Dari Akhlak Menuju Kinerja: Memperkuat Integritas Pegawai melalui Pembinaan Mental Rohani KPKNL Semarang
Arum Sekar Oktaviana
Selasa, 15 September 2026 |
41 kali
Berdasarkan
KMK Nomor 467 Tahun 2023 tentang Pedoman Pembinaan Mental di Lingkungan
Kementerian Keuangan, kegiatan pembinaan mental dilaksanakan dengan tujuan
untuk mewujudkan sumber daya manusia yang memiliki iman dan takwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, akhlak mulia,integritas, loyalitas, kebersamaan, kompetensi
tinggi, kinerja optimal, dan kesehatan fisik dan mental yang kuat. Adapun ruang
lingkup pembinaan mental antara lain mencakup 4 bidang, yakni:
1. Bidang ideologi, yang bertujuan
membentuk SDM agar memiliki jiwa nasionalisme, pemersatu dan perekat bangsa,
loyalitas, kebersamaan, dan memiliki pengabdian yang tinggi, serta rela
berkorban berdasarkan pemahaman wawasan kebangsaan, sejarah, dan tujuan
bernegara yang berlandaskan pada nilai nilai Pancasila dan UUD Tahun 1945.
Kegiatannya dapat berupa dialog sejarah dan wawasan kebangsaan, penyebaran
pesan/kisah inspiratif, kegiatan pelatihan teknis terkait dengan penguatan
karakter, peringatan/perayaan hari besar nasional, dan kegiatan lain yang dapat
mendorong terwujudnya tujuan bidang ideologi
2. Bidang Rohani, yang
bertujuan membentuk SDM yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, dan
memiliki integritas yang berlandaskan pada nilai agama dan kepercayaan kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatannya dapat berupa peringatan/perayaan hari besar
keagamaan, ibadah/doa, ceramah agama, metode pembelajaran singkat
(microlearning), dan kegiatan lain yang dapat mendorong terwujudnya tujuan
bidang Rohani
3. Bidang
kompetensi, yang bertujuan membentuk sumber daya manusia yang memiliki
pengetahuan, keterampilan, dan kepemimpinan. Kegiatannya dapat berupa coaching
dan mentoring terkait peningkatan kompetensi, kegiatan untuk meningkatkan
soliditas, kebersamaan, dan kesehatan pegawai, pembiasaan budaya, seminar
terkait kompetensi, dan kegiatan lain yang dapat mendorong terwujudnya tujuan
bidang kompetensi
4. Bidang
Kejiwaan, yang bertujuan membentuk sumber daya manusia yang memiliki kesehatan
dan ketahanan fisik dan mental yang optimal melalui pendekatan aspek kejiwaan
(psikologi). Kegiatannya dapat berupa layanan konseling, psikoedukasi,
pembentukan keluarga harmonis, bakti sosial, pembiasaan pola hidup sehat,
komunitas hobi, dan kegiatan lain yang dapat mendorong terwujudnya tujuan
bidang kejiwaan.
Terkait pelaksanaan
kegiatan pembinaan mental pada bidang rohani, KPKNL Semarang menyelenggarakan
kegiatan pembinaan mental rohani islam pada Selasa, 1 September 2026. Kinerja organisasi tidak hanya
ditentukan oleh kemampuan teknis, target yang tercapai, atau seberapa cepat
pekerjaan diselesaikan. Di balik setiap hasil kerja yang baik terdapat fondasi
yang lebih mendasar, yaitu integritas, ketulusan, tanggung jawab, serta cara
seseorang memperlakukan orang lain. Nilai-nilai inilah yang menjadi salah satu
pesan penting dalam kegiatan pembinaan mental bidang rohani KPKNL Semarang.
Kegiatan pembinaan mental dilaksanakan secara luring di
Mushola KPKNL Semarang dan secara daring yang mengangkat tema “Meneladani
Akhlak Mulia Nabi Muhammad SAW untuk Kedamaian Hati dan Harmoni Sosial”.
Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi ruang untuk tidak hanya mengenang
keteladanan Rasulullah, tetapi juga menerjemahkan nilai-nilai akhlak ke dalam
perilaku kerja sehari-hari.
Integritas
sebagai Fondasi Kinerja
Dalam sambutannya, Kepala
KPKNL Semarang, Soeparjanto, menyampaikan bahwa kegiatan pembinaan mental merupakan
bagian dari upaya menginternalisasi dan memperkuat nilai-nilai Kementerian
Keuangan. Kegiatan tersebut juga memiliki relevansi KPKNL Semarang dalam
menjaga keberlanjutan Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi (ZI WBK).
Pesan tersebut
memperlihatkan bahwa integritas dan kinerja pada hakikatnya tidak dapat
dipisahkan. Pegawai dengan kompetensi tinggi memang mampu menghasilkan
pekerjaan yang baik, tetapi integritas memastikan bahwa pekerjaan tersebut
dilakukan dengan cara yang benar. Integritas menjaga agar keputusan tidak
semata-mata mengejar hasil, tetapi juga mempertimbangkan kepatuhan terhadap
ketentuan, kejujuran, objektivitas, serta kepentingan organisasi dan
masyarakat.
Dalam lingkungan pelayanan
publik, integritas juga tercermin dari konsistensi antara apa yang dikatakan,
dilakukan, dan dipertanggungjawabkan. Ketika integritas menjadi kebiasaan,
kualitas pekerjaan tidak lagi bergantung pada ada atau tidaknya pengawasan.
Pegawai tetap menjalankan tugas dengan standar yang sama karena memiliki
kesadaran bahwa pekerjaan merupakan amanah yang harus diselesaikan sebaik
mungkin.
Karena itu, upaya menjaga
ZI WBK bukan sekadar pemenuhan indikator administratif. Substansinya justru
terletak pada pembentukan budaya kerja ketika perilaku berintegritas hadir
dalam aktivitas sehari-hari: mulai dari ketepatan dalam menyelesaikan
pekerjaan, penggunaan kewenangan secara bertanggung jawab, pelayanan yang adil,
hingga keberanian menjaga prinsip ketika menghadapi situasi yang tidak mudah.
Keikhlasan dan Profesionalisme dalam
Bekerja
Salah satu pokok
pembahasan yang disampaikan Ustadz Khoirul Amin, S.Ag. adalah mengenai
keikhlasan dalam setiap amal perbuatan. Keikhlasan berada di dalam hati dan
tidak semata-mata dapat dinilai dari apakah suatu kebaikan ditampilkan atau
disembunyikan. Yang lebih utama adalah bagaimana seseorang menjaga niatnya
dalam melakukan kebaikan tersebut.
Jika diterapkan dalam
pekerjaan, keikhlasan dapat dimaknai sebagai kesungguhan menjalankan tugas
bukan hanya untuk memperoleh pengakuan, penghargaan, maupun penilaian yang
baik, tetapi karena memahami tanggung jawab yang melekat pada pekerjaan
tersebut.
Keikhlasan tidak berarti
mengurangi orientasi pada kinerja. Justru sebaliknya, keikhlasan dapat
memperkuat profesionalisme. Target bukan sekadar angka yang harus dicapai,
tetapi bagian dari tanggung jawab untuk memberikan manfaat.
Hal ini sejalan dengan
harapan Kepala KPKNL Semarang, Soeparjanto, agar kegiatan pembinaan mental
memberikan dorongan kepada pegawai untuk tetap berkinerja dan berperilaku baik
sebagaimana akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW. Dengan demikian, kinerja yang
baik bukan hanya persoalan apa yang dicapai, tetapi juga bagaimana pencapaian
tersebut diwujudkan.
Menjadi Pegawai yang Memberikan Manfaat
Dalam pembahasan juga
disampaikan sejumlah teladan akhlak Rasulullah SAW, di antaranya menjaga
perkataan, menyenangkan orang lain, memanggil seseorang dengan panggilan yang
disenanginya, serta pesan agar menjadi manusia yang paling baik dengan menjadi
manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Nilai kebermanfaatan
tersebut sangat relevan dengan ukuran kinerja pegawai. Orientasi kinerja perlu
bergerak dari sekadar menyelesaikan pekerjaan menuju menghasilkan manfaat.
Dalam praktik sehari-hari, semangat tersebut dapat hadir dalam berbagai bentuk:
memberikan pelayanan secara responsif, menyampaikan informasi dengan jelas,
menghasilkan analisis yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan,
membantu rekan menyelesaikan pekerjaan, serta mencari cara kerja yang lebih
efektif tanpa mengabaikan ketentuan.
Sikap menyenangkan orang
lain sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW juga memiliki relevansi dengan
lingkungan kerja. Harmoni organisasi tidak berarti menghindari perbedaan
pendapat. Harmoni justru tumbuh ketika perbedaan dapat dikelola melalui
komunikasi yang saling menghormati. Pegawai tetap dapat bersikap kritis, menyampaikan
pendapat yang berbeda tanpa mengurangi penghargaan terhadap orang lain.
Integritas Dimulai dari Pilihan
Sehari-hari
Dalam sesi diskusi,
disampaikan bahwa upaya menuju kebaikan dapat dilakukan melalui perbuatan yang
memberikan dampak langsung, melalui lisan dengan mengajak kepada kebaikan,
serta melalui doa dan kepedulian. Pesan tersebut mengingatkan bahwa perubahan
tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Dalam organisasi,
integritas juga dibangun dari keputusan-keputusan sederhana yang dilakukan
secara konsisten: hadir dan bekerja dengan disiplin, menyampaikan informasi
sesuai fakta, tidak menunda pekerjaan tanpa alasan, mengakui kesalahan, menjaga
kerahasiaan informasi, menghindari konflik kepentingan, serta memperlakukan
setiap pengguna layanan secara adil.
Ketika kebiasaan tersebut
dilakukan oleh banyak pegawai secara konsisten, ia akan berkembang menjadi
budaya organisasi. Pada titik inilah integritas tidak lagi sekadar nilai yang
tertulis, tetapi menjadi cara organisasi bekerja.
Kinerja yang Baik, Cara yang Baik, dan
Tujuan yang Baik
Pembinaan mental pada
akhirnya mempunyai posisi penting dalam penguatan organisasi. Kompetensi
memberikan kemampuan kepada pegawai untuk bekerja, sementara integritas
memberikan arah mengenai bagaimana kemampuan tersebut seharusnya digunakan.
Momentum Maulid Nabi
Muhammad SAW mengingatkan bahwa keteladanan akhlak dapat diterjemahkan secara
nyata ke dalam kehidupan profesional. Kejujuran melahirkan pekerjaan yang dapat
dipercaya. Amanah menumbuhkan tanggung jawab. Kesederhanaan menjaga pegawai
dari penyalahgunaan kewenangan. Kepedulian memperkuat pelayanan. Sementara
keikhlasan membantu seseorang tetap memberikan yang terbaik bahkan ketika
pekerjaannya tidak selalu terlihat atau memperoleh apresiasi.
Dengan demikian,
keberhasilan organisasi tidak hanya ditandai oleh tercapainya indikator
kinerja, tetapi juga oleh cara indikator tersebut dicapai.
Semangat yang dibangun
melalui kegiatan pembinaan mental KPKNL Semarang menjadi pengingat bahwa
pegawai yang berkinerja unggul adalah pegawai yang mampu menghasilkan manfaat
melalui proses yang benar, menjaga amanah, menghormati sesama, dan konsisten
menjalankan nilai-nilai organisasi.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |
Foto Terkait Artikel