Mengatasi Stigma Antar Generasi di Kantor: Mewujudkan Harmoni Melalui Nilai Budaya Kementerian Keuangan
Eko Hari Prihantoro
Selasa, 29 Juli 2025 |
263 kali
Istilah generasi X, Y, dan Z berakar dari sebuah teori yang
dikenal sebagai Teori Generasi, yang pertama kali dikemukakan oleh
sosiolog asal Hungaria, Karl Mannheim. Gagasan ini dituangkan dalam esainya
berjudul The Problem of Generations pada tahun 1923. Esai
tersebut kemudian diakui sebagai salah satu karya paling sistematis dan
mendalam dalam kajian generasi pada masanya. Berdasarkan teori yang dikemukakan
oleh Mannheim tersebut, peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah seringkali dianggap
sebagai acuan dalam mengidentifikasi dan membedakan generasi. Dari pendekatan
ini, muncul berbagai istilah untuk generasi-generasi selanjutnya, yang
masing-masing mencerminkan karakteristik dan perilaku yang dipengaruhi oleh
pengalaman historis yang mereka alami.
Di era kerja modern seperti sekarang ini, keberagaman generasi menjadi sebuah keniscayaan. Di lingkungan Kementerian Keuangan, terdapat pegawai dari berbagai generasi: Baby Boomers, Generasi X, Generasi Y (Milenial), hingga Generasi Z. Masing-masing membawa karakteristik, nilai, dan cara kerja yang berbeda. Namun, perbedaan ini sering kali memunculkan stigma baik yang tersurat maupun tersirat yang dapat menghambat kolaborasi dan produktivitas. Stigma antar generasi kerap muncul dalam bentuk label seperti “generasi muda terlalu idealis dan tidak sabaran” atau “generasi tua kaku dan tidak adaptif.” Meskipun sering dianggap sebagai candaan, label ini berdampak nyata: komunikasi menjadi kaku, kepercayaan menurun, dan kerja sama terganggu.
Tara de Thouars, psikolog klinis yang menjadi narasumber dalam webinar
Kemenkeu, menekankan pentingnya tiga prinsip dalam mengatasi konflik lintas
generasi: respect (saling menghargai), acceptance (penerimaan), dan
understanding (pemahaman). Ia menyatakan: "Jangan sampai stigma negatif
mendominasi, sehingga potensi baik atau sisi-sisi baik generasi muda tidak
terlihat. Tunjukkan, tampilkan, manfaatkan segala potensi baik yang kita
miliki." — Tara de Thouars, Webinar Kemenkeu 2025.
Kementerian Keuangan memiliki lima nilai budaya utama yang menjadi fondasi
dalam membangun lingkungan kerja yang sehat dan inklusif yaitu Integritas, Profesionalisme,
Sinergi, Pelayanan, Kesempurnaan. Kemenkeu telah menyusun Pedoman Program
Mengatasi Stigma Antargenerasi, yang diterapkan melalui berbagai langkah nyata
yang meliputi antara lain:
- Kampanye kesadaran melalui media visual dan briefing pimpinan.
- Forum diskusi lintas generasi dan program mentoring dua arah.
- Pembentukan tim lintas usia untuk proyek-proyek strategis.
- Sesi umpan balik rutin untuk membangun kepercayaan dan komunikasi terbuka.
Program ini juga mengadopsi pendekatan ADKAR (Awareness, Desire, Knowledge,
Ability, Reinforcement) untuk memastikan perubahan budaya yang
berkelanjutan.
Mengatasi stigma antar generasi bukan hanya soal menghapus label, tetapi juga
membangun budaya kerja yang berlandaskan nilai. Dengan menjadikan nilai-nilai
budaya Kemenkeu sebagai kompas, organisasi dapat menciptakan lingkungan kerja
yang inklusif, harmonis, dan produktif.
(Eko Hari Prihantoro - KPKNL Surakarta)
Sumber Referensi:
Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2013). Program Budaya di
Lingkungan Kementerian Keuangan Tahun 2013. Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 127/KMK.01/2013.
de Thouars, T. (2025). Webinar Kemenkeu: Mengatasi Konflik Lintas
Generasi. Kementerian Keuangan.
Kirito.
2016. Teori Generasi : Baby Boomer, X, Y & Z - Asal Usul Teori Generasi.
Pranala: http://pelarians.blogspot.com/2016/12/teori-generasi-baby-boomer-x-y-z-asal.html
(diakses 29 Juli 2025).
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |