Kunjungan Lapangan KOIN MAS DJKN: Menilai Inovasi Polikultur di BRPI Subang untuk Produktivitas Optimal dan Ketahanan Ekosistem
Thobby Maulana Pasha
Selasa, 16 September 2025 |
136 kali
Subang, 16 September 2025 – Tim Dewan Juri Kompetisi Inovasi Manajer Aset (KOIN MAS) DJKN 24/25 melakukan kunjungan lapangan ke BRPI Subang dalam rangka penilaian terhadap proyek optimalisasi barang milik negara (BMN) dari Tim KOIN MAS DJKN Jawa Barat-KPKNL Purwakarta yang berhasil lolos ke babak empat besar nasional. Kunjungan lapangan yang bertepatan dengan penebaran benih Ikan Nila Srikandi dan Udang Vaname ini, bertujuan untuk melihat langsung pelaksanaan inovasi pengelolaan aset, yaitu: budidaya ikan terpadu dengan metode polikultur Ikan Nila Srikandi dan Udang Vaname (Litopenaeus Vannamei) pada lahan kolam yang telah dikerjasamakan dengan mitra pengelola budidaya dalam bentuk Pemanfaatan BMN.
Budidaya polikultur—sistem yang memelihara dua spesies atau lebih (ikan dan udang) dalam satu kolam—telah banyak dibahas dalam literatur sebagai salah satu model budidaya yang berprospek sangat baik. Sumber dari eFishery menjelaskan bahwa kombinasi ikan nila dan udang vaname memungkinkan penggunaan ruang dan pakan yang efisien karena udang cenderung hidup di dasar kolam sementara ikan nila berada lebih dekat permukaan air, sehingga interaksi ekologisnya saling melengkapi. Studi tentang efisiensi teknis budidaya polikultur ikan nila, ikan bandeng, dan udang vaname, menunjukkan bahwa sistem polikultur ini mencapai efisiensi teknis yang tinggi (nilai rata-rata efisiensi teknis mendekati 1), yang berarti produksi mendekati potensi maksimal dengan pemanfaatan input yang optimal.
Kelebihan budidaya polikultur tidak hanya pada produktivitas, tetapi juga untuk ketahanan ekosistem. Studi dari Scribd menyebut bahwa udang vaname memiliki keunggulan seperti pertumbuhan cepat, daya tahan hidup yang tinggi, serta toleransi terhadap kondisi lingkungan yang kurang ideal, sehingga cocok untuk budidaya intensif maupun semi intensif. Polikultur mendukung ketahanan ekosistem karena spesies yang berbeda saling mengisi peran ekologis, dimana ikan nila membantu mengendalikan plankton atau fitoplankton di kolom atas dan udang vaname memanfaatkan sisa pakan atau detritus di dasar kolam. Pola ini dapat mengurangi limbah dan meningkatkan daya dukung lingkungan.
Pelaksanaan budidaya ikan terpadu di BRPI Subang yang dinilai oleh Tim Juri, mencerminkan inovasi yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan manfaat sosial. Pengelolaan ini memberikan pengaruh multiplier, seperti pemberdayaan masyarakat sekitar sebagai tenaga kerja penggarap, pengembangan usaha sampingan dalam bentuk pemrosesan hasil panen ikan dan udang, serta rantai pasok lokal pakan atau perlengkapan budidaya. Lebih jauh, model zero-waste menjadi relevan saat seluruh aliran produksi diatur dengan baik—contohnya: limbah biologi dan organik dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber pakan alami, kompos, ataupun pupuk organik bagi tanaman sekitar.
Diharapkan, inovasi model ini dapat direplikasi pada aset BMN sejenis untuk menyasar penerimaan negara melalui PNBP pemanfaatan aset, devisa dari ekspor hasil budidaya, kebermanfaatan kepada masyarakat, serta mendukung visi ketahanan pangan nasional yang berlandaskan ekosistem yang sehat. (Berita/Foto – Seksi HI KPKNL Purwakarta)
Foto Terkait Berita