Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Singkawang
Singkawang: Kota Toleran dengan Ikon Budaya yang Memiliki Filosofi Menawan

Singkawang: Kota Toleran dengan Ikon Budaya yang Memiliki Filosofi Menawan

Jennifer Evaulina
Kamis, 24 Juli 2025 |   969 kali

Di ujung Barat Daya Pulau Kalimantan, ada satu nama kota yang telah lama dikenal sebagai simbol harmoni dan keragaman, serta tempat di mana perbedaan bukan hanya diterima, melainkan juga dirayakan. Kota tersebut adalah Kota Singkawang, juga disebut kota seribu kelenteng. Nama ‘Singkawang’ berasal dari bahasa Hakka, San Khew Jong, yang berarti ‘kota di atas bukit di dekat laut dan muara’. Kota ini semakin populer sejak acara tahunan Cap Go Meh yang dikunjungi banyak wisatawan. Kota Singkawang adalah rumah bagi 17 suku berbeda, yang menjadi potret kecil Indonesia. Tiga kelompok budaya utama – Tionghoa, Dayak, dan Melayu – adalah tulang punggung identitas Singkawang. Kelompok-kelompok tersebut dirangkum dalam TIDAYU, Tionghoa-Dayak-Melayu, dan diwakili oleh tiga ikon: Burung Enggang, Burung Phoenix, dan Elang Laut.

Simbol Burung Enggang, Burung Phoenix, dan Elang Laut yang melambangkan TIDAYU, semuanya bermakna mendalam. Burung Enggang, misalnya, merupakan pelindung harmoni bagi suku Dayak. Enggang melambangkan persatuan, kesejahteraan, kedamaian, dan keberuntungan. Di sejumlah ritus adat suku Dayak, bulu Enggang biasanya digunakan sebagai ornamen kepala yang menandakan kehormatan bagi pemakainya. Hadirnya sebagai simbol Singkawang menunjukkan bahwa kota ini sangat menghargai filosofi hidup rukun dengan alam.

Sementara itu, Burung Phoenix menjadi simbol semangat masyarakat Tionghoa yang telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kota ini. Ia mewakili transformasi dan kemampuan untuk bangkit dari berbagai tantangan, mengajarkan kita bahwa keberagaman adalah kekuatan yang menyatukan, bukan memecah belah. Phoenix juga melambangkan keseimbangan antara yin dan yang, unsur yang berbeda namun saling melengkapi. Filosofi ini sejalan dengan kehidupan multietnis di Singkawang, di mana perbedaan keyakinan, adat, dan bahasa tidak menghalangi terciptanya harmoni.

Simbol berikutnya yaitu Elang Laut, menjadi simbol kebudayaan Melayu di Singkawang. Elang pemangsa ini mengambarkan kesetiaan, persaudaraan, dan harmoni. Dua Elang Laut yang digambarkan berhadapan satu sama lain menjadi lambang hubungan saling melengkapi, seakan-akan masyarakat Melayu yang berfungsi memelihara harmoni di kota multikultural ini. Nilai-nilai ini terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Melayu di Singkawang dikenal sangat menjunjung tinggi adat sopan santun dan gotong royong, yang memperkuat ikatan sosial antaretnis.

Ketiga ikon ini (Enggang, Phoenix, dan Elang Laut) bukan hanya sekadar simbol artistik tetapi juga menjadi refleksi nyata filosofi “Unity in Diversity” yang telah lama menjadi DNA Kota Singkawang. Ikon-ikon tersebut menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah anugerah yang harus dijaga, dan harmoni adalah pilihan yang harus diperjuangkan setiap hari.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.

Foto Terkait Artikel

Floating Icon