Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Kilas Peristiwa
Lampu Umar Bin Abdul Azis dan Amanah yang Dijaga

Lampu Umar Bin Abdul Azis dan Amanah yang Dijaga

Indriani Aryanti Syahruddin
Jum'at, 27 Februari 2026 |   0 kali

Parepare (27/2) – Dalam bulan suci Ramadhan salah satu kegiatan KPKNL Parepare adalah Kultum yang dilaksanakan setiap hari Jum’at. Pada kesempatan kali ini yang membawakan kultum adalah Saudara Yoserizal Fernando (Pelelang Muda). Materi yang dibawakan kisah khalifah Umar bin Abdul Azis dalam menjalankan pekerjaannya mengurus pemerintahan.

Suatu malam, ketika menjadi khalifah, Umar bin Abdul Azis sedang bekerja di ruangannya. Di hadapannya menyala sebuah lampu yang dibiayai oleh kas negara. Lampu itu digunakan untuk mengurus urusan pemerintahan. Tiba-tiba, datang seorang tamu yang ingin berbicara tentang urusan pribadi. Apa yang dilakukan Umar ? Beliau mematikan lampu tersebut. Lalu beliau menyalakan lampu lain yang minyaknya dibeli dari uang pribadinya. Ketika ditanya mengapa beliau melakukan itu, Umar menjawab kira-kira seperti ini:

“Lampu tadi dibiayai oleh negara. Selama saya mengurus urusan umat, saya berhak menggunakannya. Tetapi ketika pembicaraan beralih ke urusan pribadi, saya tidak ingin mencampurkan hak rakyat dengan kepentingan pribadi.” Allahu Akbar.

Bayangkan seorang pemimpin wilayah yang sangat luas. Seorang kepala negara. Tetapi begitu takut mencampuradukkan hak publik dengan urusan pribadi. Bukan karena ada audit. Bukan karena ada kamera. Bukan karena takut citra buruk. Tetapi karena takut kepada Allah. Itulah integritas. Integritas bukan tentang besar kecilnya nominal. Bukan tentang ada atau tidaknya pengawasan. Integritas adalah kesadaran bahwa Allah Maha Melihat.

Hari ini mungkin kita tidak memegang kekuasaan sebesar Umar. Tetapi kita memegang amanah. Amanah waktu. Amanah jabatan. Amanah fasilitas. Amanah kepercayaan.

Kadang godaan itu tidak besar. Hanya sedikit. Hanya sesekali. Hanya “dipinjam sebentar”. Tetapi justru dari yang kecil itulah keberkahan bisa hilang.

Kalau Umar saja begitu berhati-hati terhadap minyak lampu, bagaimana dengan kita terhadap gaji, fasilitas, dan kewenangan yang kita miliki ? Karena pada akhirnya, bukan atasan yang akan menghisab kita. Bukan sistem yang akan mengadili kita. Tetapi Allah SWT. Dan sungguh, rezeki yang halal meskipun sederhana akan terasa cukup. Sebaliknya, yang tercampur sedikit saja dengan ketidakjujuran akan terasa sempit meskipun banyak.

Melalui kegiatan kultum ini mari kita ambil pelajaran dari Umar bin Abdul Azis bahwa jika beliau menjaga amanah pada setetes minyak lampu, maka kita pun harus menjaga amanah dalam setiap tugas yang kita emban. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang takut kepada-Nya dalam keadaan sendiri maupun ramai, dalam jabatan maupun tanpa jabatan.

 

Mari kita bekerja dengan bersih.

Mari kita pulang dengan tenang.

Mari kita bertemu Allah tanpa membawa beban amanah yang kita khianati.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Foto Terkait Kilas Peristiwa

Floating Icon