Berbagai Metode Pengupasan Dalam Pembuatan Kopi Bali
Muhammad Ary Hendrawan
Rabu, 25 Oktober 2023 |
7457 kali
Pada tahun
1696 kopi
sudah beredar di Indonesia sejak
Gubernur Belanda di sebuah wilayah di India Selatan bernama Malabar mengirim
bibit kopi Yaman atau kopi arabika kepada Gubernur Belanda di Batavia atau
sekarang disebut sebagai Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Pada Masa itu bibit
pertama ini gagal tumbuh karena banjir di Batavia, lalu pengiriman kedua biji-biji
kopi dilakukan pada 1699. Keberhasilan tumbuhnya tanaman ini memberikan dampak
perdagangan pertama ke eropa oleh perusahaan dagang Belanda / VOC pada tahun
1711. Kurang lebih 10 tahun, terjadi peningkatan ekspor Indonesia hingga 60 ton
per tahun. Pada masa itu Indonesia merupakan tempat pertama kopi dibudidayakan
secara meluas di luar Arab maupun Ethiopia.
Akibat dari
ekspor besar-besaran itu, memberikan keuntungan yang sangat besar ke perusahaan
VOC, tetapi bermanfaat sedikit untuk petani Indonesia yang mengalami tanam
paksa oleh pemerintah Kolonial Belanda. Produksi komoditas ekspor ini
memberikan penghasilan bagi penduduk Jawa untuk membayar pajak mereka.
Cultuurstelsel atau tanam paksa ini menanam dari rempah-rempah dan komoditas
utama pertanian tropis yang sangat beraneka ragam jenisnya. Cultuurstelsel
untuk kopi diterapkan di daerah Prenger Jawa Barat. Pada praktiknya, harga
untuk komoditas utama pertanian ini di-setting terlalu rendah dan mereka
dipalingkan dari pekerjaan buruh yang memproduksi beras, yang menyebabkan
situasi berat bagi petani.
Di pertengahan abad
ke-17, VOC melaksanakan pengembangan area tanam kopi arabika di Sumatra, Bali,
Sulawesi, dan Kepulauan Timor. Kemungkinan kopi Arabika
telah ditanam di Pulau Dewata sejak awal tahun 1800-an atau sudah sekitar
dua abad yang lalu. Hal tersebut tercantum di dalam buku Verslag over de Koffiecultuur
in Amerika, Azie en Afrika (Laporan tentang Budidaya Kopi di
Amerika, Asia dan Afrika) karya KF. van Delden Laerne (1885). Dalam buku tersebut juga tercatat jika di tahun 1825
telah dilakukan ekspor kopi Arabika dari Jawa, kopi yang diekspor tersebut
tidak semuanya berasal dari pulau Jawa, namun ada juga kopi yang berasal dari
Bali dan Palembang. Kegiatan ekspor Kopi ini masih terus berlanjut, karena
memang Belanda berupaya menguasai pasar kopi dunia dengan kopi yang mereka
dapatkan dari nusantara, tecatat hingga tahun 1853 kopi dari Bali masih menjadi
kopi yang diekspor ke Eropa.
Robusta golden
honey, Arabika natural, serta Arabika semi wash dan full wash
Sebagian orang pastinya dalam menikmati
secangkir kopi memiliki berbagai cara dan suasananya masing-masing, dalam
proses pengolahannya kopi juga memiliki banyak cara sehabis dipanen. Mulai dari
proses pengupasan kulit biji kopi ada sejumlah metode yang dapat digunakan. Ada
metode natural (metodel kering), full wash (metode
basah), semi wash, dan metode hibrid (honey proses).
Metode-metode ini memiliki cara yang berbeda yang berdampak pada hasil karakter
rasa yang berbeda pula.
1. Metode Natural
Metode yang paling praktis diantara
metode pengupasan lainnya adalah Metode natural. Pada metode ini, buah kopi
atau sering disebut cherry yang sudah dipanen akan dipilah dulu,
antara cherry sudah matang dan belum
matang. Pemilahan ini dilakukan dengan merendamkan cherry di dalam air, Jika cherry
tersebut mengapung dapat dipastikan buah tersebut memiliki kualitas yang tidak
bagus. Setelah terpilah, barulah kopi dijemur hingga kering. Pada tahapan
penjemuran, kopi harus sering dibalik agar tingkat kekeringan cherry rata.
Setelah cherry menghitam
tahapan selanjutnya kulit tanduk cherry
dipecah dengan ditumbuk atau menggunakan mesin pulper. Setelah kulit tanduk terlepas, biji kopi
atau gabah kopi yang warnanya agak kehijau-hijauan muncul.
Setelah pengupasan, gabah kopi atau green
beans kemudian akan disimpan lebih lama. Tujuannya agar gabah kopi
benar-benar kering. Metode Natural ini biasanya akan menghasilkan kopi dengan
rasa buah yang lebih kuat, halus, body yang tebal, dan rasa yang kompleks.
2. Metode Full Wash
Metode full wash merupakan
cara mengupas kopi yang selalu berkaitan bersentuhan dengan air. Mulai dari
pemilihan kualitas cherry, dipisahkan kulit luarnya, hingga
proses fermentasi, semua bersentuhan dengan air. Setelah dipilah, cherry kopi
yang berkualitas kemudian dimasukkan ke mesin depulping untuk
menghilangkan kulit luarnya dengan menggunakan air.
Setelah terkupas kulit luarnya, biji
kopi difermentasi. Hal ini dikarenakan untuk menghilangkan lendir pada biji
kopi. Biji kopi nantinya direndam sekitar 12-24 jam, dan harus diperhatikan agar
biji tidak terlalu lama yang berdampak menghasilkan rasa kopi yang terlalu
asam.
Setelah proses ini selesai, barulah
biji kopi dijemur untuk mengurangi kadar airnya. Jika sudah kering barulah biji
kopi dimasukan ke huller. Metode pengupasan kopi seperti ini
biasanya akan akan menghasilkan rasa yang body-nya lebih ringan
dan mild.
3. Semi Wash
Metode Semi Wash atau
giling basah ini hampir mirip dengan Full Wash. Bedanya
terletak pada Semi Wash tidak terlalu banyak pencucian
kopinya. Cherry yang sudah direndam untuk dipisahkan kualitasnya,
langsung dikeringkan. Pada saat pengeringan ini, lendir kopi yang mengandung
gula, masih dibiarkan menempel di biji kopi dan setelah itu disimpan sekitar 24
jam. Barulah kemudian lendir tersebut dicui agar lendirnya hilang, sebelum
kemudian dijemur kembali.
Biasanya karena lendir kopi masih
banyak melekat, metode ini akan memiliki body kopi yang cukup
tebal, serta lebih manis karena rasa asamnya lebih tipis.
4. Honey
Metode ini akan menghasilkan green
beans dengan rasa yang manis. Sehingga disebut sebagai metode honey
(madu).
Caranya adalah cherry awalnya
dipisah untuk mengambil yang berkualitas. Caranya direndam dan diangkat yang
mengapung (cherry kurang bagus).
Usai dipisah, cherry langsung
dipisahkan dengan kulit luarnya. Dalam proses ini, kopi dibiarkan tetap dengan
kulit cangkang yang masih berlendir. Lendir ini terdiri dari lapisan gula,
sehingga rasa manis ini yang akan dibiarkan meresap ke dalam kopi.
Gabah kopi yang berlendir ini kemudian
langsung dijemur selama beberapa hari. Setelah itu barulah gabah kopi
dipisahkan dari kulit cangkangnya. Hasilnya adalah greenbean yang
siap untuk di-roasting alias sangrai.
Ada berbagai
jenis dan proses pengolahan kopi di Indonesia bahkan Bali sendiri memiliki
berbagai macam kopi olahan khas masing-masing daerah di Bali. Setelah memahami
berbagai hal tersebut, akankah lebih baik jika kita mendukung kopi olahan
daerah guna meningkatkan penerimaan seluruh pihak dalam proses pembuatan kopi
dan mengembangkan bisnis kopi Bali.
Sumber
Referensi:
https://www.balipost.com/news/2021/08/03/207921/Petani-Kopi-di-Buleleng-Panen...html
https://mlipir.republika.co.id/posts/49825/ini-beda-proses-kopi-full-wash-natural-honey
https://www.healthline.com/nutrition/top-evidence-based-health-benefits-of-coffee
https://distan.bulelengkab.go.id/informasi/detail/berita/sejarah-perkembangan-kopi-44
https://kopipetani.com/kopi-arabica-bali-kintamani-kopi-primadona-dari-pulau-dewata/
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |