Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Purwakarta
Tantangan Jurnalisme Tradisional  di Era Media Sosial

Tantangan Jurnalisme Tradisional di Era Media Sosial

Irfan Fanasafa
Selasa, 21 September 2021 |   4904 kali

Di masa lalu format media tradisional merupakan satu-satunya cara untuk sampainya pesan/berita kepada publik. Namun di ranah digital seperti saat ini, begitu banyak cara untuk sampainya pesan/berita kepada publik atau target masyarakat tertentu.

 

Diantaranya media sosial yang awalnya hanya digunakan sebagai sarana eksistensi diri, kini telah berkembang sebagi sumber informasi. Bahkan dengan strategi penerbitan yang tepat -diantaranya waktu upload serta konten- jumlah publik yang dicapai melalui media sosial bisa jauh lebih banyak dan lebih luas dibanding media tradisional.

 

Sifat kecepatan dan kedekatan atau kemudahan mengakses informasi yang melekat pada media sosial telah menarik perhatian baik jurnalis profesional maupun pemerintah untuk mulai ekspansi penyampaian pesan/berita kepada media sosial yang semula hanya terpaku di format media tradisional.

Apa yang dimaksud media tradisional, kelebihan serta perbedaannya dengan media sosial? Berikut penulis uraikan secara ringkas dari berbagai sumber.

 

Apakah yang dimaksud Media Tradisional?

Media tradisional mengacu pada bentuk media massa yang fokus pada penyampaian berita kepada masyarakat umum atau kelompok masyarakat tertentu.

Bentuk media tradisional termasuk publikasi cetak (surat kabar dan majalah), berita siaran (televisi dan radio) dan versi digital dari media tersebut, seperti koran digital dan blog.

 

Apakah yang dimaksud Media Sosial?

Istilah "media sosial" yang umum digunakan akhir-akhir ini mengacu pada platform digital yang berbeda. Secara umum media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

 

Pada artikel ini, media sosial mengacu pada situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Pinterest, YouTube, LinkedIn dan sejenisnya.

 

Perbedaan antara media tradisional dan media sosial

Di mana media tradisional umumnya menawarkan kumpulan audiens yang lebih luas, media sosial memungkinkan distribusi yang lebih bertarget.

Jika Anda melakukan analisa dan perencanaan dengan baik, klik media yang Anda peroleh seharusnya menjangkau audiens sesuai target. Namun, seringkali target menjadi bias dari rencana semula, jangkauan menjadi terlalu luas dan tidak mencapai sasaran sesuai yang diinginkan.

Media sosial di sisi lain, memberi kesempatan kepada tim redaksi untuk benar-benar menargetkan pesan mereka, memilih segala sesuatu mulai dari demografi dan geografi audiens hingga waktu posting akan materi berita yang ditayangkan.

 

Potongan media tradisional lebih final, di mana media sosial bersifat dinamis

Media tradisional cenderung memiliki timeline yang lebih panjang dibandingkan media sosial. Tidak hanya hierarki tahapan penerbitan yang memperlambat, sumber dan rujukan untuk media tradisional cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk disusun.

Postingan media sosial umumnya lebih pendek, dari siklus penyusunan hingga penerbitan (posting) tanpa harus melewati heirarki tertentu.


Media sosial menawarkan lebih banyak kontrol atas pesan daripada media tradisional

Mirip dengan di atas, di mana redaksi mengontrol tanggal dan waktu publikasi, media sosial juga menawarkan kontrol yang lebih besar atas pesan/ berita yang diposting.

Meskipun Anda tidak dapat mengontrol bagaimana publik akan merespons setelah pesan tersebut keluar, Anda memiliki kesempatan untuk mengontrol materi yang telah disusun sejak awal.



Media sosial adalah percakapan dua arah, dan tradisional adalah satu arah

Alur klasik dari media tradisional umumnya seperti ini : humas menyampaikan berita, reporter menerbitkan berita dan akhirnya publik membacanya. Siklus berakhir di sana dan siklus kembali lagi ke proses awal dan berulang seperti biasa.

Di media sosial, publik memiliki kesempatan untuk menyertakan pendapat mereka dan publik tidak hanya berharap untuk didengar ketika mereka membagikan pendapat mereka tentang sebuah berita atau peristiwa terkini, mereka juga mengharapkan pendapatnya direspon dan ditanggapi. Redaksi/jurnalis yang menggunakan media sosial dalam kesehariannya tentu harus siap untuk bertindak cepat dan merespons dengan tepat.

 

Kesimpulan

Industri media berubah dengan cepat, dan Redaksi/jurnalis harus beradaptasi untuk survive di era ini namun, itu tidak berarti semua cara lama sudah kadaluarsa. Seperti yang mungkin bisa Anda lihat dari perbandingan di atas, media tradisional dan media sosial memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Bergantung pada situasi, tujuan, atau strateginya, satu metode mungkin bekerja lebih baik daripada yang lain untuk materi suatu materi pemberitaan.

Alih-alih berpikir media tradisional bertentangan dengan media sosial dalam arti bahwa yang satu perlahan menggantikan yang lain, namun berpikirlah bagaimana kedua model media tersebut dapat berkolaborasi untuk mencapai tujuan pemberitaan secara keseluruhan.

Satu hal penting untuk diingat apakah memasukkan media tradisional atau sosial (atau keduanya) ke dalam lingkup jurnalisme Anda adalah bergantung pada tujuan yang diingin dicapai dari strategi pemberitaan suatu jurnalis.

Strategi humas media tradisional tentu akan sangat berbeda dari strategi yang digunakan di media sosial.

 

Referensi :

  1. Jessica Lawlor,” 5 major differences between traditional media and social media,” mucrack.com, https://muckrack.com/blog/2018/08/01/differences-between-traditional-media-and-social-media;
  2. Media Sosial, id.wikipedia.org, https://id.wikipedia.org/wiki/Media_sosial

(Penulis : Irfan Fanasafa)

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon