Tantangan Jurnalisme Tradisional di Era Media Sosial
Irfan Fanasafa
Selasa, 21 September 2021 |
4904 kali
Di masa lalu format
media tradisional merupakan satu-satunya cara untuk sampainya pesan/berita
kepada publik. Namun di ranah digital seperti saat ini, begitu banyak cara
untuk sampainya pesan/berita kepada publik atau target masyarakat tertentu.
Diantaranya media
sosial yang awalnya hanya digunakan sebagai sarana eksistensi diri, kini telah
berkembang sebagi sumber informasi. Bahkan dengan strategi penerbitan yang
tepat -diantaranya waktu upload serta konten- jumlah publik yang dicapai
melalui media sosial bisa jauh lebih banyak dan lebih luas dibanding media
tradisional.
Sifat kecepatan dan
kedekatan atau kemudahan mengakses informasi yang melekat pada media sosial
telah menarik perhatian baik jurnalis profesional maupun pemerintah untuk mulai
ekspansi penyampaian pesan/berita kepada media sosial yang semula hanya terpaku
di format media tradisional.
Apa yang dimaksud
media tradisional, kelebihan serta perbedaannya dengan media sosial? Berikut
penulis uraikan secara ringkas dari berbagai sumber.
Apakah yang dimaksud Media Tradisional?
Media tradisional
mengacu pada bentuk media massa yang fokus pada penyampaian berita kepada
masyarakat umum atau kelompok masyarakat tertentu.
Bentuk media
tradisional termasuk publikasi cetak (surat kabar dan majalah), berita siaran
(televisi dan radio) dan versi digital dari media tersebut, seperti koran
digital dan blog.
Apakah yang dimaksud Media Sosial?
Istilah "media
sosial" yang umum digunakan akhir-akhir ini mengacu pada platform digital
yang berbeda. Secara umum media sosial adalah sebuah media online, dengan para
penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi
meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring
sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh
masyarakat di seluruh dunia.
Pada artikel ini,
media sosial mengacu pada situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter,
Instagram, Pinterest, YouTube, LinkedIn dan sejenisnya.
Perbedaan antara media tradisional dan media sosial
Di mana media tradisional umumnya menawarkan kumpulan audiens yang
lebih luas, media sosial memungkinkan distribusi yang lebih bertarget.
Jika Anda melakukan
analisa dan perencanaan dengan baik, klik media yang Anda peroleh seharusnya
menjangkau audiens sesuai target. Namun, seringkali target menjadi bias dari
rencana semula, jangkauan menjadi terlalu luas dan tidak mencapai sasaran
sesuai yang diinginkan.
Media sosial di sisi
lain, memberi kesempatan kepada tim redaksi untuk benar-benar menargetkan pesan
mereka, memilih segala sesuatu mulai dari demografi dan geografi audiens hingga
waktu posting akan materi berita yang ditayangkan.
Potongan media tradisional lebih final, di mana media sosial bersifat
dinamis
Media tradisional
cenderung memiliki timeline yang lebih panjang dibandingkan media sosial. Tidak
hanya hierarki tahapan penerbitan yang memperlambat, sumber dan rujukan untuk
media tradisional cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk disusun.
Postingan media sosial umumnya lebih pendek, dari siklus penyusunan hingga penerbitan (posting) tanpa harus melewati heirarki tertentu.
Media sosial menawarkan lebih banyak kontrol atas pesan daripada media
tradisional
Mirip dengan di atas,
di mana redaksi mengontrol tanggal dan waktu publikasi, media sosial juga
menawarkan kontrol yang lebih besar atas pesan/ berita yang diposting.
Meskipun Anda tidak dapat mengontrol bagaimana publik akan merespons setelah pesan tersebut keluar, Anda memiliki kesempatan untuk mengontrol materi yang telah disusun sejak awal.
Media sosial adalah percakapan dua arah, dan tradisional adalah satu
arah
Alur klasik dari media
tradisional umumnya seperti ini : humas menyampaikan berita, reporter
menerbitkan berita dan akhirnya publik membacanya. Siklus berakhir di sana dan
siklus kembali lagi ke proses awal dan berulang seperti biasa.
Di media sosial,
publik memiliki kesempatan untuk menyertakan pendapat mereka dan publik tidak
hanya berharap untuk didengar ketika mereka membagikan pendapat mereka tentang
sebuah berita atau peristiwa terkini, mereka juga mengharapkan pendapatnya
direspon dan ditanggapi. Redaksi/jurnalis yang menggunakan media sosial dalam
kesehariannya tentu harus siap untuk bertindak cepat dan merespons dengan
tepat.
Kesimpulan
Industri media berubah
dengan cepat, dan Redaksi/jurnalis harus beradaptasi untuk survive di era ini
namun, itu tidak berarti semua cara lama sudah kadaluarsa. Seperti yang mungkin
bisa Anda lihat dari perbandingan di atas, media tradisional dan media sosial
memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Bergantung pada
situasi, tujuan, atau strateginya, satu metode mungkin bekerja lebih baik
daripada yang lain untuk materi suatu materi pemberitaan.
Alih-alih berpikir
media tradisional bertentangan dengan media sosial dalam arti bahwa yang satu
perlahan menggantikan yang lain, namun berpikirlah bagaimana kedua model media
tersebut dapat berkolaborasi untuk mencapai tujuan pemberitaan secara
keseluruhan.
Satu hal penting untuk
diingat apakah memasukkan media tradisional atau sosial (atau keduanya) ke
dalam lingkup jurnalisme Anda adalah bergantung pada tujuan yang diingin
dicapai dari strategi pemberitaan suatu jurnalis.
Strategi humas media
tradisional tentu akan sangat berbeda dari strategi yang digunakan di media
sosial.
Referensi :
(Penulis :
Irfan Fanasafa)
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |