Dari Pohon Jati hingga Empati: Cerita Lapangan Pengurusan Piutang Negara
Marthen Lanteng
Jum'at, 17 Oktober 2025 |
89 kali
Makassar,
15 Oktober 2025 — Hari ketiga pelaksanaan Rapat Kerja (Raker) Kanwil DJKN
Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat (Sulseltrabar) diawali dengan sesi
pembahasan yang berfokus pada Evaluasi Capaian Pengurusan Piutang Negara,
dipandu oleh Nandang Supriyadi, Plt. Kepala Bidang Piutang Negara Kanwil DJKN
Sulseltrabar.
Dalam
paparannya, Nandang memaparkan profil piutang negara dengan nilai outstanding
terbesar berasal dari KPKNL Makassar, sekaligus memberikan apresiasi atas
capaian target Bidang Piutang Negara yang telah berstatus hijau secara
keseluruhan. Namun, ia juga menyoroti bahwa penyelesaian Berkas Kasus Piutang
Negara (BKPN) di beberapa KPKNL, termasuk KPKNL Parepare, masih menghadapi
tantangan dalam mencapai target penyelesaian.
Kepala
Kanwil DJKN Sulseltrabar menegaskan pentingnya menjaga semangat kerja meski
jumlah outstanding relatif kecil.
“Jangan
sampai outstanding yang sedikit membuat kita menjadi lengah. Setiap berkas
harus tetap dikerjakan dengan serius dan tuntas. Digitalisasi berkas BKPN
menjadi langkah penting agar prosesnya lebih aman, fleksibel, dan mudah
dimonitor,” tegasnya.
Dari
berbagai laporan KPKNL, terungkap sejumlah dinamika di lapangan. Kepala KPKNL
Kendari, Taufik, menyampaikan tantangan pengurusan piutang dari Badan Pengelola
Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) yang berupa pohon jati dengan medan sulit
diakses.
Sementara
itu, Rofiq Khamdani, Kepala KPKNL Parepare, melaporkan bahwa pihaknya menerima
dua debitur baru dari BPDLH tahun 2025 dengan jaminan pohon jati yang sudah
terbakar, sehingga memerlukan strategi khusus dalam penanganannya.
Menanggapi
hal tersebut, Kepala Kanwil mengingatkan pentingnya mitigasi risiko piutang
sejak awal proses pengurusan, serta perlunya pendekatan empati dan kemanusiaan
terhadap debitur yang benar-benar tidak mampu.
“Dalam
setiap penyelesaian piutang, kita harus berhati-hati dan tetap berempati. Jika
debitur memang mengalami kesulitan ekonomi, misalnya piutang Rumah Sakit, bantu
dengan cara-cara manusiawi dan sesuai prosedur, misalnya melalui surat keterangan
tidak mampu atau skema pembayaran alternatif,” pesannya.
Dari
sisi inovasi, Kepala KPKNL Palopo, Naf’an Widiarso Rafid, mengusulkan penguatan
kerja sama antarinstansi melalui pertukaran data debitur dengan Kantor Pajak,
untuk mempercepat proses penelusuran dan pengumpulan data debitur.
Sementara
itu, Kepala KPKNL Mamuju, Sopian Sumantri, menyampaikan bahwa dari 22 BKPN
aktif di wilayahnya, hanya dua yang memiliki jaminan. “Kendala utama adalah
barang jaminan yang meskipun sudah dua kali dilelang, belum juga laku. Selain
itu, sebagian debitur memiliki kemampuan angsuran yang rendah,” ungkapnya.
Dari
KPKNL Makassar, Iwan Darma menjelaskan bahwa dari 317 BKPN yang ada, proses
penagihan dilakukan dengan menghubungkan data penagihan masa lalu dengan kondisi
terkini. Ia juga melaporkan capaian digitalisasi 564 dari 601 data PSBDT,
sebagai upaya memperkuat akurasi dan transparansi pengelolaan piutang.
Menambahkan
hal tersebut, Ibu Iling Saidah, Kasi Piutang Negara, menyampaikan bahwa BKPN
PSBDT merupakan potensi penagihan kembali yang menjanjikan, serta mengusulkan
penambahan fitur dalam sistem aplikasi agar setiap aktivitas penagihan dan
survei lapangan dapat terdokumentasi secara real-time dan menunjukkan progres
pengurusan.
Sebagai salah satu peserta aktif dalam sesi ini, KPKNL Parepare menilai bahwa semangat digitalisasi, sinergi lintas instansi, serta empati dalam pengurusan piutang menjadi kunci keseimbangan antara akuntabilitas dan kemanusiaan. Raker hari ketiga ini tidak hanya menjadi ajang evaluasi, tetapi juga ruang refleksi bagi seluruh KPKNL untuk terus memperkuat peran DJKN dalam menjaga tata kelola keuangan negara yang transparan, profesional, dan berorientasi pada penyelesaian yang berkeadilan.
Foto Terkait Berita