MELAWAT KE BANTEN GIRANG, MEMBUKA KAPSUL WAKTU BANTEN PRA ISLAM
Juliati
Selasa, 20 Desember 2022 |
2133 kali
Ketika
membicarakan Banten, imaji tentang peninggalan Kesultanan Banten dan peradaban
Islam dengan pelabuhan-pelabuhan internasional melekat dalam benak kita. Tidak
jauh dari pusat kota Serang saat ini, terdapat petilasan Banten Girang, ibu
kota di pedalaman Banten sebelum kesultanan di bawah Raja Sunda. Sekarang ini ciri
khas yang paling kuat dari Banten Girang yang dapat kita lihat adalah goa
buatan di pinggir aliran Sungai Cibanten.
Siapa sangka ternyata pada abad ke-14, Banten Girang adalah kota dengan
teknologi canggih dan telah berjejaring internasional.
Penulis
termasuk beruntung karena bisa menghadiri seminar yang dilaksanakan oleh Museum
Negeri Banten yang menghadirkan Sonny C. Wibisono, arkeolog kawak yang meneliti
Banten Girang (23/3/2021). Penelitian Banten Girang merupakan kerja sama pihak
Indonesia dengan pemerintah Perancis. Presentasi Sonny seolah kapsul waktu membawa
audiens ke Banteng Girang tempo dulu.
Banten Girang
disebut pertama kali pada Babad Banten, sumber sejarah yang pada awalnya
dianggap lebih rendah dibandingkan sumber sejarah dari barat seperti tulisan,
peta kartal Kota Lama Banten. Dengan perspektif sejarah baru, bahwa orang
nusantara cenderung menuliskan sejarah melalui cerita, Babad Banten mulai
dijadikan sebagai sumber sejarah untuk mengetahui Peradaban Banten. Semenjak
itu, pada tahun 1988 penelitian tentang Banten Girang mulai dilakukan.
Banten Girang
sendiri memiliki luas delapan hektar. Balai Pelestarian dan Peninggalan
Purbakala Banten saat ini telah berhasil mengidentifikasi 17 situs. Banten
Girang adalah sebuah kota dengan konsep arsitektur kota dengan percampuran
benteng alami dan benteng kota buatan terbuat tanah dan parit luar hampir di seluruh
bagian batasnya. Sistem ini ditambah dengan sebuah parit dalam di bagian yang
tidak terlindungi Sungai Cibanten dikelilingi oleh neander yang curam, yang
menjadikannya benteng pertahanan yang sangat kuat.
Penempatan
situs Banten Girang sendiri merupakan hasil perhitungan matang menurut Sonny C.
Wibisono, karena ditempatkan pada banyak neander Sungai Cibanten dan
menempatkan kelokan tersebut sebagai bagian dari pertahanannya. Neander
tersebut menjadi pos penjagaan yang cukup penting dalam benteng dan bagaimana
neander tersebut dipotong menjadi jalan-jalan inspeksi. Parit bukan hanya
sebagai pertahanan tapi juga saluran untuk mengeluarkan air.
Bagian barat
Banten Girang merupakan wilayah cekungan buatan seperti telaga. Daerah ini
terdapat nipah-nipah di mana saat musim hujan ikan dari Sungai Cibanten akan
naik ke atas dan masuk ke pedalaman untuk bertelur dan kembali turun ke sungai.
Selokan Banten Girang dengan mengatur aliran air memungkinkan ikan-ikan tidak turun
ke sungai. Sayangnya, karena pembangunan yang masif membuat struktur ini
hilang.
Sonny C.
Wibisono dan Claude Guilliot memulai meneliti Banten Girang melalui petilasan
makam Ki Mas Jong dan Ki Agus Ju, dan gua. Dalam penelitian tersebut
mendapatkan bahwa Banten Girang ada jauh sebelum peradaban Islam ada. Dalam
penelitian tersebut menemukan keramik dari Cina dan manik-manik dari India,
penemuan arkeologi membuktikan bahwa Banten Girang sudah terkait dengan
struktur jaringan internasional yang sangat luas. Berbeda sekali dengan
anggapan sebelumnya bahwa Banten muncul pada tahun 1500an. Dengan penanggalan
karbon atas keramik dan manik-manik disimpulkan bahwa peradaban Banten muncul
pada abad 9, dengan puncak kira-kira abad 12 sampai dengan abad 14. Pada
penelitian tersebut juga menemukan begitu banyak bukti yang menunjukkan adanya pengolahan
logam.
Konsep jaringan
Banten Girang cukup istimewa, konsep yang sulit ditemukan pada konsep kota
modern saat ini. Jaringan antar saling terhubung satu sama lain dan bagaimana
perekonomian pedalaman dan pesisir saling menghidupi. Lada, yang merupakan
komoditas utama yang diyakini baru ada saat peradaban islam ada, dari
penelitian tersebut ternyata jauh sebelum itu sudah ada. Tanaman lada banyak
ditanam di sisi pedalaman, contohnya di daerah Pulosari. Hal ini dibuktikan
dengan penemuan lada-lada tua yang telah lama ditinggalkan di Pulosari dan
penemuan alat penggilas lada. Tanaman Lada menyebabkan Banten menjadi kota yang
sangat besar dan terhubung dengan jaringan di Asia seperti Jepang dan Cina. Jalan
darat dan Sungai Cibanten inilah menghubungkan pedalaman dan pesisir yang
memungkinkan adanya keberlanjutan persediaan lada yang terjaga dengan
terhubungnya petani lada, pengumpul dan raja-raja sunda sebagai pengepul akhir.
Sampai saat
ini belum ada bukti yang kuat Banten Girang musnah karena bencana alam, hipotesis
terkuat adalah musnah akibat perang. Semenjak Banten Girang tunduk pada
penguasa Pajajaran pada abad 14, kegiatan perniagaan dipindahkan dari Banten
Girang ke pelabuhan-pelabuhan yang mendekati Ibu kota seperti Sunda Kelapa.
Pada abad ke-16 Banten Girang mulai pulih menemukan puncak kejayaan di masa
lalu akan tetapi pada akhir 1520 Kerajaan Demak melancarkan serangan militer ke
Banten Girang dan berhasil menguasainya pada tahun 1526. Kerajaan Demak kemudian
mengangkat Hasanudin menjadi pemimpin. Hasanudin memimpin selama beberapa tahun
sebelum, ayahnya, Sunan Gunung Jati memerintahkannnya untuk memindahkan istana
ke pesisir, mendekati Pelabuhan Banten.
Mempertimbangkan penempatan situs, tata kota dan teknologi yang digunakan Banten Girang ini merupakan peradaban yang tidak main-main. Apalagi jika membayangkan pada abad ke 9, Banten Girang telah berjejaring dengan Asia. Banten Girang ini menjadi warisan yang penting bagi kita bagaimana peradaban Banten yang sesungguhnya, bahwa peradaban Banten dibentuk tidak hanya oleh identitas tunggal, peradaban islam di jawa, tapi oleh sejarah panjang, kejayaan penghasil biji lada dan perniagaan internasional.
Penulis : Dita Angelia Dwi Hastuti, Seksi Kepatuhan Internal KPKNL Serang
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |