Generasi Z dan E-Wallet: Gaya Hidup Digital atau Jalan Pintas Boros?
T.marwan
Jum'at, 03 Oktober 2025 |
2948 kali

Metode pembayaran
digital atau cashless semakin
digemari oleh publik diiringi dengan perkembangan pesat penggunaan teknologi
dalam transaksi sehari-hari, khususnya di kalangan generasi muda atau Generasi
Z. Dengan perkembangan ini, dompet digital atau e-wallet menjadi
“teman setia” untuk melakukan berbagai transaksi, dari belanja online, jajan kopi, hingga membayar transportasi.
Fenomena ini memang
menarik. Berdasarkan survei online Populix pada Februari 2025, mayoritas
pengguna e-wallet di Indonesia
berasal dari kalangan Gen Z dan milenial. Hal ini tidak mengherankan, karena
generasi muda sangat
cepat beradaptasi dengan teknologi baru. Selain itu, e-
wallet juga punya
banyak manfaat. Sering
menawarkan berbagai promo hingga potongan
harga yang membuat transaksi
semakin menarik. Pengguna juga bisa dengan mudah melacak riwayat transaksi,
sesuatu yang jarang dilakukan ketika memakai
uang tunai. Selain itu, budaya cashless society sejalan dengan upaya
pemerintah mendorong efisiensi transaksi keuangan nasional.
Namun, di balik semua keunggulan tersebut, ada sisi lain yang perlu diperhatikan. E-wallet seringkali
membuat penggunanya lupa diri. Pengguna rela menaruh uang dalam jumlah besar
dan membeli barang tanpa direncanakan. Akibatnya, belanja impulsif menjadi
sulit dikendalikan. Tidak jarang, justru karena promo yang terlalu sering,
pengeluaran bulanan membengkak. Lebih lagi, jika tidak bijak menggunakan fitur pay later, pengguna akan semakin rentan
terjerat hutang.
Kuncinya ada pada
pengendalian diri pribadi masing-masing. Peran e-wallet hanyalah sebagai alat
bantu, tidak bisa dijadikan alasan
untuk gaya hidup konsumtif. Disiplin
mengatur anggaran, misalnya
dengan prinsip 50-30-20 (50% kebutuhan, 30% keinginan, 20% tabungan), bisa
membantu menjaga keseimbangan finansial.
Sama seperti
pengelolaan keuangan negara yang menuntut transparansi dan tertib administrasi,
keuangan pribadi juga membutuhkan disiplin
dan kesadaran. Pada akhirnya, e-wallet hanyalah alat.
Bijak atau boros, semuanya
kembali pada pilihan
kita. Yuk, gunakan e-wallet sebagai sarana
menuju kemandirian finansial, bukan jebakan gaya hidup konsumtif.
Ditulis oleh Nathania Abigael
Kurniadi
Referensi
CNBC Indonesia. Pembayaran Non-Tunai Terbukti Bikin Manusia
Boros, Kok Bisa? Pranala: https://www.cnbcindonesia.com/market/20230508064544-17-435253/pembayaran-non-tunai- terbukti-bikin-manusia-boros-kok-bisa (diakses 21 Agustus 2025).
Populix. Penggunaan QRIS Jadi Pilihan Digital Favorit.
Pranala: https://info.populix.co/articles/penggunaan-qris-jadi-pilihan-digital-favorit/ (diakses 21 Agustus
2025).
DJPB Kemenkeu. Mendorong Budaya Cashless Society melalui
Implementasi Cash Management System. Pranala: https://djpb.kemenkeu.go.id/kppn/gunungsitoli/id/data-publikasi/artikel/2963- mendorong-budaya-cashless-society,-melalui-implementasi-cash-management-system.html (diakses 21 Agustus 2025).
DJKN Kemenkeu. Budget 50/30/20: Apa Itu dan Manfaatnya.
Pranala: https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-metro/baca-artikel/17112/Budget-503020-Apa-Itu-dan- Manfaatnya.html (diakses
21 Agustus 2025).
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |