Yen Wedi Ojo Wani-Wani, Yen Wani Ojo Wedi-Wedi: Keberanian yang Berpijak pada Nilai
Iga Trisna Nurma Sari
Rabu, 09 September 2026 |
192 kali
Masyarakat Jawa mengenal sebuah pitutur yaitu “Yen wedi ojo wani-wani, yen wani ojo wedi-wedi.” Secara bebas, ungkapan tersebut dapat dipahami sebagai pesan agar seseorang tidak gegabah ketika belum siap menghadapi risiko, tetapi juga tidak kehilangan keteguhan setelah memilih untuk melangkah. Bagi seorang aparatur negara, pitutur tersebut dapat dibaca dari sudut yang lebih luas. Bukan semata-mata persoalan berani atau takut, melainkan tentang kejernihan sebelum menentukan sikap dan keteguhan setelah sebuah keputusan diambil. Keberanian, dengan demikian, bukanlah tujuan akhir. Keberanian harus mempunyai dasar, arah, dan pertanggungjawaban. Di lingkungan Kementerian Keuangan, arah itu dapat ditemukan dalam nilai-nilai yang menjadi pedoman bersama: Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan, dan Kesempurnaan.
Sebelum
Berani, Pastikan Mengerti
Yen wedi ojo
wani-wani.
Pitutur tersebut
bukanlah ajakan untuk menjadi penakut. Sebaliknya, ia dapat menjadi pengingat
agar keberanian tidak mendahului pertimbangan. Dalam pekerjaan, keputusan
sering kali harus dibuat di tengah keterbatasan waktu dan beragam kepentingan.
Dalam kondisi demikian, kecepatan memang diperlukan, tetapi kecepatan tidak
boleh menghilangkan kecermatan. Ada data yang perlu diperiksa, ada ketentuan
yang harus dipahami, ada kewenangan yang perlu dipastikan, ada risiko yang
harus diperhitungkan, serta ada dampak keputusan yang perlu dipertimbangkan.
Karena itu, keberanian seorang aparatur tidak seharusnya tumbuh dari keyakinan
bahwa dirinya selalu benar. Keberanian justru menjadi lebih kokoh ketika dibangun
di atas pemahaman yang memadai.
Di sinilah Profesionalisme menemukan tempatnya. Profesionalisme mendorong sikap untuk tidak terburu-buru memberikan jawaban sebelum memahami persoalan, bekerja berdasarkan kompetensi, menyelesaikan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh, serta memastikan setiap tindakan memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Profesionalisme juga tercermin dalam keberanian untuk mengatakan, “Saya perlu mempelajarinya terlebih dahulu.” Tidak mengetahui sesuatu bukanlah persoalan; yang menjadi persoalan adalah bertindak seolah-olah mengetahui. Karena itu, sebelum mengambil keputusan, penting untuk memastikan pemahaman yang cukup mengenai persoalan dan alasan di balik keputusan tersebut.
Ketika yang
Benar Tidak Selalu Mudah
Yen wani ojo
wedi-wedi.
Setelah pertimbangan dilakukan, tantangan berikutnya adalah keteguhan untuk menjalankan keputusan yang benar. Di sinilah Integritas diuji, terutama ketika pilihan yang benar tidak selalu menjadi pilihan yang mudah atau populer. Integritas tercermin dalam kepatuhan pada aturan, penggunaan kewenangan secara tepat, mengesampingkan kepentingan pribadi, serta menyampaikan fakta apa adanya. Pilihan-pilihan tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi justru melalui keputusan sehari-hari integritas dibangun. Keberanian membutuhkan integritas. Keberanian tanpa integritas dapat kehilangan arah, sedangkan integritas tanpa keberanian berisiko berhenti sebagai keyakinan yang tidak diwujudkan.
