Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Parepare
Ekosistem Mangrove Terluas di Sulawesi Selatan

Ekosistem Mangrove Terluas di Sulawesi Selatan

Rimadhani Salsabilla Fadhilah
Senin, 26 Agustus 2024 |   2399 kali

Hutan mangrove Tongke-Tongke adalah salah satu ekosistem mangrove yang terletak di sepanjang pesisir pantai Kabupaten Sinjai, tepatnya di Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Indonesia. Hutan mangrove Tongke-Tongke memiliki luas sekitar 700 hektar, menjadikannya salah satu hutan mangrove terluas di Sulawesi Selatan. Hutan mangrove Tongke-Tongke memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, baik flora maupun fauna. Berbagai jenis mangrove yang hidup dalam ekosistem ini, diantaranya adalah Rhizophora sp., Avicennia sp., Bruguiera sp., dan Sonneratia sp.

Hutan mangrove Tongke-Tongke memiliki fungsi penting, antara lain sebagai penyangga pantai, pencegah erosi, tempat pemijahan dan asuhan bagi berbagai jenis ikan, serta memiliki potensi ekowisata. Hutan mangrove Tongke-Tongke dikelola oleh pemerintah daerah Kabupaten Sinjai dengan melibatkan masyarakat setempat dalam upaya pelestarian dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Pemerintah daerah, bersama dengan masyarakat setempat, secara rutin melakukan penanaman bibit mangrove untuk memperluas areal hutan mangrove. Dengan adanya program penanaman mangrove di Tongke-Tongke, fungsi ekologis hutan mangrove dapat dipulihkan dan dipertahankan secara berkelanjutan, memberikan manfaat bagi ekosistem dan masyarakat setempat. Kegiatan penanaman mangrove juga melibatkan sekolah-sekolah dan kelompok peduli lingkungan.

Keterlibatan Pemerintah Pusat dalam menjaga kelestarian hutan mangrove Tongke-Tongke juga ditunjukkan dalam pencanangan program "Gerakan Menanam Satu Miliar Pohon" yang mencakup penanaman mangrove di wilayah pesisir. Dengan dukungan program dan kebijakan pemerintah tersebut, upaya penanaman dan konservasi hutan mangrove di Sulawesi Selatan diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan. Namun, disamping giatnya upaya untuk melestarikan hutan mangrove, penebangan liar atau konversi lahan masih tidak dapat dihindari. Pemerintah daerah mengeluarkan peraturan daerah yang melarang penebangan mangrove secara liar tanpa izin. Upaya penegakan hukum dilakukan untuk memberikan efek jera bagi pelaku perusakan hutan mangrove.

Melihat dari berbagai manfaat yang diberikan hutan mangrove cukup banyak, salah satunya yaitu dari akar-akar mangrove. Akar-akar mangrove yang kuat dan rapat dapat menahan gelombang, arus, dan angin, sehingga mencegah erosi dan abrasi pantai. Keberadaan hutan mangrove dapat menjaga kestabilan garis pantai dan melindungi daerah pesisir dari bencana alam seperti badai dan tsunami. Selain itu, hutan mangrove memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyerap dan menyimpan karbon. Penanaman mangrove dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan mitigasi perubahan iklim. Akar mangrove juga dapat menyaring dan menyerap berbagai polutan, seperti logam berat, pestisida, dan sedimen, sehingga mencegah masuknya ke perairan. Hal ini membantu menjaga kualitas air di lingkungan pesisir.

Penanaman mangrove di hutan Tongke-Tongke juga memberikan dampak yang cukup signifikan bagi kehidupan masyarakat lokal. Masyarakat dapat memperoleh penghasilan tambahan dari kegiatan ekowisata, perikanan, dan industri rumah tangga berbasis mangrove. Penanaman mangrove di Tongke-Tongke telah memberikan dampak positif yang cukup besar bagi kehidupan sosial-ekonomi dan lingkungan masyarakat lokal. Secara keseluruhan, hutan mangrove Tongke-Tongke merupakan salah satu kekayaan alam yang penting bagi masyarakat dan lingkungan di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.

Ditulis oleh: Rimadhani Salsabilla Fadhilah (Pelaksana Seksi Hukum dan Informasi KPKNL Parepare)

Referensi:

  1. Susilo, H. (2012). Konservasi Hutan Mangrove Tongke-Tongke di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Jurnal Hutan Tropis, 13(1), 1-8.
  2. Zainuddin, I., & Noor, A. (2016). Pemanfaatan Hasil Hutan Mangrove Tongke-Tongke Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Jurnal Hutan dan Masyarakat, 8(2), 208-219
  3. Ardiansyah, M., Faqih, A., & Dwisatrio, B. (2015). The Role of Social Capital in Managing Mangrove Forest: A Case Study of Tongke-Tongke Village, Sinjai Regency, South Sulawesi, Indonesia. Procedia Environmental Sciences, 28, 583-592
Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.

Foto Terkait Artikel

Floating Icon