Severity: Warning
Message: XXXXX(/var/lib/php/sessions/ci_sessions_2022/portaldjkn_20221o6flum2f0kl01gclueqf5f0op7c1i28): failed to open stream: No space left on device
Filename: drivers/Session_files_driver.php
Line Number: 176
Backtrace:
File: /home/piesa/webdjkn/application/controllers/Unit_kerja.php
Line: 8
Function: __construct
File: /home/piesa/webdjkn/index.php
Line: 326
Function: require_once
Severity: Warning
Message: XXXXXXXXXXXXX(): Failed to read session data: user (path: /var/lib/php/sessions/ci_sessions_2022)
Filename: Session/Session.php
Line Number: 143
Backtrace:
File: /home/piesa/webdjkn/application/controllers/Unit_kerja.php
Line: 8
Function: __construct
File: /home/piesa/webdjkn/index.php
Line: 326
Function: require_once
Menkeu Sebut Ekonomi Indonesia dalam Posisi Kuat, APBN Jadi Shock Absorber di Tengah Eskalasi Konflik Geopolitik
Aisyah Sri Kusuma Dewi
Selasa, 17 Maret 2026 |
28 kali
Jakarta, Kemenkeu – Menteri Keuangan
(Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) menunjukkan kinerja yang solid sebagai instrumen shock absorber
di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Meski volatilitas pasar
keuangan dan harga komoditas energi dunia sangat dinamis, ia menegaskan kembali
bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang sangat
kuat.
Hal tersebut disampaikan Menkeu dalam Konferensi Pers APBN KiTa di, Jakarta
pada Rabu (11/3). Ia mengungkapkan bahwa rata-rata harga minyak mentah
Indonesia (ICP) hingga Maret 2026 masih berada di level US$68 per barrel
meskipun harga minyak mentah Brent sempat menembus level US$100 per barrel.
Angka ini masih berada di bawah asumsi APBN 2026 yang ditetapkan sebesar US$70
per barel.
"Sejauh ini masih terdapat ruang fiskal untuk mengantisipasi risiko
kenaikan harga dalam pelaksanaan APBN 2026. Nanti kalau ke depan keadaan
menekan lagi, kita akan tentunya mengatur APBN, tapi kita semua dalam berawal
dari posisi yang kuat APBN-nya. Jadi teman-teman gak usah khawatir," ujar
Purbaya.
Optimisme pemerintah didorong oleh performa sektor riil yang menunjukkan tren
penguatan signifikan. Indeks Manufaktur (PMI) Indonesia pada Februari 2026
mencapai level 53,8, angka tertinggi dalam dua tahun terakhir. Posisi ini
menempatkan Indonesia lebih unggul dibandingkan negara-negara besar seperti
Tiongkok, Amerika Serikat, dan Australia.
"Ekonomi kita sedang mengalami masa ekspansi dalam posisi yang kuat. Jadi
teman-teman tidak usah takut, kita bisa mengendalikan dampak negatif gejolak
global ke depan," tambahnya.
Indikator daya beli masyarakat juga tercatat solid. Mandiri Spending Index
meningkat ke level 360,7% pada Februari, diikuti dengan pertumbuhan penjualan
mobil yang mencapai dua digit (12%). Menkeu juga menepis anggapan bahwa daya
beli masyarakat melemah, merujuk pada Indeks Keyakinan Konsumen yang tetap
tinggi di atas level 100.
Terkait inflasi yang mencapai 4,76% (yoy) pada Februari, Menkeu menjelaskan
bahwa angka tersebut dipengaruhi oleh faktor temporer low base effect diskon
listrik tahun lalu. Tanpa faktor tersebut, inflasi diperkirakan hanya sebesar
2,59%, masih di bawah target sasaran. Menkeu juga menyoroti keberhasilan koordinasi
fiskal-moneter antara Pemerintah dan Bank Indonesia. Penempatan kas pemerintah
sebesar Rp200 triliun terbukti mampu menjaga likuiditas perbankan, sehingga
suku bunga kredit turun menjadi 8,8% pada Januari 2026.
Hingga akhir Februari 2026, APBN mencatatkan kinerja Pendapatan Negara sebesar
Rp358 triliun (11,4% dari target), tumbuh 12,8% (yoy). Penerimaan pajak tumbuh
sangat kuat sebesar 30,4%. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp493,8
triliun (12,8% dari pagu), melonjak 41,9% dibandingkan tahun lalu. Akselerasi
belanja ini merupakan strategi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
secara lebih merata sejak awal tahun. Defisit APBN tercatat sebesar Rp135,7
triliun atau 0,53% dari PDB, yang dinilai masih sangat terkendali.
"Jadi secara keseluruhan kombinasi pendapatan negara yang tumbuh positif,
belanja yang terakselerasi untuk mendorong ekonomi, serta defisit yang tetap
terkendali, menunjukkan bahwa APBN terus berperan optimal sebagai instrumen
stabilisasi sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional," tutup sang
Bendahara Negara. (dm/al)
Foto Terkait Berita