikan pendapatnya secara lugas tanpa menyinggung orang tertentu baik secara verbal maupun non-verbal. Keterampilan berkomunikasi seperti ini akan menumbuhkan rasa saling menghargai dan terbuka sehingga komunikasi berjalan secara singkat, jelas, dan efektif.

Asertif juga merupakan cara paling efektif untuk memecahkan masalah interpersonal (Pipas & Jaradat, 2010). Hal ini didukung oleh Lange et al. (1976) yang menyatakan bahwa asertif melibatkan hak-hak pribadi dan mengungkapkan pikiran, perasaan, dan keyakinan secara langsung, jujur dan tepat, tanpa melanggar hak orang lain. Selain itu, menurut Pipas & Jaradat (2010), keterampilan komunikasi yang asertif mampu menciptakan peluang untuk diskusi terbuka dengan berbagai pendapat, kebutuhan, dan pilihan untuk didengar dan dipertimbangkan dengan hormat untuk mencapai solusi yang saling menguntungkan untuk masalah tertentu. Komunikasi asertif juga dapat memperkuat hubungan, mengurangi stres akibat konflik, dan memberi dukungan sosial saat menghadapi masa-masa sulit. Perilaku asertif dianggap dapat menunjukkan rasa hormat terhadap diri sendiri dan orang lain, mendorong pengungkapan diri, pengendalian diri, dan apresiasi positif terhadap harga diri.

Menurut penulis, komunikasi yang asertif dapat diterapkan insan Piutang Negara Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) dalam melakukan Pengurusan Piutang Negara khususnya penagihan kepada debitor (penanggung hutang) dikarenakan keberhasilan melakukan penagihan piutang bahkan sampai debitor tersebut mau melakukan pembayaran tidak terlepas dari cara berkomunikasi yang baik dari pegawai DJKN yang berkecimpung di bidang Piutang Negara. Selanjutnya, meskipun pada prakteknya, komunikasi asertif dapat diterapkan baik kepada debitor maupun kreditor (penyerah piutang) namun dalam pembahasan kali ini penulis membatasi komunikasi yang asertif kepada debitor.

Menurut Fursland & Nathan (2008), dalam Modul Four: How to Behave More Assertively, terdapat enam jenis gaya komunikasi asertif. Adapun keenam gaya komunikasi asertif tersebut apabila diterapkan dalam melakukan penagihan kepada debitor, dapat dijabarkan sebagai berikut:

1.    Basic Assertion:

Basic assertion adalah ketika kita secara jelas mengungkapkan kebutuhan, keinginan, keyakinan, pendapat, atau perasaan kita. Sedangkan contohnya dalam Pengurusan Piutang Negara adalah kita menjelaskan maksud dan tujuan dalam melakukan pemanggilan kepada debitor maupun saat melakukan kegiatan penagihan langsung baik melalui Pemberitahuan Surat Paksa atau kegiatan Pemeriksaan Piutang Negara serta Penelitian Lapangan.

 2.    Emphatic Assertion:

Empathic assertion mengandung pengakuan atas perasaan, kebutuhan, atau keinginan orang lain, lalu dilanjutkan dengan pernyataan yang berisi kebutuhan dan keinginan kita. Contoh emphatic assertion, yaitu: “Kami paham kesulitan Bapak/Ibu dalam menyelesaikan piutang kepada negara, namun sebelum diserahkan ke DJKN, piutang Bapak/Ibu ini telah melalui proses Pengelolaan Piutang Negara ditingkat kreditor sehingga semestinya Bapak/Ibu sudah terlebih dahulu mengajukan keberatan maupun pengajuan permohonan penyelesaian dan mencari solusi dari tagihan piutang negara Bapak/Ibu”.

 3.    Consequence Assertion:

Consequence assertion digunakan dalam situasi ketika seseorang tidak mengikuti peraturan sehingga kita bisa menambahkan konsekuensi atas pelanggaran tersebut untuk mengubah perilaku mereka tanpa menjadi agresif. Contoh consequence assertion dalam Pengurusan Piutang Negara adalah kita memberikan pemahaman kepada debitor, kemungkinan dan risiko apa yang akan dihadapi jika tidak memenuhi ketentuan dalam Pernyataan Bersama maupun ketentuan yang ada dalam Surat Panggilan dan Surat Paksa saat melakukan pemanggilan maupun Pemberitahuan Surat Paksa.

 4.    Discrepancy Assertion:

Discrepancy assertion menunjukkan perbedaan antara apa yang telah disepakati sebelumnya dengan apa yang terjadi dan digunakan untuk memastikan apakah ada kesalahpahaman antara tindakan dan kata-kata yang dilontarkan sebelumnya. Contoh discrepancy assertion dalam Pengurusan Piutang Negara adalah apabila debitor tidak mematuhi kesepakatan yang telah dibuat dalam melunasi utangnya sesuai ketentuan yang berlaku dan kita meminta mereka menjelaskan alasan tidak memenuhi ketentuan tersebut dan kendala apa saja yang dihadapi oleh debitor dalam menyelesaikan utangnya.

   5.    Negative Feelings Assertion:

Jenis komunikasi asertif ini dilakukan ketika kita memiliki perasaan yang negatif, tetapi ingin mengontrol perasaan kita agar tidak menyinggung perasaan lawan bicara. Strategi ini memungkinkan kita untuk mengatakan apa yang kita rasakan dan membuat lawan bicara mengetahui dampak dari tindakannya. Contoh negative feelings assertion dalam Pengurusan Piutang Negara adalah saat melihat kondisi debitor kita sampaikan kekhawatiran kita bahwa peluang debitor melakukan pembayaran terbilang kecil dan meminta debitor mencari solusi penyelesaian utangnya.


6.    Broken Record:

Dalam strategi ini, kita mempersiapkan apa yang akan kita katakan dengan cara mengulanginya berkali-kali sehingga lebih siap ketika akan melontarkannya. Cara ini juga dapat membuat kita lebih tenang sebelum berbicara. Contoh broken record dalam Pengurusan Piutang Negara adalah saat debitor meminta utangnya diapus atau diberi keringanan jangka waktu maupun nominalnya berkali-kali dalam setiap kesempatan namun tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku maka kita dapat menjawab dengan tegas bahwa hal tersebut tidak dapat dikabulkan dikarenakan tidak ada peraturan yang mendukung permintaan tersebut.

 Kesimpulannya,  keenam hal diatas dapat diterapkan oleh PUPN/DJKN dalam berkomunikasi yang asertif dengan debitor. Selanjutnya, dengan menerapkan pola komunikasi yang asertif maka diharapkan gesekan bahkan aduan masyarakat maupun pemangku kepentingan dibidang Piutang Negara dapat dimitigasikan.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon