Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 1 50-991    ID | EN      Login Pegawai
 
Menenun Asa, Melestarikan Tradisi Tenun Ikat Singkawang
Retno Nur Indah
Selasa, 10 Agustus 2021   |   982 kali

Udara di kota Singkawang siang itu terasa menyengat, namun ibu Rita, seorang perajin tenun Singkawang, seolah tak menghiraukan hal tersebut.  Tangannya dengan lincah terus menggerakkan kayu dan menyusun benang di Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di hadapannya. Ibu Rita belajar menenun sewaktu masih tinggal di daerah Sintang, Kalimantan Barat.  Namun berbeda dengan kain tenun yang berasal dari daerah Sintang maupun Sambas, motif tenun ikat Singkawang merupakan motif kontemporer khas kota Singkawang, yakni motif Sisik Naga Singkawang dan motif Anggrek.  Hak cipta kedua motif tersebut adalah milik Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Singkawang dan saat ini dalam proses pengurusan HAKI pada Kemenkumham.

Sesuai informasi dari Bidang Ekonomi Kreatif, Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Singkawang, kedua motif tenun Singkawang atau disingkat Tensika mewakili dua budaya besar di Kota Singkawang yaitu Tionghoa dan Melayu. Motif Sisik Naga terinsipirasi dari sisik patung naga yang terdapat di Vihara Tri Dharma Bumi Raya serta ragam hias pengaruh Tionghoa. Warna laut gelap dan terang serta aksen ombak terinspirasi dari sebuah kata dalam Bahasa Hakka, yakni San Khew Jong yang mengacu pada sebuah kota di bukit dekat laut dan muara, yang merupakan transisi dari sungai ke laut, yakni Kota Singkawang. Adapun tenun ikat Anggrek terinspirasi dari fasad bangunan Singkawang Cultural Center yang mengangkat sisi kontemporer Kota Singkawang. Warna dominan yang digunakan adalah warna tanah yang hangat dan motif yang dihasilkan adalah motif kecil dengan jarak pengulangan jarang. Teknik pewarnaan gradasi dipakai dalam proses pewarnaan benang tenun.

Secara keseluruhan, rancangan Tensika dibuat dengan gaya kontemporer yang terinspirasi tenun ikat dan batik.  Ini berarti semua rancangan akan memiliki ragam hias dengan ciri khas ber-outline putih seperti batik dan tenun ikat. Walaupun motif yang diaplikasikan adalah motif kontemporer, namun semangat dan jiwa tenun tetap humanis dan filosofis.  Tenun tidak hanya sekedar rangkaian benang menjadi kain, namun juga sebuah karya seni yang memadukan ketelatenan, keteltian, dan kesabaran dalam helaian benang. Proses pembuatan satu helai kain tenun kurang lebih membutuhkan waktu yang cukup lama, apalagi jika hanya dilakukan sebagai pekerjaan sambilan. Sebagai contoh, Ibu Rita, satu-satunya pengrajin kain tenun ikat Singkawang, seringkali harus menyelesaikan pekerjaan utamanya sebagai petani.  

Waktu yang cukup lama dan detil tenun yang rumit membuat satu kain tenun yang ditenun secara manual memiliki harga yang cukup tinggi.  Hal ini yang kadang kurang dipahami oleh masyarakat umum, sehingga seringkali tercetus di benak mereka bahwa harga satu kain tenun dianggap cukup mahal.  Padahal jika mengerti bagaimana proses pembuatannya, tak heran harganya menjadi cukup tinggi.

Tingginya animo masyarakat akan kain tradisional yang terjangkau harganya membuat produsen melakukan terobosan dengan membuat kain tenun atau kain tradisional lainnya dengan teknik printing untuk menekan harga.  Sisi baiknya, masyarakat makin mengenal motif dan ragam kain tradisional.  Namun hal ini bisa membuat kain tradisional yang dibuat dengan ATBM menjadi kurang diminati.  Selain itu, kain printing dengan motif tradisional Indonesia namun diproduksi oleh negara lain pun ikut masuk ke pasar dalam negeri karena bisa jauh lebih terjangkau harganya dibanding kain printing produksi lokal.

Oleh karena itu, perlu edukasi kepada masyarakat untuk dapat menghargai kain tradisional yang dibuat secara manual seperti tenun, batik, songket, dan sebagainya.  Berita bagusnya, saat ini kesadaran masyarakat makin tinggi akan produk tradisional, terutama kain nusantara yang dibuat secara tradisional.  Hal ini terbukti dengan banyaknya komunitas pecinta kain tradisional dan pameran-pameran kain tradisional beserta produk turunannya. 

Pemerintah pun saat ini peduli dengan keberadaan para perajin kain tradisional, termasuk ibu Rita.  Pemerintah Kota Singkawang melalui Bidang Ekraf Dinas Pemuda dan Olahraga secara intensif membina serta melindungi budaya tenun ini.  Selain itu, Pemerintah Pusat melalui Kantor Pelayanan Kekayaan dan Lelang Negara (KPKNL) Singkawang yang notabene merupakan salah satu unit kerja Kementerian Keuangan Republik Indonesia, turut memberikan wadah pemasaran berupa Kedai Lelang UMKM bagi tenun khas Singkawang ini.  Tenun Singkawang beserta tenun Sambas, keramik khas Singkawang hasil karya bapak Abui, dan tikar bamban akan dilelang pada hari Jumat, tanggal 13 Agustus 2021, pukul 09.00-10.00 WIB.

Apabila kain tenun bisa dihargai sesuai dengan proses pembuatannya, maka diharapkan para perajin tenun seperti ibu Rita dapat fokus menenun sehingga dapat lebih produktif dan meningkatkan taraf hidupnya.  Satu hal lagi yang perlu diperhatikan, budaya menenun harus diregenerasi agar tidak punah. Ibu Rita, satu-satunya penenun khas Singkawang sebaiknya segera mewariskan ilmu menenunnya agar tidak hilang ditelan zaman. 

Penulis : Retno
Foto : Velient

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Foto Terkait Artikel
Peta Situs | Email Kemenkeu | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami | Oppini