Tidak Harus
Selalu Menang
Ada bentuk keberanian yang sering luput dari perhatian: keberanian mengoreksi diri. Dalam lingkungan profesional, tuntutan untuk memberikan hasil terbaik memang penting. Namun, jangan sampai keinginan untuk selalu terlihat benar menghilangkan kemampuan untuk mengatakan, “Keputusan saya perlu diperbaiki.” Data dapat berubah, informasi baru dapat muncul, dan interpretasi awal mungkin ternyata kurang tepat. Mempertahankan keputusan hanya karena pernah dibuat bukanlah keteguhan. Keteguhan pada prinsip berbeda dengan keterikatan pada ego. Keberanian justru diperlukan untuk melihat kembali persoalan secara objektif dan memperbaiki arah. Di sinilah Kesempurnaan memperoleh makna yang lebih nyata. Kesempurnaan bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan kesediaan untuk terus memperbaiki diri dan cara kerja. Yang masih lambat dipercepat, yang rumit disederhanakan, yang belum efektif dievaluasi, dan setiap kekeliruan dijadikan pembelajaran. Mengakui kekurangan bukanlah kelemahan organisasi, melainkan awal dari perbaikan.
Berani Tidak
Berarti Berjalan Sendiri
Ada pula
kecenderungan untuk memandang keberanian sebagai kualitas individual: seseorang
dianggap berani karena mampu mengambil keputusan seorang diri. Namun, dalam
konteks organisasi, pandangan tersebut tidak selalu tepat. Tidak semua
persoalan dapat dilihat secara utuh dari satu sudut pandang. Sebuah keputusan
dapat bersinggungan dengan berbagai aspek, seperti hukum, keuangan, pelayanan,
teknologi, tata kelola, maupun risiko. Perspektif yang berbeda justru dapat
membantu mengungkap hal-hal yang sebelumnya tidak terlihat. Karena itu, meminta
pandangan orang lain bukanlah tanda ketidakyakinan, sebagaimana mendengarkan
pendapat yang berbeda juga bukan berarti kehilangan ketegasan. Di sinilah
sinergi bekerja.
Sinergi
mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu berarti mampu menyelesaikan segala
sesuatu sendiri, tetapi juga berani berkata, “Mari selesaikan ini bersama.” Perbedaan
pendapat dalam kerja sama adalah hal yang wajar. Tujuan diskusi bukan untuk
memenangkan argumen, melainkan menemukan solusi terbaik bagi organisasi dan
para pemangku kepentingan. Ego ingin memenangkan perdebatan, sedangkan sinergi
ingin menyelesaikan persoalan.
Ketika Harus
Mengatakan “Tidak”
Salah satu
situasi yang membutuhkan keseimbangan antara keberanian dan kebijaksanaan
adalah dalam pelayanan publik. Orientasi pelayanan mendorong pemberian
kemudahan, kepastian, dan solusi. Namun, pelayanan tidak selalu berarti
mengabulkan setiap permintaan. Terkadang, jawaban yang tepat memang “tidak”,
misalnya karena persyaratan belum terpenuhi, permintaan berada di luar
kewenangan, atau bertentangan dengan ketentuan.
Tantangannya
adalah bagaimana menyampaikan penolakan tanpa kehilangan semangat pelayanan.
Penolakan tidak cukup berhenti pada kalimat “tidak bisa”, tetapi perlu disertai
penjelasan yang mudah dipahami serta, apabila memungkinkan, alternatif solusi
yang tetap sesuai dengan ketentuan. Dengan demikian, kepatuhan dan pelayanan
tidak perlu dipertentangkan. Ketegasan dapat berjalan seiring dengan empati,
ketentuan tetap terjaga, dan solusi terbaik tetap dapat diupayakan.
Keberanian
yang Dapat Dipertanggungjawabkan
Pada akhirnya,
keberanian dalam birokrasi tidak diukur dari seberapa cepat keputusan diambil
atau seberapa kuat suatu pendapat dipertahankan. Ukuran yang lebih penting
adalah: apakah keputusan tersebut dapat dipertanggungjawabkan?
Keberanian dalam
menggunakan kewenangan berarti siap menjelaskan dasar dan pertimbangannya.
Keberanian mengambil keputusan berarti siap bertanggung jawab atas hasilnya.
Demikian pula, inovasi perlu disertai pemahaman terhadap manfaat dan risiko
yang mungkin timbul. Di sinilah keberanian bertemu dengan akuntabilitas. Yang
dibutuhkan bukan keberanian untuk mengabaikan risiko, melainkan keberanian
untuk mengenali, mengelola, dan tetap mengambil keputusan ketika keputusan
memang harus dibuat.
Lima Nilai, Satu Arah
Jika direnungkan kembali, pitutur “yen wedi ojo wani-wani,
yen wani ojo wedi-wedi” memiliki ruang dialog yang menarik dengan Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan. Integritas menjaga keberanian agar tetap berada pada arah
yang benar. Profesionalisme memastikan setiap keputusan didasarkan pada fakta
dan pertimbangan yang memadai. Sinergi mengingatkan bahwa keputusan terbaik
dapat lahir dari keterbukaan terhadap pemikiran dan perspektif yang berbeda.
Pelayanan memastikan kewenangan digunakan untuk menghadirkan manfaat bagi para
pemangku kepentingan. Sementara itu, Kesempurnaan mendorong evaluasi dan
perbaikan secara berkelanjutan.
Kelima nilai tersebut tidak cukup hanya terpampang di ruang
kerja, disampaikan dalam rapat, atau dihafalkan oleh pegawai. Nilai hidup melalui
pilihan: memeriksa kembali sebelum memutuskan, menolak jalan pintas,
mendengarkan pendapat yang berbeda, mencari solusi ketika suatu permintaan
tidak dapat dipenuhi, serta mengakui dan memperbaiki kekeliruan. Melalui
pilihan-pilihan sederhana tersebut, karakter sebuah organisasi dibentuk.
Pada Akhirnya,
Harus Memilih
Rasa takut
merupakan bagian dari manusia. Takut salah dapat mendorong ketelitian,
kesadaran terhadap risiko menumbuhkan kehati-hatian, dan kekhawatiran terhadap
dampak keputusan dapat membuka perspektif yang lebih luas. Karena itu,
keberanian tidak selalu dimulai dengan menghilangkan rasa takut. Keberanian
dimulai dengan memastikan bahwa rasa takut tidak mengambil alih kompas dalam
mengambil keputusan.
Sebelum
melangkah, periksa faktanya. Sebelum memutuskan, pahami kewenangannya. Sebelum
bertindak, pertimbangkan risikonya. Sebelum mengatakan “tidak”, pastikan
berbagai kemungkinan solusi telah dipertimbangkan. Sebelum meyakini suatu
keputusan benar, berikan ruang untuk menguji kembali keyakinan tersebut. Ketika
seluruh pertimbangan telah dilakukan dan jalan yang seharusnya ditempuh telah
menjadi jelas, keteguhan diperlukan untuk menjalaninya.
Yen wedi ojo wani-wani, yen wani ojo wedi-wedi.
Pitutur lama tersebut mungkin lahir dalam ruang dan zaman
yang berbeda, tetapi pesannya tetap relevan bagi birokrasi masa kini. Bukan
untuk mengajarkan keberanian tanpa rasa takut, melainkan membentuk sikap yang
tidak gegabah dalam mengambil keputusan dan tidak mudah goyah dalam
mempertahankan kebenaran.
Bagi aparatur negara, keberanian yang paling bernilai bukan sekadar keberanian untuk melangkah. Keberanian adalah kemampuan mengetahui kapan harus berhati-hati, memahami kapan harus melangkah, serta kesediaan mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil.
Penulis: Andri Dian Prastyawan (Kepala Seksi Kepatuhan Internal KPKNL Singkawang)
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |