Multiplier Effect Program MBG untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
Rimadhani Salsabilla Fadhilah
Rabu, 31 Desember 2025 |
4008 kali
Multiplier Effect Program MBG untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
Penulis: Desi Ariyanti (Kepala Seksi PKN KPKNL Parepare)
Setahun berjalan, sejak Januari hingga Desember 2025 ini, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program strategis Nasional telah mencapai pertumbuhan yang diharapkan. Pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi dapur pelaksanaan MBG telah dibangun secara bertahap di 38 provinsi seluruh Indonesia. Hal ini mengindikasikan, bahwa keseriusan pemerintah untuk meningkatkan kualitas anak Indonesia yang menjadi harapan terbangunnya Indonesia Emas 2045.
Tahun 2025 merupakan tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia dalam pembangunan Sumber Daya Manusia unggul dan berkualitas menuju Indonesia maju di tahun 2045. Pemerintah meyakini dan meyakinkan masyarakat Indonesia, bahwa gizi memiliki peran langsung dalam membentuk kualitas SDM. Gizi yang cukup memungkinkan individu anak Indonesia memiliki potensi penuh untuk belajar, berkonsentrasi, berprestasi dan berkontribusi kepada masyarakat. inilah output sekaligus outcome yang diharapkan pemerintah dari adanya program strategis nasional MBG.
Dalam operasionalisasi program MBG, Badan Gizi Nasional (BGN) yang terbentuk melalui Peraturan Presiden Nomor 83 tahun 2024 mengeluarkan petunjuk teknis untuk program MBG yakni berupa Keputusan Kepala BGN Nomor 244 tahun 2025 tentang Perubahan Ketiga atas Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Bantuan Pemerintah untuk Program Makan Bergizi Gratis tahun 2025. Juknis ini merupakan juknis ketiga, setelah juknis-juknis sebelumnya dengan perubahan-perubahan yang mengikuti perkembangan dan kebutuhan dasar di lapangan.
Keputusan Kepala BGN tanggal 27 Oktober 2025 ini merupakan petunjuk teknis yang akan dipedomani pemerintah, mitra dan seluruh stakeholder yang berkiprah dalam program MBG. Juknis ini menjadi pedoman dalam hal pengelolaan bantuan pemerintah, penyelenggaraan, pertanggungjawaban, monitoring dan evaluasi serta pengawasan bantuan pemerintah. Selain itu, juknis ini menjadi acuan seluruh pemangku kepentingan agar dapat secepatnya mencapai target terbentuknya SPPG yang tersebar di 38 provinsi seluruh Indonesia.
Sebagaimana diketahui bahwa atas perintah Presiden RI pada bulan Juni 2025 target penerima manfaat sejumlah 82,9 juta yang semula ditargetkan dicapai tahun 2029 dipercepat diselesaikan bulan November 2025. Untuk mencapai target penerima manfaat sejumlah tersebut diperlukan pendirian SPPG sejumlah 32.000, dan berdasarkan perkembangannya sampai bulan Oktober 2025 pembangunan SPPG telah mencapai angka 12.000 SPPG.
Multiplier Effect
Dalam
perkembangannya, program bantuan pemerintah (banper) berupa MBG ternyata tidak sekedar meningkatkan kualitas SDM
anak Indonesia yang dibutuhkan dalam visi pembangunan Indonesia Emas 2045.
Namun juga berdampak secara multiplier effect bagi keberlangsungan kehidupan
bermasyarakat. Hal ini dikarenakan, stakeholder program MBG merupakan elemen masyarakat yang
bersinggungan langsung dalam operasionalisasinya.
Beberapa elemen masyarakat yang turut diberdayakan dalam program MBG ini antara lain : UMKM, Koperasi Desa/Kelurahan, BUMdes, Supplier/pemasok, Peternak, Nelayan, dan masyarakat sekitar lokasi yang menjadi relawan dalam pelaksanaan dan operasionalisasi SPPG. Selain itu penerima manfaat diharapkan tepat sasaran dalam asupan gizi antara lain anak sekolah, mulai Paud, TK, SD, SMP, dan SMA, anak balita di posyandu, ibu hamil, ibu menyusui dan anak-anak stunting. Demikian juga peran yang diharapkan dari sektor pemerintah baik pemerintah pusat dan daerah yang turut membantu penyelenggaraan program ini dari sisi monitoring, evaluasi dan pengawasan melekat, agar berjalannya program sebagaimana harapan seluruh pihak.
Beberapa hal yang dapat diidentifikasi terkait multiplier effect atas program MBG antara lain:
1.
Daya Beli Masyarakat Meningkat.
Pembangunan
SPPG di setiap Kecamatan di Indonesia, telah merekrut sebanyak
50 orang anggota masyarakat untuk menjadi relawan. Rata-rata masyarakat
yang direkrut adalah warga sekitar SPPG yang usianya beragam, mulai 18 hingga
50 tahun. Dengan rentang usia yang ditentukan tersebut, sangat memungkinkan warga yang telah lama tidak bekerja
menjadi dapat bekerja. Memungkinkan pula warga yang baru selesaikan kuliah
dapat langsung berkiprah terutama untuk kepala
dapur, ahli gizi dan tenaga akunting
Banyak
dari warga masyarakat yang mendaftar sebagai relawan, sebelumnya tidak memiliki
pekerjaan atau memiliki pekerjaan tapi serabutan, seperti pekerja kasar
pelabuhan, pekerja rumah tangga keliling yang belum jelas hariannya, warga yang
masih mencari-cari penghasilan dan lain-lain.
Dengan adanya program MBG ini, masyarakat yang rentan ekonomi ini, dapat memiliki penghasilan tetap yang dipergunakan untuk mencukupi kehidupan rumah tangga. Relawan-relawan SPPG ini setelah bekerja dapat mulai lancar membeli beras, membayar hutang di warung, membayar kontrakan rumah, bahkan dapat mulai mencicil kendaraan bermotor. Disinilah daya beli masyarakat terlihat mulai meningkat.
2. Kesehatan Membaik
Hal ini terlihat jelas dari penerima manfaat. Bagi anak sekolah, terutama yang malas makan, akan dapat membaur dengan teman-teman sekolahnya dalam makan bersama. Siswa akan merasa senang dapat menikmati hidangan lezat yang disajikan pemerintah melalui SPPG. Tak jarang, siswa-siswa merindukan kehadiran mobil MBG ke halaman sekolah. Terkadang, ada orang tua yang mengeluh bahwa anaknya susah makan, namun dengan adanya MBG di sekolah, tanpa disuruh makan biasanya anak-anak langsung berinisiatif untuk menghabiskan hidangan. Hal ini selain membahagiakan orang tua juga membuat kesehatan dan kekuatan tubuh tumbuh lebih sempurna. Selain anak sekolah, ibu hamil dan menyusui dan anak-anak stunting dapat secara langsung hadir di SPPG untuk konsultasi gizi oleh ahli gizi yang disiapkan SPPG. Ahli gizi dapat menghitungkan kebutuhan gizi untuk ibu hamil dan menyusui disesuaikan dengan berat badan dan usia kehamilan. Hal ini sangat membantu ibu hamil mencegah janin gizi buruk atau stunting.
3. Pendidikan Membaik
Pemenuhan
gizi anak melalui MBG berdampak positif pada status pendidikan mereka. MBG
membantu anak untuk fokus lebih baik di kelas, meningkatkan kehadiran di sekolah, memberikan motivasi dan semangat
belajar, dan meningkatkan kemampuan belajar akademik
menjadi lebih baik.
Hal
ini tentu saja akan memberikan efek positif bagi proses belajar anak dan
membantu kecerdasan, baik intelektualnya, sosialnya dan emosinya. Semua jenis
kecerdasan ini dibutuhkan baik jangkan pendek, menengah dan jangka panjang.
Pihak pemerintah dan pakar pendidikan melihat MBG tidak hanya sebagai bantuan makanan, tetapi sebagai investasi jangka panjang untuk kualitas pendidikan dan sumber daya manusia. Wakil Kemendikdasmen bahkan menyatakan bahwa MBG bukan hanya program sosial, tetapi strategi penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berarti kualitas pendidikan jangka panjang juga membaik. Kemendikdasmen menekankan bahwa pemenuhan gizi terkait erat dengan kemampuan belajar, kehadiran di sekolah, dan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Wakil Menteri Pendidikan juga menyatakan bahwa MBG bisa membangun karakter positif dan motivasi belajar siswa, yang merupakan bagian dari proses peningkatan pendidikan
4.
Kebutuhan Pangan Membaik
Program
MBG berkontribusi nyata terhadap perbaikan kondisi pangan, khususnya pada
tingkat rumah tangga dan komunitas lokal. Kehadiran MBG menciptakan permintaan
pangan yang stabil dan berkelanjutan, sehingga mendorong ketersediaan bahan pangan seperti beras, sayur, buah, telur,
ikan, dan sumber protein lainnya. Dengan adanya kepastian serapan pangan
melalui program ini, rantai pasok pangan menjadi lebih teratur dan terjaga.
MBG
juga memperkuat sistem pangan lokal karena bahan baku makanan diprioritaskan
berasal dari petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha pangan setempat. Pola
ini tidak hanya meningkatkan distribusi pangan, tetapi juga memperbaiki akses
masyarakat terhadap pangan yang layak dan bergizi. Ketika produksi dan
distribusi pangan berjalan lebih optimal, maka ketahanan pangan masyarakat pun
ikut membaik.
Selain
itu, MBG berperan dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya gizi seimbang.
Masyarakat menjadi lebih memahami nilai pangan bergizi sebagai kebutuhan dasar,
bukan sekadar pelengkap. Dampaknya, pola konsumsi pangan berangsur membaik,
baik di lingkungan sekolah maupun di rumah tangga.
Program MBG memberikan dampak ekonomi yang signifikan melalui peningkatan permintaan domestik. Pelaksanaan program ini membutuhkan pasokan pangan dalam jumlah besar dan berkelanjutan, sehingga mendorong meningkatnya permintaan terhadap produk pertanian, peternakan, perikanan, serta jasa pengolahan dan distribusi pangan di dalam negeri. Kondisi ini menggerakkan roda perekonomian lokal dan nasional, khususnya pada sektor-sektor penyedia kebutuhan pokok masyarakat.
Dalam
satu SPPG saja, dalam 1 hari dibutuhkan 50-60 kilogram beras sehingga jika
ditotal kebutuhan beras satu bulan sekitar 1,5 ton. Kebutuhan ayam dalam 1 hari
sebanyak 250-300 ekor, sehingga satu bulan kebutuhan ayam sebanyak 6.500 ekor.
Begitu pula dengan kebutuhan sayur dan buah yang signifikan. Beberapa kebutuhan
ini dipenuhi secara lokal di tingkat petani/nelayan/peternak.
Seiring
dengan meningkatnya permintaan domestik tersebut, MBG turut menciptakan dan memperluas kesempatan kerja. Keterlibatan berbagai pihak
dalam rantai pasok, mulai dari petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM pangan,
tenaga pengolahan, hingga distribusi dan logistik, membuka lapangan kerja baru
dan memperkuat keberlanjutan usaha masyarakat. Dengan demikian, MBG tidak hanya
berfungsi sebagai program sosial, tetapi juga sebagai
stimulus ekonomi yang berdampak langsung
pada penyerapan tenaga kerja.
Lebih
jauh, MBG berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas dan daya saing
pekerja. Pemenuhan gizi yang lebih baik meningkatkan kesehatan, stamina, dan
konsentrasi, baik bagi peserta didik maupun tenaga kerja secara umum. Kondisi fisik dan
kognitif yang lebih optimal mendorong peningkatan kinerja, efisiensi, serta
kemampuan beradaptasi terhadap tuntutan pekerjaan. Dalam jangka panjang, hal
ini memperkuat kualitas sumber daya manusia dan meningkatkan daya saing tenaga
kerja Indonesia.
Dengan
demikian, Program Makan Bergizi Gratis berperan strategis tidak hanya dalam
aspek kesejahteraan sosial, tetapi juga sebagai pengungkit pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan permintaan domestik,
perluasan kesempatan kerja, serta penguatan
produktivitas dan daya saing
pekerja. Dengan kata lain MBG memiliki dampak
positif bagi masyarakat yang mampu mengurangi ketimpangan ekonomi,
menurunkan angka kemiskinan, dan menekan lebih dalam pengangguran dan
meningkatkan produktivitas kerja.(des)
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |
Foto Terkait Artikel