Singkawang: Kota Toleran dengan Ikon Budaya yang Memiliki Filosofi Menawan
Jennifer Evaulina
Kamis, 24 Juli 2025 |
969 kali
Di ujung Barat Daya Pulau
Kalimantan, ada satu nama kota yang telah lama dikenal sebagai simbol harmoni
dan keragaman, serta tempat di mana perbedaan bukan hanya diterima, melainkan
juga dirayakan. Kota tersebut adalah Kota Singkawang, juga disebut kota seribu
kelenteng. Nama ‘Singkawang’ berasal dari bahasa Hakka, San Khew Jong,
yang berarti ‘kota di atas bukit di dekat laut dan muara’. Kota ini semakin
populer sejak acara tahunan Cap Go Meh yang dikunjungi banyak wisatawan. Kota
Singkawang adalah rumah bagi 17 suku berbeda, yang menjadi potret kecil
Indonesia. Tiga kelompok budaya utama – Tionghoa, Dayak, dan Melayu – adalah
tulang punggung identitas Singkawang. Kelompok-kelompok tersebut dirangkum
dalam TIDAYU, Tionghoa-Dayak-Melayu, dan diwakili oleh tiga ikon: Burung
Enggang, Burung Phoenix, dan Elang Laut.
Simbol Burung Enggang, Burung
Phoenix, dan Elang Laut yang melambangkan TIDAYU, semuanya bermakna mendalam.
Burung Enggang, misalnya, merupakan pelindung harmoni bagi suku Dayak. Enggang
melambangkan persatuan, kesejahteraan, kedamaian, dan keberuntungan. Di
sejumlah ritus adat suku Dayak, bulu Enggang biasanya digunakan sebagai ornamen
kepala yang menandakan kehormatan bagi pemakainya. Hadirnya sebagai simbol
Singkawang menunjukkan bahwa kota ini sangat menghargai filosofi hidup rukun
dengan alam.
Sementara itu, Burung Phoenix
menjadi simbol semangat masyarakat Tionghoa yang telah lama menjadi bagian tak
terpisahkan dari kota ini. Ia mewakili transformasi dan kemampuan untuk bangkit
dari berbagai tantangan, mengajarkan kita bahwa keberagaman adalah kekuatan
yang menyatukan, bukan memecah belah. Phoenix juga melambangkan keseimbangan
antara yin dan yang, unsur yang berbeda namun saling melengkapi. Filosofi ini
sejalan dengan kehidupan multietnis di Singkawang, di mana perbedaan keyakinan,
adat, dan bahasa tidak menghalangi terciptanya harmoni.
Simbol berikutnya yaitu Elang
Laut, menjadi simbol kebudayaan Melayu di Singkawang. Elang pemangsa ini
mengambarkan kesetiaan, persaudaraan, dan harmoni. Dua Elang Laut yang
digambarkan berhadapan satu sama lain menjadi lambang hubungan saling
melengkapi, seakan-akan masyarakat Melayu yang berfungsi memelihara harmoni di
kota multikultural ini. Nilai-nilai ini terwujud dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat Melayu di Singkawang dikenal sangat menjunjung tinggi adat sopan
santun dan gotong royong, yang memperkuat ikatan sosial antaretnis.
Ketiga ikon ini (Enggang,
Phoenix, dan Elang Laut) bukan hanya sekadar simbol artistik tetapi juga
menjadi refleksi nyata filosofi “Unity in Diversity” yang telah lama
menjadi DNA Kota Singkawang. Ikon-ikon tersebut menjadi pengingat bahwa
keberagaman adalah anugerah yang harus dijaga, dan harmoni adalah pilihan yang
harus diperjuangkan setiap hari.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |
Foto Terkait Artikel