Menkeu Purbaya Pastikan APBN Triwulan I 2026 Solid, Penerimaan Pajak Tumbuh 20,7%
Aisyah Sri Kusuma Dewi
Rabu, 22 April 2026 |
179 kali
Jakarta, 06/04/2026 Kemenkeu – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi
Sadewa menegaskan bahwa kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
Indonesia tetap solid dan mampu menjadi shock absorber di tengah ketidakpastian
geopolitik global. Dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Senin (6/4),
Menkeu memaparkan kinerja positif ekonomi nasional yang didukung oleh
pertumbuhan penerimaan negara yang kuat pada triwulan I 2026.
Hingga akhir Maret 2026, pendapatan negara tercatat mencapai Rp574,9 triliun,
atau tumbuh 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan
pendapatan ini utamanya didorong oleh sektor perpajakan yang menunjukkan
kualitas basis pajak yang semakin kuat dan pertumbuhan penerimaan pajak secara
keseluruhan sebesar 20,7 persen (yoy).
Secara rinci, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah (PPnBM) mencatatkan pertumbuhan drastis hingga 57,7 persen. Angka ini mengonfirmasi
adanya peningkatan aktivitas ekonomi riil di masyarakat. Selain itu, PPh Orang
Pribadi (Pasal 21) juga naik 15,8 persen, yang mencerminkan perbaikan
kesejahteraan serta peningkatan kepatuhan wajib pajak pasca implementasi sistem
Coretax.
Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) terealisasi sebesar Rp112,1
triliun atau 24,4 persen dari target APBN. Meski PNBP terkontraksi 3 persen
akibat fluktuasi harga komoditas di awal tahun, namun capaiannya dinilai masih
sesuai jalur.
Terkait belanja, pemerintah mencatat pertumbuhan sebesar 31,4 persen (yoy),
dengan defisit APBN hingga triwulan I terjaga di level 0,93 persen terhadap
Produk Domestik Bruto (PDB). Menkeu menekankan bahwa pemerintah telah melakukan
simulasi mitigasi risiko untuk menjaga stabilitas harga energi. "Kami siap
menjaga harga BBM bersubsidi tetap tidak naik hingga akhir tahun 2026. Langkah
ini tetap aman bahkan jika asumsi harga minyak mentah dunia mencapai rata-rata
100 dollar AS per barrel," tegas Menteri Keuangan.
Kekuatan fiskal ini didukung oleh adanya cadangan atau "bantalan"
berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun yang siap digunakan
untuk mengantisipasi gejolak ekonomi ekstrem.
Di sisi makro, stabilitas ekonomi tetap terjaga dengan inflasi pada Maret 2026
terkendali di angka 3,48 persen (yoy). Menkeu menjelaskan, jika dampak anomali
harga listrik tahun lalu dikeluarkan, inflasi riil sebenarnya hanya berada di
level 2,51 persen.
Indikator lain seperti sektor manufaktur juga menunjukkan tren ekspansif selama
delapan bulan berturut-turut. Pemerintah pun optimistis pertumbuhan PDB
triwulan I dapat mencapai angka 5,5 persen atau lebih. Hal ini diperkuat dengan
tren positif pada penjualan kendaraan bermotor dan konsumsi semen yang
menandakan daya beli masyarakat masih terjaga.
"Keadaan APBN kita masih terjaga. Kita sudah hitung dengan teliti
pertahanan berlapis-lapis untuk memastikan ekonomi kita aman dan rakyat
terlindungi," pungkas sang Bendahara Negara. (dm/al)
Foto Terkait Berita