Lampu Umar Bin Abdul Azis dan Amanah yang Dijaga
Indriani Aryanti Syahruddin
Jum'at, 27 Februari 2026 |
0 kali
Parepare (27/2) – Dalam bulan
suci Ramadhan salah satu kegiatan KPKNL Parepare adalah Kultum yang
dilaksanakan setiap hari Jum’at. Pada kesempatan kali ini yang membawakan
kultum adalah Saudara Yoserizal Fernando (Pelelang Muda). Materi yang dibawakan
kisah khalifah Umar bin Abdul Azis dalam menjalankan pekerjaannya mengurus
pemerintahan.
Suatu malam, ketika menjadi
khalifah, Umar bin Abdul Azis sedang bekerja di ruangannya. Di hadapannya
menyala sebuah lampu yang dibiayai oleh kas negara. Lampu itu digunakan untuk
mengurus urusan pemerintahan. Tiba-tiba, datang seorang tamu yang ingin
berbicara tentang urusan pribadi. Apa yang dilakukan Umar ? Beliau mematikan
lampu tersebut. Lalu beliau menyalakan lampu lain yang minyaknya dibeli dari
uang pribadinya. Ketika ditanya mengapa beliau melakukan itu, Umar menjawab
kira-kira seperti ini:
“Lampu tadi dibiayai oleh
negara. Selama saya mengurus urusan umat, saya berhak menggunakannya. Tetapi
ketika pembicaraan beralih ke urusan pribadi, saya tidak ingin mencampurkan hak
rakyat dengan kepentingan pribadi.” Allahu Akbar.
Bayangkan seorang pemimpin
wilayah yang sangat luas. Seorang kepala negara. Tetapi begitu takut
mencampuradukkan hak publik dengan urusan pribadi. Bukan karena ada audit. Bukan
karena ada kamera. Bukan karena takut citra buruk. Tetapi karena takut kepada
Allah. Itulah integritas. Integritas bukan tentang besar kecilnya nominal.
Bukan tentang ada atau tidaknya pengawasan. Integritas adalah kesadaran bahwa
Allah Maha Melihat.
Hari ini mungkin kita tidak
memegang kekuasaan sebesar Umar. Tetapi kita memegang amanah. Amanah waktu. Amanah
jabatan. Amanah fasilitas. Amanah kepercayaan.
Kadang godaan itu tidak besar.
Hanya sedikit. Hanya sesekali. Hanya “dipinjam sebentar”. Tetapi justru dari
yang kecil itulah keberkahan bisa hilang.
Kalau Umar saja begitu
berhati-hati terhadap minyak lampu, bagaimana dengan kita terhadap gaji,
fasilitas, dan kewenangan yang kita miliki ? Karena pada akhirnya, bukan atasan
yang akan menghisab kita. Bukan sistem yang akan mengadili kita. Tetapi Allah
SWT. Dan sungguh, rezeki yang halal meskipun sederhana akan terasa cukup. Sebaliknya,
yang tercampur sedikit saja dengan ketidakjujuran akan terasa sempit meskipun
banyak.
Melalui kegiatan kultum ini mari
kita ambil pelajaran dari Umar bin Abdul Azis bahwa jika beliau menjaga amanah
pada setetes minyak lampu, maka kita pun harus menjaga amanah dalam setiap
tugas yang kita emban. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang takut
kepada-Nya dalam keadaan sendiri maupun ramai, dalam jabatan maupun tanpa
jabatan.
Mari kita bekerja dengan
bersih.
Mari kita pulang dengan
tenang.
Mari kita bertemu Allah tanpa
membawa beban amanah yang kita khianati.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Foto Terkait Kilas Peristiwa