Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Semarang
Dari Akhlak Menuju Kinerja: Memperkuat Integritas Pegawai melalui Pembinaan Mental Rohani KPKNL Semarang

Dari Akhlak Menuju Kinerja: Memperkuat Integritas Pegawai melalui Pembinaan Mental Rohani KPKNL Semarang

Arum Sekar Oktaviana
Selasa, 15 September 2026 |   41 kali

Berdasarkan KMK Nomor 467 Tahun 2023 tentang Pedoman Pembinaan Mental di Lingkungan Kementerian Keuangan, kegiatan pembinaan mental dilaksanakan dengan tujuan untuk mewujudkan sumber daya manusia yang memiliki iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia,integritas, loyalitas, kebersamaan, kompetensi tinggi, kinerja optimal, dan kesehatan fisik dan mental yang kuat. Adapun ruang lingkup pembinaan mental antara lain mencakup 4 bidang, yakni:

1.       Bidang ideologi, yang bertujuan membentuk SDM agar memiliki jiwa nasionalisme, pemersatu dan perekat bangsa, loyalitas, kebersamaan, dan memiliki pengabdian yang tinggi, serta rela berkorban berdasarkan pemahaman wawasan kebangsaan, sejarah, dan tujuan bernegara yang berlandaskan pada nilai nilai Pancasila dan UUD Tahun 1945. Kegiatannya dapat berupa dialog sejarah dan wawasan kebangsaan, penyebaran pesan/kisah inspiratif, kegiatan pelatihan teknis terkait dengan penguatan karakter, peringatan/perayaan hari besar nasional, dan kegiatan lain yang dapat mendorong terwujudnya tujuan bidang ideologi

2.    Bidang Rohani, yang bertujuan membentuk SDM yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, dan memiliki integritas yang berlandaskan pada nilai agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatannya dapat berupa peringatan/perayaan hari besar keagamaan, ibadah/doa, ceramah agama, metode pembelajaran singkat (microlearning), dan kegiatan lain yang dapat mendorong terwujudnya tujuan bidang Rohani

3.    Bidang kompetensi, yang bertujuan membentuk sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepemimpinan. Kegiatannya dapat berupa coaching dan mentoring terkait peningkatan kompetensi, kegiatan untuk meningkatkan soliditas, kebersamaan, dan kesehatan pegawai, pembiasaan budaya, seminar terkait kompetensi, dan kegiatan lain yang dapat mendorong terwujudnya tujuan bidang kompetensi

4.    Bidang Kejiwaan, yang bertujuan membentuk sumber daya manusia yang memiliki kesehatan dan ketahanan fisik dan mental yang optimal melalui pendekatan aspek kejiwaan (psikologi). Kegiatannya dapat berupa layanan konseling, psikoedukasi, pembentukan keluarga harmonis, bakti sosial, pembiasaan pola hidup sehat, komunitas hobi, dan kegiatan lain yang dapat mendorong terwujudnya tujuan bidang kejiwaan.

Terkait pelaksanaan kegiatan pembinaan mental pada bidang rohani, KPKNL Semarang menyelenggarakan kegiatan pembinaan mental rohani islam pada Selasa, 1 September 2026. Kinerja organisasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, target yang tercapai, atau seberapa cepat pekerjaan diselesaikan. Di balik setiap hasil kerja yang baik terdapat fondasi yang lebih mendasar, yaitu integritas, ketulusan, tanggung jawab, serta cara seseorang memperlakukan orang lain. Nilai-nilai inilah yang menjadi salah satu pesan penting dalam kegiatan pembinaan mental bidang rohani KPKNL Semarang.

Kegiatan pembinaan mental dilaksanakan secara luring di Mushola KPKNL Semarang dan secara daring yang mengangkat tema “Meneladani Akhlak Mulia Nabi Muhammad SAW untuk Kedamaian Hati dan Harmoni Sosial”. Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi ruang untuk tidak hanya mengenang keteladanan Rasulullah, tetapi juga menerjemahkan nilai-nilai akhlak ke dalam perilaku kerja sehari-hari.

 

Integritas sebagai Fondasi Kinerja

Dalam sambutannya, Kepala KPKNL Semarang, Soeparjanto, menyampaikan bahwa kegiatan pembinaan mental merupakan bagian dari upaya menginternalisasi dan memperkuat nilai-nilai Kementerian Keuangan. Kegiatan tersebut juga memiliki relevansi KPKNL Semarang dalam menjaga keberlanjutan Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi (ZI WBK).

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa integritas dan kinerja pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan. Pegawai dengan kompetensi tinggi memang mampu menghasilkan pekerjaan yang baik, tetapi integritas memastikan bahwa pekerjaan tersebut dilakukan dengan cara yang benar. Integritas menjaga agar keputusan tidak semata-mata mengejar hasil, tetapi juga mempertimbangkan kepatuhan terhadap ketentuan, kejujuran, objektivitas, serta kepentingan organisasi dan masyarakat.

Dalam lingkungan pelayanan publik, integritas juga tercermin dari konsistensi antara apa yang dikatakan, dilakukan, dan dipertanggungjawabkan. Ketika integritas menjadi kebiasaan, kualitas pekerjaan tidak lagi bergantung pada ada atau tidaknya pengawasan. Pegawai tetap menjalankan tugas dengan standar yang sama karena memiliki kesadaran bahwa pekerjaan merupakan amanah yang harus diselesaikan sebaik mungkin.

Karena itu, upaya menjaga ZI WBK bukan sekadar pemenuhan indikator administratif. Substansinya justru terletak pada pembentukan budaya kerja ketika perilaku berintegritas hadir dalam aktivitas sehari-hari: mulai dari ketepatan dalam menyelesaikan pekerjaan, penggunaan kewenangan secara bertanggung jawab, pelayanan yang adil, hingga keberanian menjaga prinsip ketika menghadapi situasi yang tidak mudah.

Keikhlasan dan Profesionalisme dalam Bekerja

Salah satu pokok pembahasan yang disampaikan Ustadz Khoirul Amin, S.Ag. adalah mengenai keikhlasan dalam setiap amal perbuatan. Keikhlasan berada di dalam hati dan tidak semata-mata dapat dinilai dari apakah suatu kebaikan ditampilkan atau disembunyikan. Yang lebih utama adalah bagaimana seseorang menjaga niatnya dalam melakukan kebaikan tersebut.

Jika diterapkan dalam pekerjaan, keikhlasan dapat dimaknai sebagai kesungguhan menjalankan tugas bukan hanya untuk memperoleh pengakuan, penghargaan, maupun penilaian yang baik, tetapi karena memahami tanggung jawab yang melekat pada pekerjaan tersebut.

Keikhlasan tidak berarti mengurangi orientasi pada kinerja. Justru sebaliknya, keikhlasan dapat memperkuat profesionalisme. Target bukan sekadar angka yang harus dicapai, tetapi bagian dari tanggung jawab untuk memberikan manfaat.

Hal ini sejalan dengan harapan Kepala KPKNL Semarang, Soeparjanto, agar kegiatan pembinaan mental memberikan dorongan kepada pegawai untuk tetap berkinerja dan berperilaku baik sebagaimana akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW. Dengan demikian, kinerja yang baik bukan hanya persoalan apa yang dicapai, tetapi juga bagaimana pencapaian tersebut diwujudkan.

Menjadi Pegawai yang Memberikan Manfaat

Dalam pembahasan juga disampaikan sejumlah teladan akhlak Rasulullah SAW, di antaranya menjaga perkataan, menyenangkan orang lain, memanggil seseorang dengan panggilan yang disenanginya, serta pesan agar menjadi manusia yang paling baik dengan menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Nilai kebermanfaatan tersebut sangat relevan dengan ukuran kinerja pegawai. Orientasi kinerja perlu bergerak dari sekadar menyelesaikan pekerjaan menuju menghasilkan manfaat. Dalam praktik sehari-hari, semangat tersebut dapat hadir dalam berbagai bentuk: memberikan pelayanan secara responsif, menyampaikan informasi dengan jelas, menghasilkan analisis yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan, membantu rekan menyelesaikan pekerjaan, serta mencari cara kerja yang lebih efektif tanpa mengabaikan ketentuan.

Sikap menyenangkan orang lain sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW juga memiliki relevansi dengan lingkungan kerja. Harmoni organisasi tidak berarti menghindari perbedaan pendapat. Harmoni justru tumbuh ketika perbedaan dapat dikelola melalui komunikasi yang saling menghormati. Pegawai tetap dapat bersikap kritis, menyampaikan pendapat yang berbeda tanpa mengurangi penghargaan terhadap orang lain.

Integritas Dimulai dari Pilihan Sehari-hari

Dalam sesi diskusi, disampaikan bahwa upaya menuju kebaikan dapat dilakukan melalui perbuatan yang memberikan dampak langsung, melalui lisan dengan mengajak kepada kebaikan, serta melalui doa dan kepedulian. Pesan tersebut mengingatkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Dalam organisasi, integritas juga dibangun dari keputusan-keputusan sederhana yang dilakukan secara konsisten: hadir dan bekerja dengan disiplin, menyampaikan informasi sesuai fakta, tidak menunda pekerjaan tanpa alasan, mengakui kesalahan, menjaga kerahasiaan informasi, menghindari konflik kepentingan, serta memperlakukan setiap pengguna layanan secara adil.

Ketika kebiasaan tersebut dilakukan oleh banyak pegawai secara konsisten, ia akan berkembang menjadi budaya organisasi. Pada titik inilah integritas tidak lagi sekadar nilai yang tertulis, tetapi menjadi cara organisasi bekerja.

Kinerja yang Baik, Cara yang Baik, dan Tujuan yang Baik

Pembinaan mental pada akhirnya mempunyai posisi penting dalam penguatan organisasi. Kompetensi memberikan kemampuan kepada pegawai untuk bekerja, sementara integritas memberikan arah mengenai bagaimana kemampuan tersebut seharusnya digunakan.

Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa keteladanan akhlak dapat diterjemahkan secara nyata ke dalam kehidupan profesional. Kejujuran melahirkan pekerjaan yang dapat dipercaya. Amanah menumbuhkan tanggung jawab. Kesederhanaan menjaga pegawai dari penyalahgunaan kewenangan. Kepedulian memperkuat pelayanan. Sementara keikhlasan membantu seseorang tetap memberikan yang terbaik bahkan ketika pekerjaannya tidak selalu terlihat atau memperoleh apresiasi.

Dengan demikian, keberhasilan organisasi tidak hanya ditandai oleh tercapainya indikator kinerja, tetapi juga oleh cara indikator tersebut dicapai.

Semangat yang dibangun melalui kegiatan pembinaan mental KPKNL Semarang menjadi pengingat bahwa pegawai yang berkinerja unggul adalah pegawai yang mampu menghasilkan manfaat melalui proses yang benar, menjaga amanah, menghormati sesama, dan konsisten menjalankan nilai-nilai organisasi. 

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.

Foto Terkait Artikel

Floating Icon