Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Serang
Government Goes to Society: KPKNL Hadir Mendukung Pengembangan UMKM Lokal

Government Goes to Society: KPKNL Hadir Mendukung Pengembangan UMKM Lokal

Aisyah Sri Kusuma Dewi
Senin, 28 September 2026 |   51 kali

Kehadiran pemerintah selama ini sering kali dipersepsikan melalui pelayanan yang diberikan di kantor. Kantor pemerintahan pada hakikatnya hanya diwujudkan melalui penyelenggaraan pelayanan publik dan pelaksanaan tugas pemerintahan dimana masyarakat datang ketika memiliki kebutuhan, memperoleh pelayanan, kemudian menyelesaikan urusannya.

Dalam perkembangan, ekspektasi masyarakat terhadap pola pemerintah dalam pelayanan publik menuntut adanya hubungan yang lebih terbuka dan komunikatif, sehingga pemerintah perlu membangun hubungan yang lebih dekat dan konstruktif dengan masyarakat sebagai bagian dari upaya meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah.

Di tengah berbagai program dan rutinitas pelayanan publik atau di balik setiap kebijakan, angka, dokumen, dan administrasi kantor pemerintahan, terdapat masyarakat yang menjadi tujuan utama dari hadirnya sebuah negara/pemerintahan. Bukan pemerintah yang hanya hadir ketika ada program, tetapi pemerintah yang hadir karena memiliki kepedulian. Bukan hubungan yang hanya berlangsung ketika masyarakat membutuhkan pelayanan, tetapi hubungan yang dibangun melalui kepercayaan dan kebersamaan.

Kedekatan pemerintah dengan masyarakat tidak hanya dibangun melalui kualitas layanan, tetapi juga melalui kesempatan untuk berinteraksi secara langsung, memahami kondisi sosial masyarakat, serta membangun komunikasi yang lebih personal dan humanis. Tidak berhenti pada pembagian bantuan atau kegiatan sosial yang bersifat seremonial atau bisa dikatakan masyarakat bukan hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai mitra yang memiliki potensi untuk berkembang. Bagaimana kantor pemerintahan dapat menjadi ruang untuk membangun kepedulian, memperkuat hubungan dengan masyarakat, sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.

Kehadiran pemerintah tidak selalu harus terlihat melalui pembangunan fisik berskala besar. Hal ini bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk sederhana, mulai dari kegiatan dan bantuan kecil-kecilan dari para pegawai, kegiatan menjaga dan merawat fasilitas publik, penghijauan lingkungan, sampai dengan dukungan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan dan pemberdayaan UMKM. Nilai terpentingnya juga bukan terletak pada seberapa besar bantuan yang diberikan, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan. Sebuah kegiatan bersih-bersih mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi kesadaran untuk menjaga lingkungan dapat menjadi kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebuah paket bantuan mungkin hanya bertahan beberapa hari, namun sebuah program pemberdayaan dapat menciptakan kesempatan yang bertahan jauh lebih lama.

Kegiatan akan memberikan dampak yang lebih besar ketika dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan banyak pihak. Pegawai dapat menjadi penggerak, masyarakat menjadi mitra dan komunitas menjadi bagian dari solusi. Dunia usaha, pemerintah daerah, maupun lembaga lainnya dapat dilibatkan sesuai dengan kapasitas masing-masing. Dengan kolaborasi tersebut, sebuah kegiatan kecil dapat berkembang menjadi gerakan bersama. Tidak harus berskala besar, konsistensi, kebermanfaatan, keterbukaan, dan kualitas interaksi justru menjadi faktor penting dalam membangun kedekatan, sehingga Pemerintah tidak hanya hadir untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat, tetapi juga hadir untuk belajar dari masyarakat.

Ketika kepedulian menjadi kebiasaan, akan berubah menjadi budaya, dan ketika budaya kepedulian tumbuh di lingkungan pemerintahan, masyarakat tidak hanya melihat pemerintah sebagai pemberi layanan, tetapi juga merasakan pemerintah sebagai bagian dari kehidupan mereka. Pemerintahan tidak hanya dipandang sebagai kantor yang menjalankan fungsi pemerintahan, tetapi juga sebagai bagian dari lingkungan sosial tempat instansi tersebut berada.

Government Goes to Society hadir dengan semangat tersebut. Government Goes to Society merupakan upaya untuk menghadirkan wajah pemerintah yang lebih dekat dengan masyarakat. Government Goes to Society bukan dimaksudkan untuk menggantikan tugas dan fungsi utama kantor pemerintahan. Sebaliknya, pendekatan ini menjadi sarana untuk memperkuat hubungan kelembagaan dengan masyarakat.

Konsep ini juga sejalan dengan semangat transformasi pelayanan publik yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam penyelenggaraan pemerintahan, dimana bahwa kepercayaan publik tidak terbentuk hanya melalui kebijakan dan regulasi, kepercayaan juga tumbuh dari pengalaman masyarakat ketika berinteraksi dengan pemerintah. Oleh karena itu, setiap kegiatan Government Goes to Society perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun public trust.

Dengan demikian, kantor pemerintah tidak hanya menjadi tempat masyarakat memperoleh layanan, tetapi juga menjadi mitra yang hadir dalam kehidupan masyarakat. Jadi, Government Goes to Society merupakan perubahan pendekatan dalam membangun hubungan antara pemerintah dan masyarakat.

KPKNL Hadir Mendukung Pengembangan UMKM Lokal

Government Goes to Society dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat kedekatan antara Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) dengan masyarakat. Melalui Government Goes to Society, KPKNL dapat menghadirkan semangat bahwa pemerintah tidak berada di luar masyarakat, melainkan merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri. KPKNL hadir untuk melayani, tetapi kedekatan dibangun dengan cara hadir, mendengar, peduli, dan berkolaborasi bersama masyarakat. Dengan semangat tersebut, Government Goes to Society diharapkan menjadi salah satu langkah nyata dalam membangun KPKNL yang semakin dekat, terbuka, humanis, dan dipercaya masyarakat.

Government Goes to Society dibangun dengan prinsip kemitraan, bahwa masyarakat tidak semata-mata ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai bagian dari ekosistem sosial yang dapat memberikan kontribusi, gagasan, dan masukan kepada pemerintah.

Melalui pendekatan Government Goes to Society, KPKNL diharapkan dapat membangun Citra Sebagai Institusi Pemerintah yang tidak hanya melayani, tetapi juga hadir, peduli, dan membangun hubungan dengan masyarakat. KPKNL memiliki kesempatan untuk membangun identitas kelembagaan yang tidak hanya kuat dari sisi profesionalitas dan kualitas layanan, tetapi juga humanis dalam membangun hubungan dengan masyarakat.

Kehadiran KPKNL di tengah masyarakat diharapkan dapat memperkuat komunikasi, memperluas jejaring kolaborasi, meningkatkan kepedulian sosial, sekaligus membangun hubungan kelembagaan yang lebih positif. KPKNL memiliki ruang untuk hadir dalam kehidupan sosial masyarakat melalui kegiatan edukasi, kepedulian sosial, lingkungan, kebudayaan, kepemudaan, serta kegiatan kemasyarakatan lainnya yang relevan dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pada saat yang sama, masyarakat memiliki kesempatan untuk mengenal KPKNL tidak hanya sebagai sebuah institusi. Interaksi yang lebih terbuka diharapkan dapat mengurangi jarak psikologis antara masyarakat dengan pemerintah. Masyarakat dapat melihat bahwa pemerintah bukanlah entitas yang jauh dan formal semata.

Salah satu potensi lokal yang saat ini dapat menjadi bagian dari semangat Government Goes to Society bagi KPKNL Serang yaitu pengembangan UMKM penghasil Kopi Leupeh Lalay dari kawasan Gunung Karang, Pandeglang, Banten.

Kopi ini memiliki keunikan yang tidak hanya terletak pada cita rasanya, tetapi juga pada proses terbentuknya. Leupeh lalay dalam konteks kopi Banten merujuk pada biji kopi yang telah diambil oleh kelelawar dari buah kopi yang matang, kemudian dilepehkan kembali. Proses alami tersebut menjadi bagian dari karakteristik yang membedakan kopi ini dari produk kopi pada umumnya. Menariknya, proses alami ini dapat menjadi pesaing terhadap fenomena semaraknya Kopi Luwak dengan aroma dan bau yang khas sehingga bernilai tinggi namun berasal dari kotoran luwak sehingga kehalalannya masih kontroversi.

Keunikan Kopi Lepeh Lalay ini bukan semata-mata cerita mengenai produk kopi dimaksud mulai dari biji yang dipanen, disangrai, kemudian diseduh, tapi di baliknya terdapat cerita mengenai petani, lingkungan, pengetahuan lokal, dan potensi ekonomi masyarakat Banten.

Cerita awal pengembangan Kopi Leupeh Lalay dimulai pada tahun 2019 ketika harga kopi petani masih relatif rendah karena hanya dikonsumsi masyarakat sekitar. Namun  kemudian muncul ide yang lebih besar mengenai yakni bagaimana menghadirkan identitas kopi khas Banten agar dapat dikenal lebih luas lagi. Saat itu, para pelaku usaha kopi di Pandeglang berupaya mencari cara agar kopi memiliki nilai tambah yang lebih tinggi melalui upaya perbaikan kualitas pasca panen, mulai dari penyortiran, perambangan, pencucian, hingga pengolahan sesuai standar kopi nasional. Perbaikan teknik pengolahan tersebut dimulai tahun 2020 sehingga kualitas kopi meningkat secara signifikan. Proses pencucian dilakukan lebih baik, penyortiran lebih ketat, serta penyangraian menggunakan mesin dengan profil khusus yang sesuai dengan karakter kopi tersebut. Hasilnya, muncul cita rasa yang kompleks dengan tingkat kemanisan alami yang tinggi, aroma kacang dan cokelat yang kuat, serta keseimbangan rasa asam, pahit, dan manis yang harmonis. 

Keunikan rasa tersebut menarik perhatian para pegiat kopi dan juri nasional. Kopi Leupeh Lalay kemudian diikutsertakan dalam berbagai ajang kurasi dan penilaian kopi spesialis. Pada tahun 2022, kopi ini berhasil meraih Juara 1 tingkat nasional wilayah Jawa-Bali. Prestasi tersebut menjadi tonggak penting yang mengukuhkan Kopi Leupeh Lalay sebagai salah satu kopi spesialis unggulan dari Banten.

Keberhasilan ini juga membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Jika sebelumnya harga kopi petani hanya sekitar Rp12.000 per kilogram, kopi Leupeh Lalay kini memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi. Pada awal pengembangannya, harga green bean mencapai Rp250.000 per kilogram. Seiring meningkatnya kualitas dan pengakuan pasar, harga tersebut bahkan mencapai Rp500.000 per kilogram.

Menariknya, seluruh proses pengumpulan biji kopi Leupeh Lalay dilakukan oleh kelompok perempuan yang dibentuk khusus untuk mengelola kopi ini. Kopi tersebut dikumpulkan dari hutan kopi tua di kawasan Gunung Karang. Pohon-pohon kopi yang tumbuh tinggi hingga mencapai lebih dari 10 meter membuat sebagian buah kopi sulit dipanen oleh manusia. Buah-buah yang matang sempurna justru lebih dahulu dipilih oleh lalay atau kelelawar pemakan buah. Hewan ini memakan bagian daging buah kopi yang manis, kemudian meludahkan bijinya ke tanah. Biji-biji kopi yang masih terlindungi kulit tanduk dan kulit ari tersebut kemudian dikumpulkan oleh masyarakat setempat, terutama kaum perempuan. Mereka menyusuri kawasan hutan setiap pagi untuk mengumpulkan biji-biji kopi yang telah dipilih dan dilepeh oleh lalay. Kelompok ini menjadi contoh nyata bagaimana pemberdayaan perempuan dapat berkontribusi dalam menciptakan produk bernilai tinggi sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Dari proses alami inilah muncul istilah "Leupeh Lalay", yang berarti kopi hasil lepehan atau ludahan lalay. Berbeda dengan kopi luwak yang melalui proses pencernaan hewan, pada Kopi Leupeh Lalay biji kopi hanya mengalami pemisahan daging buah oleh lalay tanpa masuk ke sistem pencernaan. Hal ini membuat karakter asli biji kopi tetap terjaga kehalalannya sekaligus menghadirkan keunikan tersendiri.

Kawasan Gunung Karang memiliki ekosistem yang mendukung keberadaan kelelawar dan tanaman kopi. Karena itu, Kopi Leupeh Lalay dapat dilihat sebagai produk yang mempertemukan unsur pertanian, keanekaragaman hayati, dan kreativitas masyarakat dalam mengembangkan komoditas lokal. Inilah yang membuat produk lokal memiliki potensi untuk menjadi bagian dari identitas daerah.

Produksi Kopi Leupeh Lalay memang sangat terbatas. Dalam satu tahun, hasil yang diperoleh hanya sekitar 250 kilogram. Keterbatasan produksi inilah yang menjadikan kopi ini tergolong eksklusif. Sebagian produksinya dipasarkan untuk kebutuhan lokal dan UMKM Banten, sementara sebagian lainnya telah menembus pasar internasional. Bahkan pada tahun terakhir, sebagian hasil produksi telah dibeli oleh pembeli dari Perancis.

Kopi Leupeh Lalay membuktikan bahwa produk unggulan tidak selalu lahir dari teknologi modern. Perpaduan antara kearifan lokal, proses alami, keterampilan masyarakat, dan komitmen menjaga lingkungan mampu menghasilkan kopi berkualitas tinggi yang diakui hingga mancanegara. Lebih dari sekadar minuman, Kopi Leupeh Lalay adalah simbol identitas Banten, warisan hutan kopi tua, dan bukti bahwa kekayaan alam lokal dapat menjadi kebanggaan dunia.

Potensi Kopi Leupeh Lalay menunjukkan bahwa sebuah produk lokal dapat memiliki nilai lebih ketika cerita di balik produk tersebut mampu dikomunikasikan dengan baik. Cerita Kopi Leupeh Lalay juga memperlihatkan bahwa potensi ekonomi daerah sering kali sudah tersedia di tengah masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat diolah, dikembangkan, dipasarkan, dan diperkenalkan secara lebih luas.

Pendampingan yang dilakukan oleh Bank Indonesia terhadap petani kopi di kawasan Gunung Karang ini menjadi salah satu contoh penting yang dilakukan oleh Kantor Pemerintahan. Setelah memperoleh pengetahuan mengenai pemanenan buah yang matang dan pengolahan pascapanen, petani didorong untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus meningkatkan nilai ekonominya dan kemudian dilaporkan adanya peningkatan pendapatan petani setelah dilakukan pendampingan dalam pengolahan kopi ini.

Kopi yang sebelumnya hanya dipandang sebagai hasil kebun dapat berkembang menjadi produk unggulan. Hasil kebun dapat menjadi produk olahan. Produk olahan dapat menjadi identitas daerah. Dan identitas daerah pada akhirnya dapat menjadi sumber nilai ekonomi bagi masyarakat. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi tidak selalu dimulai dari sesuatu yang baru. Terkadang, pemberdayaan dimulai dengan membantu masyarakat mengenali nilai dari sesuatu yang sebenarnya sudah mereka miliki.

Di balik keberhasilan tersebut, terdapat tantangan besar yang harus dijaga bersama, yaitu kelestarian hutan kopi tua Gunung Karang. Kawasan ini tidak hanya menjadi sumber ekonomi masyarakat, tetapi juga menyimpan keragaman genetik kopi yang langka. Berbagai varietas kopi masih tumbuh alami di kawasan tersebut karena statusnya sebagai hutan yang terjaga selama puluhan bahkan ratusan tahun. Oleh karena itu, pelestarian kawasan ini menjadi kunci keberlangsungan Kopi Leupeh Lalay di masa depan. Bagi para penggerak kopi di Pandeglang, Leupeh Lalay bukan sekadar komoditas. Di balik secangkir kopi terdapat ekosistem yang harus dijaga. Jika hutan kopi tua berubah fungsi, maka cerita Leupeh Lalay juga akan hilang. Keberadaan pohon-pohon tua, lalay pemakan buah, serta tradisi masyarakat yang telah berlangsung turun-temurun merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Itulah sebabnya mereka terus mendorong perlindungan kawasan hutan kopi sebagai warisan alam sekaligus identitas kopi Banten.

Dengan demikian, pengembangan Kopi Leupeh Lalay tidak cukup hanya dengan memperkenalkan produknya kepada konsumen yang lebih penting adalah menjaga dan membangun ekosistem usaha yang memungkinkan petani dan pelaku UMKM memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik serta bagaimana Kopi Leupeh Lalay dapat hadir bukan hanya sebagai minuman, tetapi sebagai cerita tentang Banten dan potensi masyarakat Banten.

Dalam konteks inilah Government Goes to Society KPKNL dapat mengambil perspektif yang lebih luas. Bahwa KPKNL tidak harus menjadi pelaku usaha atau mengambil alih peran pihak yang memang memiliki kewenangan dalam pembinaan UMKM. KPKNL dapat berkontribusi melalui ruang interaksi, pengenalan potensi lokal, jejaring, dan kolaborasi sesuai dengan kewenangan serta ketentuan yang berlaku. Misalnya, kegiatan KPKNL yang melibatkan masyarakat atau pemangku kepentingan dapat memberikan ruang bagi UMKM lokal untuk memperkenalkan produknya.

Dalam sebuag kegiatan KPKNL misalnya juga dapat dilakukan dengan cerita dari awal percakapan mengena secangkir kopi yang dinikmati. Oleh karenal Kopi Leupeh Lalay memiliki sesuatu yang penting dalam membangun identitas produk lokal mengenai cerita dibaliknya. Cerita tentang Gunung Karang, cerita tentang petani, cerita tentang kelelawar dan ekosistem, cerita tentang proses alami, cerita tentang masyarakat yang berusaha meningkatkan kualitas produk, dan yang tidak kalah penting, cerita tentang bagaimana potensi lokal dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Pengenalan Kopi Leupeh Lalay melalui Government Goes to Society sebaiknya tidak berhenti pada kegiatan promosi, yang lebih penting adalah membangun jejaring. KPKNL dapat membuka ruang komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan ekonomi lokal. Pemerintah daerah, komunitas, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dapat memiliki peran masing-masing. Pemerintah daerah dapat menjalankan pembinaan sesuai kewenangannya. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui penelitian dan pendampingan. Dunia usaha dapat membuka peluang pasar atau program tanggung jawab sosial dan lingkungan sesuai ketentuan. Komunitas dapat membantu membangun narasi dan promosi. Sementara pelaku UMKM dan petani tetap menjadi aktor utama dalam pengembangan produknya. Dalam ekosistem seperti ini, KPKNL dapat menjadi salah satu simpul penghubung atau penggerak dan fasilitator kegiatan yang mempertemukan berbagai potensi tersebut melalui ruang-ruang kolaborasi yang dimilikinya yang kemudiai dapat berkembang menjadi gerakan bersama untuk menciptakan manfaat sosial.

 

Penutup

Semangat Government Goes to Society pada akhirnya bukan hanya mengenai seberapa sering KPKNL melakukan kegiatan di luar kantor, yang lebih penting adalah apakah kehadiran tersebut mampu membuka ruang perjumpaan antara pemerintah dan masyarakat. Bukan sekadar memberi bantuan, tetapi menghadirkan manfaat. Bukan hanya sebuah kegiatan, tetapi upaya membangun kepedulian dan keberlanjutan. Pada akhirnya bukan tentang seberapa banyak yang kita berikan, tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang dapat kita tinggalkan atau apakah setelah kegiatan tersebut kehidupan masyarakat dapat menjadi sedikit lebih baik.

Di tengah gempuran industri kopi modern, Kopi Leupeh Lalay menunjukkan bahwa keunikan lokal masih memiliki tempat di pasar dunia. Dari biji kopi yang dipilih kelelawar, dipungut oleh tangan-tangan perempuan desa, lalu diolah dengan penuh ketelitian, lahirlah secangkir kopi yang bukan sekadar minuman, melainkan cerita tentang alam, manusia, dan budaya yang berjalan beriringan di kota Banten.

Kopi Leupeh Lalay dapat menjadi salah satu contoh sederhana mengenai makna yang lebih luas dari Government Goes to Society. Bahwa dari sebuah produk lokal, KPKNL dapat belajar mengenal potensi masyarakat. Dari sebuah cerita kopi, masyarakat dapat mengenal lebih jauh keberadaan KPKNL. Dan dari sebuah kegiatan sederhana, dapat terbentuk jejaring antara pemerintah, masyarakat, UMKM, komunitas, perguruan tinggi, dan dunia usaha.

Pemerintah hadir bukan hanya untuk memberikan pelayanan, tetapi juga untuk mengenal potensi masyarakat, membuka ruang kolaborasi, dan bersama-sama menciptakan nilai bagi lingkungan sosial di sekitarnya.

 

Penulis: Syam Anugrah

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon