Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Surakarta
Generasi Z dan E-Wallet: Gaya Hidup Digital atau Jalan Pintas Boros?

Generasi Z dan E-Wallet: Gaya Hidup Digital atau Jalan Pintas Boros?

T.marwan
Jum'at, 03 Oktober 2025 |   2948 kali


Metode pembayaran digital atau cashless semakin digemari oleh publik diiringi dengan perkembangan pesat penggunaan teknologi dalam transaksi sehari-hari, khususnya di kalangan generasi muda atau Generasi Z. Dengan perkembangan ini, dompet digital atau e-wallet menjadi

“teman setia” untuk melakukan berbagai transaksi, dari belanja online, jajan kopi, hingga membayar transportasi.

 

Fenomena ini memang menarik. Berdasarkan survei online Populix pada Februari 2025, mayoritas pengguna e-wallet di Indonesia berasal dari kalangan Gen Z dan milenial. Hal ini tidak mengherankan, karena generasi muda sangat cepat beradaptasi dengan teknologi baru. Selain itu, e- wallet juga punya banyak manfaat. Sering menawarkan berbagai promo hingga potongan harga yang membuat transaksi semakin menarik. Pengguna juga bisa dengan mudah melacak riwayat transaksi, sesuatu yang jarang dilakukan ketika memakai uang tunai. Selain itu, budaya cashless society sejalan dengan upaya pemerintah mendorong efisiensi transaksi keuangan nasional.

 

Namun, di balik semua keunggulan tersebut, ada sisi lain yang perlu diperhatikan. E-wallet seringkali membuat penggunanya lupa diri. Pengguna rela menaruh uang dalam jumlah besar dan membeli barang tanpa direncanakan. Akibatnya, belanja impulsif menjadi sulit dikendalikan. Tidak jarang, justru karena promo yang terlalu sering, pengeluaran bulanan membengkak. Lebih lagi, jika tidak bijak menggunakan fitur pay later, pengguna akan semakin rentan terjerat hutang.

 

Kuncinya ada pada pengendalian diri pribadi masing-masing. Peran e-wallet hanyalah sebagai alat bantu, tidak bisa dijadikan alasan untuk gaya hidup konsumtif. Disiplin mengatur anggaran, misalnya dengan prinsip 50-30-20 (50% kebutuhan, 30% keinginan, 20% tabungan), bisa membantu menjaga keseimbangan finansial.

 

Sama seperti pengelolaan keuangan negara yang menuntut transparansi dan tertib administrasi, keuangan pribadi juga membutuhkan disiplin dan kesadaran. Pada akhirnya, e-wallet hanyalah alat.


Bijak atau boros, semuanya kembali pada pilihan kita. Yuk, gunakan e-wallet sebagai sarana menuju kemandirian finansial, bukan jebakan gaya hidup konsumtif.

 

 

 

Ditulis oleh Nathania Abigael Kurniadi

 

 

 

Referensi

 

CNBC Indonesia. Pembayaran Non-Tunai Terbukti Bikin Manusia Boros, Kok Bisa? Pranala: https://www.cnbcindonesia.com/market/20230508064544-17-435253/pembayaran-non-tunai- terbukti-bikin-manusia-boros-kok-bisa (diakses 21 Agustus 2025).

 

Populix. Penggunaan QRIS Jadi Pilihan Digital Favorit. Pranala: https://info.populix.co/articles/penggunaan-qris-jadi-pilihan-digital-favorit/ (diakses 21 Agustus 2025).

 

DJPB Kemenkeu. Mendorong Budaya Cashless Society melalui Implementasi Cash Management System. Pranala: https://djpb.kemenkeu.go.id/kppn/gunungsitoli/id/data-publikasi/artikel/2963- mendorong-budaya-cashless-society,-melalui-implementasi-cash-management-system.html (diakses 21 Agustus 2025).

 

DJKN Kemenkeu. Budget 50/30/20: Apa Itu dan Manfaatnya. Pranala: https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-metro/baca-artikel/17112/Budget-503020-Apa-Itu-dan- Manfaatnya.html (diakses 21 Agustus 2025).

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon