Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Singkawang
Yen Wedi Ojo Wani-Wani, Yen Wani Ojo Wedi-Wedi: Keberanian yang Berpijak pada Nilai

Yen Wedi Ojo Wani-Wani, Yen Wani Ojo Wedi-Wedi: Keberanian yang Berpijak pada Nilai

Iga Trisna Nurma Sari
Rabu, 09 September 2026 |   192 kali

Masyarakat Jawa mengenal sebuah pitutur yaitu “Yen wedi ojo wani-wani, yen wani ojo wedi-wedi.” Secara bebas, ungkapan tersebut dapat dipahami sebagai pesan agar seseorang tidak gegabah ketika belum siap menghadapi risiko, tetapi juga tidak kehilangan keteguhan setelah memilih untuk melangkah. Bagi seorang aparatur negara, pitutur tersebut dapat dibaca dari sudut yang lebih luas. Bukan semata-mata persoalan berani atau takut, melainkan tentang kejernihan sebelum menentukan sikap dan keteguhan setelah sebuah keputusan diambil. Keberanian, dengan demikian, bukanlah tujuan akhir. Keberanian harus mempunyai dasar, arah, dan pertanggungjawaban. Di lingkungan Kementerian Keuangan, arah itu dapat ditemukan dalam nilai-nilai yang menjadi pedoman bersama: Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan, dan Kesempurnaan.

Sebelum Berani, Pastikan Mengerti

Yen wedi ojo wani-wani.

Pitutur tersebut bukanlah ajakan untuk menjadi penakut. Sebaliknya, ia dapat menjadi pengingat agar keberanian tidak mendahului pertimbangan. Dalam pekerjaan, keputusan sering kali harus dibuat di tengah keterbatasan waktu dan beragam kepentingan. Dalam kondisi demikian, kecepatan memang diperlukan, tetapi kecepatan tidak boleh menghilangkan kecermatan. Ada data yang perlu diperiksa, ada ketentuan yang harus dipahami, ada kewenangan yang perlu dipastikan, ada risiko yang harus diperhitungkan, serta ada dampak keputusan yang perlu dipertimbangkan. Karena itu, keberanian seorang aparatur tidak seharusnya tumbuh dari keyakinan bahwa dirinya selalu benar. Keberanian justru menjadi lebih kokoh ketika dibangun di atas pemahaman yang memadai.

Di sinilah Profesionalisme menemukan tempatnya. Profesionalisme mendorong sikap untuk tidak terburu-buru memberikan jawaban sebelum memahami persoalan, bekerja berdasarkan kompetensi, menyelesaikan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh, serta memastikan setiap tindakan memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Profesionalisme juga tercermin dalam keberanian untuk mengatakan, “Saya perlu mempelajarinya terlebih dahulu.” Tidak mengetahui sesuatu bukanlah persoalan; yang menjadi persoalan adalah bertindak seolah-olah mengetahui. Karena itu, sebelum mengambil keputusan, penting untuk memastikan pemahaman yang cukup mengenai persoalan dan alasan di balik keputusan tersebut.

Ketika yang Benar Tidak Selalu Mudah

Yen wani ojo wedi-wedi.

Setelah pertimbangan dilakukan, tantangan berikutnya adalah keteguhan untuk menjalankan keputusan yang benar. Di sinilah Integritas diuji, terutama ketika pilihan yang benar tidak selalu menjadi pilihan yang mudah atau populer. Integritas tercermin dalam kepatuhan pada aturan, penggunaan kewenangan secara tepat, mengesampingkan kepentingan pribadi, serta menyampaikan fakta apa adanya. Pilihan-pilihan tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi justru melalui keputusan sehari-hari integritas dibangun. Keberanian membutuhkan integritas. Keberanian tanpa integritas dapat kehilangan arah, sedangkan integritas tanpa keberanian berisiko berhenti sebagai keyakinan yang tidak diwujudkan.

Tidak Harus Selalu Menang

Ada bentuk keberanian yang sering luput dari perhatian: keberanian mengoreksi diri. Dalam lingkungan profesional, tuntutan untuk memberikan hasil terbaik memang penting. Namun, jangan sampai keinginan untuk selalu terlihat benar menghilangkan kemampuan untuk mengatakan, “Keputusan saya perlu diperbaiki.” Data dapat berubah, informasi baru dapat muncul, dan interpretasi awal mungkin ternyata kurang tepat. Mempertahankan keputusan hanya karena pernah dibuat bukanlah keteguhan. Keteguhan pada prinsip berbeda dengan keterikatan pada ego. Keberanian justru diperlukan untuk melihat kembali persoalan secara objektif dan memperbaiki arah. Di sinilah Kesempurnaan memperoleh makna yang lebih nyata. Kesempurnaan bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan kesediaan untuk terus memperbaiki diri dan cara kerja. Yang masih lambat dipercepat, yang rumit disederhanakan, yang belum efektif dievaluasi, dan setiap kekeliruan dijadikan pembelajaran. Mengakui kekurangan bukanlah kelemahan organisasi, melainkan awal dari perbaikan.

Berani Tidak Berarti Berjalan Sendiri

Ada pula kecenderungan untuk memandang keberanian sebagai kualitas individual: seseorang dianggap berani karena mampu mengambil keputusan seorang diri. Namun, dalam konteks organisasi, pandangan tersebut tidak selalu tepat. Tidak semua persoalan dapat dilihat secara utuh dari satu sudut pandang. Sebuah keputusan dapat bersinggungan dengan berbagai aspek, seperti hukum, keuangan, pelayanan, teknologi, tata kelola, maupun risiko. Perspektif yang berbeda justru dapat membantu mengungkap hal-hal yang sebelumnya tidak terlihat. Karena itu, meminta pandangan orang lain bukanlah tanda ketidakyakinan, sebagaimana mendengarkan pendapat yang berbeda juga bukan berarti kehilangan ketegasan. Di sinilah sinergi bekerja.

Sinergi mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu berarti mampu menyelesaikan segala sesuatu sendiri, tetapi juga berani berkata, “Mari selesaikan ini bersama.” Perbedaan pendapat dalam kerja sama adalah hal yang wajar. Tujuan diskusi bukan untuk memenangkan argumen, melainkan menemukan solusi terbaik bagi organisasi dan para pemangku kepentingan. Ego ingin memenangkan perdebatan, sedangkan sinergi ingin menyelesaikan persoalan.

Ketika Harus Mengatakan “Tidak”

Salah satu situasi yang membutuhkan keseimbangan antara keberanian dan kebijaksanaan adalah dalam pelayanan publik. Orientasi pelayanan mendorong pemberian kemudahan, kepastian, dan solusi. Namun, pelayanan tidak selalu berarti mengabulkan setiap permintaan. Terkadang, jawaban yang tepat memang “tidak”, misalnya karena persyaratan belum terpenuhi, permintaan berada di luar kewenangan, atau bertentangan dengan ketentuan.

Tantangannya adalah bagaimana menyampaikan penolakan tanpa kehilangan semangat pelayanan. Penolakan tidak cukup berhenti pada kalimat “tidak bisa”, tetapi perlu disertai penjelasan yang mudah dipahami serta, apabila memungkinkan, alternatif solusi yang tetap sesuai dengan ketentuan. Dengan demikian, kepatuhan dan pelayanan tidak perlu dipertentangkan. Ketegasan dapat berjalan seiring dengan empati, ketentuan tetap terjaga, dan solusi terbaik tetap dapat diupayakan.

Keberanian yang Dapat Dipertanggungjawabkan

Pada akhirnya, keberanian dalam birokrasi tidak diukur dari seberapa cepat keputusan diambil atau seberapa kuat suatu pendapat dipertahankan. Ukuran yang lebih penting adalah: apakah keputusan tersebut dapat dipertanggungjawabkan?

Keberanian dalam menggunakan kewenangan berarti siap menjelaskan dasar dan pertimbangannya. Keberanian mengambil keputusan berarti siap bertanggung jawab atas hasilnya. Demikian pula, inovasi perlu disertai pemahaman terhadap manfaat dan risiko yang mungkin timbul. Di sinilah keberanian bertemu dengan akuntabilitas. Yang dibutuhkan bukan keberanian untuk mengabaikan risiko, melainkan keberanian untuk mengenali, mengelola, dan tetap mengambil keputusan ketika keputusan memang harus dibuat.

Lima Nilai, Satu Arah

Jika direnungkan kembali, pitutur “yen wedi ojo wani-wani, yen wani ojo wedi-wedi” memiliki ruang dialog yang menarik dengan Nilai-Nilai Kementerian Keuangan. Integritas menjaga keberanian agar tetap berada pada arah yang benar. Profesionalisme memastikan setiap keputusan didasarkan pada fakta dan pertimbangan yang memadai. Sinergi mengingatkan bahwa keputusan terbaik dapat lahir dari keterbukaan terhadap pemikiran dan perspektif yang berbeda. Pelayanan memastikan kewenangan digunakan untuk menghadirkan manfaat bagi para pemangku kepentingan. Sementara itu, Kesempurnaan mendorong evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.

Kelima nilai tersebut tidak cukup hanya terpampang di ruang kerja, disampaikan dalam rapat, atau dihafalkan oleh pegawai. Nilai hidup melalui pilihan: memeriksa kembali sebelum memutuskan, menolak jalan pintas, mendengarkan pendapat yang berbeda, mencari solusi ketika suatu permintaan tidak dapat dipenuhi, serta mengakui dan memperbaiki kekeliruan. Melalui pilihan-pilihan sederhana tersebut, karakter sebuah organisasi dibentuk.

Pada Akhirnya, Harus Memilih

Rasa takut merupakan bagian dari manusia. Takut salah dapat mendorong ketelitian, kesadaran terhadap risiko menumbuhkan kehati-hatian, dan kekhawatiran terhadap dampak keputusan dapat membuka perspektif yang lebih luas. Karena itu, keberanian tidak selalu dimulai dengan menghilangkan rasa takut. Keberanian dimulai dengan memastikan bahwa rasa takut tidak mengambil alih kompas dalam mengambil keputusan.

Sebelum melangkah, periksa faktanya. Sebelum memutuskan, pahami kewenangannya. Sebelum bertindak, pertimbangkan risikonya. Sebelum mengatakan “tidak”, pastikan berbagai kemungkinan solusi telah dipertimbangkan. Sebelum meyakini suatu keputusan benar, berikan ruang untuk menguji kembali keyakinan tersebut. Ketika seluruh pertimbangan telah dilakukan dan jalan yang seharusnya ditempuh telah menjadi jelas, keteguhan diperlukan untuk menjalaninya.

Yen wedi ojo wani-wani, yen wani ojo wedi-wedi.

Pitutur lama tersebut mungkin lahir dalam ruang dan zaman yang berbeda, tetapi pesannya tetap relevan bagi birokrasi masa kini. Bukan untuk mengajarkan keberanian tanpa rasa takut, melainkan membentuk sikap yang tidak gegabah dalam mengambil keputusan dan tidak mudah goyah dalam mempertahankan kebenaran.

Bagi aparatur negara, keberanian yang paling bernilai bukan sekadar keberanian untuk melangkah. Keberanian adalah kemampuan mengetahui kapan harus berhati-hati, memahami kapan harus melangkah, serta kesediaan mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil.

Penulis: Andri Dian Prastyawan (Kepala Seksi Kepatuhan Internal KPKNL Singkawang)


Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon