Government Goes to Society: KPKNL Hadir Mendukung Pengembangan UMKM Lokal
Aisyah Sri Kusuma Dewi
Senin, 28 September 2026 |
51 kali
Kehadiran pemerintah selama
ini sering kali dipersepsikan melalui pelayanan yang diberikan di kantor.
Kantor pemerintahan pada hakikatnya hanya diwujudkan melalui penyelenggaraan
pelayanan publik dan pelaksanaan tugas pemerintahan dimana masyarakat datang
ketika memiliki kebutuhan, memperoleh pelayanan, kemudian menyelesaikan
urusannya.
Dalam perkembangan, ekspektasi
masyarakat terhadap pola pemerintah dalam pelayanan publik menuntut adanya
hubungan yang lebih terbuka dan komunikatif, sehingga pemerintah perlu
membangun hubungan yang lebih dekat dan konstruktif dengan masyarakat sebagai
bagian dari upaya meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah.
Di tengah berbagai program dan
rutinitas pelayanan publik atau di balik setiap kebijakan, angka, dokumen, dan
administrasi kantor pemerintahan, terdapat masyarakat yang menjadi tujuan utama
dari hadirnya sebuah negara/pemerintahan. Bukan pemerintah yang hanya hadir
ketika ada program, tetapi pemerintah yang hadir karena memiliki kepedulian.
Bukan hubungan yang hanya berlangsung ketika masyarakat membutuhkan pelayanan,
tetapi hubungan yang dibangun melalui kepercayaan dan kebersamaan.
Kedekatan pemerintah dengan
masyarakat tidak hanya dibangun melalui kualitas layanan, tetapi juga melalui
kesempatan untuk berinteraksi secara langsung, memahami kondisi sosial
masyarakat, serta membangun komunikasi yang lebih personal dan humanis. Tidak
berhenti pada pembagian bantuan atau kegiatan sosial yang bersifat seremonial
atau bisa dikatakan masyarakat bukan hanya ditempatkan sebagai penerima
bantuan, tetapi sebagai mitra yang memiliki potensi untuk berkembang. Bagaimana
kantor pemerintahan dapat menjadi ruang untuk membangun kepedulian, memperkuat
hubungan dengan masyarakat, sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi
lingkungan sekitar.
Kehadiran pemerintah tidak
selalu harus terlihat melalui pembangunan fisik berskala besar. Hal ini bisa
diwujudkan dalam berbagai bentuk sederhana, mulai dari kegiatan dan bantuan
kecil-kecilan dari para pegawai, kegiatan menjaga dan merawat fasilitas publik,
penghijauan lingkungan, sampai dengan dukungan kepada kelompok masyarakat yang
membutuhkan dan pemberdayaan UMKM. Nilai terpentingnya juga bukan terletak pada
seberapa besar bantuan yang diberikan, melainkan seberapa besar manfaat yang
dirasakan. Sebuah kegiatan bersih-bersih mungkin hanya berlangsung beberapa
jam. Tetapi kesadaran untuk menjaga lingkungan dapat menjadi kebiasaan yang diwariskan
dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebuah paket bantuan mungkin hanya
bertahan beberapa hari, namun sebuah program pemberdayaan dapat menciptakan
kesempatan yang bertahan jauh lebih lama.
Kegiatan akan memberikan
dampak yang lebih besar ketika dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan
banyak pihak. Pegawai dapat menjadi penggerak, masyarakat menjadi mitra dan
komunitas menjadi bagian dari solusi. Dunia usaha, pemerintah daerah, maupun
lembaga lainnya dapat dilibatkan sesuai dengan kapasitas masing-masing. Dengan
kolaborasi tersebut, sebuah kegiatan kecil dapat berkembang menjadi gerakan
bersama. Tidak harus berskala besar, konsistensi, kebermanfaatan, keterbukaan,
dan kualitas interaksi justru menjadi faktor penting dalam membangun kedekatan,
sehingga Pemerintah tidak hanya hadir untuk memberikan sesuatu kepada
masyarakat, tetapi juga hadir
untuk belajar dari masyarakat.
Ketika kepedulian menjadi
kebiasaan, akan berubah menjadi budaya, dan ketika budaya kepedulian tumbuh di
lingkungan pemerintahan, masyarakat tidak hanya melihat pemerintah sebagai
pemberi layanan, tetapi juga merasakan pemerintah sebagai bagian dari kehidupan
mereka. Pemerintahan tidak hanya dipandang sebagai kantor yang menjalankan
fungsi pemerintahan, tetapi juga sebagai bagian dari lingkungan sosial tempat
instansi tersebut berada.
Government Goes to Society hadir
dengan semangat tersebut. Government Goes to Society merupakan upaya
untuk menghadirkan wajah pemerintah yang lebih dekat dengan masyarakat. Government
Goes to Society bukan dimaksudkan untuk menggantikan tugas dan fungsi utama
kantor pemerintahan. Sebaliknya, pendekatan ini menjadi sarana untuk memperkuat
hubungan kelembagaan dengan masyarakat.
Konsep ini juga sejalan dengan
semangat transformasi pelayanan publik yang menempatkan masyarakat sebagai
bagian penting dalam penyelenggaraan pemerintahan, dimana bahwa kepercayaan
publik tidak terbentuk hanya melalui kebijakan dan regulasi, kepercayaan juga
tumbuh dari pengalaman masyarakat ketika berinteraksi dengan pemerintah. Oleh
karena itu, setiap kegiatan Government Goes to Society perlu ditempatkan
sebagai bagian dari upaya membangun public trust.
Dengan demikian, kantor
pemerintah tidak hanya menjadi tempat masyarakat memperoleh layanan, tetapi
juga menjadi mitra yang hadir
dalam kehidupan masyarakat. Jadi, Government Goes to
Society merupakan perubahan
pendekatan dalam membangun hubungan antara pemerintah dan masyarakat.
KPKNL Hadir Mendukung
Pengembangan UMKM Lokal
Government Goes to Society dapat
menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat kedekatan antara Kantor
Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) dengan masyarakat. Melalui Government
Goes to Society, KPKNL dapat menghadirkan semangat bahwa pemerintah tidak
berada di luar masyarakat, melainkan merupakan bagian dari masyarakat itu
sendiri. KPKNL hadir
untuk melayani, tetapi kedekatan dibangun dengan cara hadir, mendengar, peduli,
dan berkolaborasi bersama masyarakat. Dengan semangat
tersebut, Government Goes to Society diharapkan menjadi salah satu
langkah nyata dalam membangun KPKNL
yang semakin dekat, terbuka, humanis, dan dipercaya masyarakat.
Government Goes to Society
dibangun dengan prinsip kemitraan, bahwa masyarakat tidak semata-mata
ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai bagian dari ekosistem
sosial yang dapat memberikan kontribusi, gagasan, dan masukan kepada
pemerintah.
Melalui pendekatan Government
Goes to Society, KPKNL diharapkan dapat membangun Citra Sebagai Institusi
Pemerintah yang tidak hanya melayani,
tetapi juga hadir, peduli,
dan membangun hubungan dengan masyarakat. KPKNL memiliki
kesempatan untuk membangun identitas kelembagaan yang tidak hanya kuat dari
sisi profesionalitas dan kualitas layanan, tetapi juga humanis dalam membangun
hubungan dengan masyarakat.
Kehadiran KPKNL di tengah
masyarakat diharapkan dapat memperkuat komunikasi, memperluas jejaring
kolaborasi, meningkatkan kepedulian sosial, sekaligus membangun hubungan
kelembagaan yang lebih positif. KPKNL memiliki ruang untuk hadir dalam
kehidupan sosial masyarakat melalui kegiatan edukasi, kepedulian sosial,
lingkungan, kebudayaan, kepemudaan, serta kegiatan kemasyarakatan lainnya yang
relevan dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pada saat yang sama,
masyarakat memiliki kesempatan untuk mengenal KPKNL tidak hanya sebagai sebuah
institusi. Interaksi yang lebih terbuka diharapkan dapat mengurangi jarak
psikologis antara masyarakat dengan pemerintah. Masyarakat dapat melihat bahwa
pemerintah bukanlah entitas yang jauh dan formal semata.
Salah satu potensi lokal yang
saat ini dapat menjadi bagian dari semangat Government
Goes to Society bagi KPKNL Serang yaitu pengembangan UMKM penghasil
Kopi Leupeh Lalay dari
kawasan Gunung Karang, Pandeglang, Banten.
Kopi ini memiliki keunikan
yang tidak hanya terletak pada cita rasanya, tetapi juga pada proses
terbentuknya. Leupeh lalay
dalam konteks kopi Banten merujuk pada biji kopi yang telah diambil oleh
kelelawar dari buah kopi yang matang, kemudian dilepehkan kembali. Proses alami
tersebut menjadi bagian dari karakteristik yang membedakan kopi ini dari produk
kopi pada umumnya. Menariknya, proses alami ini dapat menjadi pesaing terhadap
fenomena semaraknya Kopi Luwak dengan aroma dan bau yang khas sehingga bernilai
tinggi namun berasal dari kotoran luwak sehingga kehalalannya masih
kontroversi.
Keunikan Kopi Lepeh Lalay ini
bukan semata-mata cerita mengenai produk kopi dimaksud mulai dari biji yang
dipanen, disangrai, kemudian diseduh, tapi di baliknya terdapat cerita mengenai
petani, lingkungan, pengetahuan lokal, dan
potensi ekonomi masyarakat Banten.
Cerita awal pengembangan Kopi
Leupeh Lalay dimulai pada tahun 2019 ketika harga kopi petani masih relatif
rendah karena hanya dikonsumsi masyarakat sekitar. Namun kemudian muncul ide yang lebih besar mengenai
yakni bagaimana menghadirkan identitas kopi khas Banten agar dapat dikenal
lebih luas lagi. Saat itu, para pelaku usaha kopi di Pandeglang berupaya
mencari cara agar kopi memiliki nilai tambah yang lebih tinggi melalui upaya
perbaikan kualitas pasca panen, mulai dari penyortiran,
perambangan, pencucian, hingga pengolahan sesuai standar kopi nasional.
Perbaikan teknik pengolahan tersebut dimulai tahun 2020 sehingga kualitas kopi
meningkat secara signifikan. Proses pencucian dilakukan lebih baik, penyortiran
lebih ketat, serta penyangraian menggunakan mesin dengan profil khusus yang
sesuai dengan karakter kopi tersebut. Hasilnya, muncul cita rasa yang kompleks
dengan tingkat kemanisan alami yang tinggi, aroma kacang dan cokelat yang kuat,
serta keseimbangan rasa asam, pahit, dan manis yang harmonis.
Keunikan rasa tersebut menarik
perhatian para pegiat kopi dan juri nasional. Kopi Leupeh Lalay kemudian
diikutsertakan dalam berbagai ajang kurasi dan penilaian kopi spesialis. Pada tahun 2022, kopi ini berhasil meraih Juara 1
tingkat nasional wilayah Jawa-Bali. Prestasi tersebut menjadi tonggak penting
yang mengukuhkan Kopi Leupeh Lalay sebagai salah satu kopi spesialis unggulan dari Banten.
Keberhasilan ini juga membawa
dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Jika sebelumnya harga kopi
petani hanya sekitar Rp12.000 per kilogram, kopi Leupeh Lalay kini memiliki
nilai jual yang jauh lebih tinggi. Pada awal pengembangannya, harga green
bean mencapai Rp250.000 per kilogram. Seiring meningkatnya kualitas dan
pengakuan pasar, harga tersebut bahkan mencapai Rp500.000 per kilogram.
Menariknya, seluruh proses
pengumpulan biji kopi Leupeh Lalay dilakukan oleh kelompok perempuan yang
dibentuk khusus untuk mengelola kopi ini. Kopi tersebut dikumpulkan
dari hutan kopi tua di kawasan Gunung
Karang. Pohon-pohon kopi yang tumbuh tinggi hingga mencapai lebih dari 10 meter
membuat sebagian buah kopi sulit dipanen oleh manusia. Buah-buah yang matang
sempurna justru lebih dahulu dipilih oleh lalay atau kelelawar pemakan buah.
Hewan ini memakan bagian daging buah kopi yang manis, kemudian meludahkan
bijinya ke tanah. Biji-biji kopi yang masih terlindungi kulit tanduk dan kulit
ari tersebut kemudian dikumpulkan oleh masyarakat setempat, terutama kaum
perempuan. Mereka menyusuri kawasan hutan setiap pagi untuk mengumpulkan
biji-biji kopi yang telah dipilih dan dilepeh oleh lalay. Kelompok ini menjadi
contoh nyata bagaimana pemberdayaan perempuan dapat berkontribusi dalam
menciptakan produk bernilai tinggi sekaligus meningkatkan kesejahteraan
keluarga.
Dari proses alami inilah muncul
istilah "Leupeh Lalay", yang berarti kopi hasil lepehan atau ludahan
lalay. Berbeda dengan kopi luwak yang melalui proses pencernaan hewan, pada
Kopi Leupeh Lalay biji kopi hanya mengalami pemisahan daging buah oleh lalay
tanpa masuk ke sistem pencernaan. Hal ini membuat karakter asli biji kopi tetap
terjaga kehalalannya sekaligus menghadirkan keunikan tersendiri.
Kawasan Gunung Karang memiliki
ekosistem yang mendukung keberadaan kelelawar dan tanaman kopi. Karena itu,
Kopi Leupeh Lalay dapat dilihat sebagai produk yang mempertemukan unsur
pertanian, keanekaragaman hayati, dan kreativitas masyarakat dalam
mengembangkan komoditas lokal. Inilah yang membuat produk lokal memiliki
potensi untuk menjadi bagian dari identitas daerah.
Produksi Kopi Leupeh Lalay memang
sangat terbatas. Dalam satu tahun, hasil yang diperoleh hanya sekitar 250
kilogram. Keterbatasan produksi inilah yang menjadikan kopi ini tergolong
eksklusif. Sebagian produksinya dipasarkan untuk kebutuhan lokal dan UMKM
Banten, sementara sebagian lainnya telah menembus pasar internasional. Bahkan
pada tahun terakhir, sebagian hasil produksi telah dibeli oleh pembeli dari
Perancis.
Kopi Leupeh Lalay membuktikan
bahwa produk unggulan tidak selalu lahir dari teknologi modern. Perpaduan
antara kearifan lokal, proses alami, keterampilan masyarakat, dan komitmen
menjaga lingkungan mampu menghasilkan kopi berkualitas tinggi yang diakui
hingga mancanegara. Lebih dari sekadar minuman, Kopi Leupeh Lalay adalah simbol
identitas Banten, warisan hutan kopi tua, dan bukti bahwa kekayaan alam lokal
dapat menjadi kebanggaan dunia.
Potensi Kopi Leupeh Lalay
menunjukkan bahwa sebuah produk lokal dapat memiliki nilai lebih ketika cerita
di balik produk tersebut mampu dikomunikasikan dengan baik. Cerita Kopi Leupeh
Lalay juga memperlihatkan bahwa potensi ekonomi daerah sering kali sudah
tersedia di tengah masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut
dapat diolah, dikembangkan, dipasarkan, dan diperkenalkan secara lebih luas.
Pendampingan yang dilakukan
oleh Bank Indonesia terhadap petani kopi di kawasan Gunung Karang ini menjadi salah satu contoh penting yang dilakukan oleh Kantor Pemerintahan. Setelah
memperoleh pengetahuan mengenai pemanenan buah yang matang dan pengolahan
pascapanen, petani didorong untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus
meningkatkan nilai ekonominya dan kemudian dilaporkan adanya peningkatan
pendapatan petani setelah dilakukan pendampingan dalam pengolahan kopi ini.
Kopi yang sebelumnya hanya
dipandang sebagai hasil kebun dapat berkembang menjadi produk unggulan. Hasil
kebun dapat menjadi produk olahan. Produk olahan dapat menjadi identitas
daerah. Dan identitas daerah pada akhirnya dapat menjadi sumber nilai ekonomi
bagi masyarakat. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi tidak selalu dimulai dari
sesuatu yang baru. Terkadang, pemberdayaan dimulai dengan
membantu masyarakat mengenali nilai dari sesuatu yang sebenarnya sudah mereka
miliki.
Di balik keberhasilan tersebut, terdapat
tantangan besar yang harus dijaga bersama, yaitu kelestarian hutan kopi tua
Gunung Karang. Kawasan ini tidak hanya menjadi sumber ekonomi masyarakat,
tetapi juga menyimpan keragaman genetik kopi yang langka. Berbagai varietas
kopi masih tumbuh alami di kawasan tersebut karena statusnya sebagai hutan yang
terjaga selama puluhan bahkan ratusan tahun. Oleh karena itu, pelestarian
kawasan ini menjadi kunci keberlangsungan Kopi Leupeh Lalay di masa depan. Bagi
para penggerak kopi di Pandeglang, Leupeh Lalay bukan sekadar komoditas. Di
balik secangkir kopi terdapat ekosistem yang harus dijaga. Jika hutan kopi tua
berubah fungsi, maka cerita Leupeh Lalay juga akan hilang. Keberadaan pohon-pohon
tua, lalay pemakan buah, serta tradisi masyarakat yang telah berlangsung
turun-temurun merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Itulah
sebabnya mereka terus mendorong perlindungan kawasan hutan kopi sebagai warisan
alam sekaligus identitas kopi Banten.
Dengan demikian, pengembangan
Kopi Leupeh Lalay tidak cukup hanya dengan memperkenalkan produknya kepada
konsumen yang lebih penting adalah menjaga dan membangun ekosistem usaha yang memungkinkan petani dan
pelaku UMKM memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik serta bagaimana Kopi
Leupeh Lalay dapat hadir bukan hanya sebagai minuman, tetapi sebagai cerita tentang Banten dan potensi masyarakat
Banten.
Dalam konteks inilah Government
Goes to Society KPKNL dapat mengambil perspektif yang lebih luas. Bahwa KPKNL tidak harus menjadi
pelaku usaha atau mengambil alih peran pihak yang memang memiliki kewenangan
dalam pembinaan UMKM. KPKNL dapat berkontribusi melalui ruang interaksi, pengenalan potensi lokal,
jejaring, dan kolaborasi sesuai dengan kewenangan
serta ketentuan yang berlaku. Misalnya, kegiatan KPKNL yang melibatkan
masyarakat atau pemangku kepentingan dapat memberikan ruang bagi UMKM lokal
untuk memperkenalkan produknya.
Dalam sebuag kegiatan KPKNL
misalnya juga dapat dilakukan dengan cerita dari awal percakapan mengena
secangkir kopi yang dinikmati. Oleh karenal Kopi Leupeh Lalay memiliki sesuatu
yang penting dalam membangun identitas produk lokal mengenai cerita dibaliknya.
Cerita tentang Gunung Karang, cerita tentang petani, cerita tentang kelelawar
dan ekosistem, cerita tentang proses alami, cerita tentang masyarakat yang
berusaha meningkatkan kualitas produk, dan yang tidak kalah penting, cerita
tentang bagaimana potensi lokal dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Pengenalan Kopi Leupeh Lalay
melalui Government Goes to Society sebaiknya tidak berhenti pada
kegiatan promosi, yang lebih penting adalah membangun jejaring. KPKNL dapat
membuka ruang komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan yang memiliki
kepedulian terhadap pengembangan ekonomi lokal. Pemerintah daerah, komunitas,
perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dapat memiliki peran
masing-masing. Pemerintah daerah dapat menjalankan pembinaan sesuai
kewenangannya. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui penelitian dan
pendampingan. Dunia usaha dapat membuka peluang pasar atau program tanggung
jawab sosial dan lingkungan sesuai ketentuan. Komunitas dapat membantu
membangun narasi dan promosi. Sementara pelaku UMKM dan petani tetap menjadi
aktor utama dalam pengembangan produknya. Dalam ekosistem seperti ini, KPKNL
dapat menjadi salah satu simpul
penghubung atau penggerak dan fasilitator kegiatan
yang mempertemukan berbagai potensi tersebut melalui ruang-ruang kolaborasi
yang dimilikinya yang kemudiai dapat berkembang menjadi gerakan bersama untuk menciptakan manfaat
sosial.
Penutup
Semangat Government Goes to
Society pada akhirnya bukan hanya mengenai seberapa sering KPKNL melakukan
kegiatan di luar kantor, yang lebih penting adalah apakah kehadiran tersebut
mampu membuka ruang perjumpaan antara pemerintah dan masyarakat. Bukan sekadar memberi bantuan, tetapi
menghadirkan manfaat. Bukan hanya sebuah kegiatan, tetapi upaya membangun
kepedulian dan keberlanjutan. Pada akhirnya bukan tentang seberapa banyak yang
kita berikan, tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang dapat kita
tinggalkan atau apakah setelah kegiatan tersebut kehidupan masyarakat dapat menjadi
sedikit lebih baik.
Di tengah gempuran industri kopi modern, Kopi
Leupeh Lalay menunjukkan bahwa keunikan lokal masih memiliki tempat di pasar
dunia. Dari biji kopi yang dipilih kelelawar, dipungut oleh tangan-tangan
perempuan desa, lalu diolah dengan penuh ketelitian, lahirlah secangkir kopi
yang bukan sekadar minuman, melainkan cerita tentang alam, manusia, dan budaya
yang berjalan beriringan di kota Banten.
Kopi Leupeh Lalay dapat
menjadi salah satu contoh sederhana mengenai makna yang lebih luas dari Government Goes to Society.
Bahwa dari sebuah produk lokal, KPKNL dapat belajar mengenal potensi
masyarakat. Dari sebuah cerita kopi, masyarakat dapat mengenal lebih jauh
keberadaan KPKNL. Dan dari sebuah kegiatan sederhana, dapat terbentuk jejaring
antara pemerintah, masyarakat, UMKM, komunitas, perguruan tinggi, dan dunia
usaha.
Pemerintah hadir bukan hanya untuk memberikan pelayanan, tetapi juga
untuk mengenal potensi masyarakat, membuka ruang kolaborasi, dan bersama-sama
menciptakan nilai bagi lingkungan sosial di sekitarnya.
Penulis: Syam Anugrah
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |